
Kedatangan Selena selamam membuat suasana hati kami menjauh. Rey yang biasanya tidak bisa lepas dariku dan selalu menggodaku sekarang berubah menjadi pendiam. Dia menghabiskan malam tadi hanya dengan melamun.
Pertanyaanku semalam bahkan hanya dijawab agar untuk mempercayainya tanpa memberikanku penjelasan yang detail, bagaimana Selena bisa hamil anaknya.
Aku seperti tidak punya harapan pasti dengan pernikahan ini. Tidak mungkin aku memikirkan diriku sendiri untuk melarang Rey menikahi Selena. Tidak mungkin juga aku tega melihat anak yang di kandung Selena tidak mempunyai ayah karena keegoisanku. Apa aku yang harus mengalah? Apa aku yang harus pergi?
Pagi ini Papa dan Mama Rey melepon Kami untuk segera datang ke rumah. Aku tau ini pasti soal Selena. Tidak ada sedikit pun senyum diwajah suamiku pagi ini. Tidak ada pula ciuman bertubi-tubi yang setiap pagi dia berikan padaku.
Sesampainya di rumah Papa Mama, Rey seperti sangat berat untuk melangkahkan kakinya. Dia hanya terdiam dan membuang mukanya. Aku menggandeng tangannya untuk memberi kekuatan walaupun ini berat untuknya.
Dia tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihatku. "Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu Kinan!" ucapnya yang seketika membuatku tidak tahan untuk menahan bulir-bulir air mata ini.
Kami berjalan berdua, dan dia menggandengku erat. Terlihat di sisi sebelah kiri halaman rumahnya yang luas itu terdapat satu mobil mewah yang menurutku asing.
Sesampainya di depan pintu, terlihat ada Selena dan kedua orang tuanya. Ada juga Mama dan Papa yang duduk di dekat keluarga Selena. Disini aku melihat wajah Papa yang seperti tidak biasanya. Seperti sangat berapi-api.
Semua orang yang ada disitu menatap Kami berdua. Rey, dia masih menggenggam erat tanganku. Papa dia seperti tidak kuat menahan amarahnya. Dia berdiri dan langsung berjalan menampar wajah suamiku.
Plaaaaakkk
Suamiku jatuh tersungkur seketika. Mataku membulat melihatnya. Aku tidak bisa berkata-kata lagi.
"Sini! Berdiri kamu!" Papa memaksanya berdiri dengan menarik kerah baju suamiku.
"Anak tidak tau diuntung."
Braaaaaak braaaaaaaak
Tubuh suamiku terlempar menabrak meja. Dia hanya diam membisu tanpa sedikit pun ada pembelaan dalam dirinya. Pipiku sudah basah di banjiri air mata yang tidak bisa lagi ku tahan. Aku benar-benar tidak tega melihatnya diperlakukan seperti ini.
Aku bergegas menolongnya duduk disampingnya yang masih tersungkur di lantai. Ada luka di dekat bibirnya akibat tamparan keras dari Papa tadi.
"Pa, sudah malu dengan keluarga Selena!" Ku dengar Mama menenangkan Papa.
__ADS_1
"Biar semua orang juga akan tau. Keluarga Kita sudah menanggung malu dari perbuatannya." Mama terlihat mengelus-elus dada Papa.
Tapi Rey kenapa kamu hanya diam saja, "Pa, maafkan Rey!" pintaku. Aku tidak mau melihat suamiku diperlakukan seperti ini di depan orang lain.
"Kinan, buat apa kamu membela suami seperti itu? Dia sudah menghamili wanita lain. Hukuman ini tidak sebanding dengan perbuatannya."
"Sini, bangun kamu." Papa menarik paksa kerah baju suamiku. "Sudah berkali-kali Kami menasehatimu. 'Jangan main wanita! Jangan minum-minuman keras!' tapi apa kamu tidak pernah mengindahkan nasehat kami. Apa karena kamu punya uang atau punya kekuasaan?"
Lagi-lagi Papa melemar suamiku. Dan kali ini aku bisa membantu menangkap tubuhnya.
"Kinan, apa kamu tidak jijik dengan laki-laki itu? Buat apa kamu menolongnya?" tanya Papa yang menunjuk-nunjuk ke arah suamiku. Aku hanya bisa menangis melihatnya. Lagi-lagi dia hanya terdiam.
"Terus sekarang bagaimana solusimu? Apa kamu sanggup adil menikahi dua wanita?"
"Aku tidak akan menikahinya! Jika memang anak yang dia kandung adalah anakku. Aku akan tanggung jawab membesarkannya. Tapi tidak untuk menikahinya." teriaknya yang mengangetkan semua orang disitu.
Papa menarik paksa kerah bajunya lagi, "Masih bisa-bisanya kamu meragukan anakmu! Kamu kira Selena wanita seperti apa? Benar-benar membuat malu keluarga tingkahmu."
Plaaaaaakk
"Om, pokoknya Selena mau Rey tanggung jawab dengan menikahi Selena. Selena tidak mau anak ini lahir tanpa ayah. Lagian Kinan kan belum hamil. Dia bisa menceraikan Kinan."
"Hei tutup mulutmu!" teriak Rey. Bola matanya seperti ingin keluar menatap Selena. Aku merasakan benar tangannya menggenggam keras seperti menahan semua ini.
"Aku tidak akan menikahinya Pa. Cintaku hanya untuk Kinan. Bukan untuk dia."
"Masih bisa-bisanya kamu bicara cinta. Lalu selama ini kamu memacari Selena itu tanpa cinta?"
"Iya, aku tidak pernah mencintainya. Dan aku tidak pernah menyentuhnya."
"Apa dalam keadaan mabuk kamu masih bisa berbohong seperti ini? Apa dalam keadaan mabuk kamu bisa mengingat semua perbuatanmu?"
Rey hanya terdiam mengingat seperti sedang memikirkan sesuatu. Tiba-tiba Papa Selena berdiri, "Begini saja Pak Winata, biar Rey mempertanggung jawabkannya setelah anak ini lahir. Biar sekarang Selena kami yang mengurusnya sendiri."
__ADS_1
"Pah," teriak Selena. "Papa ini apa-apaan? Selena tidak mau hamil tanpa suami seperti ini."
"Selena, kamu juga tidak bisa memaksa Rey menikahimu saat sedang hamil seperti ini. Ayo kita pulang!"
"Tunggu Pak, kami minta maaf atas perilaku anak kami. Kami janji akan bertanggung jawab." ucap Papa Rey.
Papa Selena hanya menghembuskan nafas dan menganggukan kepalanya. Dia menggandeng Selena pergi dari rumah ini. Raut wajah kecewa terlihat dari wajah mereka.
Dan Rey, dia menggandengku keluar juga dari rumah ini. "Ma, kami pamit pulang!" pamitku.
"Hati-hati!" ucap Mama dengan tangan yang sedang menghapus air matanya. Papa masih terlihat membuang mukanya dari Kami.
Diperjalanan Rey hanya terdiam tanpa sedikit pun mengajakku berbicara. Tatapan matanya seperti kosong.
Sesampainya di rumah, lagi-lagi dia hanya terdiam. Kenapa dia menjadi sedingin ini lagi?
"Rey, aku bantu obati lukamu ya!" Dia hanya mengangguk.
Dengan segera ku kompres lukanya dengan es. Dia memegang tanganku. "Jika sakit bilang Rey, jangan hanya diam saja seperti ini!"
"Apa masih sakit? Aku ambil obat pereda nyeri ya!" Aku berdiri dan segera mengambil obat itu tapi dia memegang kedua tanganku.
"Tidak usah, aku tidak butuh itu semua. Aku hanya butuh kamu!"
"Aku selalu disampingmu tapi kamu selalu diam Rey."
"Aku tidak tau lagi harus bagaimana?" Dia menundukan kepalanya. "Aku tidak peduli jika satu dunia ini membenciku bahkan mengutukku. Tapi aku mohon kamu jangan seperti mereka!"
Dia menangis dan memelukku, "Jangan menyerah dengan cinta ini Kinan!"
Ku anggukan kepalaku, "Aku takut kehilanganmu! Aku tidak bisa hidup tanpamu! Aku berjanji padamu akan menyelesaikan masalah ini secepatnya, aku mohon bersabarlah!"
Dia melepas pelukannya dan memegang kedua pipiku, "Aku hanya mencintaimu, hanya kamu! Tolong jangan lupakan itu Kinan!"
__ADS_1
**Dukung terus Author,
Dengan like, coment, dan votenya** ^_^