
"Cemburumu itu tidak masuk di akal. Aku gak suka kamu seperti itu. Ray itu cuma pelanggan di toko kue ku."
"Aku punya firasat laki-laki itu ingin merebutmu dariku."
Kinan memundurkan kepalanya, "Firasat dari mana itu asalnya?"
Rey menunjuk telinganya, "Aku dengar sendiri, dia dulu menyebutmu cantik sangat cantik, iya kan?"
"Oh jadi hanya karena itu ...."
Rey langsung memotong ucapan Kinan, "Jangan disepelekan ya!" ancamnya.
Kinan masih tidak habis pikir dengan suaminya itu. Dia membanting jas yang tadi di peluknya di atas tempat tidur. Kemudian keluar dari kamar begitu saja meninggalkan laki-laki yang ada sungut di kepalanya itu.
Dia mengecek anak-anaknya dan memastikan sudah tertidur lelap. Menciumi kening satu persatu dan berbaring di dekat mereka. Sepertinya malam ini dia sedang malas berurusan dengan suaminya.
Rey masuk ke kamar anaknya. Melihat Kinan tidur di dekat anaknya semakin membuatnya geram. Apa maksudnya?
Rey membangunkan Kinan, "Kenapa tidur disini? Kamu lupa tadi aku minta apa? Atau pura-pura lupa?" ucapnya lirih dan berbisik agar tak membangunkan anaknya.
Kinan mengernyitkan keningnya. Laki-laki itu langsung menggandeng paksa istrinya untuk masuk dalam kamar.
__ADS_1
Dia mendorong Kinan dan mengunci pintu kamarnya. "Kasar," ucap Kinan dengan memegangi tangannya yang dicengkram Rey. Wajahnya ditekuk, membuat suaminya semakin bertambah geram.
"Kenapa, kamu gak mau? Kamu takut hamil lagi 'kan?" Pertanyaan aneh di kepalanya seperti keluar satu persatu.
Kinan tak memperdulikannya, dia duduk di tepi tempat tidur dengan mulut cemberut. Rey mendekatinya, "Kenapa mulutmu? Gak ikhlas ngelayanin suaminya?"
"Iiih ...." Kinan kesal dan terus membuang mukanya. Dia tak menjawab lagi pertanyaan aneh itu.
Kini wajah Rey menyeringai membuat Kinan sedikit ketakutan. Seumur pernikahannya baru kali ini melihat suaminya bisa membuatnya tak nyaman.
"Buka bajumu!" Kinan mengelengkan kepalanya dan memegangi kerah bajunya. "Kenapa gak mau? Buat siapa?"
"Aku hitung sampai tiga, kalau masih gak mau aku paksa nih!" Wajah istrinya itu semakin kebingungan. "Satu ... dua ... ti ... oke berarti kamu ingin dipaksa ya?"
Mulut Kinan terbuka lebar mendengar amarah suaminya. Dia masih belum mengerti maksudnya. Rey langsung mendorong tubuh Kinan tidur terlentang.
Wanita itu terus berusaha meronta-ronta tapi tenaganya sia-sia. Dia memukul-mukul dada suaminya yang terus memaksanya.
Kreeek
"Kamu merobek bajuku?" teriak Kinan.
__ADS_1
Rey melihat baju itu tersobek lebar memperlihatkan bagian tubuh atas istrinya yang menjadi favoritnya, "Besok aku belikan sepuluh."
"Kam ... eeemmm," Rey seperti tak memberikannya kesempatan bicara dengan terus memberikan ciuman panasnya. Napas Kinan saat itu terengah-engah menahan perasaan yang ditimbulkan dari setiap sentuhan tangannya.
"Iiiiih ...." Kinan berteriak geram. Rey terus mencium paksa bibirnya sampai tak mampu mengeluarkan suara.
Tangan laki-laki itu langsung mematikan lampu kamarnya.
Kliiik
Suasana kamar sangat gelap, hanya sedikit cahaya bulan yang mampu menerobos masuk dalam kamarnya.
"Aku gak suka kamu kayak gini Rey!"
"Jadi kamu sudah tidak suka sama aku?" Benar-benar laki-laki itu tak mampu mencerna ucapan istrinya. Ingin rasanya ikut mengetuk palu kepalanya.
Rey mengunci kedua tangan istrinya, "Eeeeemmmm," Kinan ingin berteriak tapi ditahan oleh bibirnya. Dia ingin menjelaskan tapi sepertinya percuma. Setan apa yang merasukimu? Bukan ya, ini bukan waktunya bernyanyi.
❤
❤
__ADS_1