
Halo 👋👋 author balik lagi. POV author nih.
Selamat membaca!
Lima tahun sudah Rey dan Kinan mengarungi rumah tangga mereka. Suka duka telah mereka jalani bersama. Bagi Rey, tanggung jawab dan kesetiaan adalah dua mahkota laki-laki yang harus ada dalam dirinya.
Dari awal dia menikah dengan Kinan sudah menutup mata dan hatinya untuk wanita lain. Sejak kejadian empat tahun lalu saat Andini hampir menghilangkan nyawa anak dan istrinya, kini dia menjadi lebih tertutup bahkan tidak membiarkan cela sedikit pun wanita lain mengganggu hubungannya pernikahannya.
Tidak ada nomor wanita selain Kinan dan Mamanya di ponselnya. Terlalu berlebihan? Tentu saja tidak baginya itu karena ketakutan yang amat dalam kehilangan wanita yang selama ini menjadi impiannya.
Apakah Rey masih dengan kekonyolannya? Jangan ditanya pasti lah dia selalu bisa mencairkan suasana dalam keluarga kecilnya.
Kesibukannya mengurus dua perusahaan tidak membuatnya lupa memberikan waktu pada anak-anaknya dan keromantisannya pada istrinya. Dia selalu menyempatkan diri untuk berkencan bersama pujaan hati yang dari dulu diimpikan itu, memberikannya bunga, bahkan hadiah untuknya. Jangan lupakan juga dia dulu pemain wanita! Bermanja dan selalu merayu istrinya sudah menjadi makanannya sehari-hari.
Kinan, tugas dalam mengurus suami dan dua anak sangat di nikmatinya. Kelelahan itu sudah pasti namun itu adalah dunianya, Rey sama sekali tidak mengizinkannya bekerja. Apapun yang dia pinta, akan selalu dipenuhi oleh laki-laki itu.
Bagaimana dengan Pinky? Usianya kini sudah lima tahun. Dia tumbuh menjadi anak cantik dengan rambut panjang berponinya. Apakah Rey menyayanginya? Tentu saja, sedikitpun dia tak menganggap Pinky adalah anak tirinya.
Main masak-masakan adalah kesukaannya. Jiwa memasak Kinan sepertinya menurun padanya. Namun dia sangat membenci warna pink, kenapa? Dari kecil semua peralatan, baju bahkan mainan selalu di dominasi dengan warna pink.
Jangan lupakan Aero! Jagoan kecil yang berusia empat tahun ini aktif berlari kesana kemari membuat Kinan kualahan dalam mengurusnya. Ketampanan dari Papanya seperti menurun padanya. Spiderman adalah tokoh kesukaannya. Setiap sudut kamarnya selalu dihiasi manusia laba-laba itu. Bajunya, mainannya, Rey selalu membelikannya tokoh favorit anaknya itu.
Dia sangat menginginkan Papanya menjadi Spiderman. Apakah Rey malu untuk menuruti kemauan anaknya? Tentu saja, apapun dilakukan untuk membahagiakannya.
Malam itu, "Papa pulang!" teriak Rey dari arah pintu. Suaranya menggema di seluruh ruangan rumah. Kesibukannya dalam bekerja membuat kepulangan selalu dinanti-nanti oleh anak dan istrinya.
__ADS_1
"Papa ... Papa," Dua anak kecil itu berlari ke arahnya. Dia berlutut, membungkuk dan membuka lebar kedua tangannya.
"Aaooouuh," pekiknya dengan tersenyum lebar saat kedua anak kecil itu menabrak dan memeluknya erat.
Dia mencium puncak kepala keduanya secara bergantian lalu berdiri memandangi Kinan dengan senyum manisnya. "Apa kamu ingin juga?" godanya.
Dia berdiri kemudian membuka tangannya lebar dan memeluk istrinya. Baginya menunjukan kasih sayangnya pada Ibu dari anak-anaknya adalah penting, anak adalah peniru ulung. Apapun yang dilakukan orang tua akan ditiru oleh anak-anak mereka. Dia ingin anak-anaknya juga melakukan itu pada Ibunya.
Puas memeluk dan mencium kening istrinya Rey kembali mensejajarkan tubuhnya dengan anak-anaknya. Baginya juga mensejajarkan diri saat berbicara, anak akan lebih menyerap kata-kata lebih intim, "Papa punya sesuatu nih, coba tebak apa?"
"Apa ... apa?" teriak kedua anak itu dengan melompat-lompatkan tubuh mereka.
"Ini buat Kak Pinky yang cantik dan ini buat Adek Aero yang ganteng."
"Ye, ye, ye makasih Papa!"
Mereka berlari membuka hadiah itu. Tak lupa dia memberi buket bunga mawar putih untuk Kinan. Senyum bahagia tampak dari kedua pasangan itu.
"Terima kasih," ucap Kinan dengan memeluk suaminya lagi.
Rey menarik garis senyum, "Apa kamu lelah hari ini mengurus mereka?" tanyanya sambil berjalan menuju kamar. Kinan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jika lelah aku akan menambah pengasuh lagi untuk membantumu!"
Dia menuruni anak tangga dan melihat kedua anaknya. Wajahnya berubah datar ketika melihat Pinky memanyunkan bibirnya. Kinan berjalan cepat menghampirinya.
"Kenapa mulutnya? Tidak suka hadiah pemberian Papa?" tanya Kinan sambil menatap mata Pinky.
"Bukan begitu Ma, Pinky bosan warna pink. Papa selalu membelikanku warna ini."
"Nanti Mama bilang sama Papa ya! Untuk sementara Pinky pakai tas itu dulu kapan-kapan kita beli lagi dengan warna lain. Besok kan Pinky mulai masuk sekolah." Anak itu mengangguk, Kinan mengelus kepalanya. Dia melihat ke arah anak laki-lakinya.
"Aero dibelikan mainan apa sama Papa?"
"Tembakan jaring Spiderman," teriak Aero dengan bersemangat. Anak laki-laki itu terlihat sibuk bermain dengan mainan barunya.
Tak lama kemudian Rey terlihat menuruni anak tangganya. Dan berlari menghampiri mereka. "Gimana suka gak?" tanyanya.
__ADS_1
Dia melihat ke arah wajah Pinky yang cemberut. Dahinya tiba-tiba mengkerut, "Loh Kakak cemberut, gak suka sama tas dan mainan masak-masakannya?"
"Sayang, Pinky bosan dengan warna pink. Kamu dari bayi selalu memberikan apapun itu dengan warna itu."
Rey menggaruk-garuk kepalanya, "Bukankah anak perempuan biasanya suka warna itu?"
"Tapi Pinky bosen Pa!" Anak itu semakin mengkerucutkan bibirnya.
"Ya sudah nanti Papa belikan lagi, kamu mau warna apa?"
"Ini sudah malam, besok saja!" sahut Kinan.
"Tapi sayang besok dia mulai masuk sekolah."
"Pinky pakai tas ini gak apa-apa Pa, tapi janji besok belikan lagi ya!" ucapnya sambil menekuk wajah.
Rey mengelus kepala Pinky dan berkata, "Besok Papa akan jemput kamu pulang sekolah dan kamu bisa pilih warna apa saja yang kamu suka."
Mata anak perempuan itu berbinar mendengar ucapannya, dia langsung memeluk dan mencium pipi Papanya.
Setelah itu mereka menikmati makan malam bersama. Kinan mengambilkan nasi berserta lauk pauknya satu persatu ke piring suami dan anak-anaknya.
Makan malam selesai anak-anak mereka kembali sibuk bermain dengan mainan baru di kamar mereka.
Terlihat Rey menatap Kinan yang sibuk membereskan makanan di meja makan. Dia menarik tangan istri nya.
Cuuuuup
"Eh," Laki-laki itu tiba-tiba mencium tangannya.
"Sini! Aku ingin bicara padamu!" Dia menepuk-nepuk pahanya. Mengisyaratkan ingin Kinan duduk dipangkuannya.
Mata mereka berdua berkeliling di seluruh sudut rumah. Baiklah aman, Kinan langsung duduk dipangkuannya. Kinan memeluknya erat, dan mengelus kepala suaminya.
"Mau bicara apa?" tanyanya. Rey menyelipkan anak rambut panjang itu di telinga istrinya sambil tersenyum.
__ADS_1
**Kriiiik .... kriikk .... krik 🙄
Like, coment dan votenya kalau boleh 😁**