Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Aero R Winata


__ADS_3

Kinan POV


Setelah perjuangan beratku melahirkan akhirnya aku bisa sedikit merasakan kebahagian dengan kedatangan Papa dan Mama kesini. Rasa sakit yang masih sedikit ku rasakan ini entah kenapa membuatku membencinya. Semua ini karenanya, aku puas sekali dia dimarahi Papa dan Mama. Ya dia pantas mendapatkan itu.


Kedatangan Sisca dan Andre juga menambah semangatku untuk segera bangkit. Puas berbincang-bincang mereka pamit untuk segera pulang. Aku sangat beruntung memiliki tetangga dan teman seperti mereka ditengah tidak sehatnya lingkungan sekitar rumah kami.


Tak selang beberapa lama kemudian suamiku masuk dalam ruangan ini. Entah pergi dari mana dia tadi. Wajahnya terlihat masih saja ditekuk. Biarlah, dia pantas menanggung semua keputusan konyolnya.


Dia hanya melirik ke Papa dan Mama, "Mama dan Papa mau keluar cari makan dulu! Jaga istrimu!" ancam Mama padanya. Dia tidak menjawab sedikit pun. Mereka pergi meninggalkan kami dan mengajak Pinky ikut pergi.


Aku senang mereka selalu membelaku, mau menerima anakku dan menganggapnya seperti cucunya sendiri. Aku tidak akan melupakan itu. Walaupun Papa orangnya keras pada suamiku. Tapi aku tau sebenarnya dia sangat menyayangi anak satu-satunya yang manja ini.


Setelah Papa dan Mama keluar dari ruangan ini, dia mendekatiku dan duduk disampingku. Aku sebenarnya juga masih marah padanya tapi entah kenapa ini selalu tidak bisa bertahan lama.


Dia hanya terdiam memandangiku. "Kenapa?" tanyaku.


"Aku seperti tidak diterima ditengah-tengah kalian." Dia membuang mukanya.


"Kan ini memang salahmu."


"Kamu tuh hamil melahirkan marah terus sama aku. Tadi sudah mau senyum sekarang marah lagi." Bibirnya membentuk kerucut dan dahinya mengkerut menatapku.


"Aku cuma kecewa sama kamu, sampai kapan kamu terus berbohong? Bukan aku saja kan, Papa dan Mama juga kecewa."


"Iya aku janji tidak bohong lagi."


"Janji terus." Ku palingkan wajahku.


"Kamu lihat Papa selalu marah padaku. Dulu waktu aku kecil selalu saja dimarahi saat aku berbuat salah padahal aku sudah jujur akan kesalahanku mereka marah terus padaku. Lalu aku harus bagaimana? Jika kejujuranku tidak pernah dihargai. Lebih baik aku pendam sendiri saja. Lebih baik aku bohong saja."


"Bahkan sekarang kamu juga begitu, aku jujur padamu jika tidak mempunyai hubungan bahkan mencintai wanita lain, kamu malah tidak percaya padaku."


Dia diam tertunduk dengan melirik ke samping. Baiklah aku akan memaafkannya. Ku goda dengan menggelitiki dagunya dengan tangan ku.


Cuuuup


"Eeeh," Aku terlonjak kaget. Dia malah mencium telapak tanganku. Melihatku dengan mata elangnya dan kembali mencium punggung jari-jariku.


Aku hanya mampu membuang senyum malu menjauh darinya. Dia menaruh tanganku dipipinya.


"Kamu makan ya! Aku suapin!"

__ADS_1


Ku gelengkan kepalaku, rasanya perutku sangat penuh. "Kenapa? Kamu mau diet? Sayang, aku mencintaimu apa adanya. Kamu gendut pun aku masih cinta."


"Gombal banget."


"Tuh kan aku itu sudah jujur, tapi tidak pernah dihargai."


Dia berdiri, berjalan menggendong anakku, "Kamu mau namakan anak kita siapa?" tanyaku.


"Aero,"


Ku picingkan mataku. "Aeroplane?" Dia malah mengangguk, "Iiiih, serius dong!"


"Aero Reyhan Winata." Dia tersenyum melihat wajah anakku. "Biar nanti dia bisa terbang tinggi."


"Reyhannya harus nyempil di tengah gitu. Kalau tidak usah pakai Reyhan gimana?"


"Ck," Dia berdecak dan memicingkan matanya, "Biar, kan dia anakku." Aku tidak mempunyai tenaga untuk berdebat dengannya kali ini. Semua ku serahkan padanya.


...****************...


Beberapa hari di rumah sakit akhirnya kami diperbolehkan pulang. Kami pulang ke rumah kecil kami. Aku belum sanggup untuk menempuh perjalanan jauh, kondisi badanku belum sepenuhnya kuat.


Papa dan Mama mengantar kami sampai rumah. Mereka lalu pulang karena memang sudah tidak bisa lama-lama tinggal disini.


Mengurus dua bayi yang jaraknya berdekatan sangatlah menguras tenaga, pikiran, serta kesabaran. Perdebatan kecil sering kita lakukan. Bahkan dia sering tertidur ditengah membantuku memberi susu pada anak-anak kami.


"Tidur jangan sambil duduk, sini!" Aku meraih anakku dari tangannya. Aku tau dia sudah berusaha keras belajar mengurus bayi dan ini pasti sulit untuknya.


"Lah gimana tidurnya? Aku ngantuk minumnya belum selesai-selesai dari tadi."


"Ya telentang."


"Tidak sekalian kamu menyuruhku telenobeng?" Dia mengucek matanya dan membanting bantal di dekatnya. Rasanya tidak kuat untuk menahan tawaku.


Aku membuka lemari dan berpikir sejenak. "Sayang tolong belikan aku pembalut ya!"


Matanya membulat seketika, kemudian dia menggaruk-garuk kepalanya. "Aku?" Dia menunjuk dadanya. "Kalau belinya sama kamu saja gimana? Ayo aku antar!"


"Kamu tidak lihat aku seperti ini!" Dia memicingkan matanya. "Cepetan beli di mini market sana. Yang ada sayapnya ya! Habis nih." Aku menunjukan bungkus kosong padanya.


Dia mengerutkan dahinya, "Astaga sayap apalagi itu? Aku mana ngerti. Sayang aku malu beli begituan."

__ADS_1


"Terus aku harus menyuruh siapa? Sudahlah kamu tanya saja salah satu mbaknya pasti nanti dikasih tau!"


"Ck," dia berdecak dan mengusap gusar wajahnya, "Ya sudah iya, iya!" teriaknya. Dia menyambar kunci mobilnya dan pergi dengan muka ditekuk.


Sambil menunggunya aku sibuk mengemasi sedikit demi sedikit baju-baju kami untuk pulang. Mungkin lusa kami akan pulang, aku sudah tidak sabar untuk bertemu Tante Ina, Els dan Wina. Mereka pasti sangat bahagia.


Tak selang beberapa lama dia kembali dengan mulutnya yang mengerucut. Memberikan sekantong kresek pesananku tadi.


"Kamu tidak ikhlas?"


"Ikhlaaaaaaas," teriaknya dengan terpaksa.


"Tidak usah bohong!" Dia memejamkan matanya dan menghela napas kasar.


"Kamu tau tidak, tadi aku diketawain sama ibu-ibu. Mana antrian di tengah-tengah. Lupa tidak bawa masker pula. Rasanya ingin bawa kabur itu roti tawar. Ini yang pertama dan terakhir. Itu tadi aku belikan satu keranjang biar sekalian malunya selesai hari ini juga." Dia pergi membuang mukanya.


Aku terkekeh mendengarnya. "Semua ada sayapnya ya?" Aku membuka satu persatu. "Pinter kamu sayang! Terima kasih ya!"


"Cuma ucapan saja? Imbalannya?"


Ku kerutkan dahiku, "Tadi katanya ikhlas?"


"Cium!" dia menyodorkan pipinya padaku.


-


-


-


-


-


-


-


-


Maaf telat lagi pluuuuu 🤧

__ADS_1


Like ❤ coment ❤ vote


__ADS_2