
Rey POV
Aku kira ini adalah hari terakhirku bersamanya tapi ternyata hari ini adalah awal hari bahagia bersamanya. Tuhan kali ini sekarang begitu berpihak kepadaku. Oh rasanya kenikmatan surga ini ingin selalu ku ulang kembali dan tidak cukup hanya sekali.
Aku tidak menyangka dia begitu menikmati setiap sentuhanku. Dan lagi-lagi aku tidak sabar mengurungnya diranjang malam ini sampai menjelang pagi. Aku benar-benar menikmati kehangatan cintanya. Oh sayangku, kita sudah menjadi satu dan ku ingin sampai tua menghabiskan waktu bersamamu.
Malam ini Kita bertiga akan pulang ke rumahku. Dan aku harap kamu jangan pergi dari sana! Ku bukakan pintu mobilku untukmu. Ku bantu pakaikan pula sabuk pengaman dan ku tatap tajam bola matamu yang sangat jelas di dalamnya ada aku.
Kamu tersenyum malu dan lagi-lagi tidak berani melihat mataku. "Sekarang terbalik ya, kamu yang tidak berani menatapku lama-lama?" sindirku.
"Rey, aku malu." Dia menunduk. Ku angkat dagunya.
Cuuupp
Ku cium keningnya. "Aku mencintaimu." Dia tersenyum sangat cantik.
"Kita cari makan malam dulu ya!
"Tadi aku buatkan makan malam tidak mau," gerutunya.
"Aku lihat kamu terlalu kelelahan gara-gara tadi," godaku.
"Rey," dia merengek malu. Aku melihat tangannya meremas-remas sabuk pengaman itu. Dan pipinya lagi-lagi merona merah.
Ku sentuh pipinya yang merah itu dengan punggung jariku, "Aku meminta lagi nanti tidak kamu tolak kan?"
"Tapi aku tidak mau di kamar mandi seperti tadi!"
"Oke." Dengan segera aku mengendari mobilku. "Kita makan di resto langgananku ya!"
Sesampainya di restoran, dia hanya berdiri terdiam. "Rey ini pintunya mana?" tanyanya dengan polos yang membuatku terkekeh.
Aku menggandeng tangannya, "Ayo ikut aku!"
"Rey, ini terlalu mewah." Bola matanya berkeliling di seluruh ruangan. "Kenapa pengunjungnya sedikit?"
"Disini pengunjungnya dibatasi?"
"Haaah? Bukankah semakin banyak pengunjung semakin banyak pendapatannya?" Aku hanya tertawa melihatnya.
Ada pelayan yang datang yang telah siap dengan hidangan pembuka untuk kami. Dia melihat seksama menu di piringnya, "Ini kerang Rey?"
"Ya itu scallops, cobalah pasti kamu suka!"
Dia seperti ragu dan masih saja melihatinya, "Kenapa porsinya kecil sekali?"
"Ini baru hidangan pembuka sayang," ucapku.
"Kamu suka shasimi? Ada di paket menu ini juga."
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, "Rey, aku ingin makan nasi saja!"
"Nanti ada Rice cooked with bamboo shoots."
"Maksudmu seperti nasi di masak di bambu begitu?" Ku anggukan kepalaku.
__ADS_1
"Kamu suka?" Dia berhenti makan dan meletakkan sendok di piringnya. Wajahnya mengkerut seketika.
"Mungkin lidahku belum terbiasa, tapi lumayan enak. Suasananya juga aku suka, tapi tidak tahu jadinya kalau Pinky menangis disini mungkin akan ramai." Matanya melirik Pinky yang tertidur nyenyak di stroller.
"Apa Kevin dulu tidak pernah mengajakmu makan malam diluar?"
"Kita sering makan malam di rumah."
Sedikit sakit mendengarnya, "Pasti lebih menyenangkan, maaf aku tidak tau seleramu Kinan. Aku kira sama seperti yang lain suka makan ditempat mewah."
Dia memegang tanganku. "Rey, kenapa kamu harus menyalahkan dirimu terus? Kamu sangat berarti buatku."
"Benarkah?" Dia mengangguk. "Ya sudah ayo kita pulang!"
"Ini tidak dihabiskan?
"Tidak."
Sesampainya di rumah, dia terlihat takjub saat melihat isi kamar. Aku telah menyuruh orang untuk menghias tanpa terlalu banyak menggunakan hiasan dan ornament, tetapi tetap elegant. Hanya menempatkan beberapa bunga dan lampu pada sudut ruangan.
Entah ideku ini benar atau tidak. Bahkan aku tidak berdiskusi dengannya soal ini. Aku juga tidak tau seleranya bagaimana. Aku hanya ingin memberinya kejutan di malam panjang ini.
"Kamu suka?" Bola matanya masih berkeliling di seluruh sudut ruangan.
"Suka, tidak terlalu berlebihan. Cepat sekali kerja orang suruhanmu menghias kamar ini." Mendengar itu semua kali ini aku bisa tersenyum lebar.
Ku peluk dirinya dari belakang. "Kamu belum lelah kan?"
"Belum,"
Dia membuka kotak itu. Dan menempelkannya ke badannya. "Kenapa banyak sekali?"
"Cuma tiga, besok beli lagi. Kamu bisa pilih seleramu yang mana. Tadi aku hanya asal milih. Semoga kamu suka!"
"Ya sudah aku pakai dulu!"
"Aku bantuin ya!"
"Tidak usah!" teriaknya yang membuatku semakin gemas.
Dia berlari ke kamar mandi dan menutup rapat pintunya. Tak selang beberapa lama dia keluar dengan cantiknya.
Aku langsung menghampirinya dan menarik pinggangnya lalu menciuminya. Tangan berusaha mendorong tujuhku. "R-rey, izinkan aku merapikan rambutku du-lu!"
"Tidak perlu! Bentar lagi juga ku buat berantakan."
Ku gendong tubuhnya dan ku kurung di atas ranjang, fantasiku selama ini benar-benar nyata. Entah kenapa melihat tanda merah yang ku berikan beberapa kali di leher dan dadanya membuatku semakin bertambah menggila malam ini.
Ini malam terindah selama hidupku. Rasanya ingin ku hentikan waktu agar tidak mudah berlalu. Aku dan kamu telah menjadi satu.
Dia mendesah, "Rey," panggilnya dengan suara lirih membuatku semakin tidak bisa menahan lebih lama lagi.
"Apa sayang?" bisikku ditelinganya.
Aku melihatnya terbaring lemas. Ku beri kekuatan dengan mengusap dan menciumi dahinya. Ku rapikan anak rambutnya kuselipkan di telinganya.
__ADS_1
"Kamu bahagia?"tanyanya.
"Tentu saja, kamu itu mimpiku, objek fantasiku selama ini."
Dia terlonjak kaget, "Maksudmu apa Rey?" Aku terkekeh pelan. Meraih tisu di meja, mengambilnya beberapa lembar dan membantu mengelap dan membersihkannya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri!" teriaknya.
"Kamu kenapa selalu menggemaskan dari dulu?"
Aku memeluknya tapi dia mendorong-dorong tubuhku untuk menjauhinya, "Maksud kamu apa tadi coba jelaskan?"
Aku berdiri memakai boxerku dan mengambil satu gelas air. Ku berikan padanya namun dia membuang mukanya.
Aku langsung tidur di pangkuaannya. Dan memegangi tangannya. "Itu hanya fantasiku saja."
"Kamu sudah gila Rey," gerutunya.
"Aku tidak bisa mendapatkanmu, maafkan aku! Tapi sekarang kan tidak lagi." Dia masih cemberut dan memalingkan mukanya dariku.
Cuuup
Ku cium tangannya. Ku dengar jelas suara perutnya. "Kamu lapar?"
"Aku tidak bisa menikmati makanan tadi."
"Ya sudah tidak usah kesana lagi!"
"Makanan seperti tadi berapaan harganya?"
Ku kerutkan dahiku, "Kenapa tanya seperti itu?"
"Memang tidak boleh?"
"Murah, mahalan harga celana kolorku."
Dia melirikku yang masih tidur dipangkuannya, "Berapa?"
"Tiga jutaan."
Matanya tiba-tiba membulat, "Haaaah, itu pemborosan namanya," teriaknya.
"Aku tidak akan miskin untuk membelinya."
"Rey Kamu tau? Dulu aku menjual kue berkeliling kampung sebulan belum dapat uang segitu." Tangannya mengelus-elus kepalaku dan merapikan rambutku yang berantakan ini.
"Benarkah?" Aku duduk menatapnya."Kamu hebat sekali, Aku tidak tau jika berada di posisimu. Ya sudah maafkan aku. Lain kali aku akan membicarakan semua dulu padamu."
Ku letakkan kepalaku di bahunya, dengan kedua tanganku melingkar diperutnya, "Sekarang kita lanjutkan lagi ya! Aku hamilin Kamu tidak apa-apakan?"
Dia menatapku tajam, "Rasa sakit melahirkan masih terbayang-bayang di otakku."
"Aku akan bantu seperti dulu."
"Kamu terlalu banyak bertanya Rey 'kamu tidak apa-apa?' seperti itu terus setiap hari. Aku bosan mendengarnya. Rasanya ingin mengusirmu saat itu."
__ADS_1
"Aku tidak tau harus bagaimana?"