
Rey POV
"Kenapa kamu bilang ke mereka aku sakit?"
Teriakan itu sepertinya harus segera ku redakan sebelum menjalar ke mana-mana. Aku berjalan menjauhinya untuk memikirkan cara, oh cubitannya masih terasa sakit dan membuatku masih merintih.
Dia menarik lenganku seperti memaksaku untuk menjawabnya, "Aku binggung menjelaskan pada mereka sayang, masak iya mau bilang lemas setelah melayani ku."
Wajahnya masih terlihat geram. Dia memukul-mukul dadaku pelan.
Buuuk buuk buuuk
"Oooooouuuh, ooooh, eeeem tidak kuat aku sakitnya auuuuh." Ku tatap matanya dan ku gigiti bibir bawahku dengan gigiku seperti kebiasaannya.
"Aku hanya memukulmu pelan. Kenapa kamu lebay sekali?" Dia terlihat sedikit menahan tawanya.
"Aku hanya menirukan desahanmu."
Akhirnya aku bisa melihat tawanya. "Hei, aku tidak pernah mendesah seperti itu. Kamu melebih-lebihkan iiiiiih," teriaknya. Dia masih memukuli dadaku.
"ooooooouuuuh," keluhku.
"Haaa, haaa, haa."
"Kamu mana sadar aku kan pemain terbaik, lihat ini pundakku penuh dengan cakaranmu." Ku buka kaos ku dan ku perlihatkan padanya. Dia berjinjit melihatnya. Dan tersenyum menyembunyikan rasa malunya.
Sepertinya perasaannya sudah sedikit membaik, mungkin benar pengaruh kehamilannya. Tapi aku juga salah terlalu membuatnya kesal.
"Jangan marah-marah terus, gemes ini aku jadinya! Iya aku yang salah, aku sumber kesalahan. Aku, aku dan aku." Kepalanya menunduk mendengar ucapanku.
"Aku capek, aku lapar." rengeknya.
Ku hembuskan kasar napasku. Oh, ini memang salahku. Dia terlalu kelelahan mengurus semua ini. Belum lagi mengurusku yang tidak berguna ini. Ku usap gusar wajahku. Aku harus mengajaknya jalan-jalan mungkin perasaannya lebih bahagia.
"Ya sudah ayo kita makan di luar, kamu ingin makan apa?"
__ADS_1
"Terserah kamu!"
"La kok terserah, kamu itu tidak nyidam apa begitu? Perasaan ibu-ibu hamil nyidamnya aneh-aneh. Nasi padang beli di Padang, Gudeg beli di Jogja, Lontong balap beli di Surabaya, aku itu juga ingin berjuang seperti itu juga. Mumpung aku masih di rumah, besok-besok kalau sudah kerja siapa yang membelikanmu?"
"Ya sudah kalau kerja ya kerja saja sana. Tapi belikan aku mobil Tesla! Kan tidak perlu sopir langsung jalan sendiri tuh. Nanti aku bisa pergi sesuka hatiku mau makan kemana saja."
"Tadi nyidam minta Bugatti sekarang Tesla, oh calon anak sultan Reyhan banget!" Ku angkat kedua bahuku menggodanya.
"Iiiiih sombong!" dengusnya kesal.
"Kayaknya buat bercinta di dalamnya enak tuh, tidak ada supir jalan sendiri puas bercinta sudah sampai tempat tujuan. Beli tidak ya enaknya?"
"Seperti tidak ada tempat saja. Kalau bercinta di dalam mobil nanti di stop Pak Ladusing siapa yang mau nemuin!"
"Ya Siva dong!"
"Iiiiissh, ya sudah sana beli!"
"Masalahnya aku itu sayang banget sama tetangga kita, nanti kalau mereka berdosa gara-gara ghibahin aku bagaimana? Orang tidak bekerja kok bisa beli Tesla ngepet pasti ya? Huuuuuaaaa,"
"Kamu itu mood booster aku. Terima kasih sudah memberikan pundakmu untukku. Terima kasih sudah memberi cinta untukku. Terima kasih selalu menghiburku. Aku mencintaimu Rey. Maafkan aku yang selalu geram padamu! Aku juga tidak tau kenapa?"
"Oh sayangku," Ku eratkan pelukanku padanya. Ku lepas pelukan itu ku pegang pipinya dengan kedua tanganku, "Ya sudah kamu mau makan apa siang ini?"
Dia diam seperti sedang berpikir sesuatu, '"Summer fling salad," ucapnya.
Ku kerutkan dahiku, "Dimana belinya?"
"Di dekat lampu merah sana."
"Bilang saja goda-goda!"
"Gado-gado," teriaknya. Dia memukul pelan dadaku. "Lah kamu mau makan apa?" tanyanya.
"Banana and sweet potato in palm sugar and coconut milk sauce." Ku kernyitkan muka ku, ku manyunkan bibirku.
__ADS_1
Dia tertawa lepas dengan memegangi perutnya, "Kolak? Nanti aku buatkan saja. Kita nanti mampir beli pisang dulu!"
"Oke, aku perlu pakai masker tidak ini? Nanti kamu cemburu aku di goda-goda sama penjual gado-gado?"
"Tidak perlu, penjualnya sudah tua. Tapi pakailah kaosmu! Masak telanjang dada gitu."
"Ya tidak apa-apa, kalau mau kasih."
Dia menghentak-hentakan kedua kakinya, "Aku marah lagi ini!" ancamnya.
Aku memeluknya lagi dan mengelus kepalanya. Ku persilahkan dia mengganti bajunya. Aku menunggu di teras rumah dengan sepuntung rokok yang menemaniku di siang yang terik ini.
Ku dengar langkah kakinya mendekati pintu. Langsung ku matikan rokokku. Dan berdiri menyambutnya, "Cantik." Ku berikan senyum terlebarku.
"Habis merokok ya?" sindirnya
Ku kernyitkan mukaku, "Heem."
Dia memicingkan matanya, dan berjalan pergi begitu saja menuju mobil dengan menggendong Pinky. Ku berlari mengejarnya dan membukakan pintu mobilku untuknya.
Di dalam mobil ku pasangkan sabuk pengaman untuknya. Dia terdiam menatapku.
Klik
Ku berikan senyumanku. "Cium," ku sodorkan pipiku di dekat wajahnya.
Cuuuup
"Ooooouuuuh," Ku pejamkan mataku dan ku kernyitkan muka ku. Dia memukul-mukul pundakku dan memintaku untuk segera melajukan mobil ini.
Kita menikmati siang hari ini dengan kesederhanaan dan penuh cinta. Ini yang membuatku enggan untuk meninggalkan tempat ini dan kembali ke rumahku dulu.
.
Dukung terus Author,
__ADS_1
Dengan like, coment, dan votenya ya kesayangan Mas Rey!