
Di tempat lain Pinky dan Aero tak merasa kesepian ditinggal oleh orangtuanya yang sedang sibuk memadu kasih. Bagaimana kesepian, kalau Kakek dan Neneknya terlalu memanjakan mereka.
Baru dua hari ditinggal kamar mereka di rumah orangtua Rey hampir penuh dengan mainan. Semua permintaan mereka selalu dipenuhi oleh keduanya. Makanan apapun bebas masuk ke dalam tubuh dua anak yang menggemaskan itu. Es krim, permen, cokelat, roti, bahkan jajan kemasan yang sering di larang Kinan untuk di makan ada lengkap di rumah itu.
Apakah Rey dan Kinan tau? Tentu saja iya, maka dari itu mereka jarang mengajak Pinky dan Aero ke rumah Kakek Neneknya. Kinan sudah bisa membayangkan kedua anaknya akan dengan bebas disana.
Lalu bagaimana sekolah mereka dua hari ini? Orangtua Rey tidak memanjakan mereka kalau soal sekolah. Mereka harus sekolah, karena pendidikan adalah segalanya bagi kedua orangtua itu.
Di sekolah pun Pinky sudah bisa terlihat ceria. Aero dan Arion selalu datang ke kelasnya saat jam istirahat. Arion? Oh tidak, hubungan anak dari kedua orang tuanya bersiteru ini semakin akrab.
Hari-hari mereka di lalui bersama. Bercanda, mengobrol, bermain, bahkan makan bersama. Arion tidak seburuk orangtua mereka. Dia tumbuh menjadi anak laki-laki yang kuat.
Selena, bagaimana dengan dia? Apakah dia masih menginginkan bersanding dengan Rey?
Wanita bertubuh indah itu sekarang berubah, ancaman Rey saat dia ingin membunuhnya dulu tiba-tiba seketika membuat wanita itu ketakutan luar biasa. Selena tidak menyangka walaupun Rey suka bergonta-ganti pasangan dan dia kenal selalu lembut terhadap perempuan, ternyata dia bisa berlaku seperti itu padanya.
Dia juga sadar, akan sia-sia belaka mengejar cintanya karena dalam hati Rey selalu hanya ada Kinan dan Kinan. Dia merasa seperti menjadi saksi pedihnya hati Rey untuk memendam perasaannya selama ini.
Lalu bagaimana dengan Ayah Arion si pelaku penempakan Kevin? Selena tidak pernah mengenalkan Arion pada Ayahnya itu.
Dimana dia sekarang? Yang pastinya masih mendekam di jeruji besi. Sampai sekarang Selena lebih memilih sendiri untuk menjalani hidupnya dan fokus untuk membesarkan anaknya dibantu oleh kedua orang tuanya yang tidak kalah kaya dengan keluarga Rey itu.
Kali ini Rey memberi kejutan untuk kedua anaknya. Pagi-pagi sekali sebelum matahari terbit, Rey dan Kinan sudah bersiap untuk pulang. Rey ingin menjemput langsung kedua anaknya. Dua hari tak bertemu rasanya rasa rindunya semakin besar.
Di perjalanan pulang laki-laki itu seperti tidak ada habisnya untuk menggoda istrinya. Bola matanya sering melirik ke arah wanita yang kini tangannya sibuk memainkan ponselnya.
"Fokus ke depan! Jangan mentang-mentang jalanan sepi dan gelap, nanti kalau ada kuntilanak lewat kamu tabrak!" ucap Kinan dengan bibir bawah dimanyunkan.
"Kuntilanaknya lagi duduk di kursi belakang tuh!" Tangan kiri Rey menunjuk kursi belakang yang kosong di mobilnya.
"Heh," Bulu kuduk wanita itu langsung berdiri. Dia mengusap-usap telapak tangannya ke leher untuk mengusir rasa takutnya. Sedangkan Rey dia malah tertawa terbahak-bahak. "Gak lucu! Ayo cepetan nyetirnya!" Wajah Kinan mengekerut.
"Sabar dong! Pelan-pelan, dinikmatin."
Kinan mengucek matanya, "Aku ngantuk! Kamu dua malam ini tak mengizinkanku untuk tidur nyenyak."
"Yang namanya bulan madu ya lembur sampai pagi lagi lah, kalau sekali keluar langsung tidur ya mending di rumah aja."
"Aku tegasin sekali lagi, ini bukan bulan madu ini cuma nginep di hotel. Aku gak mau bulan madu sama kamu, dua malam aja udah kualahan gimana kalau lebih? Aku gak sanggup bayangin."
"Jangan dibayangin, dilakuin dong!"
"Iih ... kamu terlalu maniak maksa-maksa."
"Bukankah wanita menginginkan seperti itu?"
Dahi Kinan mengkerut, "Menginginkan apa?"
"Ya, sedikit dipaksa." Wanita itu memukul-mukul bahunya. Rey hanya mengaduh dan mereka kini hanya terdiam di sepanjang perjalanan.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Kinan memutuskan untuk tidak ikut menjemput Pinky dan Aero sekolah. Dia ingin mengistirahatkan tubuhnya dan memejamkan matanya sejenak.
Rey melihat jam ditangan kirinya dan langsung berlari menuju mobilnya mengendalikan mobil kebanggaannya itu secepatnya. Kali ini dia tidak ingin kedua anaknya itu menunggu terlalu lama.
Di sekolah tak sengaja mobil Rey berhadapan langsung dengan mobil Selena. Mereka berdua sama-sama keluar dari mobilnya. Rey yang mengetahui keberadaan Selena selalu tak sanggup untuk menahan emosinya. Kini dia membanting pintu mobilnya.
Braaakk
Selena menutup matanya dan menghembuskan kasar napasnya. Dia seperti sudah mengerti keberadaannya membuat Rey tak nyaman.
Sedangkan Rey wajahnya cemberut, alisnya menyatu, tatapan matanya sangat tajam seperti ingin membunuh wanita itu. Dia kini berdiri di dekat mobilnya.
Dilihatnya dari kejauhan dua anaknya sedang bergandengan sambil menganyun-ayunkan kakinya bersama seorang anak laki-laki. Raut wajah Rey berubah menjadi berbinar.
"Papa ... Papa," Kedua anak itu berlari kencang melepaskan gandengan mereka. Rey menyambut kedua anaknya dengan membuka kedua tangannya lebar sambil berjongkok.
"Oooouuuh ... Papa kangen sekali dengan kalian. Ayo kita pulang! Papa dan Mama bawa oleh-oleh banyak buat kalian."
Wajah kedua anak itu pun ikut berbinar, "Hore ... hore, da da Arion kita pulang dulu ya!" Pinky dan Aero melambaikan tangan ke Arion yang kini sudah bersama Selena.
Bola mata Rey seolah-olah ingin keluar menatap anak yang tadi mengandeng anaknya. "Jadi yang namanya Arion itu dia?" Tangan Rey menunjuk ke arah Selena dan anaknya.
Wajah kedua anaknya menjadi tegang, mereka baru kali ini melihat Papanya marah. Rahang kedua anak itu seperti mengeras.
"Ayo masuk!" Rey membuka pintu belakang mobilnya. Kedua anak itu masuk perlahan dengan penuh ketakutan.
Rey membanting pintu mobil itu yang otomatis membuat anaknya kaget mengangkat kedua bahunya. Dia berjalan cepat ke arah Selena dan anaknya dengan wajah berapi-api.
"Aku tidak menyuruhnya untuk mendekati anak-anakmu Rey ...."
"Halah, aku tidak percaya dengan wanita licik sepertimu!" Jari telunjuknya menunjuk-nunjuk ke mata Selena.
"Cukup Rey, jangan menghakimiku di depan anakku!" Selena langsung membuka pintu mobilnya dan menyuruh Arion masuk. Wanita itu langsung meninggalkan laki-laki yang sedang naik tensi itu begitu saja.
Rey kembali di mobilnya. Ayah dan kedua anak itu hanya terdiam di sepanjang perjalanan.
Sesampainya di rumah mereka berdua membuka pintu mobil itu sendiri dan langsung berlari menuju kamar mereka. Kinan terheran-heran melihat tingkah kedua anaknya. Wanita itu menghentikan kedua anaknya.
"Ada apa ini?"
"Papa jahat Ma," ucap Pinky dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Iya Papa jahat, masak kita gak boleh main sama Arion."
Rey kini sudah masuk rumah dan mendengarkan keluhan kedua anaknya yang mereka sampaikan pada Kinan.
"Papa gak suka kalian berteman dengan anak itu! Jauhi dia! Dia anak nakal." Pembuluh darah tampak tegang di lehernya.
"Dia gak nakal Pa, dia baik sama Pinky."
__ADS_1
"Cukup Pinky," Teriakan Rey membuat Pinky ketakutan, selama ini dia tidak pernah mendengar laki-laki itu membentaknya. Anak itu menangis semakin keras.
"Papa jahat," teriak Pinky dengan air mata yang membanjiri pipinya. Anak itu berlari menaiki anak tangga sambil menyapu air matanya.
Kinan nampak kebingungan dengan suami dan kedua anaknya. "Ada apa ini? Pinky itu baru saja semangat masuk sekolah dan menemukan teman baru kenapa kamu melarangnya?"
Rey menjambak-jambak rambutnya, dia langsung menggandeng Kinan menuju kamarnya.
"Kamu tau siapa teman mereka?"
"Siapa?"
"Anak Selena." Wajah Rey terlihat geram.
"Lalu kenapa? Rey, kenapa kamu masih menyimpan dendam padanya? Aku percaya sama kamu, apa kamu takut Selena mengganggu hubungan kita lagi? Selena sudah meminta maaf padaku di telepon dulu."
Kepala Rey saat ini ingin pecah rasanya, dia mengusap gusar wajahnya. "Kinan, dia itu anak dari ...."
"Dari wanita yang dulu membohongimu iya? Rey, anak itu tidak bisa memilih siapa orangtuanya. Jika bisa memilih orangtua kita siapa, semua anak akan memilih orangtua yang kaya, yang memberi kasih sayang sepenuhnya, seperti kamu. Itu adalah keberuntunganmu!"
"Cukup Kinan! Kamu tidak tau yang sebenarnya." Rey memegangi dahinya, dia tidak mampu bicara pada Kinan jika anak itu adalah anak dari pembunuh Kevin.
"Sebenarnya apa? Sebenarnya kamu terlalu takut kehilangan kami. Jangan terlalu erat menggenggam pasir atau kamu akan kehilangannya! Apa kamu mau kehilangan kepercayaan dari Pinky?"
Rey menggelengkan kepalanya, "Kinan walaupun Pinky bukan anakku tapi aku tak ingin dia berteman dari anak yang sudah ...."
"Apa?" Terdengar lirih suara anak perempuan di depan pintu kamar mereka. Oh tidak, Rey lupa mengunci pintu kamarnya dan sedari tadi Pinky mendengar perdebatan mereka.
Anak itu tak kuat menampung air matanya, dia menangis sejadi-jadinya. "Ja-di ka-mu bukan Papaku?"
Deg
Jantung Kinan dan Rey seperti terhenti mendengarnya. Rey berjalan cepat ke arah anak perempuan yang sedang menangis itu. "Ka-mu anak Papa kok."
Anak itu menjauhkan dirinya dari Rey seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. "A-ku sekarang tau kenapa nama belakangku tidak ada namamu, tidak seperti Aero. Ka-rena aku bukan anakmu 'kan?"
Rey meneteskan air matanya, "Dengerin Papa! Pinky itu anak Papa dan sampai kapan pun akan jadi anak Papa.
"Bukan, kamu bukan Papaku. Siapa orangtuaku?"
❤
❤
❤
❤
__ADS_1
Like, coment dan vote nya untuk yang terakhir dong! Author nangis nih 😭😭😭