
Hari ini kita sudah bisa mulai menempati rumah yang kami beli. Kami mulai pindah ke rumah baru dan meninggalkan rumah kontrakanku dulu.
Kesibukan menata ruangan dengannya sangatlah menguras energiku saat ini. Aku sering berdebat kecil dengannya hanya karena masalah penempatan furniture yang menurutnya tepat tapi tidak menurutku. Kenapa bertemu dengannya malah menguras emosiku? Kenapa dia tidak menurut dengan seleraku.
"Rey, aku capek!" Ku helakan napas ini. Ku pandang ke arahnya yang sedang bersandar disofa memainkan ponselnya dan meminum air mineral dengan tangan kanannya.
"Tidurlah!"
Aku mengerutkan dahi. "Ya kalau aku tidur siapa yang mau menata." teriakku yang mampu membuatnya memandangiku dan menaruh ponselnya di meja.
"Aku carikan asisten rumah tangga ya?" usulnya dengan santai seperti sanggup saja membayar gajinya setiap bulan. Sepertinya dia masih belum bisa menerima kenyataan jika sekarang dia tidak bekerja.
Ku kerutkan mukaku, "Eh tidak, tidak itu hanya menambah pengeluaran kita."
"Ya sudah nanti akan ku kerjakan semua." Dia mengambil ponselnya di meja dan memainkannya lagi. Dia berdiri dan berjalan keluar rumah. Ku ikuti langkahnya dari belakang. Dia duduk di teras dan menghisap rokok disana.
Aku geram melihat tingkahnya, "Rey bisakah kamu menghentikan merokokmu. Kamu tau kan aku lagi hamil?"
Dia memicingkan matanya, "Ya makanya, kalau aku lagi merokok jangan mendekat. Ini aku sudah menjauh keluar rumah." Dia masih bisa menghisap kuat rokoknya dan mengeluarkan asapnya dari mulutnya. Menaruh sisa rokoknya di asbak dan berdiri mendekatiku.
"Kan sudah ku bilang, Aku tidak bisa berhenti langsung. Ini saja sudah aku kurangi sehari cuma satu bungkus saja."
Mulutku ternganga mendengar ucapannya, "Cuma satu bungkus kamu bilang?" Ingin rasanya aku lakban mulutnya. "Rey, kamu kan belum kerja jangan kamu buang-buang uangmu buat beli rokok. Kenapa kamu sekarang menyebalkan seperti ini?" Ku hentak-hentakkan kakiku di lantai dan meninggalkan dia begitu saja. Ku banting pintu kamar keras-keras. Bahkan dia sama sekali tidak peka untuk mengejar dan merayuku.
Aku tidak menyangka suara bantingan pintu tadi telah membangunkan anakku yang tertidur lelap. Ku gendong dia yang sedang menangis. "Oh maafkan Mama sayang!"
Tiba-tiba Rey masuk ke dalam kamar, ku kerutkan wajahku. Dia tiba-tiba mendekat dan ingin menggendong anakku. "Sini Papa gendong." Ku balikkan badanku membelakanginya.
"Tidak perlu, kamu bau rokok pergi sana!"
Dengan tiba-tiba di memelukku dari belakang yang sontak membuatku kaget. Dia menciumi pipiku berkali-kali.
Cuuuuup cuuuup cuup
Tangan kanannya mengelus perutku yang sedang mengandung anaknya dan tangan kirinya mengelus kepala anakku yang sedang menangis. Ingin aku menolaknya tapi tubuhku rasanya tidak bisa. Aku merindukannya, bahkan sangat merindukannya. Kenapa dari kemarin-kemarin dia tidak menyentuhku sama sekali? Apa dia tidak merindukanku?
"Sini aku gendong, Oh anak gadis Papa! cup, cup, cup." Dia berusaha menenangkannya. Ku helakan nafasku. Ku pegang dahiku.
"Kamu capek ayo tidurlah!" serunya. Dia masih sibuk menenangkan anakku dan membawanya keluar kamar.
Aku sedikit lega dan berusaha membaringkan tubuhku ke tempat tidur yang kami beli tadi. Seleranya bahkan belum berubah tempat tidur ini bahkan senyaman tempat tidur kami dulu.
Semakin lama mataku semakin berat suara rintik-rintik air hujan di siang menjelang sore hari ini yang semakin lama semakin deras membuatku tidak kuat untuk menahan rasa kantukku.
__ADS_1
Aku sedikit demi sedikit membuka mataku. Ku lihat jam di dinding waktu telah menunjukan pukul 16.00 WIB. Rey dan Pinky dimana? Aku terlonjak seketika.
Aku keluar kamar dan mencari mereka. Ku lihat Rey sedang memandikan anakku di kamar mandi. "Kamu bisa Rey?" Dia menoleh ke arahku dengan senyum manisnya.
Aku bingung malam ini akan makan malam dengan apa. "Rey, Kita mau makan apa malam ini?"
"Kamu ingin makan apa? Nanti aku belikan!"
"Kok beli terus? Itu hanya menambah pengeluaran Kita Rey. Kamu kan belum kerja."
"Tenang saja, tabunganku masihlah buat beli makan malam saja."
"Dari kemarin, selalu bahas tabungan masih terus."
Malam ini dia menggendong Pinky dan menggandengku keluar rumah. Membukakan pintu mobilnya untukku dan berlari masuk ke dalam mobilnya.
Dia tersenyum menatapku. Dan memakaikan sabuk pengaman itu ke badanku. Sungguh aku tidak kuat untuk menatapnya. Ini membuat jantungku berdegup kencang. Rasanya tanganku ingin memeluknya dan aku tidak tahan untuk menciumnya. Ah tapi aku kan wanita masak iya memulai duluan.
Ku lihat dia masih saja memandangiku dan tersenyum manis padaku, aku harus menyudahi olahraga jantung ringan malam ini. Perutku rasanya lapar sekali. "Rey," sapaku lirih.
Dia hanya berdehem dan semakin mendekatkan wajahnya padaku. Oh Tuhan lama tak bertemu dengannya membuat tubuhku membatu seperti ini. Padahal dia hanya menatapku. Ku pejamkan mataku. Ingin Ku melambaikan tangan ke kamera jika ini adalah uji nyali.
Cuuuuup
Mataku melebar seketika setelah merasakan bibirnya yang mendarat di pipiku. Ku lihat dia terkekeh mungkin karena tingkahku yang aneh kali ini.
Ku hentikan tangannya yang menggodaku sedari tadi, "Rey, kita mau kemana aku sudah lapar."
"Aku tidak tau tempat kuliner di daerah sini yang enak dimana? Kamu ingin makan apa?"
"Kamu punya uang tidak, jangan sampai diketawakan penjualnya pakai mobil mewah tapi tidak bisa bayar." Dia tertawa lepas.
"Ya sudah kita beli pangsit goreng di ujung jalan sini ya?" pintaku.
"Oke, tidak masalah.
"Kamu yakin makan di pinggir jalan bisa?"
"Kenapa tidak?"
Dia melajukan mobilnya, tangan kanannya meraih tangan kiriku dan menciumnya berkali-kali. "Rey, fokuslah menyetir!" Dia hanya tersenyum melihatku dan aku melepas tangannya sebenarnya memang berat, karena aku sangat menyukai bentuk otot di tangannya, sangat sexy.
Sesampainya di tempat itu kita makan bersama. Dia seperti sangat menikmati pemandangan malam ini. Dia memangku anakku sambil makan, matanya berkeliling melihat pemandangan malam ini. Ada pengamen juga yang mengiringi lagu di tempat ini yang menambah keromantisan setiap orang yang mendengar.
__ADS_1
"Kamu suka Rey?"
"Heem, ini lebih enak daripada di restoran mahal. Suasananya aku suka. Mungkin kita harus sering-sering kesini!"
"Tidak, itu hanya menambah pengeluaran kita. Cukup sekali ini saja!" Wajahnya mengkerut mendengarku menyangkalnya.
Selesai makan kami harus segera kembali ke rumah karena waktu sudah pukul 20.30 WIB. Jika belum mempunyai anak, mungkin akan ku habiskan malamku disini bersamanya.
"Kamu capek?" tanyanya setelah sampai rumah.
"Sedikit,"
"Ya sudah, ayo tidur!"
"Rey, aku lapar lagi!" Dia menatapku. "Buatkan aku makanan!"
"Makanan apa? Aku tidak bisa masak sama sekali." Wajahnya terlihat lesu.
"Telur mata sapi."
"Ibu hamil jangan makan telur setengah matang gak bagus!"
"Alasan saja kamu Rey," Aku mendengus kesal.
"Aku tidak berani menggorengnya. Nanti kalau meledak-ledak kecipratan minyak bagaimana?"
Ku kerutkan dahiku, "Ya sudah telur dadar saja."
Dia menggaruk-garuk kepalanya, "Bahannya apa?"
"Telur dikasih sedikit garam saja udah. Ayo Rey buruan!" Dia seperti ragu-ragu tidak yakin.
Tak lama kemudian dia datang dengan piring yang berisi pesananku. "Enak?" tanyanya.
"Lumayan, ini kan buatnya mudah anak kecil juga bisa."
"Tapi susah bagiku, lebih mudah buat anak." Ku pukul bahunya. Dia terkekeh.
"Kamu mau?" tanyaku, dia mengangguk. "Kita makan sepiring berdua," ucapku sambil menyuapinya.
"Untuk penghematan ya sepiring berdua. Mungkin untuk lebih berhemat lagi sebaiknya makan cinta saja, bagaimana?" usulnya yang menurutku konyol sekali. Ku cubit perutnya.
"Aaaaaaaahhkk, sakit."
__ADS_1
"Cepetan makannya! Aku mau makan kamu untuk menghemat pengeluaran juga kan?"
Like, votenya dong jangan lupa! Biar lancar ngetiknya 😘