
"Jika terjadi apa-apa dengan Pinky, aku tidak akan memaafkanmu!" Ancaman itu membuat kepalaku berputar-putar.
Tok tok tok
"Itu pasti mereka, kamu pakai baju dulu ya! Aku ambilkan!"
Ku berjalan cepat menuju lemari. "Pakai baju yang mana?" Ku lihat ada satu baju yang menarik di mataku. Ku tarik baju itu dari tumpukannya.
"Sepertinya kamu perlu ikut les cara ambil baju yang benar. Sudah berapa kali aku bilang. Jangan main tarik! Aku itu capek menatanya setiap hari. Kenapa kamu mempunyai kebiasaan yang sangat menyebalkan?"
"Astaga," Ku pegangi dahiku. Ku berjalan ke arahnya membawa baju ini. "Iya, maaf nanti aku carikan asisten rumah tangga untuk mengurusi baju-baju kita. Sekarang ayo pakai bajumu! Mau aku bantu?"
Dia pukul-pukul bahuku, "Aaaaaahhk. Kenapa lagi?" mataku membulat menatapnya.
"Masih sempat-sempatnya kamu mengambil kesempatan. Kamu itu tukang bohong dalam hal seperti ini. Apa kamu lupa tadi menyetubuhiku sambil berdiri di kamar mandi? Padahal kamu sudah janji kan tidak akan melakukannya?"
Ku usap gusar wajahku, "Haduuh, salah terus. Maaf, maaf semua salahku! Aku khilaf."
Tok tok tok tok
"Tuh mereka sudah lama menunggu, aku buka pintu dulu ya! Cepat pakai bajumu!"
"Pakai maskermu?" teriaknya.
"Astaga sayang, ini di rumah kenapa harus pakai masker?"
"Aku tidak mau dia melihatmu dan menggodamu!"
"Terus jika aku pakai masker akan mengurangi kadar ketampananku begitu? Oh tentu saja tidak. Bahkan dari jarak 50 km dari kota vedaz pun, aku masih terlihat tampan dan menggoda," teriakku.
Dia memukul-mukul tubuhku dengan bantal beberapa kali. "Ck," aku berdecak dan berdiri.
Mereka pasti terlalu lama menungguku. Lebih baik aku tinggal pergi saja Kinan. Aku mulai berjalan cepat membukakan pintu rumahku.
Kleeeek
Aku melihat Andre dan Sisca yang sedang menggendong anakku di depan pintu, "Eeeeh, maaf lama menunggu. Masuklah! Sini biar Pinky aku tidurkan di kamarnya."
"Biar aku tidurkan saja Rey, kamarnya dimana? Oh iya istrimu dimana aku ingin menjenguknya?"
Deg
Astaga saat ini Kinan masih belum bisa mengendalikan emosinya. Aku harus bagaimana? bagaimana kalau Kinan marah dengan Sisca? Kenapa juga dia menelan mentah-mentah ghibahan para tetangga?
"Rey,"
Suara itu membangunkan lamunanku, "Eeeeeh, iya disana kamarnya." Aku menunjuk kamar kami. Pikiranku sangat kacau. Dia sudah memakai baju nya apa belum?
Aku duduk bersama Andre di ruang tamu. Dan Sisca dia sedang berjalan menuju kamar menemui Kinan.
__ADS_1
Ku hembus kasar nafasku, ku remas-remas tanganku untuk mengusir rasa cemasku pada dua wanita itu. Semoga Kinan bisa mengendalikan emosinya. "Kamu mau minum apa Dre?" Ini alasanku ke dapur untuk melihat Kinan.
"Air putih saja, tadi kan sudah minum kopi."
"Oke, tunggu aku ambilkan!"
Ku berjalan celingukan ke arah kamar. Oh tidak pintunya sedikit terbuka tapi aku tidak mendengar Kinan marah disana.
Aku kembali ke ruang tamu dengan membawa air putih untuk Andre. Kita berbincang-bincang masalah pekerjaan disini, tapi pikiranku tetap tidak tenang.
"Kamu dulu kerja dimana Rey?"
Deg
Pertanyaan itu lagi. Aku harus menjawab apa? Apa aku harus menceritakan siapa aku sebenarnya? Tapi itu terlihat berlebihan sekali. Lagi pula mana ada yang percaya. Pemilik perusahaan tinggal di rumah sekecil ini.
"Eeeeh, di salah satu perusahaan di kota ku dulu." Ku berikan senyuman palsu padanya, dan juga jawaban palsu pastinya.
"Sebagai apa?"
Ku pejamkan mataku, aku harus menjawab bohong lagi. "Manajer, iya ma-najer. Hee, hee, hee."
"Wah bisa pas sekali. Lalu bagaimana? Apa kamu mengambil lowongan di tempatku?" tanyanya dengan mata berbinar.
"Oh, iya tadi aku sudah berdiskusi dengan istriku dan dia mengizinkannya. Besok aku akan ke sana."
Kinan POV
Dengan cepat aku mengganti jubah mandiku dengan baju yang dipilihkan Rey. Oh tidak ini baju terlalu pendek. Benar-benar membuatku semakin bertambah kesal dibuatnya.
Tok tok tok
"Buat apa Rey ketuk pintu untuk masuk kamar?"
"Masuk," teriakku geram.
Kleeeek
Pintu itu terbuka, "Halooo,"
Mataku membulat melihatnya. Wanita itu, apa wanita itu yang bernama Sisca. Ya dia terlihat cantik dan sexy. Oh untuk apa dia masuk kamar. Dan Pinky apa dia menggunakan Pinky untuk merebut hati suamiku.
"Si-apa ya?"
"Aku Sisca, tetangga sebelah."
"Oh Sisca, aku Kinan," Aku meraih anakku dan menidurkannya di sampingku. "Maafkan suamiku yang konyol, menitipkan anakku kamu. Pasti kamu sangat kerepotan."
"Tidak apa-apa aku seneng kok. Aku dan suamiku sangat menginginkan anak tapi Tuhan belum mempercayakan itu semua pada kami." Ku lihat matanya berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sabar,"
Dia mengangguk, "Aku sampai di bilang mandul oleh orang-orang sini. Aku tidak tau kenapa membenciku. Mereka berpikir aku menggoda suami mereka. Padahal suami mereka yang menggodaku."
"Mungkin karena kamu cantik dan bertubuh indah. Kamu instruktur senam juga kan."
Dia menganggkat kedua bahunya. "Aku lalu harus bagaimana? Masak iya aku pakai gamis saat menjadi instruktur senam."
Aku terkekeh pelan. Oh setidaknya dia tidak seburuk yang orang-orang pikir.
"Kamu hamil berapa bulan?" tanyanya.
"Lima bulan,"
"Boleh aku mengelusnya?"
Ku anggukan kepalaku, dia tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca.
"Oh iya kamu sakit apa Kinan?"
Mataku melebar mendengarnya "Haaaah, sakit?"
"Tadi kata suamimu kamu lagi sakit." Tangannya menunjuk keluar pintu.
"Ooooh," Benar-benar Rey membuat emosiku bertambah besar. Untuk apa dia bicara seperti itu. Dia menganggkat kedua alisnya seolah-olah ingin aku menjawabnya. "Oh, sakit perut tapi sudah mendingan ini." Ku berikan senyuman palsuku.
"Oooh, kalau kamu repot boleh kok menitipkan Pinky ke aku. Dengan senang hati aku akan menjaganya. Dia anak yang cantik dan menggemaskan."
"I-ya,"
Dia bercerita banyak tentang kehidupannya dan juga hobinya padaku. Aku mengajaknya keluar kamar.
Ku lihat Rey berbincang-bincang dengan suaminya. Di tangannya ada sepuntung rokok menyala. Ku lirik tajam ke arah matanya. Dia seperti salah tingkah melihatku. Menggaruk-garuk kepalanya dengan bola mata yang bergerak kesana kemari kebingungan. Aku duduk di dekatnya. Dia langsung mematikan rokoknya di asbak.
"Ya sudah kami berdua pamit pulang dulunya," pamit laki-laki itu.
Kami berdiri, "Eeeh, iya. Terima kasih ya!" ucap Rey dengan melirikku.
"Sama-sama."
"Aku pulang dulu ya Kinan, senang bisa berkenalan denganmu! Kapan-kapan mainlah ke rumahku! Kita masak bareng-bareng pasti seru."
"I-ya, pasti."
Kami mengantar mereka berdua sampai depan pintu. Setelah mereka berdua pergi. Ku kunci pintu itu, "Sini kamu!" ku cubit perutnya.
"Aaaaaaaaahhkkk sakit."
Jangan lupa like, coment dan votenya!
__ADS_1