
Setelah Rey mengantar kedua anaknya sekolah, dia memutar arah mobilnya dan mengemudikan dengan cepat agar segera sampai kantornya.
Seperti kurang kerjaan, ya itulah dia sekarang. Bisa dibilang juga seperti setrikaan. Bolak-balik dari rumah, ke sekolah yang tidak searah dengan kantornya.
Apa dia lupa kalau punya sopir? Tidak, dia tidak lupa. Dia hanya ingin selalu memperhatikan anak-anaknya. Jadi walaupun kelelahan itu tidak masalah baginya. Biarlah! Yang penting dia bahagia.
Tidak ada yang perlu diceritakan bagaimana Rey dikantornya. Terlalu membuat pusing kepala. Biar dia saja yang pusing. Kita jangan.
Setelah anak-anak dan suaminya berangkat, Kinan pun langsung ke toko kue diantar oleh sopir. Dia kelihatan sangat cantik walaupun dengan riasan wajah sederhana. Wanita itu masih sangat memperhatikan bentuk tubuhnya, dia terlalu takut jika suaminya yang sering berinteraksi dengan wanita-wanita cantik dan seksi sampai tergoda. Ah, resiko mempunyai suami tampan sebenarnya ada rasa tak nyaman.
Sesampainya di toko kue. Dia melihat sahabatnya itu sibuk kesana kemari melayani pembeli. Raut wajah lelah tergambar jelas disana.
Kinan menaruh tasnya di meja dan membantu mengurangi antrian pembeli.
"Apa begini suasananya setiap hari? tanya Kinan pada Wina yang sibuk mengbungkus kue dan memberikannya pada pembeli.
"Terima kasih Bu," ucap Wina pada pembeli yang baru saja dilayaninya. Kemudian dia menoleh ke arah Kinan. "Menurutmu?"
"Perlu nambah karyawan lagi?"
Wina tersenyum lebar, "Boleh tuh biar aku agak santai." Kinan mengangguk dan membantu melayani pembeli satu persatu.
Tak terasa waktu sudah siang dan pembeli hanya tinggal beberapa yang berada di dalam sana. Kinan kini sibuk mengecek setiap kue-kue yang berjejer indah itu. Ponselnya berdering, Rey meneleponnya.
__ADS_1
"Nanti aku jemput, ini masih jemput anak-anak." Laki-laki itu langsung mematikan teleponnya. Kinan menggelengkan kepalanya. Benar-benar para sopir di rumahnya seperti makan gaji buta kalau lama-lama begini caranya.
Dari arah pintu terlihat seorang laki-laki tampan yang masuk ke dalam toko kuenya. Apakah setampan suaminya? Sepertinya lebih tampan Rey. Atau mungkin karena belum kenal saja jadi bisa bilang begitu. Entahlah, dia mendekat ke Kinan.
"Nona manis ... pastry masih?"
"Tentu,"
Laki-laki itu lantas mengambil ponsel di saku celananya dan melihatnya, "Lalu ... Cifon dan brownies?
"Ada juga," jawab Kinan.
"Oke bungkus semua ya!"
"Apa aku seperti pelayan di toko ini?"
"Tentu saja tidak, kamu sangat berbeda. Apa kamu pemilik toko kue ini?"
Kinan hanya tersenyum, kemudian Wina keluar. "Hai Ray ...."
Sebentar, apa disini ada Rey? Kinan kebingungan, bola matanya berkeliling mencari sosok nama yang disapa Wina.
"Dimana Rey?"
__ADS_1
Wina memundurkan kepala, "Ray ya, bukan Rey. Dia namanya Raymond." Wina tersenyum ke arah laki-laki itu.
Kinan mengernyitkan keningnya. "Dia pemilik toko kue ini Win?" tanya laki-laki itu.
"Iya, tapi jarang kesini."
"Pantas dia tidak tau aku. Oh iya kenalin aku Raymond." Laki-laki mengulurkan tangannya ke Kinan.
"Aku Kinan." Dia membalas uluran tangan itu.
"Cantik ... sangat cantik." Kinan memberikan senyum setengah padanya.
Laki-laki itu terus membuat Kinan dan Wina tersenyum dan sesekali tertawa dengan lawakannya.
Tanpa disangka ada penampakan sesosok laki-laki yang sedari tadi berdiri di depan pintu toko kue ini, tangannya mengepal, alisnya menyatu, dahunya berkerut. Wajahnya berapi-api, kepalanya bersungut-sungut. Sudah cukup, siapa? Ya siapa lagi kalau bukan Rey, Reyhan.
❤
❤
❤
🗣 Wah ini pasti pebinor?
__ADS_1
Yeeee bukan.. 😡