Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Lilin kecil dalam kegelapan


__ADS_3

Kinan POV


"Kamu cantik malam ini." Satu kalimat yang keluar dari mulutnya mampu membuatku melupakan aroma parfum wanita yang menempel di bajunya. Aku sadar pasti ada saja wanita yang tidak bisa menolak pesonanya dan pasti akan berusaha menggodanya. Aku percaya padanya, hanya aku yang ada di hatinya.


Dia memelukku erat dari belakang, menciumi pipiku entah berapa kali. Bulan purnama seperti memberitahu dunia dengan menyorotkan sinarnya pada kami yang telah di mabuk cinta ini. Aku sangat bahagia, ku pejamkan mataku saat tangannya menyentuh buah cinta kami.


"Hei dia bergerak," ucapnya. Dia berlutut di hadapanku dan mencium perutku. Ku elus-elus rambutnya.


"Nanti kalau aku melahirkan pokoknya kamu harus temani aku?" ancamku. Dia berdiri dan menatapku.


"Iya lah. Masak aku tinggal clubbing." Aku cubit otot perutnya. "Ooooouuuuh," keluhnya dengan memegangi perutnya dan memejamkan kedua matanya. Aku tidak bisa menahan tawaku saat dia bersikap seperti itu.


"Tadi siapa wanita yang menabrakmu?"


Dia mengangkat kedua alisnya dan mendekatkan wajahnya padaku. "Kamu cemburu?"


Ku anggukan kepalaku, "Aku tidak suka. Apa di tempat kerjamu yang sekarang banyak wanita yang menyukaimu?"


"Wanita satu kantor menyukaiku, bayangkan coba beratnya aku harus menahan godaan itu!"


Ku kernyitkan mukaku. "Idiih, itu paling cuma perasaanmu. Besok libur, kita jalan-jalan ya!"


Dia memegang kedua pipiku, "Iya besok pokoknya kita habiskan waktu bersama."


Kami masuk ke dalam rumah dan menikmati makan malam berdua. Ku matikan lampu ruang makan dan menjadikan lilin-lilin kecil ini sebagai sumber pencahayaan. Ku tambah dengan dekorasi bunga mawar darinya dan siap untuk menikmati masakan buatanku.


Malam ini begitu indah, dia mencium punggung tanganku, matanya menyorot tajam padaku seperti ingin mengejarku. Sungguh seperti baru pertama pacaran. Aku sangat kesulitan untuk menyembunyikan perasaan bahagiaku padanya.

__ADS_1


Setelah selesai makan kami berdua duduk di sofa ruang tamu. Ku tenggelamkan wajahku di dadanya. Ku hirup dalam-dalam aroma tubuh.


"Jangan ada lagi yang boleh menyentuhmu!" ancamku.


"Ck. Bahas itu lagi." Ku lepaskan pelukanku.


Aku masuk ke dalam kamar dan menyuruhnya untuk menungguku sebentar. Ku ganti bajuku dengan lingerie berwarna merah ini. Ku ikat rambut panjangku, riasan wajah tadi belum luntur di wajahku jadi aku hanya menimpanya sedikit. Aku hanya ingin terlihat beda malam ini.


Aku keluar dari kamarku dan melihatnya menghisap sepuntung rokok. Mungkin karena terlalu lama menungguku, aku harus bersabar dalam hal ini. Merubah kebiasaan buruknya sangatlah susah sekali. Dengan kuat dia menghisap tembakau itu dan mengeluarkan asap-asapnya ke udara.


Namun dia tiba-tiba menatapku tajam saat mengetahuiku keluar dari kamar. Dia tersenyum melihatku berdiri terdiam. Aku berjalan cepat ke arahnya dan mencium bibirnya. Entah apa dipikiranku, malam ini aku sangat merindukannya. Apa karena akhir-akhir ini dia tidak pernah menyentuhku?


Aku duduk di atasnya dan menikmati bibirnya. Sungguh aku mungkin seperti wanita yang sedang kehausan. Aku tidak tau apa mungkin pengaruh hormon kehamilanku. Yang jelas aku ingin menghabiskan waktu malamku bersamanya.


Di jari tangannya masih terselip sepuntung rokok yang menyala. Di mulutnya pun masih kucium nikotinnya. Aku sebenarnya sangat membenci aroma ini.


Ku lepaskan ciuman ini. "Kapan kamu berhenti merokok?"


Dia menyandarkan kepalanya di sofa. Kedua tangannya memegangi pinggangku. Kedua tanganku meremas-remas rambutnya. Dan malam ini kami begitu menikmatinya. Suara decapan bibir di suasana rumah yang temaram menambah gejolak gairah ini membara.


Dia seperti kesusahan untuk mematikan rokoknya di asbak yang berada tak jauh dari meja. Tangannya berusaha menjangkaunya namun terhalang dengan ciuman ini.


"Tunggu!" serunya. Aku menghentikan ciumanku padanya. Dia mematikan rokok itu disana. "Ayo lagi!" Dia menyandarkan kepalanya di sofa dan aku mencium bibir itu lagi.


Beberapa menit kita berciuman, aku melepaskan bibirku. Dia tersenyum padaku dengan tatapan matanya yang sangat teduh. Mengusap bibirku yang basah ini dengan ibu jarinya membuatku jatuh ke dalam dasar cintanya.


"Kamu menginginkan ini?" tanyanya. Aku mengangguk dan memeluknya. "Kenapa tidak bilang?"

__ADS_1


"Aku takut kamu lelah bekerja," ucapku.


"Kamu meragukan kekuatanku?" Aku tersenyum malu. "Ya sudah kita lakukan di kamar ayo!"


Aku menahannya, "Aku maunya disini?"


Dahinya mengkerut. "Disini?" Aku mengangguk. "Ya sudah ayo! Boxerku rasanya sudah sesak sekali." Aku tertawa mendengarnya.


Dia membuka celananya. "Baru kali ini aku melihatmu seperti ini! Aku sangat menyukainya. Godalah aku setiap hari seperti ini!"


Dahiku mengkerut seketika saat mendengar ucapannya. "Apa aku seperti wanita penggoda?"


"Tentu saja tidak, aku hanya ingin tidak ada yang kita sembunyikan. Aku ingin kita sama-sama bahagia. Aku sungguh mencintaimu." Dia mengelus pipiku dengan punggung jari-jari tangannya


Aku sangat terbuai dengan ucapannya. Takjub dengan setiap sentuhan lembutmu. Rasanya terjatuh dalam lubang cinta di palung laut terdalam.


Rey POV


Berhari-hari aku tak menyentuhnya ternyata ada rindu dibalik ini semua. Dia berjalan cepat memeluk dan mencium bibirku. Aku tidak mengerti yang jelas dia berkata merindukanku.


Aku tidak menyangka itu, selama ini dia tidak pernah memulainya, selalu aku dan aku yang menggodanya dulu.


Kali ini dia memakai lingerie berwarna merah. Dengan rambut di ikat ke atas. Biasanya dia mengurainya namun tidak untuk malam ini. Aku terkesima dengan pesona indahnya. Mataku tak henti menatapnya, kecantikan yang luar biasa walaupun suasana rumah yang temaram hanya dari sinar lilin yang terpancar di meja makan kita tadi.


Pancaran indah dari manik matanya sangat jelas terlihat. Setiap kedipan dan lirikan matanya mampu membutakan mata hati ini.


Malam ini kami puas menumpahkan semua kerinduan ini, kami berpandangan sebentar. Dia memelukku dan tertidur di dadaku.

__ADS_1


Aku memindahkan tubuhnya ke kamar dengan sangat hati-hati. Dia tertidur sangat lelap. Ku lepaskan ikatan yang berada rambutnya. Melihat beberapa tanda kepilikan yang ku berikan tadi di dadanya membuatku lagi-lagi ingin mengulanginya.


Ku cium bibirnya, dia merintih pelan dengan mata yang masih terpejam. Ku urungkan niatku dan kupeluk dia sampai pagi menjelang.


__ADS_2