Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Hangover 2


__ADS_3

Aku berusaha berjalan memapahnya dengan sekuat tenaga. Tubuhnya terbuat dari otot ramping namun sangat berat. Aku berhenti sejenak mengatur napasku. Kenapa sofa itu seperti sangat jauh sekali?


Orang-orang disini pun bahkan tak ada yang memperdulikan kami dan teman-temannya tadi masih asyik dengan kesenangannya sendiri. Aku mencoba terus bertahan menahan tubuhnya karena sebentar lagi akan sampai di sofa itu.


Bruuuukk


Kami terjatuh berdua di kursi empuk ini. "Sayang," Dia seperti mengigau, ku tepuk-tepuk pipinya.


"Bangun, ayo pulang! Aku takut Rey!" Ku lihat orang-orang sekitar. Semakin banyak yang jalan sempoyongan dan bercumbu disembarang tempat.


Ku gigiti bibir bawahku, bagaimana ini? Tidak mungkin kami pulang dalam keadaan seperti ini. Aku juga tidak bisa menyetir mobil. Kalau Rey yang menyetir malah lebih parah lagi, bisa-bisa kecelakaan.


Satu-satunya pilihan hanya menelepon sopir di rumah. Ya, aku harus segera menghubungi mereka untuk menjemput kami disini.


Ku ambil ponselku, suara dentuman musik itu membuatku kesusahan untuk mendengar. Akhirnya ku putuskan untuk menjauh dan meninggalkan suamiku di sofa itu.


Ada perasaan sedikit lega, mereka akan segera menjemput kami. Aku berjalan kembali ke sofa tempat kami tadi. Aku tercengang melihat suamiku tidur di bahu seorang wanita.


"Hei, siapa kamu?" teriakku. Aku menarik tangan wanita itu untuk segera pergi dari suamiku.


"Sayang, kamu mau kemana? Kinan, jangan tinggalkan aku!" Aku ternganga mendengarnya. Ku pukul-pukul dadanya.


"Apa-apaan kamu Rey? Kalau tidak ada aku, apa yang sudah kamu lakukan dengan wanita tadi?" Dia tersenyum-senyum tidak jelas dan memelukku. "Ayo kita keluar dari tempat ini!"


"Pasti tidak sesakit ini rasanya jika aku yang mengenalmu lebih dulu, harusnya aku." Dia menunjuk-nunjuk dadanya. "Apa kamu akan mencintaiku juga sayang? Pasti aku juga tidak akan kehilangannya ...."


"Bicara apa kamu? Ayo pulang!"


Dia membelai pipiku dengan punggung jarinya, "Tenanglah aku tidak akan memaafkan pembunuh cintamu sampai tujuh turunan!"


Deg


"Apa maksudmu?"


Aku semakin bingung dengan ucapannya, dia terlalu sering mengigau tidak jelas. Ku lingkarkan tangannya ke leherku. Lebih baik aku menanggung berat tubuhmu dari pada menanggung sakit hati karena banyak wanita disini mengincarmu.


Kami akhirnya bisa berjalan keluar dari tempat ini dan sebentar lagi akan sampai mobilnya. Namun tiba-tiba tangannya memegangi perutnya. Mulutnya menggembung seperti menahan sesuatu. Oh tidak pasti dia akan muntah.


Aku memapahnya lebih cepat menuju tempat sampah terdekat. Hanya itu yang bisa aku lakukan.


Hooooek hoooeeek hoek

__ADS_1


Berkali-kali dia menumpahkan isi perutnya. Wajahku mengernyit mencium bau alkohol yang dia keluarkan. Dia memegangi dahinya dan menjambak-jambak rambutnya.


Bruuukk


Lagi-lagi terjatuh, kenapa kali ini kamu begitu menyebalkan. Lihat saja besok aku tidak akan memaafkanmu!


Ku lihat dua sopir kami sudah datang. Aku memanggil mereka dan membawa suamiku masuk ke dalam mobil.


Kali ini aku memutuskan untuk pulang ke rumah Mama, tidak mungkin aku pulang ke rumah kami tanpa menjemput anak-anak. Aku bisa menebak pasti Papa marah besar padanya. Biarlah, aku juga ingin dia mendapatkan pelajaran.


Tok tok tok


Ku ketuk pintu rumah Mama. Mata Mama dan Papa membulat melihat Rey yang berjalan di papah dua sopirnya.


"Apa-apaan kamu Rey? Kamu mabuk lagi?" teriak Papa dengan geram. "Kinan, apa yang terjadi?"


Aku menjelaskan kejadian dari awal pada Papa dan Mama. Sopir itu mengantar suamiku ke kamarnya. Aku berterima kasih atas bantuan mereka berdua. Ku lepas sepatu dan bajunya, dia masih saja belum sadar.


Aku langsung mandi dan berganti baju lalu melihat anak-anakku. Oh, maafkan kami yang dua hari ini selalu sibuk sendiri. Aku menciumi mereka yang sudah tertidur lelap. Kali ini aku berusaha tidur bersama mereka dan meninggalkan suamiku tidur sendiri di kamarnya. Aku tidak tahan dengan bau alkohol yang masih melekat di tubuhnya.


...****************...


Mentari mulai menampakkan sinarnya lagi, seperti biasa ku buka tirai kamar untuk mengizinkan sinarnya masuk ke dalam kamar kami. Aku melihatnya masih tertidur.


"Semalam aku mabuk ya sayang?" tanyanya. Ku picingkan mataku tanpa menjawabnya.


Raut wajahnya kusam. Matanya memerah, rambutnya acak-acakan, bajunya juga lusuh.


Dia menatap sekeliling kemudian menyibakkan selimutnya dan berjalan oleng menuju kamar mandi.


Aku menyiapkan bajunya dan mengambil sarapannya. Sesampainya di kamar, dia masih saja belum menyelesaikan mandinya. Aku takut terjadi apa-apa? Ku ketuk pintu kamar mandi berulang kali namun tidak ada jawaban. Akhirnya ku putuskan untuk membukanya sendiri karena dia tidak menguncinya.


Kleeek


"Aaaaaahhhk," Dia mengagetkanku hanya terdiam berdiri di depan pintu dengan sehelai handuk yang melingkar di bagian tubuh bawahnya. "Aku kira kamu pingsan di dalam sini."


Dia memicingkan matanya, "Ayo kita pulang! Papa pasti akan menghajarku. Kenapa kamu biarkan aku minum semalam?"


Mulutku ternganga mendengarnya, "Kenapa menyalahkanku? Kamu yang menyuruhmu untuk segera pulang tapi kamu yang tidak mau. Kalau tidak ada aku mungkin kamu akan tidur di dalam tempat itu sampai pagi bersama wanita yang mendekatimu."


Dia mengerutkan keningnya, kemudian berjalan menuju tempat tidur. "Wanita mana lagi? Aku kan bersamamu."

__ADS_1


"Mana ingat? Kamu kan mabuk. Kamu bahkan sudah memeluknya dan akan menciumnya. Menjijikan sekali." ku kerucutkan muka ku.


Dahinya mengkerut, matanya membulat menatapku. "Masak? Maafkan aku ya! Aku tidak akan mengajakmu ke tempat itu lagi, janji. Aku juga tidak akan kesana."


Aku ingin sekali marah dan mendiamkannya tapi entah kenapa aku selalu tidak bisa, "Ya sudah ayo cepat sarapan, aku buatkan bubur nih!" Aku mengambil bubur itu, dan menyuapinya.


"Sudah, ayo kita pulang sebelum Papa tau! Anak-anak dimana?"


Tok tok tok


"Rey," teriak Papa.


"Bener nih kata Yuda, 'Mama dorong aku'."


Ku pukul pelan bahunya, masih bisa-bisa bercanda. "Cepat pakai celana dan kaosmu!" Aku sudah menyiapkan celana jeans panjang dan kaos berwarna putih untuknya sedari tadi.


"Tutup matamu aku akan membukanya, aku masih perawan, aku malu!" Dia menunjukan sederet giginya padaku.


Ku tutup mukanya dengan telapak tanganku, "Apa kamu masih mabuk haaah? Semoga saja Papa memukulmu!" Aku geram dengan gurauannya.


Tok tok tok tok


"Rey, bangun!" Teriakan Papa membuatku merinding. Menunggunya memakai baju terlalu lama. Akhirnya ku buka pintu kamar ini.


Kleeek


Bola mata Papa melotot seolah-olah ingin keluar. Papa berjalan cepat mendekat ke suamiku dan langsung memukul bahunya berkali-kali.


"Sakit Pa! Sudah dong! Aku bukan anak kecil. Aku mau pakai celana Papa keluar dulu sana!" ucapnya seperti tanpa dosa.


Papa ternganga kemudian berteriak, "Potong saja love bird mu itu!"


Suamiku memundurkan kepalanya sambil mengkerucutkan mukanya. Papa berjalan keluar kamar dan masih menggerutu.


Setelah sarapan kami langsung pulang ke rumah. Menikmati hari libur ini dengan menghabiskan waktu di dalam rumah bersama.



Semoga tidak bosan!


Makasih masih setia membaca! 😘

__ADS_1


Dukung terus Author,


Dengan like, coment, dan votenya!


__ADS_2