Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Hancur


__ADS_3

Kinan POV


Kehamilanku kini mendeketi hari perkiraan lahir. Ya dua minggu lagi aku akan melihatnya hadir diantara kami. Oh aku sungguh tidak sabar untuk menyambut buah cinta kami.



Rey, dia memberikan seluruh cintanya untuk kami. Aku sungguh bersyukur memiliki suami sepertinya, dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Tetaplah mencintai kami dan di selalu samping kami.


Pagi ini seperti biasa ku persiapkan seluruh keperluan kerjanya. Pagi ini juga dia menciumiku bertubi-tubi, seperti tidak pernah bosan itu yang dia lakukan setiap hari padaku.


Kita sarapan pagi berdua, menikmati sepotong roti dan segelas susu dengan penuh cinta. Namun tiba-tiba raut wajahnya berubah. "Sayang, nanti setelah kamu melahirkan kita pulang ya!"


Ku taruh roti ku piring dan ku tatap tajam matanya. "Tumben ngajak pulang, biasanya tidak mau. Kenapa tidak sekarang saja pulangnya?"


Dia menundukan pandangannya lalu menatapku kembali, "Maafkan aku! Jika sekarang pulang aku takut kamu kelelahan di perjalanan terus melahirkan di jalan bagaimana?" Ku anggukan kepalaku dan tersenyum padanya.


Selesai sarapan dia berpamitan untuk berangkat kerja. "Tidak ada yang ketinggalan kan?" tanyaku sambil membenahi kerah kemejanya.


"Tidak, ya sudah aku berangkat dulu ya! Cuuup." Dia mencium puncak kepalaku dan berlari menuju mobil karena waktu memang sudah tidak mau menunggunya berlama-lama di rumah.


Seperti biasa aku membereskan sarapan kita. Kali ini aku begitu mudah lelah dengan perutku yang semakin membesar. Aku masuk dalam kamar dan ingin berbaring di atas tempat tidur.


Tiba-tiba ku lihat handuk yang dia pakai tadi lagi-lagi dia taruh sembarangan di atas tempat tidur. Ku helakan napasku, kenapa susah sekali merubah kebiasaannya?


Ddrrrrt ddrrrrrt


Ku lihat ke arah getaran itu, oh tidak ponselnya tertinggal. Aku hanya memegangnya dan ku taruh lagi di meja. Lalu ku jemur handuknya di belakang rumah. Aku melihat Pinky dia masih tertidur pulas di kamarnya. Ku pandangi wajahnya yang lucu.


"Sebentar lagi adek hadir ditengah-tengah kita dan akan menemanimu sayang. Cuupp." Ku cium keningnya!

__ADS_1


Aku berjalan masuk kamar lagi dan ku baca majalah disana. Tiba-tiba ponsel suamiku bergetar lagi. Ku ambil ponselnya dan ku baca beberapa pesan yang masuk tanpa nama.


Rey, dipanggil Pak Arka sekarang!


Oh tidak ini pasti sangat penting. Ku taruh majalah ini di sebelahku. Aku mulai fokus membaca pesan yang masuk lagi. Kali ini ada lima pesan dari satu nomor tak di kenal dan gambar foto profil wanita di nomor ini.


Kamu sangat tampan pagi ini.


Deg


Jantungku rasanya berhenti saat membacanya. Aku geser layar ponselnya lagi.


Aku tidak yakin kamu tidak menginginkan ini lagi?


Wanita itu mengirim sebuah fotonya yang setengah telanjang dengan memperlihatkan jelas lekuk tubuhnya pada suamiku. Aku seperti tidak asing dengan wajah wanita itu. Aku berpikir sejenak. Ya dia yang pernah beberapa bulan lalu datang menjenguk Rey saat sakit. Mataku rasanya sudah penuh dengan air mata. Ku geser kembali layar itu.


Deg


Hatiku terasa teremas, air mata ini rasanya sudah tidak bisa ku tampung lagi. Aku tidak sanggup lagi membaca pesan yang masuk darinya. Ku remas-remas ponselnya. Rasa sakit ini bahkan mampu menguncang perutku. Aku hanya bisa menangis tersedu-sedu dengan memegangi dadaku yang terasa semakin sesak untuk bernapas ini.


Ku dengar mobilnya datang. Suara bantingan pintu mobilnya itu terdengar sampai dalam kamar. Dia pasti pulang mengambil ponselnya.


Kleeeek


Dia membuka pintu kamar ini. "Sayang," teriaknya. Air mataku semakin banyak tumpahnya. Aku tidak bisa menahannya. Aku berdiri dan memberikan ponselnya.


Ku sapu air mata yang terus mengalir ini. "Ma-afkan aku sudah lancang membukanya. Ada pesan penting dari teman wanitamu." Aku menunduk dan masih dengan terisak tangis yang entah kenapa tak bisa berhenti. Dia mengambil ponselnya dan membantingnya.


Braaaakk

__ADS_1


Mataku membulat melihat ponsel itu hancur, sama seperti hancurnya hatiku. Ku tatap matanya, apa dia begitu marah padaku karena aku telah lancang membuka ponselnya. Selama aku menjadi istrinya aku bahkan tidak berani membukanya. Baru kali ini dan aku menyesalinya.


"Maafkan aku!" Aku masih menangis dan jatuh tersungkur di depannya. Ku pegangi perut yang rasanya terguncang hebat ini.


Tiba-tiba dia menangis dan memelukku. "Aku yang minta maaf! Harusnya aku tidak memikirkan kebahagianku sendiri. Harusnya kita tidak disini lama-lama. Harusnya kita sudah pulang ke rumah kita dulu."


Dia memegangi kedua pipiku. "Kamu percaya kan padaku? Aku tidak mempunyai hubungan apa-apa dengan wanita itu."


Ku pejamkan mataku dan ku anggukan kepalaku. Aku sebenarnya tidak tau harus menjawab apa. Aku tau dia begitu mencintaiku, tapi bagaimana jika dia mencari pelampiasan karena bosan melihat tubuhku yang sekarang?


Dia menyapu air mata yang mengalir di pipiku. "Lalu kenapa kamu masih menangis? Pecayalah padaku! Aku tidak pernah menanggapinya."


Dia memelukku kembali. Oh ada perasaan sedikit tenang di dalam sana. "Sejak kapan dia menggodamu?"


Dia menunduk. "Sejak aku bekerja disana!"


"Lalu kenapa kamu tidak pernah bercerita padaku?" teriakku dengan tangisan yang semakin kencang. Kenapa dia selalu seperti ini?


"Sayang kamu hamil, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kalian. Aku sangat menyayangi kalian. Maafkan aku! Aku janji padamu tidak akan menyembunyikan apapun lagi darimu."


Tok tok tok


Terdengar ketukan pintu yang membuyarkan pembicaraan kita. Ku hapus air mataku dan berjalan membukanya.


Kleeek


Ku lihat wanita itu berdiri di depan rumah kami. Tidak ada rasa bersalah sedikit pun dimatanya. "Dimana Rey? Dia di panggil Pak Arka untuk segera kembali ke kantor. Kalau tidak dia akan dipecat."


Like ❤

__ADS_1


__ADS_2