
Rey POV
"Kamu tidak lagi menyembunyikan sesuatu kan Rey?" teriakanmu seakan menampar wajahku. Maafkan aku sayang, sebenarnya aku berbohong padamu. Bukan karena aku menganggapmu wanita memandangku hanya karena materi tapi karena aku terlanjur menikmati kebahagian yang sederhana ini bersamamu.
Sebenarnya aku sangat marah padamu kala itu. Kamu tidak tau bagaimana hari-hariku dulu tanpa dirimu. Kamu pergi begitu saja meninggalkanku. Bukankah kamu sudah berjanji tetap disampingku? Tapi apa, kamu begitu saja menyerah dengan keadaan ini. Harusnya kamu mengerti posisiku dulu.
Siapa yang kuat ditinggal pergi? Siapa yang tidak kehilangan saat hati terlanjur cinta? Siapa hatinya yang tidak sakit mengingat kenangan yang telah terukir selama ini hilang begitu saja? Tahukah kamu, cintaku hanya satu untukmu dan kan selalu ku jaga sampai mati.
Siang hari mungkin aku bisa mencari kesibukan untuk mengusir rasa kehilanganku padamu, tapi tahukah kamu penderitaanku saat pulang ke rumah ditambah dinginnya angin malam selalu menyayat hatiku. Aku kala itu bagaikan kehilangan satu sayapku. Titipan rindu ini semakin hari semakin banyak untukmu. Tapi apa yang bisa ku perbuat?
Sehari, dua hari, seminggu, dua minggu aku mencoba bertahan dan memendam rasa sakit di dalam dada. Dimana kamu wanitaku? Kembalilah pulang padaku? Akankah aku tidak akan bertemu denganmu lagi?
Setiap hari ku usap gusar wajahku yang tak berguna ini untuk mengusir rasa frustasi yang terus bersarang di hatiku. Bahkan orang suruhanku pun belum bisa menemukan keberadaanmu. Lalu kemana aku kan mencarimu?
Aku yang menyerah kala itu, mencoba mencari pelampiasan kesana kemari namun percuma tak mengurangi sedikit pun rasa rinduku padamu. Yang ada menambah masalahku. Sampai Papa menyuruhku berhenti memegang perusahaannya. Ya, aku memang tidak berguna. Aku sangat terpuruk kala itu.
Tak sengaja aku bertemu dengan Tante Ina dan menyarankanku untuk mencarimu di rumahmu dulu. Dua hari ku pergi mencarimu disana. Aku berdo'a semoga usahaku kali ini berhasil.
__ADS_1
Aku sudah membayangkan melampiaskan kekecewaanku padamu. Dan kamu harus mendapatkan pelajaran itu. Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan. Aku marah padamu. Benar-benar marah padamu.
Ku berjalan dengan mobilku menelusuri di setiap pinggiran jalan kota ini. Sampai Tuhan mengizinkan ku untuk menemukanmu. Ya, aku menemukanmu duduk di pinggir jalan yang terik ini dengan menggendong Pinky.
Aku mengamatimu dari jauh. Ku lihat perutmu. "Oh Tuhan, dia mengandung anakku." Hujan tangis hatiku tidak bisa ku redakan. Ku tenggelamkan wajahku di kendali mobilku. Bagaimana bisa kamu melewati ini sendiri?
Ku ingin berlari dan memelukmu. Tapi rasa kecewaku padamu seperti memberatkan langkah kakiku. Perih hati yang kamu berikan rasanya masih belum menghilang.
Ku lihat ada sebuah mobil berhenti di depanmu. Jantungku seperti ada yang meremas saat ku lihat orang yang keluar mobil itu adalah mantanmu. Ketakutan terukir jelas diwajahmu kala itu.
"LEPASKAN DIA!"
Aku tidak tahan untuk memberi pelajaran pada laki-laki itu. Dia dalang dari penderitaan hidupmu. Ku pukul dia berkali-kali. Bahkan dia masih bisa merayumu untuk kembali. Laki-laki macam apa itu.
Ku bawa pergi kamu dari tempat itu. Rasa kesalku semakin bertambah saat kamu menengok ke belakang. Apa kamu ingin kembali lagi pada laki-laki sialan itu?
Ku antar kamu membeli keperluanmu. Ku lihat kamu kesusahan menggendong Pinky dengan mengandung anakku. Oh Tuhan, rasanya masih menyayat hati. Ingin rasanya aku membantumu. Tapi tidak, aku masih kecewa padamu. Berbulan-bulan kamu membuat hatiku menangis.
__ADS_1
Ku hisap rokokku sambil menunggumu. Hanya ini yang sedikit membuatku tenang. Kamu berjalan keluar dengan kesusahan membawa belanjaanmu. Ku hembuskan asap rokok ini. Ku buang begitu saja ke sembarang tempat sebagai bentuk kekesalanku pada diriku sendiriku yang jahat ini.
"Kamu sekarang merokok Rey?" tanyamu lirih.
"Kalau iya kenapa?" Kamu hanya diam menunduk. Aku ingin menyalurkan kekecewaanku padamu kali ini. Tapi kenapa kamu hanya diam saja.
Entah ide konyolku ini datang dari mana, "Kamu hamil anak siapa?" Mungkin ini pertanyaan yang menyayat hatimu. Tapi tujuanku kali ini ingin memarahimu.
Kamu berlari menangis menuju tempat tinggalmu sekarang. Ku ikuti langkahmu dari belakang sampai masuk ke rumah itu. Mataku berkeliling di seluruh ruangan rumah ini. Ini sangat jauh berbeda dari rumah kita dulu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana penderitaanmu tinggal di tempat seperti ini sendiri dengan mengandung anakku dan merawat Pinky.
Ku lihat kamu menangis dengan memegangi perutmu, ya memang aku jahat. Aku yang telah membuatmu menangis. Cukup sudah cukup, aku akan keluarkan semua rasa kecewaku padamu. Dan aku akan menyudahi semua penderitaan ini.
Setelah aku puas bertengkar denganmu, ku putuskan untuk hidup bersamamu disini. Aku ingin melupakan kejadian buruk yang menimpa kita disana dan memulai dengan yang baru. Konyol sekali memang sifatku ini.
Aku berbohong padamu. Berpura-pura miskin sangat tidak mudah bagiku. Ku lakukan ini karena aku sangat bahagia bersamamu. Sebenarnya Papa tidak pernah mengusirku. Papa hanya ingin aku berhenti sejenak untuk fokus mencarimu. Setelah terbongkarnya kebohongan Selena, Papa merubah sikapnya dan meminta maaf padaku. Lebih menyayangiku dan mempercayaiku. Mama yang pastinya sangat merindukanmu juga sayang.
Dengan berpura-pura miskin seperti ini, aku berdoa semoga Tuhan tidak marah padaku. Aku tidak menyangka kamu menerimaku saat posisiku berada paling bawah. Kamu mengorbankan semua tabunganmu untuk hidup kita kedepannya. Oh, aku bahkan seperti laki-laki tidak berguna. Namun aku bahagia karena aku tau dihatimu hanya ada aku. Begitu juga hatiku cuma ada kamu. Kita sudah menjadi satu. Lalu apa yang kamu cari selama ini saat menjauh dariku wahai wanitaku?
__ADS_1