Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Merinding


__ADS_3

Hari ini pasangan ini mulai bersiap untuk bulan madu mereka. Sebenarnya bukan sepenuhnya untuk berbulan madu tapi lebih ke mengurusi permasalahan perusahaan Rey.


Mereka sudah bersepakat untuk beristirahat dan tinggal di rumah kecil mereka dulu. Rumah yang memiliki kenangan indah dan berharap akan lebih menumbuhkan rasa cinta diantara mereka lagi.


Sebelum menuju rumah, Rey sudah menyuruh orang untuk membersihkan rumah mereka. Laki-laki itu tak mau rencana bulan madu gagal hanya karena rumah yang sudah hampir lima tahun itu tak dijamah orang itu membuat tak nyaman.


Sesampainya di rumah mereka, Kinan tersenyum lebar, matanya terlihat berkaca-kaca. Oh dia seperti sangat merindukan itu semua. Rey memeluknya dan berjalan menggandeng tangannya menuju rumah itu.


Kleeeek


Pintu itu dibuka olehnya. Bola mata Kinan berkeliling ke seluruh sudut ruangan. Tidak ada yang berubah, sudah pasti. Lagi pula siapa yang akan mau merubah, tidak ada yang menempati rumah ini setelah kepergian mereka.


"Aku ke kantor dulu ya! Kamu tidak apa-apa disini sendiri. Secepat mungkin aku akan segera pulang. Kalau kamu kesepian main saja ke rumah Sisca! Kata Andre dia lagi hamil loh."


Mata Kinan melebar, "Pasti aku akan ke rumahnya." Dia langsung memeluk suaminya. "Tapi kamu cepat pulang ya!"


"Kamu udah gak sabar ya?"


Dia menyeringai dan melepaskan pelukan pada suami yang dalam otaknya hanya bergulat itu. Kinan berjalan menuju kamar diikuti oleh Rey.


"Aku cuma takut. Rumah ini kan lama kosong."


"Ada paku di kepalamu, hi hi hi ...."


Kinan memukul bahu suaminya yang menurutnya sangat tidak lucu. "Jangan nakutin aku dong! Ya sudah sana pergi! Inget janji kamu cepat pulang! Aku takut malam-malam sendiri disini!" Bibir bawahnya mengerucut, bola matanya masih saja terus berkeliling.


Rey mengusap kepalanya, "Iya." Dia mencium kening itu kemudian berlari keluar menuju mobilnya.


Kinan kini berusaha memejamkan matanya di kamar itu. Namun entah kenapa pikiran gelisah tidak tau sebab terus menghantuinya.


Dia membolak-balikkan tubuhnya beberapa kali. Sampai akhirnya dia lelah dan duduk. "Mungkin aku ke rumah Sisca saja," gumamnya.


Wanita itu keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya. Dengan santai dia berjalan keluar menuju pintu. Namun langkahnya terhenti saat dia mendengar air kran di wastafel dapurnya tiba-tiba mengucur.


Deg


Matanya terbelalak, merinding, jantungnya berdetak lebih kencang bahkan kencangnya melebihi saat dia dicium oleh Rey. Kakinya seperti tak bertulang, rasanya dia ingin berlari kali ini.


Oh tidak Kinan ketakutan, berlari keluar dan membanting pintu rumahnya keras. "Rey, cepat pulang!" gumamnya dengan memegangi jantungnya yang serasa ingin terlepas. Dia berlari ke rumah Sisca.


Tok tok tok


"Sisca buka pintunya! Ini aku Kinan."


Kleeek


Mata Sisca berbinar, mulutnya ternganga. "Kinan," teriaknya sambil memeluk wanita yang sangat ketakutan itu. Napasnya masih terengah-engah. "Kamu kenapa? Ayo masuk!"

__ADS_1


"Aku takut di rumah sendiri Sis, aku disini sampai Rey pulang gak apa-apa kan?"


Dahi Sisca mengkerut, "Tentu saja boleh, kamu takut kenapa?" Kinan menceritakan kejadian konyol yang dialaminya tadi.


"Sebenarnya ...."


"Sebenarnya kenapa Sis?" Dia memegang tangan temannya itu.


"Gini loh, aduh gimana ya aku gak enak mau cerita."


Wajah Kinan ketakutan, "Apa?"


"Aku bukannya nakut-nakutin kamu. Tapi semenjak kalian pindah, itu rumah selalu terdengar suara-suara aneh. Yang sering itu barang jatuh. Kadang juga lampunya berkedip-kedip. Warga disini juga udah gak heran."


Mulut Kinan ternganga, napasnya menjadi berat, bulu kuduknya pun berdiri lagi. "Aduh, aku gak berani masuk kesana Sis!" Dia menggosok-gosokan tangannya ke leher sebentar.


"Sudahlah Kinan, mungkin kerjaannya tikus." Sisca mengelus-elus bahu wanita yang kini sedang meremas-remas tangannya itu.


"Aku harus telepon Rey, tapi dia lagi sibuk banget pasti sekarang." Kinan menggigiti bibir bawahnya.


"Sudah nanti saja nunggu Rey pulang!"


Kinan mengangguk, mereka mengobrol banyak hal tentang Pinky, Aero dan juga kehamilan Sisca. Tak terasa waktu sudah sore. Kinan tidak mengetahui bahwa suaminya kini sudah sampai rumah.


Rey memasuki rumahnya dan memanggil-manggil nama wanitanya itu namun tidak ada jawaban. Dia langsung berjalan ke arah rumah Sisca.


"Kamu ngagetin aja!" teriak Kinan. "Aku gak berani pulang ke rumah. Tadi air kran di wastafel dapur masih nyala gak?"


Dahi Rey mengkerut, "Nyala apa? Mati tuh. Kamu lupa gak matiin? Eh, kamu juga gak kunci pintu rumah juga."


"Tadi itu air krannya nyala sendiri. Makanya aku lari ketakutan lupa kunci pintu."


"Ngadi-ngadi ya!" Rey mengarahkan jari telunjuknya ke istrinya. "Ayo pulang!" Rey menggandeng tangan istrinya dan berpamitan pada Sisca.


"Nanti malam kita tidur di hotel saja ya!" Kinan merajuk sambil memegangi lengan tangan kanan Rey.


Rey terkekeh dengan memegangi dahinya. "Kamu yang minta kita tidur disini, sekarang minta di hotel. Plin plan banget."


Rey berjalan menuju rumah meninggalkan Kinan, "Sayang, aku takut." Laki-laki itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Ada aku."


"Aku pokoknya gak mau tidur disini!" Air matanya menetes.


"Lah kok malah nangis?"


"Gak usah bulan madu, aku mau pulang!" tegasnya. "Ambil semua barang-barang kita di dalam! Aku gak mau masuk." Air mata itu semakin membanjiri pipinya.

__ADS_1


Rey menggusap gusar wajahnya. Bulan madu yang dia inginkan tak sesuai angan-angannya. Dia berjalan cepat mengambil semua barang dan mengunci kembali pintu rumahnya.


"Masak sama setan takut kamu!" ejek Rey sambil membukakan pintu mobilnya untuk Kinan. Dia berlari mengitari mobilnya dan masuk dengan wajah ditekuk.


"Memang takut terus gimana?" Kinan membuang mukanya.


"La terus gimana bulan madu kita? GAGAL." Rey memundurkan mobilnya dan menginjak pedal gasnya. Dahinya terus mengkerut, matanya tajam menatap arah depan.


"Maaf, kita cari hotel sekitar sini ya!"


Laki-laki itu langsung melempar senyum bahagia. "Oke,"


"Tapi besok ke pantai ya!"


"Siap, yang penting malam ini jangan sampai gagal!"


Kinan mengangguk, di perjalanan dia hanya terdiam isi kepalanya masih dipenuhi kejadian konyol di rumahnya tadi.


Sesampainya di kamar hotel, Rey seperti tak sabar untuk menahan hasratnya. Menikmati sore mereka dengan mandi bersama di dalam bak mandi tanpa terburu-buru atau pun takut kepergok anak-anak mereka lagi.


Dia membisikan sesuatu ke telinga istrinya, "Bagaimana dengan keinginan Pinky sama Aero?"


"Keinginan apa?"


"Punya adik lagi." Dia tersenyum dan mencium pipi itu.


Wajah Kinan merengut, "Sebenarnya aku lebih mementingkan kualitas daripada kuantitas."


"Kamu meragukan kualitasku hah?" teriak laki-laki itu.


Kinan membalikkan tubuhnya dan memukul pelan dada suaminya, "Ya sudah tadi aku lupa gak bawa pil KB juga."


"Buang, gak usah diminum lagi!"


"Heem,"







Like

__ADS_1


__ADS_2