
"Sial," umpatnya dengan melirik ke arah belakang mobilnya.
"Ya udah emang kita yang salah, malah kamu yang marah."
Tin tin tin tin tin
Pemilik mobil yang berada di belakang mobilnya sudah tak sabar menunggu terlalu lama. Rey menginjak pedal gasnya dengan mata yang masih melirik ke spion dalam mobilnya.
Sesampainya di toko kue Rey ikut turun dan masuk ke dalamnya. Kinan meliriknya, "Mau bawa bekal kue?" tanyanya.
"Gak, kayak bocah aja," jawabnya ketus.
Kinan mengerutkan dahinya, "Terus ngapain gak langsung pergi kerja?"
"Kamu ngusir suamimu sendiri?"
Kinan memegangi dahinya. Itu laki-laki kenapa masih saja emosi dari pagi ya? Apa sesajennya kurang lengkap?
Dia meninggalkan suaminya pergi ke dalam. Tak sengaja berpapasan dengan Wina yang sibuk mengeluarkan kue dari dapur menuju etalase. "Nah gini dong masuk ikut bantuin!" Kinan tak memperdulikan ucapan Wina.
Kali ini lagi-lagi Ray datang ke toko kue itu, "Hai Ray!" Wina melambaikan tangannya ke arah pintu.
Rey menoleh ke Wina, "Apa?" tanyanya.
"Bukan kamu, tapi Ray." Wina menunjuk Ray. Rey melihat ke arah luar dengan muka ditekuk. Ray membalas lambaian tangan Wina dengan menarik garis senyum di bibirnya.
"Lain kali kalau manggil nama yang lengkap Win!" teriaknya dengan wajah masam.
Wina mengernyitkan wajahnya, "Kenapa? Emang mau absen?" tanyanya lirih.
Ray berjalan mendekati Rey, "Kinan mana Win?" gertaknya. Wina menunjuk arah dalam kemudian berjalan memanggilnya. Sebenarnya Kinan sudah mengintip suaminya itu dari dalam.
"Suamimu itu kenapa?" Wina membanting salah satu nampan di meja.
"Cemburu sama Ray tuh," jawab Kinan dengan wajah cemberut. "Dari semalam, pagi tadi bahkan dari aku ketemu Ray sifatnya nyebelin, gak kayak dulu lagi."
"Kok bisa cemburu? Apa dia belum tau Ray calon tunanganku."
Kinan mengerutkan dahinya, "Apa? Kamu mau tunangan? Kenapa gak pernah cerita? Terus dari kapan kalian pacaran? Win kamu sekarang kok gitu?"
Wina mumundurkan kepalanya mendengar pertanyaan begitu banyak dari Kinan, "Coba kasih tau aku, gimana ceritanya? Kamu aja aku curhatin tentang tokomu gak pernah kamu respon. Gimana aku ceritain tentang hubunganku dengan Ray?"
Kinan menggaruk-garuk kepalanya, "Ya maaf."
Rey keluar dari toko dan kembali ke mobil. Dia tidak memperdulikan Ray yang mendekatinya. Ah, dia ternyata mengambil sebungkus rokok mengambilnya satu kemudian menyulut dan menghisapnya kuat-kuat. Punggungnya bersandar di mobilnya dengan kaki ditekuk ke belakang satu. Dia mengeluarkan asap rokoknya ke atas dengan mulutnya.
Tak selang lama Kinan berjalan menghampirinya, Rey hanya meliriknya. "Kamu gak kerja? Kok malah ngerokok."
"Lagi pusing aja pagi ini," jawabnya ketus. Dia menghisap kembali rokoknya. "Kalau ada orang ngerokok jangan dekat-dekat." Dia membuang mukanya.
__ADS_1
"Kamu masih cemburu sama Ray?"
Rey menurunkan satu kakinya yang ditekuk, "Enggak."
"Gak usah bohong!"
Rey membuang puntung rokoknya lalu menginjak, mematikan baranya dengan alas sepatu yang dipakainya. Dia memegang kedua pipi Kinan.
"Aku percaya kok sama kamu. Jangankan laki-laki itu, James Ji pun kalau godain kamu gak bakal tanggapin 'kan?" Dia memiringkan kepalanya. Sangat yakin dengan wanita di depannya.
"Kata siapa?" Kinan mengangkat dagunya dan memajukan bibir bawahnya.
Rey memegang tangan Kinan dan meletakkan di dadanya. "Kata hatiku."
"Idih," Kinan mengernyitkan wajahnya, "Terus tadi kenapa marah sama Wina?"
"Ya maaf, lagi capek aja, banyak pikiran."
"Ya capeklah, kamu mondar-mandir terus."
Rey menghela napasnya kasar. "Aku cuma ingin di dekat kalian aja."
"Tapi kamu gak perlu terus kayak setrikaan gini." Kinan memegang pipi Rey. Laki-laki itu memejamkan matanya menikmati setiap belaian lembut jari-jari Kinan. "Kamu tau gak? Wina sama Ray akan segera tunangan."
"Hah ... mereka pacaran?"
Kinan menjelaskan semua pada lelakinya itu. Ada perasaan lega di dalam sana. Dia salah, ya sekarang dia mengaku salah. Cukup, sudah cukup dia mengeluarkan perasaan konyolnya. Rey menggandeng tangannya ke dalam toko lagi.
"Oke, kita pulang dulu Win!" pamit Rey. "Ray maaf kalau aku ada salah!" Ray terlihat kebingungan dengan ucapan Rey. Laki-laki itu berjalan cepat menggandeng Kinan keluar toko.
"Eh ...." Teriakan Wina sepertinya tak dihiraukan oleh mereka berdua.
Rey melajukan mobilnya menuju pantai terdekat dari sini. Lima belas menit perjalanan mereka tempuh. Kinan terheran-heran dengan tingkah suaminya itu.
"Jam segini ke pantai?" tanyanya dengan mengerutkan dahi.
Rey tak menjawab. Dia sibuk membuka jasnya, melepas dasi dan sepatunya. Tak lupa dia menggulung kemeja putihnya sampai siku. Aduh damage-nya berasa tidak ada obat.
Dia berlari memutar membukakan pintu pada pujaan hatinya itu. Menggandeng tangannya dan mengajak berlari mendekat ke pantai itu.
Sepi, suasana disina hanya ada mereka berdua. Tangan mereka saling menarik dan berputar-putar dengan kepala menengadah ke langit.
"Aaaaaaaahhhkkkk ...."
"Aku pusing Rey ...." teriak Kinan.
Laki-laki itu menghentikannya. Kinan memegangi dahinya dan terjatuh di lengannya. Rey melihat manik mata indah itu seraya menarik garis senyumnya.
Satu menit, dua menit, tiga menit. Ah lama sekali mereka tak henti saling memandang. "Aku mencintaimu." Kalimat yang keluar dari mulut laki-laki berparas tampan.
__ADS_1
Kinan merubah posisinya dan mengalungkan tangannya ke leher Rey. "Jangan cemburu lagi!"
Rey mengangguk, "Maafkan aku!"
Kinan berjinjit dan memeluknya. "Aku juga mencintaimu."
Mereka memejamkan mata, merasakan dua hati yang menyatu. Degup jantung yang saling mengisi kesunyian. Pelukan yang memberi kehangatan.
Jatuh cinta pada pandangan pertama lalu berlanjut pada detik selanjutnya. Dulu aku tak mengerti kenapa Tuhan memberiku perasaan terlarang ini. Lidahku kelu, otakku buntu. Kamu menjelma seperti hantu, bayanganmu selalu terlintas dalam pikiranku padahal kamu bukan milikku.
❤
❤
Entah bagaimana rasa ini akan ku ungkap. Sebenarnya aku tak mau berharap, terlalu sakit saja jika hanya aku yang menginginkanmu. Dulu aku mengingat, berharap padamu hanya akan membuat sesak. Aku mampu menyembunyikan rasa, namun aku tak bisa untuk selamanya memendamnya teralu sakit.
❤
❤
Namun, aku bersyukur pada sang pencipta alam semesta dengan rasa yang terbalaskan ini. Indah wajahmu yang selalu menghiasi hariku. Tetaplah menjadi penenang dan menjaga hati sampai kita mati.
❤
❤
Tamat
Sudah ya bonchapnya!
Kalau bahas Rey gak ada habisnya. Takutnya jadi bosen. Jadi ini terakhir aku ceritain dia ya! 😭😭 Yang kangen baca lagi aja bab 1 🤣
Novel ini tenggelem dalem jadi kalau pun aku nulis 1000 bab juga bakal gak ke angkat. Sekalinya gak kepilih oleh sistem untuk nongol diberanda ya gak bakalan nongol. Yang ada malah waktuku habis buat mikirin Rey 🤣
Maaf kalau endingnya kayak gini.
Mereka udah bahagia kok.
Apa Kinan hamil?
Gak ya, biar Rey lembur bagai kuda 🤣
Kasih like dan coment terakhir kalian untuk Rey dong!
__ADS_1
I love u ❤❤