
"Aku mencintaimu Kinan. Jangan cemburu seperti tadi! Aku takut kehilanganmu!" Dia memelukku dari belakang dan menciumi pipiku. Aku melihat di depan kaca itu ekspresi wajah penuh ketulusan di dalamnya.
Cuuuup cuuuuup
Ciuman itu bertubi-tubi dia berikan padaku, "Maafkan masa laluku yang hina dulu! Jangan tinggalkan aku! Aku bisa mati sayang."
"Jangan mencintaiku berlebihan seperti itu Rey!" Tiba-tiba dia hentikan ciuman itu dan menatapku di depan kaca.
"Kenapa?" Wajahnya berubah menjadi cemberut. Sepertinya dia belum mengerti maksudku.
Dia kembali menciumi pipiku, leherku, bahuku dan naik lagi ke telingaku. Nafasnya sangat terasa berhembus hangat yang membuat respon tubuhku merinding seketika.
Dia membalikkan tubuhku, dan menarik pinggangku agar mendekat dengannya. Aku bersiap jika kali ini dia mencium bibirku. Aroma mint dari mulutnya benar-benar ku hirup semakin dekat dan kuat.
Cuuuuuuuup
Mataku membuka. Kenapa dia lepaskan ciuman ini begitu saja? Kenapa tidak dilanjutkan? Dia menatapku tajam, dengan kepala yang dimiringkan ke kanan.
"Kenapa Rey?" tanyaku kecewa.
"Kamu terlihat sangat lelah sekali. Maafkan aku semalam ya! Maafkan aku tadi pagi juga! Maafkan aku yang maniak ini!" Dia memelukku erat.
"Kamu bicara apa? Aku kan istrimu. Aku senang melakukannya."
Dia memegangi pipiku, "Benarkah?"Ku anggukan kepalaku.
"Tapi jika ada wanita yang menggodamu, jangan kamu tanggapi ya! Aku takut kamu berpaling dariku Rey." Ku lingkarkan tanganku di lehernya. Dan dia membalas dengan ciuman.
"Kamu wanitaku, hanya kamu. Percayalah padaku!" Aku mengangguk. "Tidurlah aku tau kamu sangat lelah!"
Siang ini aku tidur didadanya. Ku dengarkan betul detak jantungnya. Bahkan ini terdengar lebih indah dari lagu romantis yang biasa ku dengar. Lebih nyaman dari bantal yang biasa ku buat bersandar. Aroma parfum maskulinnya benar-benar membuatku tidak ingin menjauh darinya.
Otot tangannya yang sexy, aku bangga sekali bisa memilikinya dan memegangnya setiap hari. Dia sangat menjaga tubuhnya dengan sering berolahraga. Aku tidak heran jika semalam dia kuat beberapa kali. Tiba-tiba aku tidak bisa menahan tawa ini membayangkannya lagi.
"Kenapa ketawa?" tanyanya. "Kamu tidak bisa tidur?"
"Heem." Ku anggukan kepalaku. Aku merubah posisiku duduk. Dan memandangi bulu matanya yang berkedip-kedip melihatku. Kenapa laki-laki ini bulu matanya indah sekali? Aku tertawa geli lagi.
"Kenapa?"
"Rey berapa mantan pacarmu?" Aku mengalihkan rasa kagumku padanya dengan pertanyaan konyol itu.
Matanya membulat mendengar pertanyaanku. Raut wajah gugup tampak jelas di depan mataku.
"Kinan, aku tidak ingin berdebat denganmu. Ini hari indah kita. Jangan bahas masa lalu!" pintanya.
__ADS_1
"Aku cuma tanya, aku tidak mengajakmu berdebat. Aku masih bingung, kenapa mantan-mantan pacarmu melepaskan laki-laki sepertimu begitu saja. Atau kamu yang meninggalkan mereka begitu saja?"
"Aku lupa mantanku ada berapa. Kebanyakan mereka bilang aku sangat tidak perhatian pada mereka." Dia mengangkat kedua bahunya.
"Tapi kamu perhatian padaku?"
"Karena aku mencintaimu."
"Mengapa bisa kamu mencintai wanita sepertiku Rey?"
"Karena Kevin sangat mencintaimu, karena Kevin tidak akan begitu saja memberikan cintanya pada wanita sembarangan. Dan sudah ku buktikan itu."
"Bagaimana jika Kevin masih disampingku?"
"Aku akan melihat wanitaku bahagia dengannya."
"Lalu kapan kamu akan membahagiankan dirimu sendiri?"
"Kebahagianku adalah kebahagiannya."
"Sudahlah! Ayo tidur! Apa yang membuatmu tidak bisa tidur siang ini? Tenanglah, setelah bangun tidur kamu akan tetap cantik."
"Mengapa kamu selalu menggodaku Rey?"
"Karena aku menyukai rona malu dipipimu. Coba sini lihat!" Ku palingkan wajahku darinya. Dia masih saja mengejar wajahku. Akhirnya ku peluk erat tubuhnya dan bersembunyi di dadanya.
...****************...
Dua bulan kita menjadi satu. Sangat ku nikmati hari-hari bersamanya. Aku tidak menyangka jika akan sebahagia ini. Rey, orang yang sangat pandai menyimpan perasaannya. Bisa tersenyum walaupun hatinya menangis. Bisa bahagia walaupun dalam dirinya menderita.
Jika kamu seorang aktor, akan ku berikan penghargaan tertinggi. Aktingmu sangat hebat Rey. Semua cinta yang selama ini kamu pendam rasanya langsung kamu luapkan padaku. Kesabaran yang amat luar biasa telah membuatku sejatuh jatuhnya dalam pelukanmu.
Dia selalu memelukku dan menciumku setiap hari. Jika ditanya jumlahnya, Aku tidak bisa menghitungnya dengan jari-jariku.
Malam ini aku makan malam bersamanya. "Kemarilah duduk dipangkuanku!" Matanya mengarah ke bawah dengan senyum menggodanya. Aku tidak bisa lagi menyembunyikan rasa malu di senyumku.
"Ayo suapin aku sini!" pintanya.
"Tidak harus duduk dipangkuanmu juga, itu malah menyulitkanku."
"Jadi tidak mau?" Dia mengangkat kedua alisnya.
"Iya, iya."
Aku duduk dipangkuannya. Tangannya memegang pinggangku. Hidungnya mencium aroma rambutku. Kepalanya sering kali di miringkan dan melihat wajahku. Sungguh aku sangat malu.
__ADS_1
Tok tok tok
Ketukan pintu yang keras itu seperti mengetuk kebahagian Kami saat ini. Ku berjalan dan membuka pintu rumah Kami. Ku berdiri terdiam melihat tamu yang pasti sangat tidak asing bagi kami. Tamu yang selalu tak memberi Kami kesempatan untuk menikmati kebahagian.
"Siapa sayang?" tanya Rey dari meja makan tempat Kami memadu kasih tadi.
"Mana Rey?" matanya celingukan mencari suamiku.
Ku hadang pintu itu dengan tanganku, "Mau apalagi kamu mencari suamiku?"
"Aku punya urusan penting dengannya. Minggir tanganmu!" Dia berusaha mendorong-dorong tanganku.
"Cukup Sel! Tidak bisakah kamu mencari laki-laki lain! Diluar sana masih banyak laki-laki yang lebih dari segalanya dari Rey. Kenapa kamu tidak berhenti menggoda suamiku."
Rey tiba-tiba datang menghampiri kami. "Ada apa ini?"
"Kamu mau apalagi Sel?" gertak suamiku.
"Aku mau kamu tanggung jawab Rey!"
"Tanggung jawab apa?"
"Aku hamil anakmu!"
Deg
Ku pegang jantung ini erat-erat. Ini tidak mungkin, Rey tidak mungkin mengkhianatiku. Aku merasakan betul rasa cintanya walaupun pernikahan ini baru sebentar.
"Wanita gila kamu, kapan aku menyentuhmu?"
"Apa kamu lupa? Kamu menyentuhku saat mabuk dulu. Kamu sudah menghamiliku. Ini anakmu."
Aku lihat Rey seperti berpikir mengingat sesuatu. Sedangkan aku sangat binggung dengan keadaan ini. Melihat Rey pulang mabuk dulu sepertinya bisa saja yang di omongkan Selena benar. Walaupun aku tau Rey sangat mencintaiku. Bisa saja saat itu dia melampiaskan pada Selena.
Aku harus mempercayai siapa? Aku harus bagaimana? Nafasku terpenggal-penggal dengan keadaan ini.
"Tidak. Aku tidak percaya omonganmu! Dasar wanita gila! Pergi dari rumahku!" Teriakan Rey seolah-olah meyakinkanku bahwa itu semua tidak benar.
Rey langsung menggandengku masuk dan menutup rapat pintu rumahnya. Selena, dia masih menggedor-gedor pintu rumah yang pasti belum terima dengan semua ini.
"Rey, aku akan melaporkan semua ini dengan orang tua Kita." Teriakan wanita itu terdengar dari dalam rumah.
Aku berdiri terdiam, dan menatapnya dalam. Mataku seperti tak sanggup lagi menampung air mata ini. "Rey, apa yang sebenarnya terjadi?"
__ADS_1
**Dukung terus Author,
Dengan like, coment dan votenya** ^_^