
"Rey," teriakan itu membangunkan lamunanku. "Kamu dengar kan aku bicara apa?"
"Iya, iya. Tabunganku dikit-dikit masih kok tenang saja. Lagian kemarin malam kamu kepanasan nanti kalau tidak bisa tidur terus jadinya kurang tidur bagaimana? Kan kasihan anakku." Dia melihatku dengan memicingkan matanya.Raut wajah yang cemberut dia berikan padaku.
"Kalau begitu, nanti anterin aku ke dokter!"
"Oke, terus mau kemana lagi?" Dia tidak menjawabnya dan meninggalkan ku begitu saja.
Malam ini aku sudah tidak sabar ingin melihat calon anakku. Ini adalah pengalaman pertamaku. Pasti dia lucu sekali didalam sana. Diperjalanan aku terus mengelus perutnya. Kadang aku gelitiki pusarnya.
"Rey, kamu fokus menyetir dong! Jangan gelitikin aku seperti ini nanti kalau kontraksi bagaimana?" ucapnya dengan wajah geram. Sungguh aku tidak bisa menahan tawaku, tingkahnya selalu menggemaskan bagiku.
"Iya, marah terus tiap hari. Kita cari dokter terbaik disini ya!"
"Mahal, yang penting dokter intinya kan sama saja."
"Pokoknya aku ingin yang terbaik."
"Iiiih, antrinya pasti lama. Mana kita belum membuat janji dulu," ucapnya dengan mengkerutkan wajahnya. Matanya melihat pemandangan di luar jendela. Ku sentuh dagunya dengan ujung jariku. Dia menampis dengan tangan kanannya. "Iiiihhh," gerutunya.
"Kenapa marah-marah terus? Perasaan ibu-ibu hamil di luaran sana tidak seperti itu," teriakku.
"Itu kan perasaanmu, pokoknya aku lagi sebel sama kamu!"
"Gara-gara beli AC tadi?" tanyaku sambil melirik ke arah spion. Karena aku tidak sabar untuk menyalip mobil di depanku.
"Pemborosan." jawabnya ketus.
Ku lirik tajam ke arahnya, "Perhitungan."
Dia pukul-pukul pundakku. "Eh, aku nyetir nih! Nanti Pinky juga bangun jangan marah-marah terus dong!" Ku lajukan mobilku dengan cepat.
Aku memilih RSIA terbaik di kota ini. Kami datang pukul 18.30 WIB dan menunggu sampai dua jam untuk diperiksa. Ya ini memang kesalahanku, terburu-buru tanpa membuat janji.
Aku melihatnya terlalu lelah menunggu, oh maafkan aku sayang. Tak lama kemudian kami dipanggil masuk ke ruang periksa. Di dalam ruang periksa kami di layani oleh seorang dokter ahli dan di dampingi perawat.
__ADS_1
Dokter melakukan pemeriksaan USG dan memberikan penjelasan seputaran kehamilan istriku. Sungguh aku sangat bahagia melihat makhluk kecil yang berada di sana.
Aku bertanya tentang konsumsi makanan apa saja selama kehamilan dan pemeriksaan laboratorium apa saja selama kehamilan.
Dokter memberiku penjelasan dan makanan apa saja asal bernutrisi dan tidak berlebihan. Oh tidak, selama bersamaku beberapa hari ini kita hanya makan telur.
Setelah pemeriksaan dokter memberi kami resep vitamin yang perlu diambil di apotek. "Dok, berikan vitamin yang terbaik yang paling mahal!" Kinan langsung menginjak kaki kiriku. "Apa?" tanyaku pelan dengan meliriknya. Dia memberikan senyum palsunya pada dokter itu. Yang memperhatikan kami sedari tadi.
"Dok, suami saya ini perokok. Menurut dokter bisa berpengaruh ke calon anak kami tidak?"
"Ck," Aku berdecak kesal menatapnya. Pertanyaan itu pasti membuatku seperti diintimidasi.
"Tentu saja," jawab tegas dokter itu. Matanya melotot ke arahku. Dokter itu menjelaskan secara detail bahaya asap rokok pada kami. Tanpa dijelaskan sebenarnya aku sudah tau, tapi aku merokok kan menjauh dari mereka. Dan Kinan dia seperti tertawa puas melihatku.
"Dok, kalau hubungan suami istri boleh kan?" tanyaku.
"Tentu saja boleh ini kan sudah trisemester kedua, ibu hamil yang merasakan orgasme akan merasakan rasa nyaman pada tubuh setelah berhubungan, itu membuat aliran darah dalam tubuh lancar dan berpengaruh positif pada janin," ucap dokter itu yang sepertinya saat ini berada dipihakku. Tentunya aku sangat bahagia.
"Tapi jangan terlalu sering juga ya!" timpal dokter itu. Ku kerutkan dahiku. Ku lihat ke arah istriku. Sepertinya dia sedang menahan tawa dengan membuang mukanya.
"Iiiih, pasti ada maunya." ucapnya yang membuatku terkekeh.
"Tadi lupa dokter bilang apa?" tanyanya.
"Tidak boleh merokok kan?"
"Bukan yang itu,"
"Apa? Harus sering-sering berhubungan suami istri. Ya sudah seminggu 7 kali," ucapku dengan tertawa dan mengejeknya.
"Eh, itu namanya setiap hari kan tidak boleh sering-sering, seminggu dua kali saja."
"Tidak, lima kali saja."
"Ambil tengah saja tiga kali. Mau tidak? Kalau tidak akan ku bilang ke dokter tadi kamu memaksaku terus!" ancamnya.
__ADS_1
"Ck," ku berdecak kesal meliriknya dan ku lajukan mobilku secepatnya pulang ke rumah.
Dia bukakan pintu rumah, dan aku sibuk menggendong Pinky untuk segera menidurkannya. Aku sudah menyusun rencana nanti malam kamu pasti tidak akan bisa menolakku.
Dia sibuk membuat segelas susu di dapur, "Vitaminnya diminum, itu ada nutrisi otaknya biar anak kita nanti cerdas kayak Papanya." teriakku.
"Kamu itu berlebihan Rey, kecerdasan itu menurun dari ibunya bukan dari ayahnya. Apalagi vitamin sebanyak ini, memang tidak bosan apa minum setiap hari. Dari makanan saja sudah cukup. Ini aku juga sudah minum susu."
"Apa yang kamu makan? Cuma telur dadar kan? Terus vitamin dari mana?"
"Ya memang adanya cuma telur. Lah ini dari susu juga. Vitamin yang berlebihan juga tidak baik Rey."
Ku picingkan mata mengarah kepadanya, "Ya sudah besok belanja makanan yang banyak."
"Aku sudah curiga Rey, uangmu itu pasti masih banyak." Dia duduk dan meminum susunya sambil melirikku.
"Kalau memang masih banyak kenapa? Besok mau aku belikan boxer lagi."
"Ya sudah kalau kamu mau beli boxer, aku beliin sekalian twist mini luwis puiton yang warna kuning."
"Sejak kapan suka?"
"Sejak hamil, pokoknya aku nyidam itu Rey."
"Itu bukan nyidam, tapi kesempatan. Pasti itu tasnya berat dibawanya, harganya saja mengalahkan dua motor pario. Lagian tas kecil kayak gitu tidak bisa buat menyimpan makanan waktu kondangan. Beli lingerie saja!"
"Reeeyyy," rengeknya yang semakin membuatku gemas. "Ya sudah aku tidak akan minta lagi."
Dia berdiri dan menaruh gelasnya. Mencuci tangannya di wastafel. Aku berjalan mendekatinya, dan ku ciumi pipinya dari belakang.
Cuuuup cuuup
"Iya boleh, mau beli berapa? Satu, dua, tiga pilih sesukamu. Tapi malam ini temani aku! Berbulan-bulan aku bersolo karier, tidak kasian kamu sama suamimu ini. Janji deh sebentar saja!"
"Kamu jahat Rey, kenapa kamu bohong? Apa kamu pikir aku akan menghabiskan uangmu?" Ku lihat dia membuang wajahnya dan menunduk bersedih.
__ADS_1
Ku peluk dia dari belakang. Ku elus-elus perutnya, "Bukan begitu maksudku, aku hanya bahagia dengan hidup sederhana denganmu. Jangan bersedih! Maafkan aku!" Ku putar tubuhnya, ku angkat dagunya dan ku ciumi bibirnya.