Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Oh Arion


__ADS_3

Pagi ini Pinky dan Aero bersekolah bersama. Aero terlihat sangat bersemangat dan seperti tidak sabar menuju sekolah sedangkan Pinky, kebalikannya. Dia sarapan dengan terus menekuk mukanya.


Kali ini Rey lagi-lagi mengantar sendiri mereka sekolah sebelum berangkat ke kantornya. "Apa kamu ingin ikut?" tanyanya pada wanita yang saat ini memeluknya sebelum dia berangkat kerja.


"Aku ikut kamu ke kantor gitu?" Rey mengangguk sembari menyelipkan anak rambut di telinga Kinan. "Terus aku ngapain disana?"


"Ya kita bisa bercumbu mesra disana, aku sediakan tempat tidur juga loh."


Dia memukul pelan dada bidang yang berada di depannya itu, "Idih, dasar mesum. Dimarahin Papa nanti kamu!"


Rey tersenyum sambil memiringkan kepalanya, "Dua hari lagi aku keluar kota, ada sedikit masalah di perusahaan kamu mau ikut?" Oh tidak bibirnya semakin mendekati bibir Kinan. Sebenarnya dia memanfaatkan situasi saat anak-anak sudah menunggunya di dalam mobil.


"Aku kangen Sisca, aku juga ingin lihat rumah kecil kita dulu," ucap Kinan. Rey mengangguk. "Tapi anak-anak bagaimana?" Kinan mengerutkan keningnya.


"Nanti kita titip sebentar ke Mama, pasti Mama seneng banget. Lagian gak lama kok, aku usahain cepat. Sehari untuk perusahaan dan sehari lagi buat kamu, kita bisa habiskan waktu berdua. Mengenang masa indah kita dulu. Kamu gak kangen hem?" Dia menarik pinggang langsing itu mendekat ke tubuhnya. Kinan hanya mampu melempar senyum malunya.


"Papa ...." teriakan Aero seperti tanda untuk menyudahi semua ini.


"Ya sudah aku berangkat dulu ya!" Dia mencium kening itu. Matanya berkeliling ke seluruh sudut rumah, dia memiringkan kepalanya, memegang kedua pipi wanita yang berada di depannya kemudian mencium bibir itu. Mata mereka terpejam seperti begitu menikmati persatuan bibir kenyal mereka.


Tin tin tin


Oh tidak Aero bisa-bisanya membunyikan klakson mobilnya. Mata mereka terbelalak dan menyudahi semua ini. Rey berlari menuju mobilnya dengan raut wajah ditekuk.


"Aero, Papa gak suka kamu membunyikan klakson mobil seperti ini! Papa marah nih!" tegasnya.


Anak itu mengerucutkan bibirnya, "Papa lama."


"Sabar dong!"


Rey langsung mengemudikan mobilnya, dia melihat dari kaca spion dalam mobilnya Pinky hanya terdiam dan menunduk, "Kamu kenapa sayang? Apa mau nanti Papa tunggu sekolahnya seperti kemarin?"


Dia menggelengkan kepalanya, "Gak usah Pa," jawabnya lirih.


"Kan ada aku Kak!"


"Aero nanti jam istirahat temenin Kak Pinky ya!"


"Siap Pa!"

__ADS_1


Sesampai di sekolah, Aero menarik-narik tangan Kakaknya itu untuk segera masuk ke dalam sekolah. Rey melambai-lambaikan tangannya pada kedua anak itu dan ingin langsung pergi ke kantornya.


Siapa yang menyangka di perjalanannya menuju mobil dia bertemu seorang wanita. Wanita di masa lalunya, wanita yang dia anggap sebagai sumber masalah hidupnya. Siapa lagi jika bukan Selena.


Mereka berpapasan dan berdiri terpaku dengan sorot mata Rey yang penuh dengan amarah. Sedangkan Selena dia menundukan wajahnya sambil menggandeng seorang anak laki-laki yang tidak lain adalah anaknya.


Selena mencoba menyapanya, "Rey anakmu sekolah disini juga?"


Raut wajah geram seperti terus menyelimuti laki-laki itu, "Kalau iya kenapa? Sampai kamu menyakiti mereka akan ku patahkan tanganmu?"


Selena menutup matanya dan mengehembuskan kasar napasnya. Bentakan Rey membuat nyalinya menciut. "Kenapa dia marah sama Mama?" tanya anak laki-lakinya dengan lirih.


Dia langsung berjalan pergi menuju mobilnya dan membanting pintu mobil itu keras hingga membuat Selena terlonjak kaget.


Selena dan anaknya melanjutkan perjalanannya. Kebetulan saat itu anaknya satu kelas dengan Aero. Bahkan mereka duduk berdekatan dan saling menyapa.


"Siapa namamu?" tanya Aero pada anak itu. Tangan dilipat di atas meja sambil tersenyum memperlihatkan susunan gigi yang rapi.


Anak itu ikut tersenyum, "Arion, namaku Arion." Dia mengulurkan tangannya pada Aero dan mereka berdua bersalaman.


"Wah Airon men?"


"Ha, ha, ha."


"Hei pipi mu kenapa ada lubangnya?" tanya Aero.


"Kata Mama biar ganteng." Mereka tertawa bersama lagi.


Jam istirahat pun datang. Aero membuka bekal dari rumah yang Kinan buatkan tadi pagi. Matanya berbinar melihat Mamanya membawakan bekal sandwich dan sekotak susu coklat di tempat makannya.


"Aero aku mau beli jajan dulu, kamu beli gak?"


"Gak, Mama sudah membawakanku sandwich."


"Ya udah."


Anak itu pergi berlari ke kantin. Dia terdiam melihat seorang anak perempuan cantik yang sedang menangis di depan kelasnya sambil membawa tempat makannya.


Dia berlari menghampiri anak itu, "Kamu kenapa nangis?" Anak perempuan itu mengangkat wajahnya dan menatap suara itu.

__ADS_1


"Sandwich ku di jatuhkan dia!" Anak perempuan itu menunjuk ke dua teman laki-laki di kelasnya yang memang sangat aktif dan usil.


"Hei, kalian gak boleh gitu!" teriak Arion pada mereka. Namun mereka malah berjalan mundur menjulurkan lidahnya dan tidak peduli. Dia melihat ke arah anak perempuan di sampingnya yang terlihat pipinya belum kering.


Namun tiba-tiba Arion berlari meninggalkannya. Kemana dia? Kenapa dia langsung pergi meninggalkannya? Hei lihat anak perempuan itu semakin menangis keras. Dia merasa seperti sangat asing dan sendirian. Bahkan anak laki-laki yang menurutnya adalah pahlawan meninggalkannya begitu saja.


Beberapa menit kemudian anak laki-laki itu kembali dengan membawa sebuah sandwich dia memberikan pada anak perempuan itu.


"Nih ... jangan nangis lagi nanti cantiknya ilang!" Dia tersenyum dengan memperlihatkan jelas lesung pipinya. "Siapa namamu?"


"Pinky,"


"Aku Arion, tenang aja Kak! Aku akan jadi Iron mu. Jika ada yang mengganggumu bilang aja padaku! Nanti akan ku beri pelajaran mereka."


Kedua anak itu tertawa bersama. Mereka duduk berdua di kursi depan kelasnya. Pinky memakan sandwich yang dibelikan Arion dengan lahap.


"Kamu mau?" tanya Pinky. Dia memotong sisa sandwich dan di berikan pada Arion. "Makasih ya Arion." Oh anak itu tersenyum manis sekali.


"Kak Pinky ...." teriak Aero dari kejauhan sambil berlari.


Pinky melambai-lambaikan tanganya. "Huuuf ... huuuf, aku capek," keluhnya.


"Makanya jangan lari-lari kamu selalu lupa pesan Mama sama Papa!" ucap Pinky namun adiknya itu seperti tak mendengarkannya.


"Loh Arion kok sama Kak Pinky?" tanya Aero keheranan.


"Kamu kenal dia? Arion yang kasih Kakak sandwich. Punya Kakak dijatuhkan sama temen Kakak, tuh!" Dia menunjuk sandwich yang berserakan dilantai.


"Jahat banget temen Kakak. Nanti biar aku bilangin Papa!" Aero mengerutkan dahinya. "Makasih ya Arion, sudah menjaga Kakak ku." Anak itu tersenyum dan mengangguk.


Oh tidak mereka bertiga terlihat sangat bahagia dan terus menghabiskan waktu istirahat dengan bermain bersama? Bagaimana reaksi Rey melihat Pinky berteman dengan anak dari pembunuh Kevin yang tak lain adalah Ayah kandungnya?


Masih ingatkah jika dia tidak akan pernah memaafkan dan melupakan itu semua?




__ADS_1



Like


__ADS_2