Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Tawaran


__ADS_3

Rey POV


Aku terlonjak kaget saat mengetahui Andini berada di rumah ini. Ditambah lagi dia sedang bersama Kinan dan orangtuaku. Pikiranku sudah terbang kemana-mana.


Terpaksa aku mengusir Yuda dan Adrian. "Kalian balik ke kantor sekarang dan bawa wanita itu pergi dari rumahku!" Jari telunjukku menunjuk arah pintu.


Mata Yuda membulat. "Kita baru sampai, terus kamu usir? Tidak bisakah kamu memberi kita minum dulu Rey?"


"Masalahnya kalian itu bawa Andini kesini. Bagaimana kalau keluargaku tau dia sering menggodaku? Kalian tau kan istriku sedang hamil. Aku tidak mau terjadi apa-apa padanya jika tau yang sebenarnya. Cepatlah! Aku sudah tidak sakit. Besok aku traktir minum sepuas kalian!"


Aku tau mereka kecewa padaku dan langsung pergi dari kamarku. Ku lihat dari balik pintu kamar, mereka bertiga berpamitan pergi dan Andini matanya celingukan ke arah kamarku. Apa jangan-jangan dia melihatku?


Aku langsung berjalan cepat berbaring di tempat tidur. Tak lama kemudian ponselku berbunyi. Lagi-lagi Andini mengirim pesan padaku.


Aku tadi di luar kamarmu nungguin kamu loh. Tapi sepertinya kamu masih sakit hingga tidak bisa menemuiku. Aku tidak enak ikut Yuda dan Adrian masuk ke kamarmu. Kamu cepat sembuh ya!


Ku lihat ke arah pintu kamar. Segera ku hapus pesan darinya. Bisa-bisa besar urusannya jika keluargaku tau. Wanita ini sepertinya ingin ku patahkan tangannya.


"Sayang." Aku terlonjak kaget melihat Kinan berjalan mendekatiku. Ku sembunyikan ponselku di bawah bantal.


"I-ya." Jantungku rasanya berdegup kencang. Aku seperti kesulitan menelan salivaku. Ku tarik dalam-dalam napasku dan ku hembuskan gusar. Dipikiranku, apa pesan dari Andini tadi sudah berhasil terhapus atau belum?


"Kamu kenapa? Masih sakit?" Dia memegang tanganku.


Ku gelengkan kepala dan ingin mencoba mengusir rasa takut ini. Ku tatap matanya, ku cium tangannya.


Cuuup


"Tadi kenapa teman-temanmu baru datang langsung pulang?"


"Haaah," Aku tidak tau harus menjawab apa dan berpikir sejenak. "Tadi ditelepon untuk segera kembali."


"Oooh." Wajahnya tiba-tiba cemberut, dia menatapku. "Aku mau tanya sama kamu?" Ku telan salivaku. Pasti dia akan marah padaku.


"Apa? Aku sudah sembuh kok, cuma masih sedikit pusing."


"Bukan itu, tapi soal kehamilanku kenapa Papa dan Mama tidak tau? Kenapa kamu tidak memberitahu mereka?"

__ADS_1


Ku pegang kedua pipinya, "Dengarkan aku sayang! Aku terlalu bahagia sampai lupa memberitahu mereka."


"Aku tidak percaya!" Dia membuang mukanya. Ku ciumi tangannya. Maafkan aku sayang, aku hanya tidak ingin Mama memaksa kita pulang saat tau kamu hamil.


Tiba-tiba Papa dan Mama masuk ke dalam kamar. Kinan langsung melepas tangannya yang ku cium dari tadi. Aku berdengus kesal. "Pa kalau masuk itu ketuk pintu dulu kenapa? Papa Mama ini kayak tidak pernah muda saja." Kinan mencubit perutku. "Oouh sakit tau."


"Wah ini anak minta di pukul Ma!" teriak Papa padaku. "Rey, Papa mau bicara padamu?"


"Iya Rey tau, pasti karena Kinan hamil tidak memberitahu Mama kan. Terus soal rumah ini juga. Iya kan? Rey itu nyaman bahagia tinggal disini Pa."


"Ini soal pekerjaan, Papa itu kualahan mengurusi perusahaan kita eh kamu malah kerja di tempat perusahaan lain. Maksudmu itu apa?"


"Rey, itu bahagia tinggal disini Pa. Dari pada disini cuma makan tidur Rey cari kerja."


"Kami benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu Rey. Sekarang ayo pulang!" teriak Papa padaku.


"Tidak Pa, Rey mau disini dulu. Mama Papa pulang sana!" Ku perhatikan wajah mereka bertiga seperti geram padaku.


Ya aku sadar Papa pasti kerepotan mengurus perusahaan sendiri tanpa aku. Maafkan aku Pa, aku janji akan pulang nanti.


Sore ini Papa dan Mama pamit pulang dengan raut wajah kecewa. Kami mengantar sampai depan. Mama seperti berpesan banyak pada Kinan. Entah apa aku juga tidak mengerti.


...****************...


Hari ini Kinan tidak membangunkanku. Aku sedikit agak terlambat masuk kerja. Entah apa maksudnya membiarkanku tidur sampai siang.


Aku bergegas mandi dan memakai bajuku. Aku hanya memakan nasi goreng buatannya sedikit. Ku cium keningnya dan ku berlari menuju mobil. Ku kendalikan cepat mobilku dan di tempat parkir itu ku lihat mobil Arka sudah ada disana. Pasti aku sudah telat.


Aku berlari menuju kantor. Dan benar saja dia berjalan berdua bersama Andini. Langkah kakinya terhenti saat sampai di meja kerjaku.


Ku dengar dari arah kejauhan. "Apa Reyhan tidak masuk lagi?"


Aku berlari ke arah mejaku. "Maaf Pak saya telat hari ini!"


"Kamu pikir ini kantormu? Dua hari kamu tidak masuk kerja dan sekarang kamu telat? Sekali lagi kamu berbuat salah akan aku pecat kamu!"


Aku tidak bisa menjawabnya karena memang ini kesalahanku. Aku hanya bisa berdengus kesal. Semua orang disini melihatku seperti ingin menghakimiku juga. Andini dia malah melempar senyum tidak jelasnya padaku. Ku kerutkan dahiku. Apa maksud wanita ini?

__ADS_1


Tak lama kemudian Arka pergi meninggalkanku dan masuk dalam ruangannya diikuti oleh Andin. Wanita itu melirikku ke belakang dengan masih menarik garis lurus di bibirnya. Aku langsung duduk di meja kerjaku.


"Rey, Andin ngasih kode kamu tuh," ucap Yuda dengan terkekeh. Ku lempar satu buku di mejaku ke arahnya.


Waktu sudah menunjukan jam makan siang. Tadi pagi aku terlalu buru-buru sampai tidak selesai memakan sarapan buatan istriku. Perutku rasanya lapar sekali.


Aku pergi ke kantin sendiri, tak sengaja bertemu Andin disana. Aku berjalan mendekatinya dan harus segera memberi peringatan padanya.


"Andin, bisa kita bicara sebentar?"


"Tentu, lama juga tidak masalah. Kita mau bicara dimana?"


Ku kerutkan dahiku. Kenapa dia terlihat seperti sangat bahagia? Aku berjalan di sudut ruangan ini dan dia mengikutiku.


"Aku mohon sama kamu, jangan terus menghubungiku! Kamu tau kan aku sudah berkeluarga. Aku sudah punya anak dan istriku lagi hamil," tegasku padanya.


"Oke Rey mau jujur aku menyukaimu. A-ku juga baru tau kemarin istrimu sedang hamil. Aku minta maaf, aku kemarin tidak bicara apa-apa dengan istrimu. Begini, aku mempunyai tawaran yang membuat kita saling menguntungkan. Bagaimana kalau kita menjalin hubungan?"


Ku kerutkan dahiku. "Ka-mu?" Ku remas-remas tanganku, rasanya jika dia laki-laki ingin ku pukul dia.


"A-ku tau pasti kamu tidak nyaman berhubungan dengan istrimu di saat hamil besar seperti ini. Kita bisa bersenang-senang berdua tanpa melukai perasaan istrimu. Aku ikhlas jadi yang kedua. Ketahuilah Rey, aku mengagumimu saat kita pertama bertemu."


-


-


-


-


-


-


Rey ngeselin ya, authornya apa lagi.😡


Ya ampun sabar banget kalian yang masih setia baca.

__ADS_1


❤ jempolnya jangan lupa ditinggal!


Aku sayang kalian 😘


__ADS_2