
Waktu pulang sekolah pun tiba, terlihat Pinky, Aero dan Arion berjalan bergandengan sambil mengayun-ayunkan tangan mereka menuju gerbang pintu sekolah.
Selena rupanya telah menunggu Arion di mobil. Dia memanggil-mangil anak laki-lakinya itu dengan tangan melambai-lambai ke arahnya.
"Mama ...." Wajah anak itu berbinar. "Aku pulang dulu ya, Mamaku sudah menjemputku." Kakak beradik itu menganggukan kepalanya dan Arion berlari ke arah Selena.
"Papa kenapa belum jemput?" ucap Aero dengan mata melihat ke kiri dan kanan mencari sosok orang yang mereka nanti.
Kali ini mereka belum tau jika Rey tidak bisa menjemput. Pekerjaan yang menumpuk tak mengizinkannya untuk pergi dari meja kerjanya.
Namun tak lama kemudian Kinan datang diantar oleh sopirnya. Dia keluar dari mobil MPV berwarna putih itu. "Sayang," teriaknya. "Maaf nunggu lama! Papa tidak bisa menjemput ayo kita pulang!" Kinan mengulurkan kedua tangannya pada Pinky dan Aero.
"Yaaaah ...." keluh Aero dengan menghembuskan napasnya. "Kita ke kantor Papa dulu ya Ma?"
"Ya sudah ayo! Tapi sebentar saja ya! Papa banyak kerjaan!" Mereka mengangguk dan masuk ke dalam mobil.
Sesampainya di kantor, Pinky dan Aero langsung masuk ke dalam ruangan Papanya dan berlari memeluknya.
"Papa ...."
"Kalian kok kesini?" Rey langsung meninggalkan laptopnya dan menyapa mereka. Kinan terlihat berjalan pelan kemudian menutup pintu ruangan itu. Bola mata Rey tertuju pada wanitanya yang sekarang duduk di sofa ruangannya.
"Aku ingin cerita sama Papa."
"Apa?"
"Tadi sandwich Kak Pinky di jatuhkan sama temannya Pa. Terus Kak Pinky nangis untung ada temenku yang belikan sandwich di kantin sekolah untuk Kak Pinky."
"Benar itu Pinky?" Anak perempuan berponi itu mengangguk. "Siapa namanya?"
"Arion Pa."
Dahi Rey berkerut, "Laki-laki?" Pinky mengangguk. Rey langsung memangku anak perempuan itu.
__ADS_1
"Pinky ingat ya pesan Papa! Jangan pernah minta-minta atau ngemis-ngemis sama laki-laki! Kalau kamu butuh bantuan laki-laki dan laki-laki itu tidak mau bantuin kamu, gak usah berharap! Karena jika kamu butuh bantuan dan mohon-mohon baru dia bantuin, berarti dia bukan teman yang baik! Ini yang paling penting tinggalkan laki-laki seperti itu!"
"Tapi Pinky tidak meminta Pa, dia yang memberi Pinky sandwich." Rey mengerutkan keningnya.
"Ya sudah lain kali kalian harus mengenalkan Papa pada teman kalian itu. Papa sangat berterima kasih padanya karena sudah menghibur anak Papa." Rey mencubit pelan hidung Pinky. Kedua anak itu tersenyum.
Pinky dan Aero mulai terlihat bosan berada di ruangannya, mereka pamit pergi ke taman kecil di samping kantor itu. Rey dan Kinan menatap kedua punggung yang semakin menjauh itu. Rey berjalan pelan dan mengunci pintu ruangannya.
"Kenapa di kunci pintunya?" tanya Kinan dengan mengerutkan dahinya. Laki-laki itu berjalan pelan mendekatinya yang sedang mengangkat kepalanya dari sandaran sofa. "Jangan aneh-aneh ya! Disini banyak orang!"
Rey hanya terkekeh pelan. "Sini," Dia menepuk-nepuk pahanya dan melempar senyum pada wanita yang terlihat tidak tenang.
"Bisa kan kita lakukan di rumah nanti!"
"Aku cuma mau bicara, penting!"
Kinan langsung duduk dipangkuannya, mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Laki-laki itu menyentuh pipi Kinan dengan hidung mancungnya.
"Ayo bicara apa? Jangan bohong lagi!"
"Tapi seharusnya aku gak usah ikut. Aku malu nitip ke Mama."
"Gak apa-apa kok, tadi aku pamit sama Mama mau bulan madu."
"Apa?" teriak Kinan. Rey langsung memundurkan kepalanya dan mengerutkan dahinya. "Bisa-bisa kamu pamit seperti itu? Kita itu bukan pengantin baru." Wanita itu memukul pelan dada suaminya.
Rey menggaruk-garuk kepalanya, "Kapan kita bulan madu hah? Malam pertama saja telat dua minggu."
Wajah Kinan terlihat datar. Menurutnya suaminya sangatlah berlebihan. Namun ketakutanya tiba-tiba muncul, jika dia tidak menuruti bagaimana kalau suaminya tergoda wanita lain karena tidak bahagia dengannya? Bagaimana kalau kejadian dulu terulang lagi?
Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kamu tidak mau?" tanya Rey dengan mengangkat sebelah alisnya. Bibirnya mulai mengkerucut.
"Mau," Kinan mengangguk.
__ADS_1
"Ikhlas gak?" Dia menganggukan kepalanya tiga kali. Rey akhirnya melempar senyum padanya. "Kamu mau kemana?" Dia menyibakan rambut panjang itu.
"Terserah."
Dahi laki-laki itu mengkerut. "Kenapa cewek kalau ditanya pasti jawab terserah?" tanyanya. Dia seperti sangat hafal dengan satu kata yang membuatnya naik tensi.
"Oh dulu pasti teman wanitamu pasti bilang 'terserah' juga gitu 'kan?"
Mulut Rey ternganga, mungkin dia harus lebih mengerti. Dia mengusap gusar wajahnya. "Jangan bahas itu! Ayo kamu ingin kemana?" Rey memegang kedua pipi Kinan.
"Kamu suka pantai?" Rey mengangguk. "Nanti kita kesana ya!"
"Terus mampir hotel." Kinan mengernyit, kenapa bulan madu yang ada di pikiran suaminya hanya soal ranjang bukan jalan-jalan?
"Gak usah, kita tidur di rumah kecil kita saja!" Wanita itu melekatkan pipinya ke pipi suaminya. Rey menganggukan kepalanya dua kali. Dia seperti menyerahkan urusan itu pada istrinya.
Laki-laki itu langsung mengeratkan pelukannya dan menciumi pipi serta bibir istrinya. Mata mereka terpejam merasakan lidah mereka yang menyatu dan menari-nari di dalam sana.
Tok tok tok
"Papa ... Mama."
Untung saja pintu sudah terkunci.
❤
❤
❤
❤
❤
__ADS_1
Like