
Seperti burung yang terkurung dalam sangkar emas. Ya, itu keadaan Kinan selama satu pekan ini. Menghabiskan waktunya dalam rumah karena kecemburuan Rey yang berlebihan.
Sebenarnya tak begitu membuatnya tertekan, karena sebelumnya dia juga hanya menghabiskan waktu di dalam rumah.
Tapi, ini masalahnya di toko kuenya. Sekarang Wina merasa kelelahan untuk mengurusnya sendiri. Pembeli yang bertambah banyak membuat sahabatnya itu pusing tujuh keliling bahkan akhir-akhir ini sering jatuh sakit.
Beberapa kali Kinan meminta izin pada suaminya yang cemburunya luar biasa untuk ke toko kuenya namun tetap tak diizinkan. Ah, terlalu berlebihan memang. Padahal dia sendiri setiap hari bertemu dengan wanita yang pahanya diumbar-umbar. Entah itu karyawannya ataupun rekan bisnisnya. Tidak adil, ini sangat tidak adil bagi Kinan.
Malam ini Kinan sedang menemani anak-anaknya bermain. Menghabiskan waktu bersama mereka seraya menunggu suaminya pulang.
Tok tok tok
Terdengar ketukan pintu. Dia sangat antusias membuka sendiri pintunya. Berpikir itu pasti suaminya.
Tapi, kenyataan berkata lain. Ternyata yang datang Wina dan Ray. Raut wajahnya begitu tegang, masalahnya sebentar lagi Rey akan pulang. Bagaimana kalau dia tau Ray datang ke rumah ini? Kenapa juga si Ray ikut Wina ke rumahnya? Kan tambah pula masalahnya.
"Eh, kita disuruh berdiri aja nih?" ledek Wina dengan mengerutkan kening.
"Maaf ... ayo masuklah!"
Wina dan Ray berjalan masuk ke dalam sedangkan Kinan mengikutinya. Bola mata Ray berkeliling di seluruh sudut rumah.
"Bagus rumahnya!" ucap Ray. Kinan memberikan senyum setengahnya.
"Iya lah suaminya aja tajir melintir sampai keplintir-plintir," sahut Wina.
Kinan berdecak sembari menyatukan kedua alisnya. Ucapan Wina sangatlah tidak lucu baginya. Mereka berdua duduk di kursi tamu dan Kinan mengikutinya.
"Mau minum apa?" basa basi Kinan. Dalam hatinya sebenarnya mengharap mereka segera pulang sebelum Rey datang.
"Gak usah repot-repot Kinan!" Laki-laki yang nama panggilannya hampir mirip suaminya itu setidaknya bisa membuat napasnya sedikit lega. Setidaknya mereka cepat pulang tanpa menunggu minuman dingin.
__ADS_1
"Ya sudah, ada apa Win?" tanya Kinan langsung memulai pokok pembicaraan dan mengusirnya pelan-pelan.
"Ada apa, eh Kinan aku capek ngurusin toko kue sendiri. Disuruh ke toko gantiin aku pas sakit sebentar aja gak mau," sungut Wina.
"Bukannya gak mau, tapi Rey gak ngizinin aku keluar. Aku udah bilang kan kemarin."
"Ya kenapa? Aneh banget suamimu itu. Masak keluar sebentar aja gak boleh."
Kinan tak mampu menjelaskan karena penyebabnya adalah laki-laki yang duduk di samping Wina. Dia hanya mampu meminta maaf dan Wina masih merasa kesal dengan terus membuang mukanya.
Tiba-tiba suara mobil Rey terdengar di telinga Kinan. Jantungnya berdegup lebih kencang. Dia meremas-remas tangannya.
"Win kamu gak pulang?" tanyanya untuk mengusir pelan-pelan.
Wina memundurkan kepalanya, raut wajah kesalnya pun tergambar lebih jelas. "Kamu ngusir kita?"
Kinan memejamkan matanya, "Masalahnya suamiku sudah pulang."
"Kita belum bahas permasalahnya."
Kinan langsung berdiri, "Wah kebangetan kamu," ucap Wina dengan wajah geram.
Rey ternyata sudah berjalan masuk rumah. Kinan memberikan senyumnya. Senyum yang tersembunyi rasa takut di dalamnya.
Dahi Rey berkerut melihat laki-laki itu berdiri di samping Kinan. Wanita itu semakin ketakutan jika suaminya bertambah salah paham.
"Ya sudah Kinan, aku dan Wina pulang dulu ya? Senang bisa main ke rumahmu."
Ucapan itu membuat wajah Rey berapi-api. Wina dan Ray berjalan keluar dan mereka juga berpamitan dengan laki-laki yang kini bersungut itu walaupun tidak ada satu patah katapun yang keluar untuk menjawab pamitan Ray.
"Sayang ...." sapa Kinan dengan nada gemetar. Setelah Wina dan Ray pulang.
__ADS_1
"Kamu gak aku izinin ke toko kue, malah dia yang nyamperin kesini?"
"Bu-bukan gitu ...."
Rey berjalan cepat menaiki anak tangganya dan seolah-olah tak peduli dengan penjelasan istrinya. Laki-laki itu membuang asal jasnya ke tempat tidur dan langsung masuk kamar mandi mengguyur kepalanya yang mendidih.
Kinan duduk di tepi tempat tidur seraya memeluk jas berwarna hitam milik suaminya yang di lempar tadi.
Sekitar sepuluh menit dia menunggu. Akhirnya Rey keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya dan rambut yang masih setengah basah. Dia menatap tajam istrinya yang sedang memeluk jasnya itu.
"Kamu bulan depan harus hamil!" ancamnya. Raut wajah kebingungan nampak jelas di Kinan.
"Ya gak harus bulan depan," jawabnya lirih.
"Pokoknya aku mau bulan depan, aku gak mau laki-laki tadi melirikmu lebih dalam," teriaknya.
"Apa tujuanmu membuatku hamil agar aku terlihat gendut dan tidak ada laki-laki yang melirikku?"
"Iya, eh gak juga aku ingin anak lagi aja," sahutnya.
"Idih ... aneh."
"Sudah selesai belum dapetnya?"
Kinan mengangguk lemas. "Pokoknya kali ini harus jadi!" Dada Rey kembang kempis seperti menahan sesuatu.
Mulut Kinan ternganga mendengar ucapan suaminya. Laki-laki itu masih saja belum mengerti kapan masa subur dan masa tidak subur wanita. Mana bisa sehari selesai menstruasi hamil?
❤
❤
__ADS_1
❤
❤