Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Mawar putih


__ADS_3

Kinan POV


Setelah menyelesaikan pekerjaaan rumah aku tidak sabar untuk ke rumah Sisca. Ku berjalan dengan mendorong stroller yang pasti anakku sedang ada di dalamnya.


Ku masuk di halaman rumahnya. Ya memang betul kata Rey, rumput tetangga memang lebih hijau. Rumahnya sangat sejuk penuh dengan bunga dan koleksi aglonema yang indah.


Ku lihat pintu rumahnya terbuka, "Sisca!" Ku panggil namanya.


"Hai, masuk-masuk! Aku kira kamu tidak jadi kesini." Ku kerutkan dahiku.


"Kenapa?"


"Ibu-ibu tadi pasti membicarakanku, dan kamu pasti ikut membenciku." Dia menunduk bersedih.


"Aku tidak membencimu kok, sudah! Ayo kita masak!" seruku.


Kita mulai masak berdua. Ya dia sebenarnya wanita yang ramah dan mengasyikan untuk dijadikan teman. Aku menikmati kegiatan memasak ini bersamanya.


Setelah sekitar dua jam aku berada di rumahnya, ku putuskan untuk pulang. Dia membantuku membawa semangkuk kolak yang kami buat tadi menuju rumah.


"Terima kasih ya Sisca," ucapku.


"Sama-sama, seringlah main di rumahku." Aku mengangguk sambil tersenyum padanya. Kemudian dia pulang meninggalkan ku dan anakku.


Sungguh aku tiba-tiba teringat dengan Wina. Bagaimana kabarnya? Aku sangat merindukannya.


Ku ambil ponselku, dia pasti cemas dengan keadaanku selama ini. Oh maafkan aku sahabatku. Ku ketik pesan untuknya.


Aku : Wina, apa kabar? Ini aku Kinan.


Aku sebenarnya tidak sabar mengirim pesan. Ingin segera meneleponnya. Tapi aku yakin dia lagi sibuk sekarang mengurus sendiri toko kue ku. Ku tunggu beberapa menit belum ada balasan. Ku taruh ponselku di meja. Lalu tiba-tiba ada satu panggilan masuk darinya. Aku yakin kali ini dia pasti heboh.


Wina : Kinan, bagaimana kabarmu? Dimana kamu sekarang? Rey mencarimu kemana-mana. Tante Ina dan Els dia selalu menanyakan kabarmu?


Ku helakan nafasku, sungguh aku merindukan kalian semua.


Aku : Maafkan aku Win, aku belum bisa pulang. Tapi aku baik-baik saja kok. Aku sudah hidup bersama Rey disini kamu tidak perlu khawatir. Nanti aku akan mengabari Tante Ina dan Els.


Ku hapus dua tetes air mata yang mengalir di pipiku.


Aku : Bagaimana kabarmu? Apa masih sanggup mengurus toko kue ku sendiri?

__ADS_1


Oh, rasanya aku ingin pulang kesana.


Wina : Kabarku baik, aku sebenarnya lelah mengurusnya sendiri. Aku merindukanmu Kinan.


Dia terdengar menangis. Entah kenapa aku juga ikut menangis. Tapi aku mencoba menahannya.


Aku : Aku juga merindukanmu. Oh iya ada kabar baik. Aku sedang hamil sekarang.


Terdengar teriakan kegembiraannya. Ku jauhkan ponselku dari telinga. Ini sangat membuat telingaku berdenging. Kita berbincang-bincang lama di telepon. Perbincangan tentang Rey yang dulu sangat kebingungan mencariku. Sungguh aku merasa sangat bersalah padanya.


Setelah puas berbincang-bincang di telepon bersama Wina. Aku masih duduk termenung memikirkan suamiku. Aku mungkin akhir-akhir ini telah membuatnya tidak nyaman dengan kecemburuan yang sangatlah tidak sehat ini. Bahkan semua wanita aku larang untuk tidak meliriknya. Konyol sekali aku.


Ku putar-putar ponselku. Aku jadi merindukannya. Sedang apa dia sekarang? Apa dia diterima bekerja? Kalaupun tidak, aku juga tidak begitu mempermasalahkan. Aku tidak suka lingkungan disini, aku ingin pulang bertemu Tante Ina, Els, Wina, Mama, Papa dan yang pasti aku rindu rumah kita serta rutinitas kita dulu.


Aku beranikan diri mengirim pesan padanya, aku berdo'a semoga tidak mengganggunya. Aku hanya bosan di rumah tidak ada kegiatan dan teman. Aku juga tidak mau terus-terusan di rumah Sisca dia pasti juga punya kegiatan yang lebih penting dari pada menemaniku.


Aku : Sayang


Hanya kata itu yang dapat ku tulis dan ku kirim. Aku berjalan menuju dapur dan mencari makanan di kulkas. Hanya tinggal tinggal dua buah apel dan satu buah pear. Siang yang terik ini entah kenapa di pikiranku hanya menginginkan jeruk pasti sangatlah menyegarkan.


Rey : Apa sayang? Apa kamu merindukanku? Aku baru tiga jam meninggalkanmu.


Aku : Aku bosan di rumah.


Tak selang beberapa menit dia membalasnya.


Rey : Aku sebentar lagi akan pulang. Kamu mau di bawakan apa?


Aku tersenyum lebar membacanya.


Aku : Aku ingin jeruk. Bawakan aku jeruk. Apa kamu tidak di terima kerja? Kenapa cepat sekali pulang?


Aku berjalan kembali ke meja makan dengan mengetik pesan untuknya.


Rey : Iya nanti aku belikan.


Dia tidak menjawab pertanyaanku tentang pekerjaannya. Ah sudahlah nanti aku akan menanyakannya langsung. Aku menuju kamar anakku. Dan bermain-main dengannya tapi dia masih tertidur.


Ku dengar mobil suamiku datang. Tentu aku sangat bersemangat untuk menyambutnya. Ku bukakan pintunya. Dia tersenyum dengan manisnya ada sebungkus jeruk yang ku pesan tadi di tangan kanannya. Dan tangan kiri yang dia sembunyikan.


Dia memberikan jeruk itu padaku. Aku memeluknya, "Terima kasih."

__ADS_1


Kami berjalan menuju meja makan. Dia mengikutiku dari belakang. Aku duduk di kursi dan mengambil sebuah jeruk itu lalu mengupasnya.


Tiba-tiba dia menciumi pipiku dari belakang. Tangannya memelukku dan memberiku buket mawar putih yang sangat cantik.


Rasanya aku ingin menjerit dan memeluknya. Ku letakkan begitu saja jeruk yang akan selesai aku kupas ini di meja. Ku ambil bunga pemberian darinya. Aku tersenyum bahagia dengan semua ini.


Dia berbisik di telingaku, "Apa kamu menyukainya?"


Aku mengangguk malu-malu, "Mau aku bawakan setiap hari?"


Aku berdiri dari dudukku dan langsung memeluknya. Aku tidak tahan dengan ini semua. "Tidak perlu setiap hari, nanti rumah kita yang kecil ini akan menjadi kebun bunga." Dia terkekeh mendengarnya.


Aku melepas pelukan ini, "Bagaimana tadi? Diterima? Kalau tidak juga tidak apa-apa, kita pulang saja!"


Dia memegang kedua pipiku. "Diterimalah, besok aku sudah mulai kerja."


"Cepat sekali."


"Siapa dulu dong. Kenapa tiba-tiba kamu ingin pulang?"


"Tidak apa-apa, aku hanya rindu rumah kita. Tadi aku menelepon Wina. Dia bercerita banyak tentangmu saat mencariku. Maafkan aku yang dulu ya sayang! Aku sangat mencintaimu."


"Tidak masalah bagiku, lupakan yang lalu. Aku juga mencintaimu."


Kami berpelukan lama. Dan aku menyiapkan makan siangnya. Aku memberikan semangkuk kolak pisang yang dia pinta kemarin dan dia terkekeh melihatnya.


"Kemarin aku hanya bercanda," ucapnya dengan santai.


"Aku kira serius, aku sampai minta pisang Sisca karena tadi penjual sayur kehabisan pisang. Huuuf," Ku berdengus kesal.


"Ya sudah sini ayo kita makan berdua. Mau aku suapin?" Dia mengambil sendok dan menyuapiku. Aku pun juga membalasnya.


"Ako todok soko tonggol do ...."


Dia mengambilkan aku segelas air, "Dikunyah dulu baru bicara." Aku meminum air itu. Kemudian meletakkannya di meja.


"Aku tidak suka tinggal disini, aku tidak suka lingkungan disini. Aku hanya ingin pulang!"


**Dukung terus Author,


Dengan like, coment, dan votenya**!

__ADS_1


__ADS_2