Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Save


__ADS_3

Kinan POV


Pagi-pagi sekali ku persiapan keperluan kerja dan sarapan untuknya. Hanya roti tawar, selai dan susu yang ada di meja. Mengurus semua sendiri membuat tubuhku akhir-akhir iri merasa mudah lelah. Aku juga jarang memasak untuk suamiku karena dia sering pulang malam akhir-akhir ini.


Semua sudah siap. Dia membuka pintu kamar dan telah bersiap untuk bekerja. Parfum maskulinnya sungguh menggodaku, aku langsung memeluknya dan menghirup kuat-kuat aromanya.


Dia membalas pelukanku, mengelus kepalaku. Ku tenggelamkan wajahku ke dadanya. Rasanya nyaman sekali. "Apa kamu merindukanku?" tanyanya. Aku hanya menganggukan kepala. "Oh, maafkan aku sayang! Kemarilah!" Dia duduk di salah satu kursi meja makan ini.


"Duduklah dipangkuanku!" serunya dengan tangan menepuk-nepuk pahanya.


"Aku berat," ucapku dengan memegangi perutku yang semakin membesar ini.


Dia menarik tanganku mendekatinya. "Sini!" Aku duduk dipangkuannya. Walaupun ini sering kita lakukan tapi entah kenapa jantungku kali ini berdegup kencang.


Tanganku sibuk mengambil satu roti tawar dan ku oles dengan selai sarikaya untuknya. Dia mengelus-elus perutku. Dan menciumi bahuku. Sungguh seperti tersengat rasanya.


"Bagaimana kalau nanti malam kita kencan?" bisiknya ditelingaku.


Deg


Ku pejamkan mataku, ku gigiti bibir bawahku, rasanya sudah tidak sanggup menahan senyum bahagia ini. Selama menikah bersamanya baru kali ini dia mengajakku berkencan.


"Ken-can?" jawabku gugup. Lagi-lagi dia mencium bahuku. Ciuman itu lagi-lagi seperti menyengat ke seluruh tubuhku.


"Heem, kita bahkan belum pernah berkencan kan. Pacaran saja juga belum. Kita menikah pun seperti korban perjodohan! Terpaksa, dipaksa menikahi tuan muda yang tamvan Reyhan. Haa, haa, haa." Dia tertawa lepas.


"Dipaksa menikahi istri sahabatku," sahutku.


"Heem." Dia memejamkan matanya dan mengerucutkan mulutnya.


"Jadi yang bener judulnya apa?"


"Tuan muda memendam rasa pada istri sahabatnya." Dia terkekeh, ku taruh roti itu di atas piring. Ku tatap matanya.


"Kenapa harus pakai tuan muda? Kamu itu cuma karyawan bukan tuan muda. Kapan menerima kenyataannya?"


"Mantan CEO. Ppfffttt, pppffft." Dia menahan tawanya.


"Aku cubit nih! Jadi nanti malam kamu mengajakku kencan dimana? Lalu bagaimana dengan Pinky?"


"Ya diajak lah! Kamu inginnya dimana? Aku tidak masalah dimana pun. Di Paris pun ayo!"


Ku kerutkan dahiku. "Iiiihhhh. Di rumah saja ya, nanti aku siapkan makan malam romantis bagaimana? Aku tidak mau meninggalkan Pinky."

__ADS_1


"Boleh, nanti aku akan pulang sore."


"Janji."


Dia mengangguk dan aku menyuapinya. Setelah selesai aku mengantarnya sampai depan pintu. Tidak sabar rasanya untuk malam ini.


Rey POV


Setelah menyelesaikan sarapanku. Aku segera berangkat menuju tempat kerjaku. Ku injak pedal gas dengan cepat agar aku segera sampai tujuan. Aku sebenarnya sudah tidak sabar untuk nanti malam, maka dari itu aku ingin segera menyelesaikan tugasku dan segera pulang.


Di parkiran ku lihat Yuda juga keluar dari mobilnya. Aku menyapa dan menghampirinya. Kita berjalan bersama ke dalam dengan gurauan konyolnya yang semakin malas selalu di intai gerak geriknya oleh Lutfi.


Ditengah asyiknya bercanda tiba-tiba ada seorang yang memanggilku, "Reyhan!" Kita hentikan langkah kaki ini dan menoleh ke arah suara itu.


"Hai, aku akhir-akhir ini mengirim pesan padamu kenapa tidak pernah kamu balas?" tanyanya. "Save nomorku lah!"


"Haaa, haa, haa." Yuda tertawa lepas mendengarnya. Dia berbisik di telingaku, "sepertinya kamu bakal jadi saingan Pak Arka lagi Rey." Aku hanya terdiam, menatap Yuda yang sepertinya meledekku.


"Maaf, aku ketiduran."


Andini entah dia mendapat nomor teleponku dari siapa? Bisa jadi dari surat lamaranku atau bertanya pada teman-teman dekatku disini. Yang pasti setiap hari setelah pulang kerja selalu memintaku untuk menyimpan nomor teleponnya.


"Ya sudah habis ini save ya! Aku masuk ruangan Pak Arka dulu. Daaa Reyhan," ucap Andini dengan melambai-lambaikan tangannya ke arah ku.


Saat ini semua pekerjaanku sudah selesai. Aku harus segera pulang. Kinan pasti sudah menungguku. Aku sudah memesan buket bunga mawar merah untuknya. Pasti dia sangat senang sekali.


Aku pergi ke toilet untuk mencuci tanganku sebelum beranjak pulang. Tak sengaja aku bertemu Andini. Kita bertabrakan lagi dan dia tiba-tiba memelukku.


Dengan cepat aku melepas pelukan itu dan meninggalkannya. Beberapa kali dia memanggilku. "Rey, bisakah malam ini kamu mengantarku pulang?"


"Maaf aku tidak bisa, istriku sedang menungguku di rumah."


"Kamu sudah mempunyai istri?"


"Apa wajahku ini seperti anak SMA?" Aku berjalan menjauhinya. Dia masih terus mengikutiku.


"Cuma sebentar rumahku tidak jauh dari sini!"


Tidak sengaja aku melihat Yuda dan Adrian berjalan ke arah pintu. "Yud, tolong antar Andini pulang! Istriku sedang menungguku di rumah."


"Oke, ayo Din!" Dengan semangat Yuda mangantarnya.


Andini berdengus kesal padaku. Aku tidak peduli, ku langkahkan kaki ku ke ruangan kerjaku dan ku ambil buket bunga mawar yang ku pesan tadi. Aku berlari ke mobil dan melajukannya dengan cepat. Semoga Kinan tidak menungguku terlalu lama.

__ADS_1


Sesampainya di rumah ku banting pintu mobilku. Ku buka pintu rumahku. Suasana rumah temaram membuatku tak sabar untuk bertemu dengannya.


"Sayang aku pulang."


Ku lihat dia tertidur di meja makan. Maafkan aku yang membuatmu menunggu. Pasti ini sangat menyiksamu. Ku elus kepala, dia membuka matanya perlahan-lahan.


"Kamu sudah pulang?" tanyanya. Dia sangat cantik malam ini. Dengan gaun berwarna hitam selutut dan sedikit polesan wajah sederhana namun menurutku sangatlah mengagumkan.


Dia berdiri memelukku. Mengenggelamkan wajahnya di dadaku. Namun tiba-tiba dia terdiam. Ku pegang kedua pipinya.


"Ada apa?" Aku melihat matanya berkaca-kaca. "Hei, kamu menangis?" Dia meneteskan air mata itu di pipinya. "Maaf membuatmu menungguku lama!"


Dia hanya terdiam, ku sapu air mata itu. Ku peluk erat dirinya. Tapi dengan cepat dia mendorong tubuhku. "Kenapa? Kamu marah? Katakan padaku!"


"Bau parfum siapa yang menempel di bajumu?"


Deg


Ku ciumi bajuku, "Dengarkan aku sayang!" Ku pegangi bahunya. "Tadi ada teman kerjaku tidak sengaja menabrakku. Dan aku juga tidak tau kenapa bau parfumnya masih menempel di bajuku. Mungkin dia terlalu banyak memakainya."


Dia berpikir sejenak. "Ya sudah kamu mandi dulu sana, aku tidak suka menciumnya."


"Kamu tunggu sebentarnya!"


Beberapa menit kemudian, aku tidak melihatnya di meja makan. Apa dia marah padaku? Ku lihat pintu rumah terbuka. Dia sedang berdiri melihat bulan purnama disana.


Aku memeluknya dari belakang. Dia terlonjak kaget. "Jangan seperti ini kita di luar nanti di lihat orang!" Dia berusaha melepaskan pelukanku.


"Biarkan saja, kita kan sudah menikah." Ku selipkan anak rambutnya ke telingannya. "Kamu cantik malam ini."


-


-


-


-


-


Kasih semangat dong!


Like, coment, dan votenya!

__ADS_1


aku sayang kalian


__ADS_2