Pesan Terakhirmu

Pesan Terakhirmu
Sebut saja mawar


__ADS_3

Rey POV


Dengan mata yang masih sedikit terpejam. Ku mendengar samar-samar, dia membuka pintu kamar. "Katanya mau jalan-jalan. Ayo!" Dia berjalan mendekatiku dan menarik tanganku.


Ku tenggelamkan wajahku di bantal. Ini masih terlalu pagi bagiku. Matahari saja masih malu-malu.


Ku pejamkan lagi mataku. "Jalan-jalan kemana? Nanti siang saja lah! Ayo kita tidur lagi!"


Dia seperti marah padaku dengan menarik kencang tanganku. Aku hanya mempunyai dua pilihan melanjutkan tidur dan bermimpi atau mengejar cintanya. Yang pasti mengejar cintanya.


Ku usap gusar wajah ini untuk menghilangkan rasa kantuk ini. Ku sibakkan selimut dan ku sambar celanaku. Dengan cepat beranjak dari tempat tidur ini membersihkan tubuhku di bawah guyuran air shower.


Setelah selesai aku masuk dalam kamar dan dia ternyata sudah menyiapkan semua bajuku di atas tempat tidur. Aku tersenyum menggodanya. Tapi sepertinya tidak dihiraukannya.


"Ayo keburu siang, kita lihat CFD disana ya! Pasti seru." Dia nampak tidak sabar dan berjalan keluar kamar.


Tak selang beberapa menit dia masuk ke kamar lagi. "Sayang ayo buruan! Aku berangkat sendiri sama Pinky nih! Kenapa seperti wanita saja dandanmu lama sekali."


"Ck, sabar ini kan masih pagi." Aku berdecak kesal. Dia menarik-narik lagi tanganku.


Semalam aku baru tidur jam dua pagi. Rasanya mataku masih lelah sekali. Aku berjalan lemas menuju pintu rumah bersamanya. Tapi entah kenapa udara segar di luar rumah membuat bisa membuka mata lebar-lebar.


Sang surya begitu nampak indah di ufuk timur sana. Kami berjalan pelan menelusuri komplek perumahan. Aku mendorong stroller Pinky. Dia terlihat sangat bahagia tersenyum hangat menyambut dunia. Aku pun ikut tersenyum, bersyukur masih bisa melihat keindahannya.


"Harusnya kamu sering-sering berjalan pagi seperti ini!" ujarku padanya. Aku cemburu dia begitu menikmati suasana pagi ini seperti tanpa memperdulikanku.


"Kamu tidak mau menemaniku!"


"Jalan-jalan sendiri masak tidak berani? Aku kan kerja."


Dia membuang mukanya. "Alasan."


Tak selang lama kami berjalan, dari kejauhan nampak kerumunan orang. Baru kali ini aku melihatnya. Mungkin karena kesibukanku dulu bahkan aku tidak pernah pergi ke tempat seperti ini.


Banyak orang yang aktif berolahraga, anak-anak dengan lincahnya bermain sepatu rodanya. Orang yang sudah tua pun ikut berjalan kaki dengan pasangannya. Namun pesepeda tetap mendominasi diantara pengunjung lainnya disini.


Ku lihat juga ada kerumunan wanita yang sedang senam disana. Ada empat instruktur senam yang memandu mereka. Mataku tersorot pada salah satunya.

__ADS_1


"Itu Sisca?" tanyaku pada Kinan.


Dia menoleh ke arah telunjukku yang menunjuk kesana, "Matamu jeli banget? Dari tadi pasti lihat ibu-ibu senam itu kan?"


Aku berdecak, "Harusnya tadi aku pakai kacamata kuda. Biar kamu tidak cemburu." Dia tertawa memegangi perutnya.


"Aku mau beli es krim itu ya!" Dia menunjuk ke arah penjual es krim. Aku sangat tidak yakin membeli makanan di kaki lima yang berderet begitu banyak ini apakah sehat atau tidak.


Ku alihkan permintaannya, "Ini masih pagi kenapa minum es? Bagaimana kalau es itu tidak higienis. Tidak, nanti kita beli di supermarket saja."


Mukanya cemberut, "Pokoknya aku mau itu."


Dia berjalan cepat meninggalkanku, "Bang, beli dua ya!" Ku helakan kasar napasku. Ku garuk-garuk kepalaku.


Setelah membeli es krim itu kita duduk berdua di salah satu kursi yang ada di pinggir jalanan ini. Melihat orang berlalu lalang menikmati indahnya pagi ini. Terlihat dia begitu menikmati es krim yang dibelinya.


Dia melirikku. "Kamu mau? Aku beli dua. Ini satu buat kamu, pokoknya ayo makan es krimnya nanti anakmu ileran kalau Papanya tidak mau nurutin."


"Kalau ini terbuat dari air mentah bagaimana? Terus gulanya pasti bukan gula murni. Nanti kalau sakit bagaimana?" tanyaku untuk menyakinkannya. Rasanya ingin ku buang saja es krim ini.


"Berlebihan banget kamu. Buruan makan!" serunya. Aku memakannya sedikit, rasanya memang tak seenak es krim di mall tapi lumayan lah untuk sarapan.


"Ya sudah sana beli!"


"Belikan ya, aku capek jalan dari tadi!" rengeknya.


Ku kerutkan dahiku, "Itu yang ngantri cewek semua, dan aku harus berdesak-desakan dengan mereka begitu? Oh tidak, nanti kamu cemburu."


"Aku tidak akan cemburu, itu anak-anak ABG. Ayo buruan aku lapar!"


"Justru ABG sukanya sama laki-laki matang sepertiku ini."


"Idiih alasan, jadi tidak mau beliin nih?"


"Kamu lihat penjualnya! Seperti tidak mandi. Iiiih." Dia picingkan matanya. "Lagian kamu lihat tidak berita di tv cara si mawar buat sausnya pake tomat busuk cabai busuk terus diinjak-injak sama kaki. Jangan-jangan siomaynya dicampur ikan busuk juga. Euuuuh."


Dia memukul-mukul bahuku. "Sembarangan kamu nuduh, aku bilang ke abangnya nih!" Aku berdecak kesal. "Ayo belikan!" Ku hentak-hentakan kakiku beberapa kali di dekatnya. Namun dia hanya membuang mukanya. Ku berjalan menuju penjual itu.

__ADS_1


Sungguh lama sekali mengantri untuk mendapatkan satu pesanannya kali ini. Bisa banyangkan begitu malu dan membosankannya. Karena hanya aku laki-laki yang mengantri di antara ibu-ibu dan anak-anak ABG. Ku lihat dari kejauhan dia masih saja begitu menikmati es krimnya.


Setelah sekian menit perjuangan ini ku lakukan. Ku berikan langsung pesanannya, "Terima kasih," ucapnya dengan menarik garis lurus di bibirnya.


"Habis ini pulang ya!" Dia mengangguk dengan memakan siomay itu.


"Kamu mau?" Dia menyuapi mulutku.


"Tidak, penjualnya jorok. Tadi saja tangannya habis pegang uang pegang itu siomay." Ku angkat kedua bahuku.


"Coba dulu ini enak!" Dia memaksa memasukkan ke mulutku dan mau tidak mau aku memakannya. Aku terdiam sejenak sambil mengunyahnya pelan rasanya lumayan, bumbu kacangnya enak juga. Ah tapi aku tidak suka dia jajan sembarangan seperti ini.


"Enak kan?" tanyanya. Bola matanya berkeliling melihat orang berlalu lalang. Matanya berkedip-kedip dengan cantiknya. Mulutnya tak berhenti menguyah makanan itu. Aku tersenyum sendiri melihatnya.


"Biasa. Enakan di restoran." Dia mengernyitkan mukanya seketika mendengar ucapanku.


Sesampainya di rumah. Ku lihat jam di tangan kiriku. Tak terasa sudah pukul 10.00 WIB. Perutku rasanya sangat lapar. Ku buka pintu kulkas. Hanya ada minuman bersoda tanpa ada satu makanan atau buah di dalamnya. Sedikit menyesal tadi tidak membeli makanan disana.


Ku minum minuman bersoda itu dan ku sandarkan tubuhku di dekat kulkas. Sungguh perutku masih terasa lapar.


Ku sambar kunci mobilku. Aku gendong Pinky dan ku gandeng tangannya untuk berbelanja di supermarket terdekat dengan rumah.


Ku pakaian sabuk pengamannya. Ku ambil kacamata hitamku. "Mau kemana lagi?" tanyanya.


"Bantu aku habiskan uang di atm!"


-


-


-


-


-


Dukung terus Author,

__ADS_1


Dengan like, coment, dan votenya 😘


__ADS_2