
"Rusak sedikit beli, apa-apa beli. Kamu lihat mainannya sudah penuh satu kamar! Kalau kamu tidak kompak mendidik anak bersamaku, lebih baik kamu urus sendiri mereka!" ucap Kinan dia mengerucutkan mulutnya.
Rey memberikan senyum menggodanya, tanpa tergoda sedikit pun Kinan langsung tidur memiringkan tubuhnya dan menutup wajahnya dengan guling. Hei, bukan Rey namanya jika tak sanggup membuat hati wanitanya luluh kembali.
Laki-laki itu mencoba memeluknya dari belakang. Beberapa kali Kinan melepaskan diri dari pelukan itu, namun kekuatannya tak sebanding dengan suaminya jadi rasanya sia-sia belaka.
Rey berusaha membuka guling yang menutupi wajah Kinan dan langsung mencium pipinya bertubi-tubi. Semakin dia menghindar semakin kuat tangan itu mencengkram kedua tangan istrinya.
Dia menindih tubuh Kinan. Apakah dia masih bisa bertahan menahan rasa geram terhadap suaminya?
Oh ternyata tidak, ciuman lembut di bibir yang diberikan Rey seperti menghipnotisnya. Terlihat dari matanya yang terpejam, dadanya kembang kempis dan tubuh yang mulai pasrah.
Dengan cepat Rey mematikan lampu kamarnya dan menggantikan lampu tidurnya. Suara decapan bibir mereka menggema di seluruh ruangan kamar yang temaram itu.
Ditengah menikmati surga dunia ini Rey membisikan sesuatu ditelinganya, "Apa kamu masih marah padaku? Jika masih aku tidak akan meneruskan ini!"
Ancaman macam apa ini? Apa maksudnya? Bagaimana bisa ditengah asyiknya bercinta dia menghentikan begitu saja?
Hei, jangan lupakan dia siapa? Kinan berdengus kesal. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Dalam hatinya ingin marah tapi tubuhnya tak mampu menolaknya.
"Kamu janji dulu jangan terlalu memanjakan dengan selalu memberi apa yang mereka minta!" ucapnya lirih.
__ADS_1
"Iya, ini yang terakhir."
"Ini hanya kepuasan instan yang menimbulkan konsekuensi di masa depan. Aku ingin mereka menghargai apa yang dimilikinya dan menerapkan kesederhanan dalam kondisi apapun," ucapnya dengan memalingkan muka.
Dia berbisik pelan ditelinga istrinya, "Iya maaf, sudah belum marahnya? Jadi diteruskan atau gak nih?" Hembusan napas itu mampu membuatnya seperti tersengat. Jantungnya kembali berdegup kencang.
Bibir itu mulai turun dan menciumi lekuk lehernya. Mengetahui istrinya sudah terlena dia kembali membisikan sesuatu di telinganya lagi, "Tidak mau jawab, berarti stop gak aku lanjutin nih!" ancamnya.
Mata Kinan langsung membulat dan memukul-mukul dada Rey beberapa kali. Rey tak kuat menahan tawa dengan sikap istrinya. Dia memenggelamkan wajahnya ke dada yang berada di depan matanya itu. Memberikan tanda kepemilikannya beberapa kali disana.
"Lepas!" Kinan mencoba mendorong-dorong kepala suaminya. Apakah Rey akan melepaskannya? Tentu saja tidak, dia sangat hafal jika istrinya hanya bergulat dengan gensinya semata. Kemarahannya tak akan bertahan lama. Kali ini mereka melanjutkan malam indahnya itu dengan sedikit paksaan dari Rey namun tak mengurangi sedikit pun kenikmatan surga dunia yang mereka rasakan.
Selesai dengan aktivitas yang menguras tenaga itu, Rey memegangi perutnya. "Sayang aku lapar nih!"
"Tapi aku lapar sekali."
Kinan menghela napasnya. Rasanya tidak tega mendengar rengekan dari suaminya. "Ya sudah, mau makan apa?" tanyanya.
"Mie instan aja."
"Membakar kalori satu bungkus mie instan itu kamu perlu kurang lebih 44 menit lari loh!"
__ADS_1
"Besok aku akan rajin nge-gym lagi tenang!"
Kinan memicingkan matanya, "Aku tidak suka kamu pergi ke tempat kayak gitu, nanti digodain Jhoni sama Bambang."
Rey kaget dengan memundurkan kepalanya, "Kalau ada Markonah kenapa harus tergoda sama Jhoni dan Bambang? Aku gak mau ikut-ikutan mempercepat tanda-tanda akhir semester."
"Kok semester? Jaman."
Buuuk buuukk
❤
❤
❤
❤
❤
__ADS_1
Like