
Kinan POV
Aku sangat bahagia kamu memberiku cinta yang begitu besar Rey. Aku bagaikan wanita yang paling beruntung di dunia ini. Tapi kenapa cintamu padaku membuatmu berubah. Kamu membangkang orang tuamu, bahkan kamu tidak mempunyai sedikit pun hati nurani pada calon anakmu. Bagaimana bisa kamu menjadi sejahat ini? Kamu hanya memikirkan kita tanpa peduli perasaan orang lain.
Aku tau kamu tidak mencintainya tapi calon anakmu ada di rahimnya. Kamu tidak tau Rey, bagaimana aku harus bersabar menghadapi kenyataan pahit ini semua. Ini sangat menyakitkan bagiku.
Mungkin kepergianku adalah langkah terbaik untuk kita. Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu pada Selena. Aku yang belum terlalu jauh menikah denganmu lebih baik mengalah dengan keadaan ini. Karena dia lebih membutuhkanmu daripada aku. Aku tidak sanggup untuk kamu madu. Bahkan aku tidak kuat untuk membayangkannya. Aku hanya wanita biasa yang tidak bisa menahan rasa sakit.
Aku sebenarnya juga tidak tau bagaimana hidupku dan anakku tanpamu Rey. Dan aku juga tidak tau bagaimana hari-harimu tanpaku juga. Aku tau ini berat untuk kita. Aku mencintaimu dan sampai sekarang masih sangat mencintaimu.
"Maafkan aku Rey," Ku berusaha menghapus air mata ini sendiri dan mencoba tegar untuk menghadapi ini semua tanpamu.
Aku harus menjauh darimu dan kita berdua lama-lama akan terbiasa untuk tidak hidup bersama. Ya waktu pasti akan menjawab semua tentang cinta kita.
Hari itu ku temui Wina, hanya dia yang aku temui sebelum aku pergi. Maafkan Kinan Tante, Kinan tidak pamit dengan Tante. Els, maafkan Tante meninggalkanmu. Aku tidak bisa berpikir panjang saat itu. Panasnya matahari menyengat kuat di kepalaku. Rasanya kepalaku sakit sekali disiang hari itu dan aku tidak bisa berlama-lama disana waktu itu.
Sebenarnya aku bingung harus tinggal dimana. Tapi akhirnya ku putuskan untuk pergi dari kota itu dan kembali ke tanah kelahiranku. Aku yakin Rey tidak akan bisa mencariku disana. Aku juga yakin Rey akan bisa melupakan kami.
Aku tinggal di sebuah rumah kontrakan disini bersama Pinky. Ku habiskan waktuku bersamanya. Hanya dia harapanku. Dia semangat hidupku. Kevin, aku sangat membutuhkanmu sekarang. Lihatlah! Anakmu sekarang sudah bisa tersenyum manis dan menghiasi hari-hariku. Senyumnya selalu mengingatkanku padamu. Sungguh aku sangat merindukanmu Vin!
Tidakkah kamu merindukan kami? Kenapa kamu tidak pernah datang walaupun hanya dalam mimpi? Aku sangat menginginkan itu. Aku rindu canda tawa Kita dulu. "Huuuuff," Oh tidak, jika mengingat itu semua hanya akan membuatku terpuruk.
Satu minggu, dua minggu, tiga minggu aku tinggal disini. Aku hidup dari uang hasil penjualan di toko kueku. Wina yang ku percaya untuk mengelolanya.
Aku tidak tau kenapa akhir-akhir ini kepalaku sakit sekali. Perutku terasa mual, dan berkali-kali menolak makanan yang di perutku. Bahkan aku kadang tidak sanggup untuk menggendong anakku. Oh Tuhan jika aku sakit bagaimana nasib anakku?
__ADS_1
Kali ini aku berniat untuk berobat di salah satu klinik terdekat dan berusaha sekuat mungkin untuk sampai di tempat itu dengan menggendong anakku.
Sepuluh menit aku munyusuri jalan sampai juga di tempat tujuan. "Huuuuf," Ku helakan pelan napas ini. Sungguh kepalaku sakit sekali. Rasanya jika tidak menggendong anakku, aku ingin pingsan saja.
Aku berjalan merambat dengan tangan kanan berpegangan pada tembok, dan tangan kiri menggendong anakku. Sesekali aku berhenti untuk mengumpulkan tenaga. Lalu lanjut berjalan kembali.
"Anda tidak apa-apa? Muka Anda pucat sekali?" Ada seorang perawat yang menghampiriku. Langkahku terhenti mendengar suara itu.
"Kepalaku sakit, tolong bantu aku bertemu dokter disini!"
"Baik, mari saya antar!" Perawat itu memapahku berjalan dan bertemu salah satu dokter di klinik ini.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan, aku bertanya pada dokter itu, "Dok, saya sakit apa?"
"Ibu tidak sakit, ini hanya morning sickness. Selamat ya Bu atas kehamilannya, usia kandungan Ibu sekarang delapan Minggu."
Ku tatap mata dokter itu. Sepertinya aku tidak bisa menampung air di pelupuk mata ini. Aku tidak tau harus bahagia atau bersedih. Kenapa harus di saat yang seperti ini?
Aku pergi dari ruangan itu dan berjalan pelan menuju keluar. Tapi sepertinya hujan menghentikanku untuk tidak pulang. Ku duduk di salah satu kursi klinik ini. Ku tatap hujan yang turun dengan derasnya. Aku memeluk Pinky dan mengelus-elus perut ini. "Aku hamil Rey,"
Tangisku pecah seketika di keheningan tempat ini. Derasnya air hujan yang turun itu mungkin setara dengan derasnya air mataku yang keluar. Bagaimana aku harus menjalani ini sendiri?
Ku ciumi anakku yang sedang tertidur pulas di pelukanku. Oh Tuhan apa maksud semua ini? Beri aku kekuatan! Aku tidak mungkin kembali pada Rey. Aku tidak mau menggangu rumah tangganya dengan Selena.
Hampir satu jam aku merenungi nasibku disini. Air mataku seperti tidak ada habisnya. Dadaku rasanya sesak sekali. Kepalaku rasanya berputar-putar dengan kenyataan yang ada di depan mata ini.
__ADS_1
"Aku pasti bisa. Aku bisa tanpamu Rey." Ku hapus air mataku yang terakhir jatuh ini. Aku mencoba berdiri menghadapinya.
Hujan pun ku lihat sudah mulai reda, ku berjalan sekuat tenagaku keluar dari klinik ini dan aku bisa berjalan pelan merambat sampai rumah. Ku rebahkan tubuhku di atas tempat tidurku. Oh Tuhan terima kasih atas kekuatan yang Engkau berikan padaku tadi!
Sekarang pusing, mual, muntah ini menjadi makananku sehari-hari. Aku yakin ini akan segera berakhir dengan semakin membesarnya perutku nanti. Aku selalu memberi kekuatan dan semangat pada diriku sendiri.
Hari ini aku mengecek saldo di rekeningku. Mataku membulat seketika, "Kenapa jumlah saldoku banyak sekali?" Aku tidak yakin Wina mengirim pendapatan perbulan sebegitu banyak. Bahkan ini dari tiga kali pendapatan perbulan toko kueku.
Ingin ku telepon Wina, tapi ini tidak mungkin. Wina pasti akan memberitahu Rey, dengan semua ini. Aku tidak percaya dia bisa menyimpan rahasiaku. Bahkan dia tidak mengizinkanku untuk pergi dulu.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan selalu saja pemasukan saldoku bertambah banyak. Aku bingung dengan semua ini. Wina, ada apa dengan toko kue. Seramai itu kah keadaan toko kue ku? Rasanya sangat tidak mungkin.
"Atau jangan-jangan Rey, dia yang memberiku uang sebanyak ini setiap bulan?" Mataku membulat dan ku elus perutku yang mulai sedikit membuncit ini. Ya ini pasti dia.
"Rey, jika kamu tidak menghamili Selena waktu itu. Mungkin sekarang kamu sangat bahagia dengan kehadiran buah cinta kita. Ini kan yang kamu inginkan. Kamu ingin menghamiliku."
"Aku bisa mengingat setiap belaian lembutmu padaku dan Pinky dulu. Pasti juga akan kamu berikan belaian itu pada anakmu ini. Aku bisa membayangkannya, pasti dia akan bergerak kesana kemari dengan sentuhan tanganmu diperutku."
"Aku merindukanmu Rey, aku tidak bisa melupakanmu sampai saat ini."
-
-
-
__ADS_1
-
Like, coment, dan vote kalian sangat berarti*