
"Kakek dengar kamu balik hari ini. Padahal kamu bisa santai sedikit dalam bekerja," Ferdinand bersuara yang membuat langkah Reyyan berhenti. Tepat setelah pintu terbuka.
Reyyan menoleh melihat kakeknya.
"Beberapa menit lagi, pesawat ku akan lepas landas. Ada yang mau kakek titip. Sekalipun tidak ada yang menunggu kakek di rumah," Reyyan berkata dengan wajah datar.
Ya, di rumah.
Di Mansion Flederick. Tidak seperti mansion atau rumah pria tua lain. Yang di dalamnya ada istri, anak ataupun cucu serta cicit cicitnya.
Di mansion Flederick. Hanya ada pelayan dan kepala pelayan serta para pekerja di taman. Ah Ada bibi yang selalu setia menunggu kepulangan mereka.
Mami dan papi sudah menetap di Dubai. Sejak beberapa tahun yang lalu setelah membangun mega hotel di sana.
Sedangkan adik satu satunya. Sedang menyelesaikan Studinya di Stanford university California. Setelah jalan jalan panjangnya tanpa sepengetahuan nya.
Ferdinand terkesiap terkejut.
"Jadi benar kamu balik hari ini? Pekerjaan di sini sudah selesai semua," Ferdinand bertanya tidak percaya.
Reyyan mengangguk membenarkan lalu melihat jam tangannya.
"Aku pergi," Pamit Reyyan lagi.
"Tunggu sebentar," Ferdinand menghentikan langkah Reyyan tepat di ambang pintu. Sedangkan dirinya masih duduk santai di sofa singlenya.
Reyyan menoleh melihat kakeknya. Dengan tatapan' Ada apa.'
"Batalkan penerbangannya. Hadirilah pertemuan perayaan Klub kuda sore ini. Kakek sudah mendaftarkan atas namamu. Kakek harap ini bukan permintaan yang sulit untuk kamu penuhi," Pinta Ferdinand lembut. Namun sedikit datar.
Reyyan mengerang dalam hati, tidak suka.
Ia paling benci mengikuti hal hal seperti ini. Bertemu dengan para anak pengusaha atau pejabat setempat, yang mendaftar ke klub dan di sana tentu akan ada banyak mulut penjilat. Juga jangan lupa dengan wanita yang akan selalu setia menatapnya seperti akan melahapnya hidup hidup.
"Kakek sangat tahu. Aku tidak suka berada di tempat seperti itu,"
Ya. Selama ini. Selama ia mengambil alih tanduk kekuasaan Mr. Ferdinand di depannya ini. Namun, ia sudah melihat dan mempelajari banyak hal sebelum duduk di kursi kekuasaan sekarang.
Ferdinand mendesah.
"Ini hanya sekali dalam 3 tahun Son? Dan hari ini perayaannya. Klub ini juga milik dari salah satu klien kita dan bukankah kamu juga suka berkuda?" Tanya Ferdinand datar.
"Ya. Tapi dulu kek! Sekarang tidak. Tapi bisakah aku jadikan itu sebagai alasan untuk menolak permintaan kakek!"
Ferdinand bangkit berdiri dari duduknya dan berjalan ke rak buku di belakangnya. Meraih satu buku dan membukanya.
"Kakek berharap itu bukan permintaan yang sulit," Jawabnya tanpa melihat Reyyan.
Reyyan terdiam dan berpikir. Beberapa detik kemudian Reyyan menarik nafas mengangguk menyetujui.
"Baiklah! Tapi aku hanya akan ada di sana sebentar. Jam berapa?"
Ferdinand menunjuk ke atas meja di belakangnya.
Reyyan melihat ke atas meja kerja Kakek nya.
"Ada di atas meja," Jawabnya santai.
Reyyan melangkah ke sana dan meraih kertas tipis berwarna hitam dengan logo Group yang sangat tidak asing baginya dan dilukis dengan warna emas.
"Aku tidak percaya mereka memiliki ini juga," Ujar Reyyan menatap kertas di tangannya.
"Putrinya suka menunggang kuda," Jawab Ferdinand sembari menaruh buku yang dia baca tadi dan meraih buku lain.
Mendengar jawaban kakeknya. Alis Reyyan seketika naik sebelah sebelum menoleh melihat kakeknya. Yang hanya terlihat punggung Ferdinand. Karna Kakek nya yang duduk menghadap lawan arah.
"Ini bukan trik Kakek untuk menjodohkan ku dengan putri mereka bukan!"
"Apa kau mau? untuk kekayaan dia tipe mu," tanyanya santai sembari menghisap kopi tanpa gulanya dan tanpa berbalik melihat Reyyan.
"Biar ku ingatkan lagi. Aku tidak tertarik," jawabnya cepat dan tegas.
Ferdinand menarik nafas sekilas.
"Jadi tidak ada yang perlu kau khawatir kan,"
Reyyan mengedikkan bahunya acuh.
"Tiada yang tahu dengan kelicikan anda Mr Ferdinand! tidak ada salahnya aku waspada. Dan aku berharap dia juga bukan gadis yang kita bicarakan tadi,"
Hik,
Ferdinand sontak keselek dengan kopi miliknya begitu ucapan Reyyan lulus dari mulut nya.
"Uhuk uhuk uhuk," Ferdinand batuk batuk.
Reyyan mendesah melihat kakeknya. Sebelum melangkah dengan santai ke arah satu kulkas besar yang berada di ruangan tersebut. Membukanya lalu meraih satu air mineral dan membawa nya ke kakeknya, Ferdinand.
Reyyan menyodorkan air mineral yang sudah dia buka ke kakeknya. Yang segera dia raih Ferdinand dan meneguknya langsung.
"Seperti nya perkataan ku tepat," ujar Reyyan santai sambil melihat Ferdinand yang masih meneguk air.
__ADS_1
Melihat tidak mendapatkan jawaban. Reyyan memilih berbalik dan melangkah menjauh dari kakeknya.
"Aku dengar mereka juga memiliki tempat golf. Mereka selalu mau ada di atas kita. Apa benar yang aku pikirkan?" Dunia bisnis. Inilah dia.
Ferdinand melihat punggung Reyyan yang berlalu sembari dirinya mengelap mulutnya menggunakan tisu.
"Bersaing, itulah bisnis. Tapi Kakek pastikan, mereka bukan musuh kita Serhan? Dia mendirikan itu, karna istri dan putrinya suka melakukan Keduanya." Ferdinand menepis rasa waspada di Reyyan.
Mendengar jawaban kakeknya sontak membuat Reyyan mendengus dan tersenyum geli.
"Di perbudak cinta. Adakah yang lebih menggelikan daripada itu!" Reyyan menggeleng tidak percaya.
"Aku akan ada di sana sebentar saja. Aku harap kakek menyetujuinya," Sambung Reyyan melihat punggung Ferdinand dari jarak dirinya yang berdiri di hadapan meja.
"Baiklah. Tapi tidak bisakah kamu setor muka saja nanti malam! Membatalkan pertemuan yang sudah di rencanakan. Sedikit mencoreng nama kakekmu ini Son!" Ferdinand masih mencoba membujuk cucunya, Reyyan. Dengan menoleh melihat Reyyan yang sedang melangkah ke pintu keluar.
Reyyan kembali menghentikan langkahnya dan berbalik melihat kakek tercinta nya.
Mungkin itulah maksud dari senyum samping dan manis miliknya sekarang. Yang mengartikan betapa dia sangat menyayangi Kakek nya.
Senyum yang memiliki makna penolakan. Ya, Reyyan menolak Kakek kesayangan sekaligus tercintanya.
Melihat senyum cucu yang sangat dikenalinya itu. Membuat Ferdinand otomatis merapatkan kedua giginya karna geram.
'Ya! dialah definisi cucu terlaknat bukan!'
Ferdinand bangkit berdiri menatap Reyyan. Cucu laki lakinya, yang tidak kalah tampan dari dirinya ketika ia muda dulu.
'Ya! dia mewarisi semua yang ada padanya. Baik manik mata, ketinggian, warna rambut bahkan kepintaran dan kejeniusannya,'
Ferdinand mendesah.
"Mereka bisa berpikir kakek mempermainkan mereka dan... Begini saja. Bagaimana kalau kamu menemui calon istri mu ini dulu. Setelahnya kamu boleh memutuskan. Jika menurut kakek, dia tipe kamu banget Serhan? Dan juga berasal dari keluarga yang tidak kalah dari kita. Dia anak perempuan mereka satu satunya. Ya... Bisa di bilang permata mereka yang berharga,"
Reyyan mendengar kakeknya. Namun, dia tidak peduli.
Selama ini. Belum ada wanita di dunia ini yang membuatnya setertarik itu selain My Baby Princessanya. Tidak ada.
Reyyan mendesah.
"Itu artinya aku melukai perasaan mereka,"Jawab Reyyan perhatian, yang sebenarnya sama sekali tidak peduli
Ferdinand mengangguk menyetujui.
"Dan itu bukan kemauanku. Apalagi salahku," Sambung Reyyan lagi.
Ferdinand mendecak.
"Aku berharap kakek juga begitu,"
"Tapi diujung nya kamu akan tetap menikah Son? Hanya waktu saja,"
"Itu benar dan itu sebentar lagi,"
"Maksudmu seperti kakek,"
"Tidak jika seseorang tidak meminta keturunan nya dengan cepat," Jawab Reyyan cepat dan datar.
Ferdinand terdiam beberapa menit sebelum tawanya meledak.
"Aku tersanjung kamu menuruti kakekmu ini,"
Reyyan mendesah malas.
"Bagaimana jika kakekmu ini, tidak setuju Serhan? Selama ini kakek belum keras saja," Itu artinya ia masih bersikap lembut dan mau berkompromi.
Reyyan menggeleng acuh.
"Kakek akan tahu hasilnya," Tidak ada siapapun yang bisa mengatur hidupku apalagi mengenai pasangan hidup, tidak ada.
Ferdinand mendesah sembari berbalik melangkah ke meja kerjanya dengna satu buku tebal di tangannya.
"Kamu benar. Tidak ada yang tahu jika tidak mencoba,"
Mendengar jawaban kakeknya. Reyyan sedikit bergidik takut.
"Apa... Begitu aku terbangun... Akan ada dia yang kakek pilih disampingku?" Tanya Reyyan memastikan jalan tebakannya.
'Jangan katakan ya,'
Setelah duduk di kursi kerjanya, yang diseberang meja berdiri menjulang cucunya, Reyyan Ferdinand.
Ferdinand mendongak menatap Reyyan. Ia tersenyum kecil.
"Kamu tidak kelihatan gugupkan?"
"Tidak ada yang lebih buruk jika itu benar," Dan setelahnya ia harus menghadapi pertanyaan awak media. Yang meminta penjelasan. Media Swiss tentu akan ramia setelahnya.
Ferdinand tertawa kecil geli.
"Haruskah kakek mencoba?"
__ADS_1
"Setelahnya. Satu klien setia kakek selama ini akan hilang,"
Ferdinand menatap lama Reyyan sebelum kemudian lagi lagi mendesah. Reyyan membolak balik kartu undangan di tangannya.
'Memang, ia tidak akan pernah bisa kejam dan keras pada cucunya ini. Apalagi semenjak kejadian ketika dia kecil,'
Ferdinand mengangguk entah untuk apa.
Melihat hal itu. Reyyan seketika tersenyum kecil.
"Kakek belum setuju sepenuhnya. Intinya, kakek masih menunggu seseorang yang bisa membuka hatimu itu,"
Reyyan mengedikkan bahunya acuh.
"Percaya Kakek. Tidak akan pernah ada. Hatiku? Hanya milikku," Itu artinya tidak akan pernah ada yang bisa membuka hatinya.
"Tidak ada yang tahu masa depan Son?,"
Reyyan mengangguk menyetujui sebelum kemudian memayunkan bibirnya tidak peduli.
"Lalu...Apa kamu sudah punya dia?"
Mengerti pertanyaan Kakeknya. Reyyan berpikir keras.
Wanita yang akan mengandung anaknya. Sekalipun bukan dari keluarga yang sama seperti dirinya tapi dia memiliki keluarga yang baik dan menjaga dirinya dengan baik dan yang paling penting. Ia lah lelaki pertama. Itu poin pentingnya.
"Apa sulit bagiku untuk mendapatkan nya kek?"
Ferdinand lagi lagi mendesah. Karna dia tahu bagaimana kehidupan nyata cucunya ini.
"Terlihat selama ini." Lelahnya.
Reyyan tertawa kecil.
"Lalu... Kapan kamu akan bawa dia kehadapan kakek? Kakek perlu melihatnya,"
"Ini bukan seleksi Kakek?"
"Tunggu, apa kamu sedang berniat untuk tidak membawanya kehadapan kakek?" Ferdinand menaikkan sedikit nada suaranya.
"Jika Kakek lupa. Dia bukan seseorang yang akan menetap di keluarga Flederick."
"Paling tidak Kakek harus melihat wanita seperti apa dan lebih penting. Cantikkah dia? Itu juga di perlukan,"
"Aku tidak akan menidurinya jika dia tidak cantik Kakek?" Keluh Reyyan lelah.
Ferdinand terdiam. Dia kehilangan kata kata.
Ferdinand lagi lagi mengangguk entah karna apa.
"Baiklah. Tapi tetap saja, Kakek akan selalu berharap. Semoga suatu saat akan ada wanita yang bisa membuat mu tergila gila mencintainya,"
Reyyan menggeleng geli dengan ucapan Kakek nya.
"Sebelum dia melakukan itu, maka dia sudah jatuh duluan Kakek? Apa aku benar?"
"Dan Kakek berharap, semoga hatinya terbuat dari besi,"
Reyyan mengangguk malas menyetujui saja ucapan Kakeknya. Supaya bisa cepat cepat pergi.
"Baiklah, terserah Kakek saja. Teruslah berharap, jika itu membuat Kakek bahagia di sini. Demi kakek kali ini aku setujui saja. Tapi aku tidak yakin akan ada wanita seperti itu di dunia ini. Apalagi setelah dia melihatku dan tahu siapa aku,"
"Baiklah, pembicaraan selesai bukan?" Tanya Reyyan ke kakeknya.
"Kakek masih berharap, kamu mau hadir sebentar saja nanti malam,"
Reyyan tersenyum kecil.
"Kakek bisa mengurus nya, aku pergi," Pamit Reyyan setelah berbalik menghadap kakeknya dan membungkuk hormat. Setelahnya Reyyan melenggang pergi keluar dari ruangan tersebut.
Meninggalkan Ferdinand yang menatap punggung cucunya hingga hilang dari balik pintu yang tertutup.
Klab...
Pintu tertutup.
Ferdinand mendesah lemah.
'Serhan serhan. Apa itu masih membekas bagimu?' Batinnya.
Di luar ruangan. Sambil berjalan ke pintu keluar dari paviliun Ferdinand.
Reyyan meraih handphone nya. Menghubungi seseorang di sana. Pihak penerbangan untuk mengundur jadwal keberangkatan nya menjadi nanti malam. Ia tidak akan mau berlama lama di sini.
Hadiah serta mainan yang di inginkan oleh anak Ayla, Zenia sudah berada di dalam pesawat pribadinya. Mengingat reaksi wajah gadis imut dan cantik Zenia, saat ia memberikan mainan kesukaannya serta oleh oleh darinya. Membuat seorang reyyan tersenyum senyum sendiri seperti sekarang.
Dua dari anak Ayla. Zenia lah yang paling akrab dengannya sedangkan Derya. Dia sama sangat menyebalkan seperti daddy-nya. Deniz Selim Al-khaled.
Mobil reyyan sudah keluar dari perkarangan gedung apartemen milik Group Flederick. Melaju kencang membelah kota Zurich, yang padat dengan segala kendaraan.
Dan tujuan reyyan adalah ke tempat berkuda yang di katakan kakeknya. Ia akan hadir sebentar. Berbincang bincang sebentar lalu pamit pergi.
__ADS_1
Rencana yang bagus.