Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 16


__ADS_3

"Tidak, kita..." Alya menahan tangan Xavier yang mau menyalakan flashlight.


Namun, ucapannya terhenti saat melihat pemandangan di depan matanya.


Beberapa pria di hadapannya tergeletak tidak sadarkan diri, mungkin sekitar 5 orang. Dengan posisi mereka yang berbeda beda. Tubuh mereka yang tidak bisa di katakan baik baik saja. Mungkin mereka harus menginap di rumah sakit hingga beberapa hari ke depan. Atau bisa seminggu lebih dan juga konsultasi dokter spesialis Ortopedi, harus.


Alya beralih melihat Xavier.


"Kamu yang melakukan nya?"


Xavier mengedikkan bahunya bersikap polos dan berlalu berjalan di hadapan Alya. Dengan flashlight yang sudah menyala terang.


"Xavier!" panggil Alya menginstruksi adiknya yang tidak menjawabnya. Sedang dirinya masih berdiri di tempat nya, tidak berniat mau mengikuti adiknya sebelum mendapatkan jawaban.


Sedang Xavier sudah berjalan lebih dulu. Untuk memastikan kalau semuanya sudah aman. Xavier tidak mau kakaknya dalam bahaya. Karna itu ia berjalan lebih dulu.


Alya memilih mengikuti Xavier dari belakang. Dan jawaban, ia akan dengar selama perjalanan.


Langkah Alya berhenti saat melihat jalan di depan nya. Yang di cahaya kan flash light Xavier.


Jalan yang hanya muat satu mobil dengan kanan kiri jalan terdapat pepohonan yang besar dan menjulang tinggi. Jalanan yang di hiasi rumput dan bertanah liat.


Alya berbalik melihat kebelakang. Di mana gudang penyekapan nya.


Ternyata ia di sekap di sebuah gudang yang tidak terpakai lagi. Dari pepohonan yang kelihatan sekitar. Alya yakin dirinya di bawa ke dalam hutan. Tapi ia masih berharap kalau ia masih berada di negara yang sama. Akan merepotkan jika ia di bawa keluar.


"Kita di mana?" akhirnya pertanyaan itu keluar. Di mana Xavier sudah menunggu pertanyaan itu sedari tadi.


"Masih di negara yang sama tapi sangat jauh dari kota,"


Alya mendesah lega.


"Baiklah, itu melegakan. Paling tidak kita tidak perlu pengurusan paspor dan sebagainya."


"Kakak lebih mengkhawatirkan papa dan kakek tahu,"


"Kamu sudah pintar bicara," sela Alya kembali mengikuti Xavier di belakang.


Xavier mengedikkan bahunya. Matanya terus melihat sekitar berhati hati.


"Kamu belum menjawab ku tadi Xavier!" instruksi Alya ke Xavier yang melupakan pertanyaan nya tadi.


"Ayolah kak! itu hanya beberapa. Kakak bahkan lebih banyak,"


"Apa ini pertandingan makanan!"

__ADS_1


"Kakak tahu sendiri. Kita berdarah begitu,"


"Berdarah apa!" ujar Alya yang makin tidak mengerti dengan ucapan adiknya ini. Darah apa coba, sedang dirinya mengikuti langkah Xavier dari belakang.


"Darah pertarungan mengalir di kita kak! jadi tentu saja kalau melihat hal begini. Ini sangat empuk,"


Alya berhenti melangkah menatap punggung adiknya. Sedang mulutnya terbuka dan mendengus tidak percaya mendengar ucapan Xavier.


'Dia memang bocah yang mengerikan. Mungkin berhadapan dengan nya tidak seberapa. Tapi jangan pernah berurusan dengan bocah kecil ini. Dia bisa mematahkan tulang mu sesuka hatinya,'


"Hah," Alya memilih menghela nafas.


Walau begitu ia tetap mengkhawatirkan nya.


"Syukurlah kamu baik baik saja,"


"Tentu saja! Xavier sudah besar dan itu belum seberapa,"


Lagi lagi Alya hanya bisa mendesah masa bodoh.


"Motor Xavier ada di depan sana, tidak jauh lagi. Kakak tidak capek kan?" tanya Xavier setelah menunjuk ke depan nya. Dimana keberadaan motornya. Lalu setelah nya berbalik melihat Alya yang berjalan di belakang nya.


"Kalau capek kenapa? kamu mau menggendong kakak?" tanya Alya yang tidak serius sama sekali. Tapi bagi Xavier, tidak ada becandaan jika menyangkut kakaknya.


"Tentu saja!" Xavier menjawab cepat dengan bibirnya yang menggurucut ke depan.


Langkah Alya seketika berhenti dan menatap malas Xavier. Ia hanya bercanda dan dia menganggap serius.


"Naiklah, Xavier akan membantu kakak."


Alya memutar malas kedua matanya.


"Berat ku 55 kg dan berapa berat mu?" Alya masih berdiri dan menatap punggung Xavier meski sedikit gelap.


"Xavier menimbang beberapa bulan yang lalu. Mungkin sekarang bisa sudah 57 atau 58. Jadi naiklah,"


Alya meletakkan sebelah lututnya di punggung Xavier.


"Ak..." suara tercekat Xavier karna tekanan lutut kakaknya.


"Kamu pikir aku akan percaya! Anak sekecil dan seumur mu dengan berat begitu? Kamu bercanda? bangun sekarang, kamu bilang di depan sana kan?" Alya melangkah duluan meninggalkan Xavier di sana. Yang berusaha keras mengelus punggung nya yang sakit.


"Tapi kekuatan pria jauh lebih besar dari wanita loh kak! Kakak harus tahu itu," Xavier membela diri.


Alya lagi lagi memutar malas bola matanya.

__ADS_1


"Tentu saja benar. Tapi itu ketika umur mu berada di atas ku,"


Xavier meringis dengan ucapan kakaknya. Yang artinya, ia akan selalu lemah dengan kakaknya. Tentu saja itu benar,


Kekuatan dan pertarungan. Tentu saja ia tidak akan pernah menang dari kakaknya. Ia pernah melawan kakaknya sekali dan itu benar benar menguras semua tenaga nya. Dan jika saja ia tidak menyerah. Mungkin ia akan bangun di rumah sakit.


"Aku tidak akan bisa mengalahkan kakak," ujar Xavier lebih ke dirinya sendiri tapi bisa di dengar oleh Alya.


"Karna itu berhenti mengikuti ku dan jangan pernah terlibat dengan masalah ku,"


Xavier memanyunkan bibirnya. Tanda kalau dia tidak akan pernah mau. Sekolah aja ia ambil lewat online karna begitu ia ingin menjaga ke amanan kakaknya di sini.


"Kakak tahu jawaban Xavier,"


Alya mengerang tidak suka.


"Kita sampai, di sini." Xavier memberitahu letak motornya yang dia sembunyikan.


Langkah Alya sontak berhenti dan menoleh melihat Xavier. Yang sedang berusaha membersihkan motornya. Yang dia tutupi dengan rumput rumput dan daun daun kering.


Ducati warna hitam dengan sedikit merah. Keluar dari antah berantah hutan di hadapan nya. Xavier mengeluarkan nya dengan susah payah bahkan tanpa dia menghidupkan nya.


"Kamu sangat bersusah payah. Padahal tinggal di hidupkan dan selesai. Sekarang lihat nafas mu. Kamu seperti baru habis mengangkat satu lembu ke atas mobil,"


Nafas Xavier yang naik turun sembari melihat ke kakaknya.


"Aku tidak mau motor ku loncat ke jurang. Ini uang tabungan ku tahu!" Rajuk Xavier tidak terima motor kesayangan nya di samakan dengan lembu.


Alya hanya tertarik dengan kalimat Xavier, jurang.


Alya sontak merebut handphone Xavier karna membutuhkan flash light.


"Memang di bawah itu jurang?" tanya Alya sembari flash light nya dia arahkan ke arah yang di maksud Xavier jurang.


"Seperti nya," Xavier mengangguk ragu. Karna ia tidak sempat lihat tadi. Karna sangat mengkhawatirkan keselamatan kakaknya.


Alya berpikir keras sejenak sebelum berucap.


"Mereka benar benar mau membunuh ku jika pria itu tidak datang," gumam Alya tanpa mengetahui Xavier bisa mendengar dengan jelas.


Xavier jadi ingin tahu.


"Pria? Siapa yang kakak maksud?"


Alya sontak tersentak menyadari Xavier mendengar nya.

__ADS_1


"Lupakan, ayo kita pergi dari sini dulu." Alya mendekat ke motor Xavier.


__ADS_2