
Rendra menghela nafas lelah. Yang masih duduk di balik meja kerjanya.
Flashback off.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu sontak membuat kepala Rendra menoleh ke arah sana.
"Ya, masuk." instruksi nya dengan suara lelah dan lesu. Sembari dirinya merapikan beberapa berkas di hadapannya. Untuk keperluan meeting dadakan hari ini. Terutama terkait masalah asistennya.
Seorang wanita masuk. Sekretaris baru Rendra sekarang. Setelah asisten pribadi yang sudah bekerja selama 3 tahun dengan Rendra entah kemana.
"Sir! Rapatnya akan di mulai dalam 15 menit lagi,"
Rendra mengangguk mengerti. Sembari meraih berkas di atas mejanya dan membawanya sendiri.
Bahkan ia tidak bisa mempercayai siapapun sekarang.
"Baiklah, lanjutkan pekerjaan mu."
"Apa perlu saya bawa sir?" tanya wanita muda tersebut saat melihat tiga berkas dalam pelukan atasannya.
"Tidak, terima kasih." ucap Rendra sebelum melenggang keluar dari ruangan kerjanya.
Di ruang rapat terkecuali Reyyan Ferdinand semua sudah berada di sana.
Rendra yang baru saja sampai. Bersamaan dengan direktur perusahaan tersebut. Sudah duduk di kursi mereka masing masing dan menunggu rapat di mulai.
Ckleck
Pintu berdaun dua terbuka lebar.
Semua pasang mata melihat ke arah sana dan tidak terkecuali.
Reyyan Ferdinand dan asisten pribadi nya, Arkan Arkelic masuk ke dalam ruangan meeting.
Kegagahan tubuhnya serta kekuasaan nya sangat terlihat jelas. Bagi siapapun yang melihatnya. Raut wajahnya yang dingin dan sorot matanya yang tajam. Seperti siap menerkam siapa saja yang membuat kesalahan.
__ADS_1
Tak
Arkan meletakkan laptop pribadi nya ke atas meja yang mau dia duduki. Dan melangkah selangkah. Menarik kursi besar dan unggul di sana. Untuk di duduki tuannya, Reyyan Ferdinand.
Reyyan menarik nafas dan menghela nya pelan. Dengan kedua manik matanya menatap meneliti setiap manusia yang hadir di depannya. Setelah bokongnya mendarat di kursi yang di khususkan untuknya.
Semua memilih menunduk tidak berani menatap langsung ke mata Reyyan Ferdinand.
"Baiklah, mulai rapatnya" perintah nya tidak terbantahkan dan menyandarkan punggung nya di sandaran kursi.
Melipat kedua tangan di dada. Kedua manik matanya menatap lurus ke depan. Menanti semua dalih mereka yang mencari dalih dan menanti alasan mereka yang mencari alasan.
Ide perencanaan yang belum di luncurkan bocor keluar. Hingga menjadi ide perusahaan saingan. Data internal perusahaan di jual keluar hingga membuat pasar saham anjlok. Data keuangan perusahaan yang di buat buat tidak sesuai pendapatan perusahaan hingga bertahun tahun. Membuat pinjaman perusahaan menumpuk.
Kedua manik mata Reyyan yang tajam. Seperti siap menerkam pria yang berdiri di hadapan nya. Lebih tepatnya di ujung meja dan sedang menjelaskan tentang data perencanaan perusahaan.
Reyyan mengalihkan matanya melihat satu persatu pria di kanan kirinya. Meski lampu di matikan untuk lancarnya proses rapat. Reyyan bisa melihat mereka semua.
"Lanjut," Reyyan memotong pria yang sedang menjelaskan data data perencanaan. Dengan kedua manik matanya menatap tajam. Pria yang bertanggung jawab dengan ke amanan internal perusahaan.
Dengan gugup pria yang umurnya bisa di katakan jauh lebih tua dari Reyyan. Tubuhnya gemuk dan rambutnya sudah sedikit memutih.
Lagi lagi Reyyan menarik nafas dan menghela nya dengan santai. Menyenderkan punggungnya kembali ke sandaran kursi. Kembali menanti penjelasan.
"Lanjut," perintahnya santai dan tanpa melihat pria mana lagi yang bertanggung jawab.
Rendra dengan kegugupan dan sedikit ketakutan. Bangkit berdiri sembari meraih beberapa berkas kelengkapan datanya. Dan satu laptop, yang di mana sudah ia simpan semua di sana. Berkas hanya untuk berjaga jaga. Jikalau dirinya tidak menyimpan semua di sana.
Rendra membuka dengan menampakkan pertama kali ke layar proyektor. Data keuangan perusahaan sebelum Reyyan Ferdinand ambil alih.
Rendra membahasnya di sana. Dan Reyyan sedikit tertarik untuk mengetahui. Sehingga dirinya sekarang melihat dan mendengar dengan seksama.
Selanjutnya Rendra memperlihatkan data keuangan perusahaan setelah satu tahun Reyyan ambil alih.
Reyyan masih mendengar dan memperhatikan juga. Dengan satu jarinya menggosok gosok lembut dagunya.
Ketiga, Rendra memperlihatkan data keuangan perusahaan setelah dua tahun Reyyan ambil alih.
Dan di sana terlihat data yang berbeda. Di saat kedua alis Reyyan muncul. Saat itu juga Rendra menjelaskan.
"Ini data yang di buat tim keuangan perusahaan. Dimana saya sendiri yang bertanggung jawab. Sedangkan yang satu ini. Data yang saya buat sendiri, saya simpan sendiri. Yang artinya, data pada saya adalah data asli dengan tim saya. Yang di rubah menjadi data sedemikian," Rendra menunjuk ke data sebelah kirinya.
__ADS_1
Reyyan menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis.
Arkan yang melihat itu ikut bangga dengan Rendra di depan. Meski tadi pagi mereka sempat bersitegang.
Tapi ini seperti mengejutkan bagi tuannya. Karna Tuan berpikir pria itu tidak tahu apapun dan mau saja di manfaatkan.
Tapi ini cukup mengejutkan juga baginya. Dia ternyata tahu dan pintar dalam memperbaiki situasi. Karna jika tidak,
Ia yakin, pria ini juga akan menjadi salah satu dari mereka yang akan terkena amukan tuan.
Arkan kembali memperhatikan penjelasan Rendra.
"Baiklah. Hidupkan kembali lampu," Reyyan kembali memotong dan memperbaiki duduknya menjadi tegak.
Arkan sontak melihat ke Reyyan. Begitu juga semua yang hadir di sana.
Rendra dengan sigap mematikan layar proyektor dan merapikan berkas berkasnya, meraih laptop nya dan kembali ke tempat duduknya.
"Baiklah, yang bertanggung di tim perencanaan dan data internal perusahaan. Tunggu aku di ruangan 3," ucap Reyyan santai sembari memijat ringan keningnya.
Ia sudah menghadapi banyak masalah besar di perusahaan dan masalah ini bukanlah apa apa baginya. Tapi, yang harus di beri pelajaran maka harus di beri pelajaran. Yang harus di hukum maka harus di hukum. Yang harus kena pukulan biar sadar maka harus kena pukulannya biar sadar. Itulah motto dalam bisnis nya.
Semua mata di sana sontak saja melotot lebar karna ngeri.
Kengerian yang bisa mereka rasakan. Bahkan sebelum kengerian itu datang.
Mereka semua tahu di sana ruangan apa. Ruangan interogasi dan hukuman. Mungkin akan lebih baik dari ruangan interogasi di kantor p*** dan kej**** dari pada ruangan itu.
Rendra berusaha bersikap tenang meski kedua tangan nya sekarang sudah berkeringat.
Selain dari ia mencemaskan masalah ini. Karna takut Reyyan tidak percaya dengan penjelasan nya dan pembelaan nya.
Ia juga mencemaskan bagaimana jika Reyyan mengenal dirinya di sini. Dan juga, saat di cafe itu ia juga bersama Alya. Dan jika pria ini mengenalinya di sini. Maka Alya,
Rendra mencoba menarik nafas diam diam tanpa Reyyan dan pria di hadapannya tahu, Arkan. Karna mereka duduk bersebelahan.
Diam diam Rendra melihat Arkan.
'Apa yang aku katakan tadi pagi. Sudah pria ini sampaikan ke Reyyan?'
"Baiklah, tunggu apalagi. Cepat buka berkas mu dan jelaskan semuanya. Waktu ku tidak banyak,"
__ADS_1
Rendra sontak tersentak terkejut saat mendengar suara Reyyan.