
"Lelucon mu sangat menarik gadis! Tapi karna aku masih berbaik hati pada wanita. Biarkan aku menjawab mu," Alya menarik ujung bibirnya membentuk senyum sinis saat mendengar ucapan pria itu.
"Berbaik hati? Yang benar saja," gumam Alya sinis.
'Pria seperti kalian tidak lebih dari pria pengecut dan b***,' batin Alya sembari dirinya mendengar suara sepatu yang beradu dengan lantai.
"Karna kamu sudah menjadi incaran kami dari lama," bisiknya tepat di hadapan telinga Alya.
'A!' batin Alya mengerti dengan ucapan pria di samping nya.
Alya sama sekali tidak gemetar ataupun ketakutan. Saat pria tersebut berbicara di telinga nya bahkan berdiri di samping nya.
Langkah pria tersebut yang menjauh selangkah darinya, bisa di dengar oleh Alya.
Ketajaman pendengaran nya memang tidak perlu di uji coba lagi.
Pria dengan setelan serba hitam tersebut. Berdiri tepat di hadapan Alya dan menatap Alya dari kepala hingga ujung kaki Alya.
Alya tersenyum sinis menyadari di tatap intens oleh pria di hadapannya sekarang. Kedua matanya memang tertutup tapi tidak dengan instingnya.
"Lebih baik anda menjaga mata anda sir! Jika anda masih menginginkan nya baik baik saja." Suara Alya mengancam dengan nada santainya.
Pria di hadapan Alya tergelak tawa. Yang di ikuti oleh beberapa pria lain di sana.
Alya mempertajam pendengarannya. Mendengar seberapa banyak para pria yang berada di sekeliling nya.
Alya tiba tiba mengangguk mengerti yang membuat pria di hadapan Alya menatap Alya jengkel.
"Tentu saja. Kamu calon tunangan nya dan gaya bicara seperti itu. Memang gaya dia, sombong, angkuh dan yang menjengkelkan sangat percaya diri. Tapi gadis! rasa percaya diri mu itu tidak berguna sekarang. Bagaimana! Haruskah aku minta maaf!" nada ejekan itu terdengar jelas di telinga Alya.
Hingga membuat Alya mendengus sinis. Sebelum kemudian dia tersentak terkejut. Saat teringat sesuatu, ucapan di awal kalimat pria ini.
'Apa tadi dia bilang? calon tunangan? siapa?aku?'
"Maaf! tadi anda bilang apa? calon tunangan? siapa? aku? dengan siapa?" tanyanya tidak mengerti dengan maksud pria di hadapannya.
Berkacak pinggang, itulah yang di lakukan pria tersebut. Dari yang terlihat hanya punggung nya saja.
Sedangkan beberapa pria lain di belakangnya. Ada yang berkulit hitam gelap, coklat, hingga berkulit putih dan semua dari mereka memiliki kumis yang tebal. Dari postur tubuh hanya dalam sekali lihat. Bisa di katakan orang orang yang di bayar dengan sempurna.
__ADS_1
Mendengar ucapan Alya. Semua pria di sana kembali tertawa keras, yang membuat ruangan tersebut bergema dengan suara tawa mereka.
"Tidak, tunggu dulu. Bisakah anda membuka penutup mata ku dulu? ini membuat kesusahan," minta Alya tulus dan tanpa dirinya meronta ronta melawan.
Tawa para pria di sana seketika berhenti mendengar permintaan Alya.
Pria tersebut melihat Alya lama berpikir sejenak di sana. Sebelum menarik nafas tajam dan menyuruh bawahannya untuk melepaskan penutup mata Alya.
"Tapi kau berani juga ya? Dia tidak salah memilih mu. Aku rasa dia sudah memperhitungkan ini juga. Kamu akan menjadi incaran kami,"
"Ah! Lega rasanya," desah Alya lega begitu penutup matanya terbuka dan dia bisa membuka matanya dengan bebas.
"Anda mengatakan sesuatu!" tanya Alya santai. Karna ia benar benar tidak mendengar ucapan pria yang berbadan tinggi sekaligus sedikit berisi di depannya.
Pria di depan Alya memasukkan kedua tangan nya ke kantong celananya dan menatap Alya intens.
"Biar aku beritahu padamu. Menjadi tunangan nya bukan sesuatu yang bagus untukmu. Karna selain aku, ada banyak lagi di luar sana. Yang menginginkan nyawa dia,"
"Kenapa?" Alya mengacuhkan kalimat lain karna ia hanya mau tahu ini. Bahkan ia tidak tahu siapa'dia'orang yang mereka maksud.
"Apa?" tanya pria tersebut melihat Alya. Bukankah tadi ia sudah mengatakan nya dengan jelas.
"Apa aku salah? kalau dia sudah memberitahu ini padamu?"
Alya memutar malah kedua bola matanya.
"Aku tanya kenapa bukannya anda menjawab. Tapi sudahlah, itu tidak penting untukku. Tapi..." Alya menjeda ucapannya menatap wajah pria di hadapannya.
Pria yang bisa ia pastikan berkulit putih dan memiliki jambang tebal di kedua sisi wajahnya.
"Dari tadi kalian terussss bilang dia dia. Memang dia itu siapa? Ah, satu lagi. Tadi kalian bilang juga calon tunangan. Siapa? aku? tunggu..." Alya menjeda ucapannya saat melihat beberapa wajah pria di hadapannya yang seperti nya ia kenali.
"Sepertinya kalian di bayar mahal?" tanya Alya santai ke deretan pria yang berdiri di belakang pria yang ada di depan Alya.
Pria yang berdiri di hadapan Alya sontak menoleh melihat ke belakang. Mengikuti arah pandangan Alya.
"Kenapa? apa kamu mulai takut sekarang? tapi tenang saja, kamu hanya sebagai umpan untuk memancing tunangan mu. Kamu berdoa saja di situ, supaya tunangan mu selamat malam ini alias tidak mati di sini,"
Alya menaikkan tatapannya, melihat tajam ke pria di hadapannya. Detik kemudian Alya menarik nafas berat sambil duduk menegakkan bahunya.
__ADS_1
"Itu yang aku tanyakan? apa kalian tidak salah culik orang hah? calon tunangan? maaf ya? tapi sepertinya itu bukan aku, aku tidak..."
Srak.
Ucapan Alya terhenti di sertai kedua matanya yang membulat lebar. Saat melihat selembar foto yang pria di hadapannya perlihatkan di hadapan kedua matanya.
'Apa ini... Jangan bilang mereka,'
Alya mengalihkan kedua matanya menatap pria di hadapannya lalu kembali melihat gambar di hadapan nya.
"Itu tidak seperti yang terlihat di situ. Aku dan pria yang kalian maksud itu..."
"Kita tunggu saja jawaban dia ketika dia di sini,"
"Kalian gila! lalu bagaimana kalau dia tidak akan ke sini?" Karna memang dia tidak akan pernah ke sini.
"Saat itu kamu harus berharap kalau dirimu akan baik baik saja,"
Alya melebarkan kedua matanya. Bukan karna takut melainkan terkejut bagaimana nasibnya nanti.
'Dan aku ada di sini karna mereka mengira aku calon tunangan dia? Dan itu semua...'
Ckckck.
Alya mendecak kesal.
'Karna kesalahan mulutku,'
Alya mengalihkan kedua matanya melihat deretan pria di sana lalu kembali melihat pria di hadapannya.
"Apa kalian mafia?" tanyanya dengan sedikit ragu ragu. Apalagi dengan tampang pria di hadapannya saat ini.
Pria di hadapan Alya menoleh menatap Alya tajam dan intens. Sangat berbeda dengan tatapan yang pria ini berikan padanya tadi.
'Apa dia marah? karna pertanyaan itu,'
Ia akui, wajah dia lumayan tampan. Mungkin dia bisa menjadi model termahal atau aktor terkenal jika tertarik untuk masuk ke sana.
"Pikirkan saja nasibmu gadis! bisa bisa satu jari mu yang cantik akan hilang. Jika calon tunangan mu tidak datang,"
__ADS_1