Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 41


__ADS_3

Melihat meneliti kegelisahan wanita di depannya.


Reyyan menaikkan sudut bibirnya. Membentuk senyum samping, senyum keji penuh kelicikannya.


"Keluar lah," usir Reyyan ke Liana. Setelah membalikkan kursinya. Membelakangi Arkan dan Liana.


Namun, senyum licik dan keji itu. Masih terpatri di wajah tampan nya.


❤️❤️❤️❤️❤️


"Tidak Kendrick! itu rencana yang di ubah," ucap Alya dengan tatapan nya lurus ke depan. Namun, pikirannya mencari kelicikan Reyyan Ferdinand dalam kejadian ini.


Kendrick menatap Alya bingung.


"Apa maksudmu?" tanyanya tidak mengerti.


"Dia melepaskan tim keuangan dan percaya dengan pembuktian Rendra. Itu di sengaja, itu rencana yang dia ubah tiba tiba."


Kendrick menyatukan alisnya. Tidak mengerti dengan ucapan Alya.


"Alya! bisa kamu jelaskan dengan jelas?"


Alya melihat Kendrick dengan kedua matanya melotot lebar. Ada kengerian di dalam sana. Yang sulit, Alya ungkapkan.


"Rencana awal dia tidak begitu Kendrick. Dia bukan manusia yang memaafkan orang yang membuat kesalahan. Bagi kita Rendra tidak bersalah. Tapi bagi perusahaan di mana Rendra yang menjabat sebagai CFO. Rendra bertanggung jawab penuh dengan keuangan perusahaan. Dan, dia tidak bersalah Kendrick?"


Kendrick semakin tidak mengerti. Bukankah semua sudah di atasi. Dan,


Jika di ingat ingat ya sih. Tapi,


"Tapi, bukankah itu hal yang patut di lega kan? Rendra tidak terjebak masalah,"


Alya melihat Kendrick.


Benar, Rendra memang tidak terjebak masalah. Dan pria itu lakukan ini juga.


"Memberikan Rendra waktu memperbaiki semuanya. Sebagai CFO,"


"Kenapa? dia sengaja juga? tapi, bukankah itu hal yang wajar? seperti yang aku katakan, kalian tidak bersalah. Semua sudah di modifikasi,"


"Benar, dia memberikan Rendra waktu memperbaiki semuanya. Itu benar dia mempercayai Rendra, Kendrick! Tapi..."

__ADS_1


"Tapi?" Kendrick mengulang ucapan Alya yang menggantung.


Alya menaikkan tatapannya melihat Kendrick.


'Tapi... Dia menginginkan ku datang menemui dia. Dan berterima kas... tunggu,' Alya tiba tiba teringat dengan pria yang menyapanya tadi di lobby apartemen. Sebelum Rendra datang. Dan jika di ingat ingat. Pembicaraan Rendra dan pria itu saat itu, sangat mencurigakan.


"Tidak, aku harus menghubungi Rendra." ujar Alya sebelum melenggang ke kamarnya.


"Ada apa? katakan dulu padaku! kamu membuatku ketakutan Alya," teriak Kendrick yang sudah berdiri dari duduknya. Menatap melihat punggung Alya yang berlalu masuk ke dalam kamar.


❤️❤️❤️❤️❤️


"Ya?" Suara Liana yang kebingungan sendiri. Dan masih berdiri di tempatnya. Ia bingung sekaligus geram dengan pria berkuasa di depan nya.


Ia baru masuk ke sini beberapa detik yang lalu. Setelah keluar dan menunggu di luar hanya menghitung detik juga. Dan, apa yang dia katakan tadi.


'Keluar?'


Reyyan kembali membalikkan kursinya. Menghadap Liana dan Arkan.


Sorot mata tajam sekaligus terlihat malas. Sangat kontras terlihat di kedua manik matanya. Saat Reyyan melihat menatap Liana.


"Kenapa? kamu mau lama lama di sini? tapi aku tidak suka," ucap Reyyan dengan nada malas.


"Keluarlah dan kembali ke pekerjaan mu," usir Reyyan lagi dan tanpa melihat Liana. Karna kedua manik matanya sekarang. Tersita oleh berkas data Alya.


Liana sungguh rasanya ingin mendengus keras. Sehingga atasannya ini bisa mendengar dan mengetahui. Betapa ia capek dengan perintah nya.


Memilih menarik nafas. Seperti posisinya, Liana mundur menunduk dan mengucap pamit. Tanpa melihat dan mengetahui interaksi atasannya dan pria di samping nya sekarang. Yang ia ketahui hari ini, Sekretaris pribadi CEO Reyyan Ferdinand dari 12 sekretaris nya yang lain.


Arkan yang mengerti tatapan tuannya. Mempersilahkan Liana untuk keluar sembari membuka pintu.


"Silakan Chief Liana," ujar Arkan mempersilakan Liana keluar. Membuka pintu dan menutupnya kembali. Dan kembali berdiri di hadapan Tuannya.


"Tuan!" panggil Arkan ke Reyyan. Yang sudah mengerti, situasi selanjutnya dan Arkan menunggu perintah selanjutnya.


Meski belum lama ia bekerja dengan Tuan Reyyan Ferdinand. Situasi sekarang, sudah sangat sangat ia mengerti. Jika tuannya, sudah bertindak demikian. Maka, tindakan selanjutnya adalah.


"Seperti biasa, bawa dia dan direktur Amer ke ruangan basement hotel. Aku akan ada di sana nanti malam. Dan juga, wanita itu," Reyyan merujuk ke Alya.


Reyyan melihat menatap Arkan.

__ADS_1


"Kamu tahu apa yang harus di lakukan Arkan. Jika dia tidak mau ikut," Tatapan Reyyan menjadi tajam dan berkilat amarah di sana.


Dan ya, ini pertama kalinya ia menarik ucapannya. Dan itu karna wanita itu. Awalnya ia berniat mau wanita itu sendiri yang mendatangi nya.


Arkan mendengar dengan patuh. Sebelum kemudian menunduk dan menjawab sigap.


"Baik Tuan!" jawab tegas dan meyakinkan Arkan.


"Kalau begitu, saya permisi Tuan!" Arkan melangkah ke pintu. Namun, saat satu tangannya di pintu. Arkan menghentikan gerakan nya dan berbalik kembali melihat Tuan nya.


"Tapi Tuan!" panggil Arkan gugup karna ia sedikit ragu ragu untuk bertanya. Tapi ia harus menanyakan ini.


"Ada lagi?" tanya Reyyan menoleh melihat Arkan kembali. Setelah tadi, kembali meneliti data indentitas Alya.


"Itu... Mr Willard!"


Reyyan mendesah.


"Aku mengerti, keluar lah." usir Reyyan malas tanpa melihat Arkan.


Berurusan dengan Mr Willard pun. sesuatu hal yang membuatnya lelah dan capek. Lagian, sejak kapan pria itu sudah menjadi pemilik saham tertinggi di perusahaan nya ini. Dan mengejutkan nya, mereka menjualnya diam diam tanpa sepengetahuan nya. Dan lebih mengejutkan lagi. Mr Willard, membelinya dengan 3 kali lipat dari harga seharusnya.


"Huhhh," benar benar. Desah Reyyan lelah.


Berhubungan dan berurusan dengan keluarga itu. Meski Mr Willard sudah asing dari sana. Tapi tetap saja, ia tidak mau dan tidak pernah tertarik. Tapi apa ini,


"Tuan sudah mengatakan nya ya! Tuan tidak boleh kabur atau menunda lagi,"


Dengan malas. Reyyan menaikkan tatapannya melihat Arkan. Yang ternyata masih berdiri di sana. Karna ia pikir, pria itu sudah keluar dari tadi.


"Ya ya! keluar lah,"


"Ini saat jam makan siang Tuan! berarti 30 menit lagi dari sekarang," peringatkan Arkan lagi. Karna ia tidak mau di tipu dan di buat kesusahan lagi oleh tuannya.


❤️❤️❤️❤️❤️


"Rendra! dimana kamu sekarang?" tanya Alya begitu panggilan nya tersambung.


"Aku di luar. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Ada apa? kamu sudah makan? sarapan?" tanya Rendra yang terdengar tenang dari suaranya.


Alya menarik nafas sedikit menggeleng. Karna tidak tahu, bahkan ia tidak bisa membayangkan. Bagaimana kehidupan nya ke depan. Dan ia sangat berharap, masih akan baik baik saja. Dan tidak, jika pria itu. Mengenali nya.

__ADS_1


"Aku sudah kedua duanya. Aku menghubungi mu karna mau bertanya sesuatu. Ku harap kamu menjawab dengan jujur Rendra!"


"Ada apa? terdengar serius? semua baik baik saja kan?" Suara Rendra terdengar seperti dia sedang berjalan.


__ADS_2