Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 15


__ADS_3

Pembicaraan, obrolan ringan dan persiapan keberangkatan. Membuat sore menjadi malam tanpa mereka sadari.


Reyyan yang tadinya berniat hanya mampir sebentar. Setelah nya ia akan terbang ke Antalya. Ini malah menjadi lama dan ia sempat berkeliling keliling di pekarangan tempat arena kuda. Untuk melihat lihat, yang di pandu langsung oleh Mr Argantha sendiri. Sembari mereka menunggu persiapan Zuria ke sana.


Tadinya Reyyan tidak tertarik untuk melihat. Tapi karna bosan menunggu dan berdiri di sana entah sampai kapan. Al hasil, Reyyan menyetujui penawaran Mr Argantha. Yaitu melihat lihat arena berkuda dan jenis jenis kuda yang sudah di siapkan untuk pelanggan yang ke sana.


Reyyan tidak mengomentari apapun. Hanya melihat lihat dan sesekali ia akan memuji Mr Argantha yang sangat detail dan bertanggung jawab di setiap arena tempat.


"Kami berangkat sekarang Mr Argantha, Mrs Argantha," beritahu Reyyan ke Mr Argantha dan Mrs Argantha yang menunggu keberangkatan mereka.


Mereka sekarang berada di depan arena berkuda. Dimana acara di dalam masih berlangsung. Dan Mr Argantha dan Mrs Argantha, izin keluar pada para tamu undangan nya sebentar. Untuk mengantar keberangkatan Zuria ke Antalya, turki.


"Claira berangkat Mam, Daddy!" Pamit Zuria bersalaman, memeluk dan mencium kedua pipi mama dan papanya. Begitu juga sebaliknya,


Reyyan yang melihat, hanya menatap itu datar tanpa perasaan apapun.


"Kabari kami jika sudah sampai di penginapan,"


"Claira harap itu ke khawatiran Mami," jawab Zuria dengan bisikan juga, sama seperti Clara. Sedang dirinya memasang senyum memaksa. Karna kesal ke Mami terlebih Daddy nya. Yang memaksa nya berangkat ke sana bersama Reyyan Ferdinand.


"Mami percaya dengan sir Reyyan putri ku. Itu hanya basa basi," balas Clara dengan bisikan juga. Yang sama sekali tidak bisa di dengar Reyyan.


Ibu dan anak tersebut masih berpelukan dan terus beradu mulut di sana.


"Sepertinya aku memang bukan anak anda Mrs Argantha,"


"Sayangnya aku melahirkan dari rahim ku Nona Argantha,"


Zuria tersenyum masam memaksa. Setelah melepaskan pelukannya pada ibunya yang tercinta. Dan menatapnya lama karna kesal.


"Zuria berangkat," Zuria berbalik melangkah ke mobil di hadapannya. Yang jelas bukan mobilnya, maupun mobil keluarga nya. Melainkan mobil seorang Reyyan Ferdinand.


Di mana ia tidak kesal coba. Sudah di paksa ikut ke sana bersama pria ini, yang baginya asing. Lalu setelah nya, di paksa lagi naik ke mobil Reyyan Ferdinand ke landasan. Dan tentu saja ketika sampai di sana. Ia juga akan menumpang mobil Reyyan Ferdinand lagi. Itu sudah tentu,


"Kabarin Mami dan Daddy jika sudah sampai," Clara sedikit menaikkan nada suaranya berteriak supaya Zuria mendengar.


Zuria mendengar. Ia tahu Mami nya sengaja,


"Of course!" jawabnya kesal dengan memutar malas bola matanya dan masuk ke dalam mobil.


Seharusnya ia terbang nanti malam setelah acara di sini selesai. Namun, semua berubah sejak seorang Reyyan Ferdinand datang.


'Ugh,' Zuria mengerang dalam hati.

__ADS_1


"Kami berangkat," pamit Reyyan lagi melihat Mr Argantha dan Mrs Argantha.


"Ya, hati hati sir! kami percayakan putri kami pada anda sir!"


Reyyan menyungging senyum sopan.


"Terima kasih untuk kepercayaan Mr Argantha. Sekali lagi saya minta maaf. Saya tidak bisa hadir di perjamuan Mr dan Mrs Argantha,"


Mr Argantha sontak menggeleng.


"Tidak tidak Sir! sama sekali tidak masalah. Kami hanya akan makan malam bertiga dengan Presdir Ferdinand kakek anda. Jangan merasa tidak enak sir!"


Reyyan tersenyum lagi.


"Saya sudah memberitahu kakek saya juga, kalau saya tidak bisa hadir."


"Saya mengerti. Seperti yang saya katakan tadi. Kita bisa atur ulang semuanya nanti," jawab Mr Argantha menenangkan ketidaknyamanan pria muda di hadapan nya. Mereka pebisnis, dan ketidaknyamanan ketika penolakan datang. Tentu akan membuat salah satu tidak enakan.


Reyyan berada di depan pintu mobilnya. Dengan pintu mobil yang setengah terbuka. Satu tangannya memegang pintu mobil agar tidak tertutup.


"Baiklah, kalau begitu saya pamit. Saya tunggu jamuan berikutnya," ujar Reyyan tanpa sedikit pun menjatuhkan kewibawaannya.


"Secepatnya kami akan mengabari anda Sir!" jawab Mr Argantha cepat. Dan Mrs Argantha di sampingnya hanya tersenyum manis, seperti seorang ibu mengantar kedua anaknya.


Reyyan mengangguk sebentar dan masuk ke dalam mobil.


Dalam hati Zuria mengerang. Entah mimpi apa ia semalam. Bahkan beberapa hari ini. Ia seperti terus terkena kesialan.


Reyyan sekilas melihat ke samping nya, Zuria. Yang menampilkan wajah berkerut dan kesal di saat bersamaan. Sebelum dirinya membawa mobilnya. Keluar dari arena berkuda hingga ke jalan raya.


"Banyak yang harus kita bicarakan. Apa bisa kita bicara selama perjalanan?" tanya Reyyan dengan suara bariton nya yang lembut.


Zuria melihat Reyyan sekilas sebelum kembali melihat ke depan.


"Tidak masalah. Dan ya! banyak yang harus di bicarakan. Terutama perjodohan ini, kenapa kamu terima? Setahu aku. Seorang Reyyan Ferdinand selalu menghindari perjodohan,"


❤️❤️❤️❤️❤️


Hampir 15 pria tergeletak tidak sadarkan diri di hadapan Alya. Dengan kondisi tubuh mereka tidak bisa di katakan baik baik saja. Berdarah, bengkak dan memar biru ada di setiap wajah mereka. Serta tubuh mereka yang babak belur di hajar Alya seorang diri.


"Kereta mu di mana?" tanya Alya lembut ke pria muda di samping nya. Sedang dirinya berkacak pinggang dan menatap ke depannya.


"Tidak jauh dari sini," Xavier, itulah namanya.

__ADS_1


Menyadari di tatap tajam oleh kakak tercintanya. Cepat cepat dirinya berdalih dan membela diri.


"Xavier takut ketahuan! jadi Xavier sembunyikan kereta Xavier. Di antara pohon pohon di sana,"


Alya melihat keluar sejenak di mana pintu yang terbuka lebar. Sebelum kemudian memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas.


"Sampai kapan kamu akan terus mengikuti ku hah?" Kesalnya ke adiknya tersebut. Bukan karna ia membencinya, tidak. Ia pernah memiliki waktu membenci adiknya ini. Bukan tanpa asalan, tentu saja semua ada alasan. Tapi, melihat tingkahnya, kepedulian nya, tingkahnya yang tidak lelah untuk mendekati nya terus. Membuatnya luluh dan ia menjadi seperti sekarang. Takut dia terluka atau kenapa napa karna mengikuti nya terus. Atau bisa lebih parah, dia bisa dalam bahaya.


"Bukankah Xavier beritahu! sampai kakak..."


"Hentikan. Ayo pergi dari sini, sebelum yang lain datang." Alya bergegas keluar dari ruangan tersebut. Di mana cahayanya tidak terlalu terang, tidak juga gelap.


Dia meraih tangan Xavier dan menarik bersama nya untuk keluar dari ruangan tersebut.


"Tinggal di hajar saja. Kakak bisa percayakan sama Xavier,"


"Jangan pernah terlibat dalam masalah ku Xavier! berjanjilah," seru Alya dengan suara dingin nya.


Xavier yang dengan patuh mengikuti langkah Alya di belakang. Menggurucut bibirnya tidak terima.


"Padahal Xavier bisa. Kakak juga lihat kan! Xavier jadi juara 1 di pertandingan bela diri tahun lalu. Dan lawan Xavier saat itu semuanya rata rata di atas kakak, umurnya."


"Jika kamu lupa kamu pernah masuk rumah sakit hanya karna di dorong paman tua itu,"


Xavier sontak menggeram tidak terima.


"Itu karna Fiyya menahan ku kak!"


Alya terkikik geli.


Fiyya, adik kembaran nya. Yang artinya ia memiliki 2 adik kembar. Xavier dan Fiyya.


"Dia melakukan hal yang benar,"


"Dan sampai sekarang kakak terus meledek ku dengan itu. Padahal tadi ingin sekali aku masuk dan menghajar mereka semua, tapi! aku takut kakak akan marah,"


Alya tersenyum sembari mendengus geli.


Mereka sampai di luar. Pemandangan pertama yang mereka dapatkan adalah kegelapan malam tanpa adanya lampu penerang di luar.


Tentu saja.


'Mereka membawa ku ke tempat yang sangat jauh,'

__ADS_1


"Di mana motor mu?" tanya Alya ke adiknya yang berdiri tepat di samping nya.


"Ada di depan itu. Sebentar, biar Xavier nyalakan Flashlight dulu."


__ADS_2