Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 33


__ADS_3

"Apa maksudmu dia menolak. Bisa kamu ulangi lagi Arkan!" perintah Reyyan setelah dirinya masuk ke ruangan kerjanya. Sembari berjalan ke arah meja kerja, yang di ikuti Arkan di belakang.


Reyyan menduduki bokongnya di kursi kebesaran nya, kursi kerjanya. Sedangkan Arkan berdiri di hadapan meja kerja tersebut. Dengan 3 berkas berada di kedua tangannya dengan posisi seperti memeluk.



Reyyan melihat Arkan di depannya. Menunggu Arkan menjelaskan apa yang mereka bicarakan tadi di handphone.


Tadi saat ia dan Zuria baru keluar dari rumah Beyza.


Handphone nya bersuara dari dalam saku jasnya. Arkan menghubungi nya. Ia mengangkat karna ia pikir. Ada hal penting, misal tiba tiba kakek sudah hadir saja di perusahaan. Seperti biasa pria tua itu lakukan. Tapi ternyata dugaannya salah.


Arkan menghubungi nya karna pertemuan yang ia minta tadi pagi. Dengan wanita di cafe waktu itu.


Tadinya ia malas menanggapi, dan menyuruh Arkan membahasnya nanti saat ia kembali ke perusahaan. Tapi ucapan Arkan selanjutnya, sukses membuat ia tidak jadi mematikan panggilan tersebut. Karna ternyata, Arkan menghubungi nya. Untuk memberitahu kalau wanita di cafe itu. Menolak ajakan pertemuan yang ia minta.


Hell,


Ini baru pertama kali, seseorang menolak ajakan pertemuan dengannya. Dan itu pun pertemuan pribadi di luar pekerjaan nya. Dan yang tidak ia habis pikir adalah. Wanita itu hanya wanita biasa dari kalangan biasa. Bukan wanita penting yang memiliki urusan yang tiada henti. Tapi ini, ingat dan camkan ini. Dia hanya wanita biasa, yang tidak ada penting penting nya sama sekali.


Bahkan dia bekerja di perusahaan ku. Tapi dia berani menolak ajakan pertemuan dengan ku. Berani juga wanita ini,


"Tidak tepatnya wanita ini yang menolak Tuan. Tapi..." Arkan menggantung kalimatnya. Melihat Reyyan takut takut. Soalnya ia tadi tidak mengatakan nya habis habis. Hanya setengah setengah.


Reyyan dengan kedua alisnya menyatu dan kening yang berkerut menatap melihat Arkan yang gugup takut di depannya.


"Tapi apa? kamu tidak berencana untuk melanjutkan nya?" tanya Reyyan yang sudah mulai emosi.


Seharusnya moodnya akan menjadi lebih baik. Apalagi setelah ia baru saja melihat Beyza dan kedua permata hatinya, Derya dan Zenia. Tapi siapa yang tahu, moodnya bahkan lebih buruk dari kabar perjodohan dari kakeknya. Tentu saja ia menyetujui perjodohan itu. Hanya semata mata untuk keturunan. Cinta! tidak ada dalam kamus kehidupan nya.


Kecuali, ya! hanya terkecuali. Ada wanita yang berhasil meruntuhkan tembok besi di dalam hatinya yang tidak mengenal kata itu. Tapi wanita yang seperti itu tidak mungkin ada. Karna dari awal, ia tidak akan membiarkan nya masuk.

__ADS_1


"Tadi saya ke tempat tinggal wanita ini. Karna kata karyawan di perusahaan. Dia sudah mengajukan izin untuk 2 hari ke depan tidak masuk kerja. Jadinya saya ke tempat tinggal dia. Lalu saat sampai di sana. Dia bersama seorang pria dan pria itu..."


Reyyan mendengus lelah dengan penjelasan Arkan yang tidak menemui titik kejelasan untuknya.


"Pria itu yang menjawab tidak bisa bukan wanita itu, benar!" Reyyan menyambung ucapan Arkan.


Yang langsung di anggukan cepat oleh Arkan.


"Pria itu sepertinya..."


"Kakak, paman, teman, kekasih nya, terserah. Apa ini pertama kalinya kamu membuat janji temu dengan klien Arkan? bukan pada orang bersangkutan langsung, tapi. Di jawab mewakili, dan kamu langsung pergi begitu saja. Dan beraninya kamu melaporkan berita begini padaku!" teriak Reyyan yang sudah di ujung emosi mendengar ucapan Arkan.


Bukan wanita itu yang menolak tapi di wakili. Sikap pengecut apa yang pria muda ini lakukan.


Arkan sontak menunduk takut.


Sedangkan Reyyan menatap Arkan dingin dan tajam dengan deru nafasnya yang naik turun akan emosi.


Dengan masih menunduk. Arkan segera mengundurkan dirinya melangkah keluar.


Di luar ruangan. Arkan mengelus dadanya sembari menoleh menatap daun pintu di belakang nya.


"Bahkan aku belum menjelaskan semuanya," lesu Arkan sebelum melangkah kembali ke meja kerjanya, selama di sini. Yang berada tepat di depan ruangan kerja Reyyan.


Di dalam ruangan setelah Arkan keluar. Reyyan seperti tidak terjadi apapun. Dia kembali bergelut dengan pekerjaan. Dengan raut wajahnya yang sangat tidak bersahabat.


Ia akan mencari sendiri wanita itu dan memberinya pelajaran. Berani sekali dia mengacuhkan seorang Reyyan Ferdinand.


'Aku akan membuat dia datang sendiri menghadap ku. Dan dengan kedua kakinya sendiri,' geram batin Reyyan sembari melihat memeriksa dokumen di hadapan nya.


❤️❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Di perusahaan Gulfa Emerald. Perusahaan yang memproduksi makanan dan minuman, terutama pembuatan coklat terenak di sana.


Rendra yang menjabat sebagai CFO di perusahaan tersebut. Sedang berbicara dengan dua pria paruh baya di ruangan kerjanya. Membahas masalah keuangan dan internal perusahaan. Yang akan mereka bahas nanti di rapat dengan CEO baru mereka, Reyyan Ferdinand.


Kedua pria paruh baya tersebut bangkit dari duduknya di sofa. Melangkah ke pintu keluar. Setelah mengucapkan beberapa patah kata ke Rendra dan menepuk pundak Rendra. Menyemangati pria muda yang umur berada di bawah mereka.


Karna mereka, tentu sangat berat berada di posisi tersebut. Di usia yang masih sangat muda. Dan harus berhadapan dengan CEO dingin dan kejam seperti Mr Reyyan Ferdinand. Tentu nanti akan di selidiki dengan detail tentang keuangan perusahaan. Apalagi setelah keuangan perusahaan menjadi kacau karna asisten nya membawa kabur uang. Seharusnya sudah selesai saat Rendra ke Jerman untuk melaporkan langsung ke Reyyan waktu itu. Tapi yang ia dengar, Rendra tidak bertemu dengan Reyyan. Karna CEO mereka sudah terbang kemari.


Rendra mendesah lelah setelah pintu ruangan tertutup dan berjalan ke meja kerjanya. Menduduki bokongnya di sana dan menghela nafas berat.


Rendra kembali memikirkan kejadian pagi tadi di kediaman Alya.


Di mana asisten Reyyan bertemu Alya. Dan mengatakan kalau Reyyan Ferdinand mau bertemu dengan Alya.


Dari kata kata pria tadi. Rendra bisa menyimpulkan. Pria itu sudah menyelidiki Alya.


Flash back.


Rendra yang sudah memasukkan semua barang bawaan Alya ke dalam bagasi mobilnya. Hanya 2 koper dan beberapa printilan lain. Ia sudah duduk di kursi pengemudi menunggu Alya turun.


Awalnya ia turun bersama Alya dan membawa barang bersama ke bawah. Tapi saat ia sedang memasukkan koper ke bagasi mobil. Alya teringat kalau dia melupakan sesuatu. Saat ia menawari biar ia saja yang naik dan Alya lebih baik menunggu di dalam mobil. Karna tidak ada yang tahu. Musuh Reyyan bisa ada di mana saja, bersembunyi sekitar sini dan menunggu waktu Alya sendiri.


Kembali mengingat itu membuatnya marah. Ia lengah dan benar benar lengah. Jika,


Rendra tersentak dan mengerjapkan kedua matanya saat melihat ke depan. Di luar kaca mobil. Dimana terlihat seorang pria yang sangat ia kenali. Umurnya yang lebih muda darinya dan sudah menjadi sekretaris dari pria yang menyebabkan Alya di culik dan di serang semalam.


Ya. Sekretaris Reyyan Ferdinand, Arkan Arkelic.


Rendra mengerut keningnya melihat Arkan.


'Kenapa dia di sini?'

__ADS_1


Rendra dengan cepat membuka pintu mobil dan turun dari sana. Begitu melihat pria muda tersebut, Arkan. Menghampiri Alya begitu Alya terlihat di lobby apartemen.


__ADS_2