
Ctak,
Alya menghentikan motor dan menyangga dengan standar samping motor.
Kedua nya berada di sebuah kedai makan, yang seperti nya buka 24 jam. Di samping kedai tersebut terdapat minimarket kecil dan penginapan seadanya. Serta tempat pengisian minyak dan sebuah bengkel. Tempat yang lengkap.
Alya melihat ke jalan besar yang terlihat gelap dan juga sepi. Hanya ada beberapa mobil atau truk atau motor yang lewat. Yang bisa di hitung jari.
"Sejauh apa mereka membawa ku?" keluh Alya tidak percaya dengan kejauhan jaraknya dari kota sekarang.
Dan yang paling membuat Alya tidak percaya adalah. Selama apa ia pingsan.
"Butuh waktu satu hari untukku kemari, jika kakak ingin tahu. Dan kakak masih merahasiakan pria itu,"
Tak,
Suara Alya yang baru saja menutup penutup pengisian minyak dan melihat Xavier.
Alya membawa motor Xavier ke kedai yang berada di belakang nya tanpa menghidupkannya.
Xavier yang melihat itu. Ikut membantu kakaknya dengan menolak dari belakang.
Ctak,
Alya kembali Menyangga motor.
"Jangan pernah berurusan dengannya Xavier! Dia pria yang berbahaya," ucap Alya sembari melangkah ke kedai tersebut. Dengan kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket milik Xavier.
Ia benar benar sangat lapar. Jika ia tidak sadarkan diri selama sehari. Maka sudah seharian ini perutnya belum terisi.
"Apa sebahaya Reeves?"
Alya sudah masuk ke dalam kedai makan tersebut. Yang di ikuti Xavier di belakang nya.
Alya berpikir sejenak sebelum menjawab. Ia celingak-celinguk mencari tempat duduk. Untuk dirinya dan adiknya.
Reeves, pria itu.
Kesamaan mereka.
"Aku tidak tahu," Alya menggelengkan kepalanya. Karna benar benar tidak mengetahui perbedaan keduanya.
"Aku belum terlalu mengenali pria ini dan firasatku mengatakan dia pria berbahaya," sambung Alya lagi begitu bokongnya sudah duduk di kursi dan menunggu pelayan di sana melayani mereka.
"Kakak sebutkan saja namanya," Xavier juga sudah ikut duduk dan menatap kakak nya.
Alya menatap lama Xavier, berpikir sebentar sebelum kemudian ia menarik nafas tajam dan membuangnya.
"Sudah lupakan. Ayo kita pesan dulu. Aku lapar banget!" keluh Alya yang benar benar sangat lapar sambil melihat Xavier.
Xavier menghela nafas lelah dan mengeluarkan handphone di saku jaketnya Yang dia bawa cadangan untuk berjaga jaga.
__ADS_1
Xavier menghidupkan game favorit nya dan mulai bermain. Sedang pesanan, Alya yang mengurusnya.
Alya bicara dengan pelayan kedai tersebut. Memesan beberapa makanan karna dia sangat kelaparan.
"Wait a minute, please!"
"Okay!" jawab Alya dengan memasang senyum tipis di wajahnya, yang sedikit kotor.
Oh tentu saja.
Ia baru saja melumpuhkan 10 pria lebih sekaligus dan seorang diri.
Kotor? bahkan bajunya di dalam bukan warnanya lagi.
❤️❤️❤️❤️❤️
Zuria dengan cepat membuang wajahnya ke samping.
Sedang suara jantungnya masih saja berdetak. Bahkan lebih keras dari yang tadi.
Zuria kembali memegang dadanya. Jantung nya yang tidak mau diam. Kedua mata Zuria berkedip kedip kebingungan. Sungguh, otak dan pikiran nya hari ini. Tidak bisa di ajak bekerjasama.
'Jangan sampai...'
"Kamu baik baik saja? Apa ada yang salah?"
Pertanyaan kekhawatiran seseorang menghentikan Zuria.
Reyyan Ferdinand sekarang sangat sangat dekat dengan dirinya. Mungkin 2 jengkal lagi wajah mereka akan bertabrakan. Atau lebih tepat, hidung mereka akan bertabrakan.
Bahkan ia bisa melihat dengan jelas wajah tampan pria ini. Rambut hitam yang tersisir kebelakang dan tidak rapi lagi. Masih dengan kaca mata di kedua matanya. Menatap melihatnya dengan raut wajah khawatir. Tidak, ia bisa melihat dengan jelas semuanya. Bahkan hidungnya yang panjang, bibir nya...
Zuria sontak lagi lagi membuang wajahnya ke samping. Kedua pipinya mendadak panas.
Zuria mau menyentuh kedua pipinya. Tapi ia tidak mau pria di hadapannya saat ini melihatnya. Tidak, atau pria ini sudah melihatnya. Pipinya,
Arghhh.
Erang Zuria dalam hati.
Reyyan pria dengan insting yang kuat. Tanpa melihat ia sudah mengetahui ke adaan sekitar nya. Mungkin karna tingkat ke waspada dalam hidupnya. Sudah terlatih keras dari dirinya kecil.
Menjadi satu satunya pewaris dari kekayaan keluarga nya. Tidak membuat seorang Reyyan Ferdinand tumbuh menjadi pria selalu ada bodyguard di sekitarnya. Melainkan sebaliknya. Terpeleset sedikit, bisa bisa nyawanya dalam bahaya. Yang artinya, sedikit lengah ia bisa mati kapan saja.
Begitu juga dengan sekarang.
Reyyan tahu Zuria yang terus memperhatikan nya. Dan wanita ini tidak sanggup menahan gejolak debaran jantungnya.
Untuk menguji.
Reyyan bangkit dari kursinya dan mendekat ke Zuria yang masih menenangkan suara jantungnya.
__ADS_1
Kedua mata Reyyan menatap Zuria tajam. Layaknya Zuria adalah mangsanya hari ini.
Manik mata warna biru dengan tatapan tajamnya. Sudah cukup membuat kaum wanita tergila gila karena nya. Dan belum lagi dengan ketampanan wajahnya dan warna kulitnya yang putih sedikit kecoklatan.
Bukankah ia katakan! tidak ada wanita yang tidak luluh dengannya, begitu juga dengan wanita ini.
Reyyan berdiri di samping Zuria sebelum mencondongkan tubuhnya mendekat menatap wajah wanita di depannya. Dua kancing kemejanya ia biarkan lepas dan rambutnya yang asal ia biarkan begitu saja. Dan,
"Kembali ke tempat duduk mu. Aku baik baik saja," Ucap Zuria tanpa melihat Reyyan. Ini benar benar tidak baik untuk hati dan jantung ku.
"Apa kamu memiliki masalah dengan penerbangan? Kedua pipi mu merah,"
Reyyan layaknya seekor singa yang sedang menatap mangsanya. Begitulah definisi tatapannya ke Zuria sekarang. Seperti dia mau melahap Zuria sekarang juga.
"Hentikan, kembali..."
Ucapan Zuria terhenti karna Reyyan membungkam bibir Zuria dengan bibirnya. Saat Zuria menaikkan nada suaranya karna kesal ke Reyyan dan mendongak menatap wajah Reyyan yang berada tepat di atas kepalanya karna ketinggian tubuh Reyyan.
Ciuman yang di sengaja.
Reyyan sama sekali tidak menggerakkan bibirnya. Hanya membungkam nya dan Reyyan mau melihat reaksi Zuria.
Mendapatkan serangan tiba tiba. Sontak saja kedua mata Zuria membulat lebar karna terkejut. Otak dan tubuhnya bekerja sama mencerna apa yang sedang terjadi pada dirinya sekarang. Sebelum dirinya sadar apa yang Reyyan lakukan padanya.
Zuria meletakkan kedua tangannya di dada bidang dan keras Reyyan. Sekilas Zuria bisa merasakan itu sebelum menolak Reyyan. Dan menatap wajah Reyyan langsung di atasnya.
Reyyan sama sekali tidak menepis kedua tangan Zuria ketika menolak tubuhnya. Dia hanya mengikuti kemauan Zuria dan kemudian menatap Zuria bahkan ke dalam manik mata wanita itu.
Tatapannya yang tajam, melemahkan siapapun lawan di hadapan nya.
"Katakan padaku, kalau kamu menginginkan nya juga Zuria!" ucap Reyyan dengan sensasi sensualnya.
Zuria mengerjap ngerjap menatap wajah Reyyan.
Pria ini sangat tampan. Bahkan lebih tampan dari Kendrick.
'Ini tidak benar bukan? aku tidak tertarik sama dia bukan? ini,'
"Zuria Argantha," instruksi Reyyan menghentikan perdebatan batin Zuria.
'Dan, kenapa aku menginginkan ciuman itu?'
"Katakan ya. Aku akan melanjutkannya," instruksi Reyyan lagi yang kembali menyentak kesadaran Zuria.
Bukankah ia sudah mengatakan. Ia tidak akan melakukannya, jika wanita ini tidak menginginkan nya.
Dan sekarang dia,
"Ya," aku menginginkan nya.
Zuria menjawab tanpa mengalihkan kedua matanya. Menatap melihat wajah dan manik mata Reyyan. Yang baginya sangat indah dan mempesona di saat bersamaan.
__ADS_1