Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 9


__ADS_3

Satu alis Reyyan terangkat. Saat kedua manik matanya menatap meneliti wanita di depannya.


Rambut hitam pekat bergelombang. Panjang melewati ketiak. Kulit putih bersih menggoda. Namun, tidak dengan wajah itu. Mungkin karna polesan make up yang sudah amat sangat tebal.


Dan Reyyan sangat membenci wanita yang kecantikannya terlihat dari make up. Meski tidak salah ber-make up. Tapi ini sudah terlalu tebal. Bahkan pipinya sudah seperti seseorang habis di tonjok. Begitu juga dengan warna aneh di atas mata. Belum lagi alis seperti cicak yang mau melompat.


Reyyan menatap itu geli sekaligus merinding. Ia jadi bertanya tanya. Pria mana yang akan suka dengan wanita ini, terkecuali dia pria buta dan bodoh karna satu kata itu, Love. Itu bisa saja.


Saat membuang muka tidak melanjutkan lagi kegiatan melihat meneliti wanita di depannya. Tanpa sengaja sudut mata Reyyan menangkap suatu hal. Di kulit leher dan bahu wanita di depannya. Di saat itulah ia mendengus jijik.


'Bukankah yang seharusnya dikasih make up itu, di tanda merah dileher dan bahunya itu?' Reyyan menggeleng tidak percaya. Tapi bukan urusan nya juga sih. Namun entah mengapa sangat mengganggunya.


"Hei kau. Dengar tidak orang bicara?" Bentak Zuria yang semakin dibuat kesal.


"Lalu aku harus apa? Meladeni perempuan berisik seperti mu?" Sinis Reyyan malas.


Zuria melotot, mulutnya terbuka menganga. Tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


Zuria menyesali, tidak. Sangat menyesali beberapa detik yang lalu sangat mengagumi ketampanan pria ini. Nyatanya, sifat pria ini sangat berbanding terbalik dengan rupanya. Ternyata sikapnya sangat nol besar.


"Sepertiku kau bilang. Jika kau lupa, aku bisa menuntutmu,"


Setengah senyuman terukir dari bibir Reyyan. Dia tersenyum mengejek


"Apa kamu tahu mengenai hukum? Dan jika pun harus menuntut bukankah seharusnya itu aku?"


"Are You Crazi?"


"Not me, but you!" Bantah Reyyan dengan nada ejekan sembari menurunkan pandangannya menatap jalan di bawah kakinya.


Dengan terpaksa. Zuria mengikuti pandangan pria di hadapannya.


Zebra cross.


Zuria mengerang tertahan.


'Haruskah ia lebih malu daripada ini? Ckck,'


Bukankah ini namanya mempermalukan diri sendiri. Atau bisa disebut juga. Senjata makan tuan.


Zuria menaikkan pandangannya menatap lelaki sialan di depannya. Dengan membuang rasa malunya.


Selama beberapa menit keduanya beradu pandangan. Zuria menatap dengan pandangan kesal sedangkan lelaki tersebut menatap Zuria dengan pandangan geli, menahan tawa.


'Apa pria ini sedang mengajaknya beradu pandang? Tunggu...Apa apaan dengan ...Bukankah dia sedang menahan tawa? Memang ada yang lucu dengan wajahku! Pria ini ckck,'


Reyyan menghela nafas berat dan memutuskan adu pandang keduanya. Senyum memaksa tersungging di wajah tampannya sebelum dia berkata.


"Pertama. Ada hal penting yang harus segera aku lakukan daripada beradu tatapan denganmu wanita. Dan yang kedua. Di lihat berapa kalipun, aku tidak tertarik padamu. Intinya dan sayang sekali. Kamu sama sekali bukan tipeku. Terutama warna matamu itu. I do not like," Jelas Reyyan panjang lebar dengan acuh dan malas.


Reyyan beranjak dari hadapan Zuria. Berjalan ke mobilnya, yang terparkir asal di bahu jalan. Meninggalkan Zuria dengan kebingungannya.


Reyyan membuka pintu mobilnya. Dan sebelum masuk ke dalam mobil, meletakkan bokongnya di balik setir. Reyyan menoleh melihat Zuria sebentar dan berucap.


"Pesan dariku! Lain kali belajarlah cara menutupi bekas semalam dengan priamu. Seperti cara sempurna mu mempolesin wajah," Nasehat Reyyan sebelum masuk ke dalam mobil.


Zuria menganga.


Kata kata sebelumnya masih tergiang giang di kepala cantiknya. Dan kata kata selanjutnya sukses membuat seorang Zuria Argantha kebingungan.


'Mempolesin wajah? ... Menutupi bekas pria semalam?... Apa maks... Ud...Nya,' Terbata Zuria saat sadar apa maksud dari pria tadi bicara begitu.


Sementara satu tangannya sontak memegang bekas merah nyaris biru dileher dan di tulang selangkanya. Karna dirinya memakai baju yang sedikit terbuka, yang memperlihatkan kedua bahunya. Tentu saja. Benda ini akan terlihat.


Setengah sadar. Zuria melihat menyaksikan mobil dengan merek yang sama sekali tidak asing baginya. BMW Gran Lusso Coupe warna Grey. Hilang dari hadapannya.


Zuria menatap ke mobil yang melenggang didepan matanya dengan kosong Sedang pikirannya ada ditempat lain.


'Karna terburu buru tadi dan otakku sedang memikirkan kedua sahabatku. Aku melupakan fakta ini. Dan pria sialan menyebalkan entah dari benua mana. Menasehatiku. Lengkap sudah kesialanku hari ini.' Zuria mengerang dalam hati.


"Tunggu..." Zuria tersentak saat tersadar akan sesuatu. Ia menghentikan gerakan kakinya, yang mau masuk ke dalam mobil.


"Tadi apa dia bilang? " Zuria mencoba mengingat kembali ucapan terakhir Reyyan.


'Kamu bukan tipeku,' Seakan suara Reyyan ikut membuat seorang Zuria mudah mengingat.


"Sialan!... Memang siapa yang berharap jadi tipemu brengsek," Teriak Zuria. Sambil berkacak pinggang melihat menatap ke punggung mobil Reyyan yang berlalu.


"Aku bahkan tidak mengharapkan itu, ishhhh ini sangat menjengkelkan," Rutuk Zuria kesal menahan amarahnya, untuk tidak naik.

__ADS_1


Zuria mengerang sebelum kemudian melangkah ke mobil.


Brakhhh.


Bantingan pintu mobil Zuria.


"Bukan tipe nya? Siapa?Aku?!" Oceh Zuria masih tidak terima dengan ucapan Reyyan. Begitu bokongnya mendarat di kursi.


"Seperti aku menyukainya saja,"


Zuria mencekram kuat setir mobilnya sebelum kemudian menghidupkannya.


Wajahnya yang putih menjadi merah karna menahan kekesalan ke pria yang baru ia temui hari ini.


"Huhh..." Dengus Zuria.


"Aku berharap tidak bertemu pria sialan itu lagi. Ini pertama dan terakhir," Rutuknya kesal.


Detik berikutnya. Zuria kembali sadar kalau dirinya sudah sangat terlambat.


Ckckkk.


"Luar biasa. Aku bahkan melupakan kopi pagiku yang nikmat,"


"Dan hebatnya hari ini. Aku mendapat wejangan dari pria yang menyebalkan yang baru ku temui hari ini. Luar biasa, huhhh." Desah Zuria kesal di ujung kalimat.


"Ini sangat menjengkelkan, tidak. Hari ini, benar benar hari yang sial untukku. Mimpi apa coba aku semalam. Bisa bertemu laki laki menyebalkan seperti dia? Dan aku sangat berharap tidak akan bertemu dengan pria itu lagi. Dibelahan bumi manapun,"


"Pria sialan dan menjengkelkan, aku bertanya tanya siapa kekasihnya. Tentu aku rasa sama dengan dia. Sama sama gila. Ya, itu benar. Karna jika aku bertemu dengan pria itu lagi. Aku tidak tahu hal gila apa yang akan aku lakukan pada laki laki itu. Tapi satu yang jelas. Aku akan membalasnya, karna sudah berani membuat moodku hari ini menjadi tidak baik, lihat saja," Gerutu Zuria sambil melaju cepat mobilnya.


Yang salah bukankah dia? Menyebrang dengan asal. Bahkan dia tidak berniat untuk meminta maaf. Memang kenapa dengan Zebra Cross? Seseorang bisa saj...


Aishhh.


'Ini benar benar menyebalkan. Dan yang lebih menyebalkan adalah. Aku yang salah disini dan tidak bisa berkutik.'


"Aku rasa keputusan untuk tidak pernah bertemu dengan pria itu lagi adalah hal yang tepat." Angguk Zuria membenarkan ucapannya sendiri.


Detik berikutnya. Lagi lagi Zuria mengumpat kesal.


Ia tidak terima ini. Yang namanya Zuria, tidak akan pernah mau mengaku dirinya salah. Apalagi dengan laki laki semenyebalkan itu. Tidak akan. Tidak akan pernah.


"Apa maksudmu?!" Itu adalah suara Ferdinand. Kakek Reyyan sekaligus Presdir di perusahaan Raksasa nya.


Jam sudah menunjukkan pukul 4:30 waktu Zurich-Swiss.


Dan reyyan sudah bersama kakeknya. Hingga 30 menit sudah berlalu.


Manik mata hitam sekelam malam. Beradu dengan manik mata biru sedalam lautan.


Reyyan menatap pria tua dengan tubuh yang masih segar bak pria paruh baya.


Ruangan yang bernuansa coklat susu, dengan dua pria yang berbeda umur sangat jauh serta memiliki DNA yang sama. Saling beradu pandang sebelum helaan nafas berat yang datang dari pria tua di depan Reyyan memutuskan pandangan keduanya.


Reyyan. Berapa kalipun ia berpikir ia. Ia akan selalu iri dengan pria yang di hadapannya saat ini.


Awet muda meski umurnya sudah melewati 70 an. Manik mata biru sedalam lautan sangat persis seperti manik mata seseorang. Ya. Semua yang ada pada pria tua ini ada padanya terkecuali manik mata itu.


Mungkin itu salah satu dari tipe wanita yang ia sukai. Memiliki manik mata seperti kakeknya.


"Keluar kan keberatanmu dan kakek harap kali ini bukan alasan untuk menolak pertemuan," Suara dingin Ferdinand dan tatapan santai Ferdinand. Memecah kesunyian di ruangan tersebut.


Reyyan menarik nafas panjang sebelum menjawab Ferdinand.


"Aku mau seperti kakek!"


Ferdinand menyatukan kedua alisnya.


"Maksudmu mau melajang seumur hidup? Itu bukan ide yang mau aku dengar Serhan!"


Ckck.


'Serhan?'. Reyyan berdecak tidak suka setelah membuang pandangannya ke samping.


Ya. Nama panggilan Kakek ke Reyyan adalah Serhan. Dari Reyyan lahir sampai Reyyan menginjak usia 12 tahun, dan setelahnya. Reyyan melarang kakeknya, memanggilnya dengan nama tersebut. Alasannya, karna ia sudah besar dan satu lagi, ia tidak suka dengan nama itu.


Mendengar kakek kembali mengingat kan nama, yang sudah lama tidak ia dengar lagi. Reyyan mengerang.


"Reyyan kakek. Tolong lupakan nama itu," Pinta Reyyan yang nyaris seperti perintah.

__ADS_1


Ferdinand mamajukan bibir bawahnya bersikap acuh, tidak peduli.


"Baiklah. Mari kita negosiasi. Terima perjodohan kali ini dan aku akan melupakan nama itu. Jika kamu tidak mau..."


"Aku tetap pada pendirianku kakek. Tidak ada negosiasi atau apapun itu. Tapi aku punya ide lain untuk kakek, siapa tahu ini membuat kakek senang. Itu pun jika kakek menyetujui nya,"


Kali ini Ferdinand menatap Reyyan serius.


"Apa itu," Tanyanya setengah penasaran.


"Aku mau mencari wanita seperti kakek dulu. Hanya untuk melahirkan anakku. Keturunan Flederick bagaimana?"


Mendengar ide yang di keluarkan Reyyan cucunya. Ferdinand mendesah.


"Memang kenapa dengan menjalani rumah tangga Serhan! Kamu masih muda dan selain itu kamu butuh sebuah keluarga cucuku. Jangan meniru kakekmu ini,"


Reyyan memalingkah wajahnya melihat ke samping sebelum kemudian dia merebahkan punggungnya ke sandaran sofa. Dia terlihat lelah. Lebih lebih ke pembicaraan sekarang.


"Aku tidak suka Kek. Aku suka seperti sekarang. Aku mencintai kehidupanku seperti sekarang. Tidak ribet dan tidak terkekang, intinya aku tidak butuh yang namanya keluarga,"


"Alasanmu bukan itu son? Kamu hanya belum menemukan seseorang yang kamu cintai dengan gila. Karna itu juga kenapa Kakek memilih sendiri sampai umur sekarang. Kakek sangat mencintainya, selalu dan selamanya," Suara lemah Ferdinand ketika mengingat kekasih hatinya.


Reyyan yang belum tahu banyak mengenai masa lalu Kakek nya. Sontak saja hal tersebut membuatnya terkejut. Karna yang ia tahu. Tidak ada siapapun yang membicarakan wanita yang di cintai Kakek dan juga hal itu seperti larangan keras. Baik di keluarga maupun di perusahaan. Apa yang sebenarnya terjadi.


Reyyan menatap Ferdinand Serius.


"Apa ada hubungannya dengan keluarga Emre. Lebih tepatnya Mr. Gokhan,"


Satu yang ia tahu. Kakek sangat terobsesi dulu untuk menjodohkannya dengan Baby nya, Princessa Beyza.


Ferdinand melihat Reyyan tenang. Tidak ada perubahan pada wajahnya.


"Jadi apa keputusanmu?" Ferdinand memilih mengubah topik. Setelah menghela nafas berat.


Reyyan menarik nafas. Sudah ia duga. Tidak semudah itu untuk bisa ia tahu.


'Mungkin aku harus menanyakannya ke Mr. Gokhan,' batin Reyyan.


"Mungkin ya yang kakek katakan. Aku belum menemukan wanita yang akan membuatku gila. Tapi aku khawatir wanita seperti itu tidak ada kek. Jadi... Keputusan ku masih tetap seperti semula. Tidak mau menikah. Dan jika kakek..."


"Menunggumu menikah dengan wanita yang kamu cintai. Maka sudah duluan Kakek yang menjadi tanah," Sambung Ferdinand memotong kalimat Reyyan.


"Kakek yang mengatakannya sendiri," Timpal Reyyan tidak bersalah.


"Intinya kamu menolak perjodohan ini dan tidak mau ada pembicaraan menikah menikah lagi, benar"


"Aku rasa itu tidak mungkin, benar?"


"Kamu tahu jawabannya,"


"Dan kakek tahu jawabanku,"


"Darah memang lebih kental,"


"Kakek mengakui,"


Ferdinand menarik nafas. Ia juga tidak bisa memaksa nya.


"Aku harap kamu tidak memilih wanita di jalanan. Kamu mengerti maksudku,"


"Hanya satu wanita yang pantas untuk melahirkan keturunan Flederick. Sebelum seseorang mengacaukannya," Reyyan menyindir Kakek nya atas batalnya pernikahan nya dengan Babynya, Princessa.


Ferdinand membuang muka.


"Dari awal dia bukan untukmu Son?" Lemah Ferdinand.


"Lupakan. Mengingat hal itu. Ingin rasanya aku merebutnya kembali untukku. Bagaimana pun caranya," Ucap Reyyan sembari bangkit berdiri dan melihat jam tangannya.


"Aku harus pergi," Sambungnya lagi.


Ferdinand mendongak menatap Reyyan.


"Apa pembicaraan sudah selesai? Kakek belum memberimu jawaban,"


"Entah kenapa aku sudah tahu jawaban Kakek,"


"Apa Kakek punya pilihan?" Decak kesal Ferdinand.


Reyyan terkekeh geli.

__ADS_1


"Aku pergi," Pamit Reyyan sebelum berbalik dan melenggang pergi dari ruangan tersebut, yang terlihat cukup luas untuk seukuran ruang kerja.


__ADS_2