
Kedua tangan Zuria berada di kepala Reyyan. Mengacak kasar rambut Reyyan, karna sensasi sensual yang Reyyan berikan padanya.
Nafas Reyyan naik turun saat ciuman panas itu terlepas. Kedua mata nya menatap intens wanita di bawahnya dan dia tersenyum geli.
Reyyan memindahkan dengan lembut rambut rambut yang menutupi wajah Zuria. Sehingga membuat pandangan nya dalam menatap wajah Zuria tidak terhalangi.
"Aku benar benar bisa gila Zuria! kamu sangat manis dan memikat," Puji Reyyan dengan suara bas sensualnya. Sedang kedua matanya menatap Zuria intens.
Tidak mau lepas, tidak mau melepaskan.
"Ini pertama kali, ranjang pesawat ini panas Zuria! biasanya, aku menggunakannya untuk mengistirahatkan tubuhku. Jika perjalanannya butuh beberapa jam,"
"Dan kamu selalu bekerja di dalam pesawat?" Zuria bertanya karna ingin tahu.
Reyyan mengangguk membenarkan pertanyaan Zuria.
"Ya! aku tidak suka mengulur waktu. Yang bisa ku lakukan sekarang maka akan ku lakukan sekarang. Suasana di dalam pesawat juga nyaman dan tenang. Baik untuk bekerja,"
Reyyan membelai lembut pipi Zuria.
"Haruskah kita melanjutkan nya? Atau sampai di sini," tanya Reyyan tanpa melihat Zuria. Di mana ke dua mata Reyyan. Melihat ke pipi Zuria yang dia elus menggunakan jari telunjuknya.
"Haruskah!" Zuria sengaja bermain kata kata dan melihat reaksi Reyyan. Yang seketika membenamkan wajahnya di dada Zuria.
"Sungguh aku tidak akan bisa tidur malam ini Zuria! kamu harus bertanggung jawab,"
Zuria tersenyum malu. Detik selanjutnya kedua matanya membulat saat Reyyan mencium sensual lehernya hingga ke tulang selangkanya.
Satu tangan Reyyan menari lihai kembali di kulit Zuria. Hingga membuat Zuria mengeluarkan desahannya.
Hal tersebut semakin membuat Reyyan menggila.
Reyyan bersiap mau melepaskan short pants Zuria. Sebelum suara Zuria menghentikan aktivitas nya.
"Tidak Rey! tidak," Zuria memegang tangan Reyyan menghentikan pria itu.
Nafas Reyyan yang naik turun karna hasratnya yang sudah menggebu gebu di dalam sana. Melihat menatap Zuria dengan bingung.
"Zuria!" Reyyan memperingati Zuria dengan suaranya yang parau.
"Maaf kan aku. Ini pertama kali bagiku. Bisakah tidak?" Zuria meminta nyaris memohon. Ia tahu ini salahnya dan juga maunya tadi. Tapi,
Reyyan tersentak terkejut mendengar ucapan Zuria.
'Apa? yang pertama? apa maksudnya,'
Melihat tiada jawaban Reyyan. Zuria otomatis panik dan merasa tidak enak dengan Reyyan.
__ADS_1
"Maafkan aku, tapi! bisakah hanya sebatas ini saja? kamu bilang sebelum nya. Kamu tidak akan melakukan nya sebelum kita menjadi suami istri,"
Reyyan kembali melihat menatap Zuria setelah sesaat tadi melihat ke arah lain.
Hingga beberapa menit berlalu. Kedua nya hanya terdiam dan saling melihat. Tanpa ada yang bicara atau memulainya.
Jika Zuria takut Reyyan mengamuk dan marah lalu memaksanya melakukan itu. Reyyan bergelut dengan pikiran nya.
'Benar, apa yang aku lakukan? wanita ini beda dengan wanita lain yang aku tiduri. Dia akan segera menjadi istriku. Mengandung keturunan ku. Kenapa aku melewati batas? seharusnya cukup sebatas itu,'
Zuria menelan ludahnya gugup dan takut. Ia masih menunggu jawaban Reyyan dan berharap pria ini menyetujui kemauan nya.
"Hah," desah Reyyan dengan wajahnya menunduk ke bawah.
Reyyan menaikkan pandangannya yang tiba tiba melihat Zuria. Sehingga membuat Zuria tersentak terkejut.
Detik selanjutnya Reyyan tersenyum lembut. Yang membuat Zuria seketika bernafas lega.
"Kau...,"
"Baiklah, mari lakukan setelah itu."
Zuria melebarkan matanya terkejut. Dia setuju? begitu saja.
Tentu saja. Keturunan nya harus lahir dari hubungan yang bagus. Yang pertama, kenapa ia melupakan ini. Tentu saja kakek mencarikan nya wanita yang bagus. Dengan begitu, dia pantas menyandang status Flederick.
Reyyan pindah dari atas tubuh Zuria dan berdiri di bawah ranjang. Melihat Zuria yang sudah duduk juga melihat Reyyan balik.
"Aku akan ke kamar mandi. Tidak masalah jika kamu mau keluar. Atau istirahat di sini," Reyyan melangkah ke kamar mandi. Namun langkah nya terhenti, sebelum mencapai pintu kamar mandi. Karna pertanyaan Zuria.
"Kamu benaran tidak marah kan? kamu baik baik saja kan?" Zuria memperhatikan tubuh Reyyan. Lebih lebih ke sesuatu yang menonjol di dalam celana pria itu.
Reyyan yang sudah menghentikan langkahnya. Menoleh melihat Zuria dan tersenyum hangat, menenangkan Zuria. Ia mengerti kenapa Zuria bertanya begitu. Karna perasaan nya yang merasa bersalah.
"Aku baik baik saja. Ini masalah ku Zuria! dan aku akan mengatasinya sendiri. Nikmati waktumu," Reyyan melenggang masuk ke dalam kamar mandi.
Zuria hanya bisa mendesah lelah. Sedang perasaan bersalah masih menggerogoti nya.
Zuria duduk di atas ranjang setelah memperbaiki bajunya dan menarik selimut menutupi kedua pahanya yang telanjang. Ia tidak berniat mau keluar.
Sesekali Zuria akan melihat ke kamar mandi.
'Haruskah aku keluar?'
'Dia baik baik saja, bukan?' tanya Zuria ke dirinya sendiri.
Ia pernah dengar. Jika pria tidak jadi melakukan itu setelah dipancing. Maka dia akan sangat menderita.
__ADS_1
Apa Reyyan begitu,
❤️❤️❤️❤️❤️
Rendra membuang wajahnya ke samping sembari menarik nafas berat.
"Masuk dan istirahat lah. Tentu tubuh mu capek. Besok kirim surat izin untuk tidak masuk. Istirahat lah, pulihkan tubuhmu."
Alya sontak melihat Rendra dengan kedua matanya yang melebar.
'Dia tahu?'
"Rendra! aku..."
"Aku tidak akan ikut campur. Jika kamu menginginkan itu. Aku akan diam,"
Alya terdiam.
"Tapi Alya!" Rendra berjalan mendekat ke Alya.
"Tidak untuk yang kedua,"
Alya melebarkan matanya. Ya, ia juga berharap begitu. Jangan sampai ada yang kedua. Maka semua akan kacau.
"Jika itu terjadi Alya! aku sendiri yang akan mendatangi nya. Tidak peduli siapa dia dan betapa rendah statusku,"
"Rendra!" Alya memanggil Rendra karna Rendra masih memandang rendah dirinya.
Sampai kapan,
"Yang harus di peringatkan harus di peringatkan Alya! Jika tidak nyawa mu dalam bahaya. Musuh pria itu tidak sedikit Alya! banyak yang mau menjatuhkan dia, banyak yang mencari kelemahan dia, dan banyak yang mengincar nyawa dia. Masih untung jika yang lain tidak mendengar dan mereka tidak bergerak."
Alya diam menunduk.
Ia benar benar sudah mencari masalah dengan orang yang salah. Rendra benar, perasaan nya sama sekali tidak penting di sini. Ia hanya akan menjadi incaran karna ke salah pahaman. Dan ia yakin, meski pria itu mengetahui. Dia memilih diam dan tidak peduli. Lagian ini salah ku.
"Jika aku mencari tahu siapa calon tunangan dia yang sebenarnya. Dan memberitahu mereka. Itu akan menjadi peperangan 2 keluarga Alya!"
Alya melihat Rendra dengan kedua matanya yang membulat.
Mulut Alya terbuka tertutup, tidak tahu dia harus berkata apa.
"Kabari aku terus dan teruslah berhati hati dengan sekitar mu,"
Alya mendesah.
'Itu artinya...'
__ADS_1
"Jika semakin lebar dan tidak terkendali lagi. Aku terpaksa harus mengirim laporan Alya! ke amanan mu lebih penting,"
Alya diam menunduk. Itu artinya...