Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 26


__ADS_3

Pukul 7:30 waktu Antalya, Turki.


Reyyan sudah lengkap dengan setelan kerjanya berwarna hitam. Dan sudah berada di balik meja kerjanya dengan tumpukan berkas di hadapannya.


Kedua matanya fokus dengan lembar putih yang ber coret tinta di depan matanya. Sedangkan tangan kanannya sibuk menari di atas kertas bertulisan tersebut. Dengan satu pena terpatri indah di sana.


Kerja dan kerja, itulah yang seorang Reyyan Ferdinand pikirkan. Karna itu tidak salah, jika Mr Ferdinand, kakek Reyyan. Bersikeras ingin mencari kan istri untuk cucunya tersebut. Supaya dunia kerjanya, bisa teralihkan sedikit dengan mempunyai anak dan istri.


Reyyan sudah berada di perusahaannya sebelum jam 7 pagi. Jam di mana waktu pergantian satpam penjaga di perusahaan nya tersebut. Sedangkan para pegawai perusahaan, masih bersiap siap dari rumah untuk berangkat. Yang artinya Reyyan Ferdinand sendiri di perusahaan. Anak perusahaan nya, di mana kantor pusatnya berada di New Berlin, Jerman.


Tadi malam, setelah turun dari pesawat. Ia langsung menuju ke hotel miliknya. Yaitu sebuah Penthouse di lantai paling atas Hotel The Emerald Group.


Sedangkan Zuria. Ia menyuruh asistennya yang lain, Baril. Yang datang menjemput nya ke landasan. Untuk mengantar Zuria ke penginapan nya dengan aman.


Sedang dirinya memilih menyetir sendiri ke hotelnya. Tanpa memakai jasa bawahan nya yang lain. Karna mereka semua, Reyyan perintah kan untuk menjaga ke amanan Zuria. Sehingga Zuria menggunakan 3 mobil yang mengantar nya.


Tok


Tok


Mendengar ketukan di pintu ruangannya. Yang artinya Reyyan di sana tidak sendiri lagi.


"Masuk," instruksi nya tanpa melihat ke suara ketukan pintu.


Ckleck,


Pintu terbuka dan Arkan masuk ke dalam dengan beberapa berkas di tangannya.


"Ini berkas yang Tuan minta," beritahu nya sopan sembari menyodorkan 3 berkas ke hadapan Reyyan. Sedang satu amplop ukuran besar berada di tangannya.


Reyyan hanya menjawab dengan gumaman. Setelah meraih berkas yang Arkan sodorkan dan meletakkan di samping kirinya. Reyyan kembali melanjutkan aktivitas nya. Meski tahu Arkan masih berdiri di hadapannya.


Arkan enggan untuk keluar. Mulutnya seperti mau mengatakan sesuatu tapi dia tidak berani untuk bicara.


"Ada apa Arkan! ada yang mau kamu sampaikan lagi?" tanya Reyyan tanpa mengalihkan kedua matanya dari berkas di hadapannya.


"Itu..."


Melihat Arkan seperti tidak berani untuk bicara. Reyyan mengalihkan matanya melihat Arkan.


"Bagaimana jadwal meeting pagi ini. Sudah kamu undur jadi nanti siang?" Reyyan memilih bertanya hal yang perlu dulu untuknya. Karna jam 9 sampai mungkin jam 11. Ia ada janji sekaligus ada tempat yang harus ia kunjungi.


"Semua sudah beres Tuan, termasuk pertemuan Tuan dengan Mr, Ethan."


Reyyan menarik nafas pelan dan mengangguk mengerti. Reyyan menyatukan alisnya. Saat melihat kegelisahan di raut wajah Arkan.

__ADS_1


"Ada yang mau kamu sampaikan?" tanyanya setelah melipat kedua tangannya dan melihat Arkan lembut. Layaknya tatapan seorang kakak ke adik.


"Itu...." kedua mata Arkan bolak balik tidak tahu harus mengatakan bagaimana. Karna hal begini sering terjadi dan Tuan mereka selalu mengabaikan dan juga meminta nya untuk tidak peduli tapi kali ini.


"Apa ada kiriman ke perusahaan?" tanyanya yang mengerti apa yang mau Arkan sampai kan tapi dia tidak berani untuk mengatakan. Lain dari asisten pribadi nya atau di sebut juga tangan kanannya. Yang sekarang harus di rawat di rumah sakit.


Mendengar pertanyaan Reyyan Arkan sontak melihat Reyyan.


"Tuan itu..."


"Arkan! Berapa tahun kamu sudah bekerja dengan ku?" tanya Reyyan dengan wajah dinginnya.


Arkan sontak menunduk takut.


"6 tahun Tuan,"


"Dan apa ini yang pertama?"


Arkan seketika menggeleng kuat menjawab.


Reyyan menarik nafas dan menghelanya. Sedang kedua matanya masih melihat Arkan. Kedua mata Reyyan teralihkan ke amplop yang di pegang Arkan.


"Singkirkan benda itu dari mu dan dari hadapanku. Hancurkan saja menggunakan shredder. Keluar lah dan kembali ke pekerjaan mu," ujar Reyyan dan kembali melihat ke berkasnya, yang lebih membutuhkan perhatian dari hal yang tidak penting itu.


Pertanyaan yang bagi Reyyan sangat bodoh dan dengan berani Arkan mengajukan itu.


Sehingga dirinya sekarang mendapatkan tatapan tajam dan sedingin pisau kutub utara.


Arkan menelan ludahnya gugup sekaligus takut. Ia tidak akan di pecat hari ini juga bukan, tapi wanita ini.


"Dia wanita hari Valentine, yang kencan dengan Tuan hari itu." beritahu Arkan cepat secepat kilat menyambar. Agar tatapan tajam itu tidak terus berlangsung.


Reyyan menjatuhkan rahangnya dengan ucapan bodoh sekretaris nya ini. Atau ia yang bodoh tidak memberitahu kebenaran pada pria muda ini.


Reyyan memilih mendesah setelah menurunkan tatapannya dari Arkan. Dan memijat keningnya.


"Arkan, dengar! siapapun itu aku tidak peduli. Dan juga, tidak ada kencan atau apapun itu."


"Lalu itu..." Arkan yang kebingungan dan mau bertanya tapi tidak berani.


Reyyan lagi lagi mendesah.


"Maksud mu paper bag sialan itu?"


Arkan dengan cepat mengangguk kan kepalanya.

__ADS_1


Reyyan menarik nafas sebelum menjawab.


"Itu milik wanita gila yang mengaku ngaku kami di jodohkan," jawab Reyyan malas sembari kembali bekerja.


Arkan ternganga tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Tunggu," Reyyan menghentikan aktivitas nya dan kembali melihat Arkan.


"Kamu bilang tadi wanita hari Valentine itu?"


Dengan masih kebingungan Arkan mengangguk mengiyakan. Bukankah tadi ia sudah mengatakannya.


"Dia!" yang maksud Reyyan kali ini wanita ini menjadi sasaran musuhnya untuk mengancam nya.


Arkan kembali mengangguk dan ia tersentak saat teringat sesuatu.


Dengan cepat dan buru buru Arkan meletakkan amplop yang dia bawa di atas meja di depan Reyyan dan membukanya. Ia tidak peduli tuannya tertarik atau tidak. Tapi entah kenapa, kali ini ia merasa kasihan sama wanita ini.


Kalau yang lain lain entah kenapa ia tidak peduli. Malah ia semakin marah ada yang mengaku ngaku sebagai kekasih, calon istri atau apalah itu. Sehingga menjadi sasaran musuh tuan. Tapi kali ini, entah kenapa. Ia merasa wanita ini tidak bersalah. Melainkan tuannya yang bermasalah.


Arkan meraih satu gambar dan memberikan ke Reyyan.


Dan ia rasa. Wanita ini hanya terkena jebakan, menurut nya.


Reyyan melihat lembar foto yang di sodorkan Arkan.


Di mana di sana ada dirinya dan wanita di cafe itu. Wajahnya tidak terlihat, hanya punggung. Tapi wanita ini,


Reyyan menyipitkan matanya untuk melihat jelas karna hasil gambarnya yang buram.


Reyyan menarik nafas dan mengembalikan lembar foto itu ke Arkan. Arkan bukannya mengambil lembar foto yang di kembalikan Reyyan. Tapi malah memberikan lembar lain lagi.


Di mana di sana terlihat seorang wanita duduk di kursi. Dengan mulut dan mata di tutup, serta tidak sadarkan diri.


Melihat gambar tersebut, entah kenapa hati kecilnya sedikit merasa bersalah. Hanya perasaan bersalah. Tapi jika di ingat lagi. Bukankah wanita ini sendiri yang mencari mati.


"Apa benar Tuan dan Nona ini tidak punya hubungan apapun?" tanya Arkan menyelidik Reyyan, sangat menyelidik.


Sehingga membuat tatapan Reyyan sekarang padanya seperti. Apa maksud mu Arkan?


Detik kemudian Arkan menelan ludahnya karna tatapan tuannya. Seperti ingin membunuhnya,


"Tadi malam Frankie dan anak buahnya ke kediaman wanita ini,"


Mendengar ucapan Arkan sontak kedua alis Reyyan menyatu.

__ADS_1


__ADS_2