
"Tunggu dulu. Anda mau ke mana? sungguh aku mengatakan dengan jujur. Aku tidak punya hubungan apa apa dengan pria itu. Jadi! dia tidak akan datang ke sini. Aku sama sekali bukan orang yang penting bagi pria yang kalian maksud itu! Sama sekali bukan. jadi! bisakah kalian melepaskan ku? pria itu sama sekali tidak akan ke sini. Percaya padaku," ujar Alya menghentikan langkah pria tadi yang hampir mencapai pintu.
Pria tersebut berbalik melihat Alya sebentar. Sebelum melihat ke salah satu bawahannya.
"Apa benar yang dia katakan? Kamu memberi informasi yang salah?"
Alya beralih melihat ke pria yang di tanya tersebut. Dimana tubuhnya sedikit kurus dan berkulit putih.
"Tidak tuan! Itu benar, saya mendengar sendiri dengan kedua telinga saya di sana. Dia sendiri yang mengaku dengan mulutnya. Kalau dia calon tunangan Reyyan Ferdinand. Mereka di jodohkan dan Reyyan Ferdinand juga ada di sana. Anda tahu betul tuan! jika seorang Reyyan Ferdinand bertunangan itu artinya," pria tersebut tersenyum keji dan licik.
Alya melebarkan matanya mendengar jawaban pria tersebut.
'Apa? jadi ini bukan hanya masalah foto itu? tapi pria ini ada di sana dan mendengar pengakuan bodoh ku itu? sepertinya benar, aku di culik hanya karna salah paham dan itu semua karna mulut ku ini yang asal bicara,'
"Yang benar saja. Aku ada di sini hanya karna mulut ku," Alya bergumam lelah.
"Kenapa? tidak bisa mencari alasan lagi? sangat di sayangkan," ujar pria yang seperti nya atasan pria pria di sana.
Alya dengan malas menaikkan tatapannya melihat pria tersebut.
Ia menarik nafas malas.
"Tidak bisa ku percaya. Aku di culik hanya karna itu,"
"Karna itu kamu bilang? Calon tunangan mu itu? Pria sombong dan angkuh itu? Bukan cuma aku, tapi banyak kelompok lain di luar sana. Seperti yang aku katakan tadi. Banyak yang mengincarnya, terutama nyawanya." Pria tersebut berucap marah.
"Kenapa? Apa kalian di jatuhi dengan hina? Atau..." Alya menjeda ucapannya menatap malas pria di hadapannya. Dengan berjarak 3 meter lebih.
"Seperti yang kalian lakukan ini? Menculik orang dan menghajarnya? Tapi itu tidak mungkin. Hanya para pengecut lah yang melakukan hal rendah begini," tentu saja ini masalah pekerjaan bukan. Atau persaingan bisnis yang harus menerima kekalahan.
"Kau... Mulut mu," geram marah pria tersebut lalu mau beranjak mendekati Alya dengan satu tangan nya yang siap untuk mencekik leher Alya. Namun,
"Tidak tuan! kita tunggu kedatangan dia dulu," Seorang pria lain menghentikan pria tersebut.
"Sudah ku bilang dia tidak akan datang," sahut Alya cepat. Melihat malas ke pria di hadapannya.
"Lebih baik kau diam wanita!" Geramnya menahan emosi.
"Karna memang kami tidak memiliki hubungan apapun. Itu semua karna kesalahan ku. Aku yang mengaku ngaku jadi calon tunangan dia. Sehingga membuat para anak buah mu salah paham dan juga," Alya menjeda ucapannya. Melihat ke pria yang mengaku mengambil gambar tersebut.
__ADS_1
"Gambar itu ada, itu semua salah paham. Aku tidak tahu kenapa dia ada di sana dan jika kalian ingin tahu kenapa aku di sana. Tentu bawahan mu tidak cuma melihatku saja di sana. Ada wanita lain selain aku di sana dan ada pria lain juga selain dia di sana. Jika kamu tidak mempercayai ku, kamu bisa tanyakan ke bawahan mu," Alya menjelaskan panjang lebar. Karna ia tidak mau di repot kan karna masalah ini. Sehingga hal ini bisa terdengar oleh telinga yang sangat ia hindari.
"Maksudmu kamu di sana bersama teman dan pacar teman mu itu? lebih tepat kalian sedang double date karna tidak sengaja bertemu."
Alya membuka lebar mulutnya tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Kamu sudah tahu itu? tidak, tunggu." Alya dengan cepat menggeleng kepalanya karna pertanyaan sendiri. Yang bisa membenarkan ucapan pria tersebut.
"Tutup mulutmu. Lebih baik kamu berharap dia datang kemari dan kami akan melepaskan mu,"
"Tapi dia tidak akan datang," jawab Alya yang hampir berteriak karna frustasi.
"Kamu yakin sekali ya!"
"Tentu saja!"
Pria tersebut terkekeh keji sebelum pria lain ikut tertawa.
Alya yang melihat itu merasa bingung sendiri.
"Memang ada yang lucu?"
Alya baru mengerti kalau mereka sedang Mentawai nya.
Alya mendengus tidak percaya.
Haruskah ia mengumpat pria itu. Di saat ia sadar kalau kejadian ini karna kesalahan nya. Lebih tepat mulutnya yang tidak bisa di jaga.
Alya diam diam mengerang dalam hati. Seharusnya ia tidak mau melakukan ini. Tapi apa boleh buat, ckckck.
Alya berhasil melepaskan tali ikatan di kedua tangannya, yang terikat dari belakang tubuhnya. Ia menepis nepis kedua tangannya begitu ikatannya terlepas dan kedua tangannya bebas. Tanpa Alya bangkit berdiri dari duduknya.
Ternyata tadi selama pembicaraan. Alya diam diam melepaskan tali yang terikat dan terlilit di kedua tangannya. Bagi seorang Alya, hal seperti ini sangatlah gampang. Bahkan hal ini bukan apa apa untuknya. Entahlah, mungkin karna terlalu sering ia merasakan nya.
Semua pria di sana terkejut bahkan tidak terkecuali dengan pria yang dari tadi bicara dengan Alya.
"Bagaimana kau bisa," Pria tersebut menganga melihat wanita di depannya yang berhasil melepaskan diri.
Alya menarik nafas malas melihat pria tersebut sebelum kemudian bangkit berdiri. Dengan menumpu kedua tangan di lututnya, Alya berdiri dengan malas sekaligus lelah. Lelah dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
__ADS_1
Alya merenggangkan kedua tangan dan kakinya. Seperti seseorang yang hendak mau ikut lomba lari.
Semua pria di sana melihat menatap Alya dengan terkejut.
"Ini benar benar sangat merepotkan," decak Alya malas.
Alya berdiri tegak menatap melihat tajam beberapa pria yang berdiri mematung di hadapannya. Mungkin ada sekitar 10 atau mungkin lebih.
"Apa yang kalian tunggu! cepat ikat dia kembali." Perintah dingin pria tersebut ke bawahan nya.
"Sudah ku duga, tunangan dia bukan wanita sembarangan,"
❤️❤️❤️❤️❤️
Kedua mata Reyyan mematung melihat pemandangan di depan matanya. Nafasnya tiba tiba saja berhenti. Saat wanita di depannya menaikkan wajahnya menatap nya.
Seorang wanita dengan rambut panjang lurus. Serta kulit putih yang bersih terawat, Wajahnya cantik walau sedikit polesan make up.
Ya, Reyyan Ferdinand jatuh kepadanya. Bukan jatuh cinta seperti kata kata gila yang dia benci selama ini. Melainkan rasa tertarik kuat Reyyan untuk wanita tersebut. Atau bisa di katakan, wanita ini adalah tipe wanita yang selama ini seorang Reyyan Ferdinand cari. Selain wanita idaman nya Beyza,
"Perkenalkan Sir! anak kami, putri kami satu satunya, Zuria Claira Argantha Aragaz."
Zuria yang di paksa untuk berada di sana. Padahal dia tadi lagi asik asiknya memacu kuda kesayangan sekaligus tercintanya.
Zuria dengan terpaksa dan malas menyodorkan tangannya untuk memperkenalkan diri dan menaikkan tatapannya melihat pria di hadapannya.
'Lagian sepenting apa si...' ucapan Zuria terhenti saat melihat wajah pria di hadapannya.
'Tunggu, bukankah dia pria tadi...'
"Reyyan Zeki Ferdinand Flederick, panggil saja Reyyan." tatap Reyyan intens ke wanita di depannya. Sebelum dirinya menyungging senyum tipis. Senyum yang bisa membuat siapa saja yang melihat itu akan tergila gila padanya dalam detik itu juga. Tidak terkecuali dengan Zuria dan Clara sekarang.
Zuria mengerjap menyadarkan dirinya. Menyadarkan dirinya kalau dirinya hanya mencintai satu pria. Meski pria tersebut sekarang akan menikahi sahabatnya juga.
'Tenangkan hati mu Zuria,' Ucap Zuria menenangkan hati dan jantung yang berdebar tak karuan.
Melihat menatap wanita di depannya yang tidak berbicara apapun. Dan seorang Reyyan Ferdinand memiliki insting dan otak yang jenius. Tentu mengetahui gelagat aneh wanita di depannya. Dan Reyyan juga mengetahui meski hanya dalam sekali lihat, kalau wanita ini.
Reyyan menyungging senyum samping yang tipis tanpa ada yang bisa menyadari.
__ADS_1
Dia wanita yang membuatnya menggila tadi malam ke Lindsey.