Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 42


__ADS_3

"Pria yang kita lihat di lobby apartemen ku. Kamu bilang sekretaris pribadi CEO baru kita bukan?"


"...."


Alya menarik nafas saat tidak mendapatkan jawaban dari Rendra.


"Rendra ku mohon, aku sudah meminta mu untuk menjawab jujur,"


Terdengar suara tarikan nafas dalam dari seberang. Dan Alya bisa mengetahui, ada sesuatu yang Rendra sembunyikan darinya. Kenapa ia tidak mencurigai itu tadi, saat Rendra mengatakan dalam mobil siapa pria itu. Rendra hanya bilang, perlu dengan pria itu karna masalah asistennya membawa kabur uang. Dan ia, percaya.


"...baiklah, ya. Ada apa dengan itu? bukankah aku sudah memberi mu jawaban tadi?"


Alya sontak mengangguk membenarkan ucapan Rendra. Tapi,


"Benar, tapi bukan itu jawaban yang sebenarnya bukan!"


"Alya! apa semua baik baik saja?" Suara Rendra terdengar mencemaskan Alya.


"Tidak Rendra! jangan mengkhawatirkan aku. Selesai kan pekerjaan mu dengan baik. Aku hanya mau menanyakan beberapa hal. Lalu, sekretaris itu. Apa dia mencari ku?"


"...."


Alya lagi lagi menarik nafas. Saat tidak mendapatkan jawaban Rendra.


"Rendra!" panggil Alya dengan sedikit menaikkan nada suaranya.


"Dengar Alya! surat pengunduran diri di perusahaan, biar aku yang urus. Jika bisa, kembalilah ke sana secepatnya. Itu akan lebih baik..."


"Bukan itu masalahnya sekarang Rendra!" Alya berteriak membentak menaikkan nada suaranya. Hingga bahkan Kendrick di luar. Mendengar suara Alya.


"Semua baik baik saja bukan?" khawatir Kendrick yang sekarang sudah duduk di kursi sofa. Di hadapan kamar Alya. Sedangkan kedua matanya sesekali akan melihat pintu kamar Alya. Menunggu wanita itu keluar dan ingin bertanya masalah yang sebenarnya. Yang sepertinya, sangat Alya takutkan.


"Alya! sebentar lagi urusan ku di sini akan selesai. Kita bicarakan ini di tempatku. Aku tutup,"


"Rendra!"klik


Panggil Alya dan panggilan di tutup sepihak.


Alya yang tidak mau tahu. Kembali menghubungi Rendra.


"Alya! nanti saja..."


"Apa kamu menjawab tidak bisa?" potong Alya begitu panggilan nya tersambung.


"Alya!"


"Aku tanya Rendra! apa kamu menjawab tidak bisa dengan apa yang di sampaikan sekretaris pria itu?"


"..."


"Dia minta untuk bertemu dengan CEO nya bukan?"


"...."

__ADS_1


"Rendra!" panggil frustasi Alya.


"Lalu, jika aku menjawab iya. Atau membiarkan kamu menjawab. Apa kamu akan datang menemui dia?"


Benar, di sini Rendra sama sekali tidak salah. Dan ia sama sekali tidak menyalahkan pria ini. Ia yang hanya terlalu frustasi memikirkan apa yang akan terjadi ke depan. Apapun itu, ia tidak boleh bertemu dengan pria itu. Dan Rendra sudah melakukan hal yang benar. Meski Rendra tidak mengetahui apa yang sebenarnya ia takutkan bertemu dengan pria itu. Tapi, Rendra tahu. Ia tidak boleh bertemu Reyyan karna masalah akan semakin besar dan kemanan nya akan semakin berbahaya.


Alya menunduk dan menelan ludahnya frustasi.


"Tentu saja kamu tahu jawabannya Rendra! tapi, ku rasa aku bisa mengalihkan dengan memberi dia jawaban lain. Sehingga masalah, tidak akan melebar. Tunggu, aku tidak menyalahkan mu. Tapi aku rasa, mau tidak mau. Aku harus menemui pria itu, CEO baru kita,"


"Apa maksudmu?" tanya Rendra tidak mengerti.


Alya menarik nafas. Dan mengerti Rendra yang tidak mengetahui kelicikan pria itu.


"Tidak ada, kemb..."


"Dengar Alya! jangan bertindak bodoh. Sebentar lagi aku akan selesai di sini dan langsung pulang. Kamu jangan ke mana mana. Jangan berani keluar dari sana, kamu mengerti?"


"..."


Terdengar suara Rendra mengerang di sebelah sana.


"Alya! aku tanya kamu mengerti? beri aku jawaban,"


Rendra hanya bisa mendengar tarikan nafas frustasi Alya.


"Jika dia curiga atau sudah mencari tahu tentang ku. Di rektur, Liana dan kamu akan terkena masalah Rendra!"


"..."


"Kamu benar! seharusnya aku tidak mencari masalah dengan pria itu, hari itu," frustasi Alya. Yang kini memilih menyalahkan dirinya sendiri. Karna intinya adalah itu.


"Alya dengar! aku akan segera ke sana dan tunggu, jangan kemana mana,"


Alya memejamkan kedua matanya. Ini benar benar membuat nya gila.


Berapa kali pun ia berpikir, ini sangat aneh. Seperti semua sudah terencana kan. Aku berada di sana di saat dia pun di sana. Aku yang tiba tiba mengaku sebagai pasangan yang di jodohkan. Dan seseorang mengambil gambar. Masalah keuangan dan masalahnya bertabrakan. Sehingga pria itu bisa mengambil kesempatan.


Tapi sedikit melegakan. Pria itu belum mengenal nya dan belum mengetahui siapa ia sebenarnya. Tapi, itu hanya menunggu menit atau jam untuk pria itu tidak mengetahui nya.


Dan jika pria itu sudah mengetahui semuanya.


"Alya! kamu masih di sana?" suara Rendra yang semakin terdengar mengkhawatirkan Alya.


"Aku tutup, aku tidak akan ke mana mana. Fokus pada pekerjaan mu," ucap Alya dan mematikan panggilan nya.


Di kamarnya.


Alya mendongak menatap atap kamar di atasnya dan mendesah lelah.


"Apa yang harus aku lakukan selanjutnya? Haruskah aku kembali?"


Tok

__ADS_1


Tok


Suara ketukan pintu kamarnya. Menyita perhatian Alya dan menoleh melihat ke sana.


Alya lagi lagi mendesah.


'Akan tetapi di sana semakin melelahkan,' suara batin Alya.


Ckleck


Alya membuka pintu kamar dan Kendrick sudah berdiri di sana. Dengan kedua tangan dia di pinggang, berkacak pinggang.


Alya berjalan melewati Kendrick.


"Kembalilah! Rendra bilang sebentar lagi dia akan pulang. Jadi kamu tidak perlu menemani ku,"


"Apa semua baik baik saja? aku mendengar teriakan mu tadi," Kendrick mengacuhkan usiran halus Alya. Sembari dirinya mengikuti langkah Alya ke dapur.


Alya kembali menduduki bokongnya di sana dan kembali menyantap makanan di hadapannya.


"Ya! semua baik baik saja. Tidak ada yang perlu di khawatirkan," bohong Alya.


Supaya Kendrick cepat cepat pergi dan ia. Bisa keluar bertemu diam diam dengan Reyyan. Sebelum pria itu mengetahui siapa ia sebenarnya. Dan jika saat itu terjadi, maka selesai sudah.


Tentu saja ia akan menemui dia sebagai Alya yang dia lihat di cafe hari itu. Bukan sebagai Alya, yang dia lihat dulu.


Kendrick memicing tajam kedua matanya menatap Alya.


"Kamu tidak mencoba membohongi ku bukan?"


"Kamu bisa tetap di sini jika tidak mau pergi. Aku tidak masalah," Alya masih berbicara santai sembari mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Memang ada hubungan apa sih kamu dan pria itu? kenapa..."


❤️❤️❤️❤️❤️


"Bukankah sikap mu terlalu kasar untuk seseorang yang memiliki saham 75% di perusahaan baru mu itu? bahkan sedang dalam kerugian besar,"


Brukh,


Reyyan mengacuhkan pria yang sialnya masih tampan dan gagah di umurnya. Bisa ia katakan, sekitar 45 tahun ke atas.


"Tidakkah anda merasa lelah meminta ku bertemu anda terus? bahkan anda melibatkan kakek ku." Reyyan merebahkan punggung nya ke sandaran sofa di belakang nya.



"Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu terus menghindari ku. Aku bertanya tanya, apa salah ku padamu anak muda?" pria tersebut menghisap cerutunya sembari melihat menatap Reyyan di hadapan nya.


Reyyan dengan posisi tubuhnya yang rebahan di sofa. Melihat menatap pria di hadapannya. Sorot matanya, entah kenapa menjadi dingin dan tajam.


Hal yang tidak mau ia ingat lagi. Tapi akan terus membuat nya teringat lagi dan lagi.


"Dan ada apa dengan tatapan mu itu anak muda? kamu sangat tidak sopan untuk pria yang lebih tua dari mu,"

__ADS_1


Reyyan sontak mendengus geli.


__ADS_2