Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 14


__ADS_3

"Seperti nya banyak yang harus kami bicarakan," Reyyan tidak melepaskan pandangan nya dari Zuria. Setelah melepaskan jabatan tangan mereka. Reyyan melihat meneliti gadis di hadapan nya. Yang menurutnya, sangat sangat cocok untuk menjadi istri dan ibu untuk keturunan nya.


"Tapi waktu saya tidak banyak," Reyyan beralih melihat ke pasangan suami istri, mama dan papa Zuria. Setelah dirinya melihat jam tangannya, yang ternyata sudah waktunya ia ke penerbangan.


"Saya harus ke Antalya, ada beberapa hal pekerjaan yang harus saya selesaikan segera. Saya harap perjamuan malam ini tidak membuat anda kecewa Mr Argantha,"


Mama dan papa Zuria memasang senyum yang semanis mungkin dan merasa terkejut dengan respon pria muda di hadapan nya Yang seperti nya tertarik dengan putri mereka.


"Tidak masalah sir! selesai kan pekerjaan anda. Saya mengerti, kita hidup dalam dunia ini. Perjamuan nya bisa kita tunda dan tetapkan di tanggal yang anda setuju kan nanti,"


Reyyan memasang senyum lega.


"Baiklah," Reyyan menggantungkan ucapannya dan melihat ke Zuria.


Zuria yang di tatap begitu merasa risih dan tidak suka.


"A! kenapa kalian tidak ke sana saja bersama?" Clara memecah suasana di antara mereka di sana yang hampir menjadi sunyi. Karna Calon menantu nya yang menatap putrinya intens. Sedang putrinya tidak suka.


Reyyan, Zuria dan Mr Argantha sontak melihat ke arah Clara.


Beda dengan reaksi Mr Argantha yang suka dengan ide istrinya. Begitu juga Reyyan, tapi tidak untuk Zuria.


Kedua matanya membulat lebar menatap melotot ke Mama nya. Dia sangat shock dan terkejut.


Yang bicara ini benaran Mama ku bukan, mama kandungku. Mama ku membiarkan ku pergi bersama pria ini. Membiarkan, lebih tepat menawari. Bahkan mereka belum kenal betul dengan pria ini. Dan Mama mengizinkan begitu saja, papa juga tuh. Perjalanan Zurich dan antalya mungkin tidak lama.


Akan tetapi, pria dan wanita di satukan. Semenit saja itu tidak bisa di percaya. Apalagi dengan rumor pria ini. Dan juga, tatapannya Tatapannya itu seperti dia mau melahap ku hidup hidup. Aku saja ngeri, aku tidak salah dengar bukan.


"Mam!" Zuria mau protes tapi di sela oleh papanya.


"Itu ide bagus. Bagaimana sir! apa akan merepotkan anda! kami akan menyiapkan penjemputan putri kami sampai di sana," senyum Mr Argantha yang tidak pernah Zuria lihat sebelumnya.


Zuria beralih melihat ke Clara dan melotot lebar. Mengistirahatkan untuk menghentikan ide gila mereka.


Reyyan tersenyum sopan. Senyum yang sengaja dia buat buat.

__ADS_1


"Sama sekali tidak Mr Argantha. Saya akan bertanggung jawab sampai putri anda berada di penginapan nya." Yang arti nya Reyyan memberitahu. Kalau Mr Argantha tidak perlu menyiapkan apapun. Dia akan mengantar putri mereka dengan aman. Karna dia akan menjadi tanggung jawabnya yaitu Calon istrinya.


Mendengar jawaban Reyyan. Clara dan Argantha terkesiap terkejut. Karna secara tidak langsung. Reyyan Ferdinand sudah mengakui putri mereka sebagai tunangan nya, yang sebentar lagi juga akan menjadi istri dia.


Clara dan Argantha tersenyum cerah dan bahagia.


Melihat tatapan Zuria, Clara melotot ke putrinya. Dia berjalan melewati Reyyan mendekati putrinya.


"Kamu dengar! lagian kamu malam ini juga berencana terbang ke sana kan! jadi tidak masalah kalau sekalian. Lagian sebentar lagi dia akan menjadi suami mu Zuria! apa ada masalah!" omel Clara yang sedikit berbisik ke Zuria. Tapi bisa di dengar jelas oleh Reyyan.


Reyyan menyungging senyum tipis yang tulus.


Reyyan melihat menatap Zuria.


Zuria melihat tatapan Reyyan dan entah kenapa ia selalu risih tidak suka.


"Tapi Mam!"


"Tidak ada tapi tapian. Tyga!" Clara berbalik membelakangi mengacuhkan Zuria, putrinya. Untuk memanggil Tyga, asisten pribadi putrinya.


"Persiapan keberangkatan Zuria malam ini sudah bereskan?" Clara sedikit mendongak menatap Tyga karna posisi tubuh Tyga yang sedikit tinggi, bagi seorang Clara.


"Semua sudah siap nyonya! dan ada di dalam mobil Nona," jawabnya lagi sembari menunduk hormat.


"Bagus. Zuria akan berangkat sekarang dengan sir Reyyan Ferdinand. Kamu persiapkan semua keperluan nya," Tyga yang terkejut melihat atasannya tersebut. Sebelum kemudian dia kembali menunduk.


Ini pertama kalinya. Nyonya mengizinkan putrinya bersama dengan pria asing.


Tidak mau membuat kepala nya pusing dengan pertanyaan pertanyaan yang sudah ia jamin tidak akan dapat jawaban nya. Terkecuali bertanya ke atasan mudanya Nona Claira. Tyga menunduk permisi untuk melaksanakan tugasnya.


"Baik nyonya! kalau begitu saya permisi. Saya akan mempersiapkan semuanya,"


Clara hanya menjawab dengan gumaman sebelum kembali berbalik menatap Zuria dan melihat Reyyan Ferdinand serta suaminya yang sedang asik bicara.


"Mami! Zuria perlu bicara," Zuria menekan setiap ucapan nya dan menatap tajam Clara. Setelah meraih dan menggenggam tangan Clara dan menarik pergi bersama nya. Menjauh dari Reyyan dan papanya.

__ADS_1


Clara melihat ke tangannya yang di genggam Zuria. Sebelum menatap putrinya dan dengan patuh mengikuti langkah putrinya. Tentu jiwa pemberontakannya sudah meronta ronta dari tadi untuk melawan dan memprotes nya. Tapi kali ini ia tidak akan lemah apalagi mengalah. Lihat saja,


Sebentar Reyyan meraih handphone nya di saat pembicaraan nya dengan Mr Argantha. Melihat panggilan masuk di sana saat merasakan handphone nya bergetar di kantung celananya.


Reyyan memasukkan kembali handphone nya yang masih bergetar ke saku celananya. Setelah melihat panggilan yang sama tidak penting untuk nya. Sebelum kembali mengobrol ringan dengan Mr Argantha mengenai tempat tempat berkuda ini.


Entah yang ke berapa kali suara handphone pribadi Reyyan bergetar hari ini, karna panggilan masuk. Tapi Reyyan acuhkan, karna saat Reyyan melihat panggilan nya tadi. Saat dirinya keluar dari kediaman kakeknya di sini. Di sana tertera nomor masuk yang tidak terdaftar di panggilan nya. Al hasil, handphone nya terus bergetar tanpa Reyyan peduli.


❤️❤️❤️❤️❤️


Di tempat lain.


Alya melihat menatap pemandangan di depan nya. Sembari dirinya membersihkan mengelap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah.


Brakh,


Seseorang masuk ke dalam ruangan tersebut dengan mengebrak membanting pintu.


Pria muda dengan umur sekitar 12 tahun masuk ke dalam sana. Dengan perawakan nya, kulit putih bule, rambut kuning pirang karna di cat, memiliki satu tahi lalat di dekat mulutnya, memiliki hidung mancung yang panjang, tinggi sebagai mana anak seumuran nya, kata tampan men domisili nya.


Alya sontak melihat ke sana dan mendesah lelah sekaligus frustasi.


'Sampai kapan dia akan berhenti?' tanyanya malas.


"Kakak baik baik saja! maaf aku terlambat. Kakak tidak terluka kan?" tanyanya begitu panik begitu sampai di sana. Dan segera mendekat mengecek melihat kondisi tubuh Alya depan dan belakang. Tanpa peduli kemalasan pada wajah Alya. Kakaknya,


"Kapan kau tiba! Tidak ada yang tahu kan?" Alya bertanya malas.


Masih dengan aktivitas nya mengecek tubuh Alya ada terluka atau tidak. Pria muda tersebut mengangguk mengiyakan dan menjawab cepat.


"Ya! Kakak tenang saja," jawabnya cepat dan patuh.


"Kakak menghabiskan semuanya sendiri. Seperti biasa, Aku bangga sama kakak he he he," cengengesannya tanpa berdosa. Melihat menatap Alya di depannya. Setelah mengecek kondisi tubuh kakaknya, yang ternyata baik baik saja tanpa lecet sedikit pun.


Alya mendesah frustasi melihat itu.

__ADS_1


__ADS_2