
Seperti pagi yang biasa. Cerah dan suasana kamar yang selalu menenangkan. Terlebih untuk tubuh dan pikirannya. Namun, tidak untuk pagi ini. Zuria, entah yang keberapa kalinya ia mengumpat. Sedang matanya menatap dirinya di depan cermin. Lebih lebih ke tanda yang sangat menakutkan di bagian lehernya.
Ya. Tanda yang ditinggalkan oleh pria yang tidak ia kenali semalam.
Dan sialnya. Pria itu mafia. Pria yang tidak ada dan tidak akan pernah masuk ke dalam daftar pria idamannya.
Mommy. Ya, patut ia salahkan untuk ini. Jika saja mommy tidak menyuruh orang untuk mengikutinya dan sudah pasti. Tanda merah sialan ini tidak akan pernah ada.
Demi apa. Bibir yang sudah ia jaga selama 30 tahun ini, ralat 29 tahun. Tercemar sekaligus ternodai oleh seorang mafia.
Aku yakin. Pria semalam itu mafia. Bahkan mungkin mafia kelas atas. Dan sialnya kenapa aku harus masuk ke gang disana? Seharusnya aku berlari ke seberang jalan atau biarkan saja diriku tertangkap. Dengan begitu tanda ini tidak akan ada dan bibirku masih selamat dan sehat.
Dipikir beberapa kali pun juga dan bagaimana pun juga. Ini sudah tentu salahnya nyonya Clara.
"Arghhh..." Erang Zuria tidak terima.
Bibirnya yang sudah ia jaga dengan sangat baik. Bahkan pria yang ia sukai pun belum pernah mencobanya. Dan pria mafia itu...
Bibirku jadi korban di sini.
Desah Zuria setelah berperang sejenak dengan batinnnya.
Oh tunggu...
Zuria tersentak saat teringat sesuatu.
Bibir.
Zuria menyentuh bibirnya. Menit berikutnya ia mendecak.
Demi apa. Pria yang tidak ia kenali itu, sudah menikmati kulitnya semalam.
Zuria menatap dirinya ke cermin. Bibir bawahnya yang sedikit bengkak juga luka. Leher dan bahunya terdapat tanda merah di mana mana. Ia bahkan malu menatap diri sendiri.
"Arghhh...Pria mafia sialan!" Jerit Zuria kesal di kamarnya, yang bernuansa putih dan pink tersebut. Luasnya yang setara dengan satu rumah mewah. Sedang ranjangnya berukuran king size dengan gaya klasik.
"Clair..? Kau di dalam? "
Kepala zuria sontak menoleh melihat ke pintu dengan tatapan horornya.
Itu adalah suara nyonya Clara, yang setiap ucapannya adalah perintah.
Menggerakkan langkahnya zuria meloncat ke ranjang dan sedetik kemudian tubuhnya sepenuhnya tertelan oleh kain tebal, yang terlihat sangat mahal tersebut.
Cklec...
"Clair...?" Panggil Clara begitu masuk ke dalam.
Tab...
Clara menutup pintu tanpa berbalik melangkah mendekati ranjang.
"Kamu serius? Ini sudah jam 9 pagi dan kamu masih tidur? Berniat cuti dar..."
"jam 9! Mom serius...?!" Zuria melotot lebar menatap Clara. Setelah menyibak dan menendang selimut ke bawah kakinya.
Detik berikutnya tubuh zuria tiada lagi di ranjang.
Brakkh....
Suara bantingan pintu kamar mandi.
Pukul 9. Demi apa. Ia ada meeting dengan para karyawannya jam 8 dan sekarang jam berapa? Di mana sikap di siplinnya yang selalu ia banggakan di depan para karyawannya? Hah... Ini... Benar benar di luar akal sehatku.
Seorang zuria yang tidak pernah kenal kata telat jika menyangkut hal pekerjaan. Selalu tepat waktu ada di kantornya. Namun sekarang, hilang sudah harga kebanggaan nya.
"Mommy pikir kamu sudah menyetujui mommy dan tidak bekerja lagi. Siapa tahu kamu sudah sadar dengan umurmu,"
"Mom? Sekalipun aku menikah. Aku akan tetap bekerja meski aku sudah punya cucu cicit atau apapun itu," Balas zuria yang sudah lelah di atur atur hidupnya oleh mommynya. Sekalipun aku tahu itu demi kebaikanku tapi ayolah. Aku belum setua itu untuk cepat cepat menikah. Tunggu...Tua?
"Kodrat seorang wanita itu di rumah Claira. Memasak, Melihat anak anak, menunggu suami pulang dan..."
"Dan itu tentu bukan aku. Karna itu carilah suami untuk putrimu ini, yang bisa diatur dan tidak pernah dan tidak akan pernah memasang mode perintahnya. Tunggu satu lagi, mommy... Umur ku belum cukup TUA seperti yang mommy bilang untuk cepat cepat menikah,"
"Umurmu sudah 30 tahun Claira! Dan di umur segitu mommy sudah melahirkanmu, lalu kamu bilang belum tua! Kamu sedang bermain main dengan umurmu Clair?!"
Zuria menggeram. Memang jika menyangkut umur adalah hal yang sangat sensitif bagi perempuan dan mommy dengan bangga mengatakannya 30 tahun. Ayolah mom.
"Masih mom! Belum 30, bulan 11 ini baru 30 mommy! Haruskah Claira bawa bingkai kelahiran Claira kemari?"
Clara memutar malas bola matanya.
"Intinya tahun ini kamu sudah 30 tahun claira. Apa kamu berencana mau jadi perawan tua?"
Zuria sontak saja membulatkan kedua matanya, menatap Clara ngeri. Ia merinding.
"Apa mommy sedang menyumpahi putrimu?" Protes Zuria.
"Seperti kamu akan terpengaruh saja," Timpal Clara acuh.
__ADS_1
"Aunty mu saja sudah membagikan undangan pernikahan. Dan apa yang bisa mommy harapkan putriku ini?" Keluh Clara kesal.
'Wha... What?' Terkejut Zuria dengan apa yang baru saja dia dengar.
Zuria hanya menangkap 2 kata dan lainnya di bawa angin. Undangan pernikahan.
"Sudahlah. Nanti malam datanglah ke makan malam yang di adakan oleh grandpamu. Kamu tidak boleh terlambat, jangan buat mommy malu kali ini" Clara bangkit dari kursinya sembari meraih tas sampingnya, yang bermerek Dior.
"Tu...Tu...Tunggu mom! Apa maksud mommy Aunty membagikan undangan pernikahan! Memangnya siapa yang akan menikah di keluarga Aunty! Xavier! Itu tidak mungkin, dia baru saja putus dengan kekasihnya," Ujar Zuria panjang lebar setelah menghentikan gerakan langkah Clara yang mau keluar.
Clara menyatukan alisnya menatap Zuria. Setelah membalik badan.
"Kamu tidak tahu?" Tanya Clara bingung.
Zuria sontak saja menggeleng.
Kerutan di dahi Clara semakin dalam. Sembari dirinya memperbaiki berdirinya menatap meneliti Zuria.
"Serius kamu tidak tahu? Dia sahabatmu Clair?" Clara memastikan pikirannya.
Zuria sontak saja membulatkan kedua matanya di sertai dengan mulutnya yang terbuka dan tertutup kembali. Begitu kata sahabat, ia dengar.
Tidak ada lain di rumah itu. Yang sudah Zuria anggap sahabatnya melainkan.
"Ma... Ma... Maksud Mommy... Vera?" Zuria menaikkan nada suara di akhir kata.
Clara mengangguk.
Kedua manik mata Zuria semakin membulat.
"Bagaimana bisa...Tunggu...Dengan siapa gadis itu menikah? Jangan bilang di jodohkan. Dan Vera terima saja?!" Zuria nyaris hampir berteriak tidak percaya dengan apa yang di pikirkannya.
Itu tidak mungkin. Vera menerima perjodohan dari orangtuanya. Atau mungkin dia sepatuh itu. Tapi ini menyangkut kisah seumur hidup. Ayolah! Aku saja rela selalu kena omel dan ocehan Clara dari pada menerima perjodohan, yang menurutku. Sangat gila.
"Kalian tidak sedang bertengkar bukan?" Pertanyaan Clara di sertai pijingan mata curiga ke Zuria. Membuat Zuria menatap Clara dengan tatapan. 'Mommy serius!'
Karna itu hal yang sangat jarang terjadi. Keduanya sudah seperti lem yang tidak bisa lepas. Kemarin malam saja mereka habis bertemu. Dan curhat segala macam hal tentangnya dan juga tentang perjodohan yang Clara atur.
"Oh ya. Mom! Belum menjawab, dengan siapa dia menikah dan darimana asal pria itu,"
Clara mendesah dan melanjutkan langkahnya ke pintu keluar.
"Kamu mengenalnya clair! Dia anak Mr. William, Kendrik William,"
Ctarr...
Seperti petir yang menyambar hidup seorang Zuria.
"Mommy dengar Vera sudah hamil 2 bulan. Karna itu tanggal pernikahan di percepat. Kamu serius tidak tahu?"
Prang....
Dunia Zuria seperti hancur sudah.
Kendrik William.
Pria impian. Kekasih idamannya. Pria yang ia cintai. Pria yang ia kagumi. Cinta yang tidak kesampaian untuk ia utarakan. Di sebabkan status mereka sebagai sahabat.
Lalu sekarang apa.
Menikah.
Trang...
Bagaikan ribuan pisau yang mengiris dan menghujam jantungnya. Begitu kata menikah dengan Vera terlintas di kepalanya.
Pria yang di sukainya sekaligus cinta pertamanya akan menikah. Dan dengan siapa. Sepupunya Sekaligus sahabat yang sudah bersama sama dengannya dari duduk di bangku TK sampai sekarang.
Dan, belum habis rasa terkejut sekaligus shoknya. Zuria mendengar kata menikah dan itu dengan sepupunya. Kata hamil 2 bulan. Terlintas di pikiran nya. Kini sukses membuat jantung Zuria seketika berhenti berdetak.
Zuria tersenyum sembari mendengus bodoh ke dirinya sendiri. Apa yang ia lakukan selama ini. Sehingga tidak tahu hubungan diam diam mereka. Atau ia yang selalu asik dengan curhatannya ketika mereka bertemu.
Hahhh...
Desah Zuria tidak percaya.
"Oh ya Clair! Mommy sudah memesan bajumu untuk nanti malam. Nanti sore akan sampai. Pakailah itu untuk makan malam nanti dan percantikkan dirimu. Kamu mendengar mommy Clair?" Clara berbalik menatap putrinya. Saat merasakan aura kesunyian di sekitar nya.
Tentu saja itu membuat dia terluka. Sepupunya lebih dulu menikah dengan dirinya. Namun yang paling penting. Dia tidak punya teman lagi untuk dia ajak bermain tiba tiba. Itulah putrinya. Meski sudah besar dan masuk usia dewasa. Tapi sifatnya masih seperti anak kecil. Atau ia yang terlalu memanjakannya.
Clara menggeleng lemah.
Zuria masih dalam lamunanya. Dia menggeleng dengan rasa masih tidak percaya nya.
2 bulan. 2 bulan hamil. Lalu, sejak kapan keduanya berhubungan? Selama ini yang ia tahu vera sama seperti dirinya tidak memiliki kekasih. Dia pernah bilang kalau dia menyukai dan mencintai seorang pria. Dan sampai beberapa detik kebelakang. Ia belum tahu dan vera tidak pernah memberitahunya siapa pria itu meski ia terus memaksa. Vera hanya selalu mengalihkan pembicaraan ke hal lain. Dan hari ini. Ia sudah tahu siapa pria itu. Tapi... Ia tidak merasa senang.
Perasaan di khianati. Entah kenapa itu muncul tiba tiba di benaknya. Padahal ia sadar. Vera tidak mungkin mengkhianati nya. Lalu apa yang sebenarnya terjadi.
"Claira? Kamu mendengar mommy!" Panggil Clara dari arah pintu.
__ADS_1
Melihat tidak ada jawaban dan tatapan Zuria yang kosong ke depan. Clara melangkah mendekati putrinya.
Sampai di hadapan Zuria. Clara malah di kejutkan oleh hal lain.
"Apa ini Clair?!" Tanyanya sembari melihat dan meneliti bekas merah di leher dan pundak Zuria dengan sikap agresif seorang ibu.
Zuria yang sudah kembali dari lamunanya. Segera menutupi dengan menaikkan kerah bajunya menutupi bahunya yang bertelanjang.
"Bukan apa apa mom? Claira mandi dulu dan bersiap siap." Jawabnya melanjutkan langkahnya yang tertunda ke kamar mandi.
"Berhenti di sana Claira. Jangan mengalihkan pertanyaan Mommy," Berang Clara menatap punggung Zuria yang hampir sampai di kamar mandi.
Mendesah. Zuria kembali berbalik.
"Clair bisa terlamba..."
"Jawab Mommy Claira. Pria sialan mana yang melakukan itu padamu?"
Lagi lagi Zuria hanya mendesah.
'Aku juga sedang bertanya tanya Mom! Pria asal mana yang berani menyentuh kulitku,'
"Kamu mendengar Mommy Clair?!"
Zuria memejamkan matanya lelah.
"ya!" Jawabnya di sertai anggukan patuh.
"Lalu kenapa kamu tidak menjawab Mommy,"
Zuria kembali berbalik melanjutkan langkahnya ke kamar mandi.
"Sudahlah mom. Claira juga tidak tahu siapa dia." Ujar Zuria sembari melangkah.
"Apa?!" Teriak Clara tidak percaya.
"Apa maksudmu tidak kenal. Tunggu... Claira? " Panggil Clara melangkah mendekati putrinya.
"Kamu tidak sedang di lecehkan bukan?!"
Kedua bola mata Zuria seketika saja membulat lebar.
'Di lecehkan. Ya. Kenapa tadi aku tidak teringat dengan kata ini,'
"Clair? Kamu mendengar Mommy kan?!" Panggil Clara yang kemarahan sudah di ambang batas.
Zuria menatap Clara dengan tatapan datar. Tunggu...
'Di lecehkan? Apa ini yang di sebut dengan di lecehkan? Tapi aku rasa ini lebih dari kata di lecehkan,'
'Tunggu....' Sentak Zuria saat ia baru sadar sesuatu.
Zuria menatap Clara dengan manik matanya yang menimpali atas apa yang terjadi padanya. Ini semua salah Mommy.
Tentu saja. Jika mommynya tidak mengirim orang untuk menangkapnya. Maka ini tidak akan ada.
Namun ucapannya tertelan karna mommynya yang terus bicara dan Zuria hanya bisa mendesah.
"Kamu di lecehkan dan kamu tidak melawan? Kemana ilmu bela diri yang sudah daddy dan grandpamu ajari itu?" Teriaknya marah.
Zuria memutar bola matanya malas. Ia mau mencoba membela diri. Namun, lagi lagi Clara membuat mulut Zuria hanya terbuka tanpa di izinkan mengelurkan suara.
"Seharusnya kamu bisa menendang burungnya jika terdesak. Apa cara itu juga kamu lupa? "
Zuria memilih diam mendengar kan. 'Seandainya ia bisa' Batin Zuria.
"Dan juga, bukankah mommy selalu bilang untuk kamu selalu membawa pisau kecil kemana mana kamu pergi. Dan Di saat seperti itu kamu bisa menggunakannya," Oceh Clara tiada henti. Dan tidak ada yang bisa menghentikannya.
Zuria mengangguk angguk patuh mendengarkan. Namun, seperti angin lalu di telinga Zuria.
Ingin sekali ia beteriak mengatakan. 'ini semua salah Mommy'
Melawan? Di saat tubuhnya bahkan tidak bisa ia gerakkan. Belum juga detakan jantungnya yang bertalu talu di dalam sana karna ketakutan. Pisau? Dan ia akan sama dengan pria itu. Mafia sialan.
Zuria tersentak saat mendengar umpatan kasar yang keluar dari mulut Clara. Baru hari ini ia mendengar kata indah itu semenjak ia lahir kedunia ini. Dari mulut mommynya.
"Bajingan sialan. Berani sekali dia menikmati kulit putriku. Lihat saja. Aku akan membenamkannya ke laut afrika ketika tahu siapa dia," Geramnya marah.
'Ini Nyonya Aragaz? Serius?!'
Clara beralih menatap Zuria.
Zuria yang merasakan tatapan Mommynya padanya. Sontak saja andrenalin nya bekerja.
'Jangan bilang Mommy nya akan...'
"Dimana kejadian itu? Mommy yakin kamu tentu tahu. Mommy akan minta daddymu untuk mencari tahu dan tentu grandpamu akan turun tangan juga,"
'Oh tidak Mommy? Pria itu mafia. Mereka manusia yang harus kita jauhi.'
__ADS_1
Berurusan dengan mafia? Oh tidak mom.