Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 20


__ADS_3

Brum,


Tak,


Alya mematikan mesin motor dan menyerahkan kuncinya ke Xavier begitu dirinya turun dari motor.


Xavier segera naik ke motor nya setelah mengambil kunci. Memasangnya kembali ke sana. Setelah itu memakai helm yang di pakai kakaknya tadi.


"Kamu tidak mau mampir dulu?" ajak Alya yang mengetahui kalau Xavier marah padanya.


Xavier menaikkan kaca helmnya melihat kakaknya.


"Xavier tidak akan tinggal diam. Jika hal seperti hari ini terjadi sekali lagi. Xavier benar benar akan mencari tahu sendiri. Kakak tentu tahu, Xavier tentu akan menemukan nya dan membuat perhitungan saat itu juga."


Alya mematung terdiam mendengar ucapan Xavier. Yang nyaris mengancam nya. Tunggu,


Brum,


Xavier melenggang pergi. Melaju cepat motornya membelah kota Antalya yang begitu ramai.


Mengancam! bocah itu,


Alya yang mau membuka mulut mau bicara. Terhenti karna Xavier berlalu begitu saja di depannya. Setelah dia melempar ultimatum padanya. Dan bahkan bocah itu tidak pamit juga.


Alya mendesah lalu menggelengkan kepalanya frustasi.


"Argh," pekik terkejut Alya saat berbalik dan di depan nya sudah berdiri Liana dengan kedua matanya yang melotot.


"Alya! kamu baik baik saja kan? kemana saja kamu? kamu tidak masuk kerja, aku kira kamu kenapa napa?" Rintih Liana yang nyaris rengekan. Sambil menggoyang goyangkan tubuh Alya.


Alya mendesah lelah.


'Apalagi ini!'


Alya melihat malas ke belakang Liana dan saat itu kedua manik matanya melebar.


'Rendra!'


Alya kembali melihat Liana di samping nya. Yang ternyata wanita ini menangis.


"Hei! Liana! Aku baik baik saja! lihatlah, aku baik baik saja kan? aku tidak kenapa napa? Xavier ..."


"Aku menghubungi handphone mu beberapa kali! Dan saat panggilan tersambung. yang mengangkat nya pria. Lalu dia matikan, aku panik Alya! aku ketakutan kamu kenapa napa!"


Alya sontak saja mencari handphone nya di setiap saku celananya. Hingga dirinya baru ingat, lupa mengembalikan jaket Xavier.


Alya dengan cepat mencari alasan untuk menenangkan sahabatnya. Ia bahkan sendiri tidak tahu di mana handphone nya.


"Sepertinya handphone ku hilang," Alya benar benar tidak tahu.


"Dan kamu baru sadar? kemana saja kamu seharian ini?" itu adalah pertanyaan sarkas seorang Kendrick, temannya sekaligus sahabatnya juga.

__ADS_1


Alya menelan ludah nya karna gugup. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Mengatakan yang sejujurnya. Alya dengan cepat mengalihkan kedua matanya melihat ke Rendra yang berdiri dengan wajah datar dan dinginnya.


Kendrick yang sudah berdiri di belakang Liana. Menatap meneliti penampilan Alya. Lalu dirinya maju selangkah melihat meneliti jaket yang di pakai Alya.


"Ini punya Xavier. Kalian melihat Xavier tadi bukan! aku ke gunung dekat sini bersama dia. Katanya dia butuh latihan. Jadi aku ikut saja. Maaf tidak memberitahu," jelas Alya yang sama sekali tidak berbohong bukan. Karna nyatanya memang ia dan Xavier berada di gunung.


Kendrick menghela nafas dengan kedua matanya menatap wajah Alya. Mencari kebohongan di sana. Sedikit lama melihat Alya. Kendrick menarik nafas dan mengatakan ke Liana. Mau balik duluan. Karna ada pekerjaan yang harus dia bereskan malam ini juga. Karna besok pagi pagi dirinya ada meeting dengan tim perencanaan.


Kendrick bicara dengan Rendra sebentar sebelum melenggang dari sana.


Liana merespon Kendrick dengan anggukan kepala. Sedang kedua matanya masih menatap meneliti wajah Alya. Mencari kebohongan di sana.


Alya tersenyum kuda.


"Maaf! pekerjaan ku tentu menumpuk banyak,"


Plak,


"Akh," Rintih Alya saat lengannya di pukul Liana.


"Jangan pura pura. Aku tahu itu tidak sakit," kesal Liana melihat Alya.


Alya tertawa kecil. Namun tawanya hilang saat melihat Rendra melangkah ke arahnya.


Rendra berdiri tepat di hadapan Alya. Hanya selangkah lagi, maka jarak mereka tidak ada.


Keduanya saling bertatapan dengan perasaan dan pikiran keduanya yang berbeda beda.


Melihat hal tersebut. Liana sontak menjadi canggung dan salah tingkah. Dan al hasil,


Saat Alya mengalihkan matanya melihat Liana. Saat itu juga Liana sudah melenggang dari hadapan Alya.


Mereka sekarang berdiri tepat di depan gedung apartemen. Tempat kediaman Alya tinggal.


Alya kembali melihat Rendra. Membalas tatapan pria itu, yang dingin dan juga datar. Tapi juga menjadi tatapan yang sangat ia rindukan hari ini.


Satu hari tidak melihatnya, sungguh seperti sudah berbulan bulan lamanya. Padahal kemarin kemarin ia selalu menghindar.


Rendra mendekat menepis jarak mereka dan berdiri tepat di hadapan Alya.


Sontak hal itu membuat jantung Alya berdegup kencang.


Rendra menurunkan tubuhnya. Dimana wajahnya tepat berada di depan wajah Alya.


Dan Alya melihat menikmati itu. Dengan debaran jantungnya yang bertalu talu di dalam sana. Melihat menatap wajah Rendra yang begitu dekat. Layaknya hubungan mereka masih seperti dulu. Sebelum pria ini mendadak menjauhi nya dan bahkan. Dia lari ke negara ini.


Saat Rendra menjulurkan satu tangannya ke wajah Alya. Alya langsung memejamkan kedua matanya.


Alya tahu Rendra bukan mau menciumnya atau hal romantis lain, tapi. Tapi tunggu,


Rendra mengelus sudut bibir Alya yang terluka menggunakan jempolnya. Dimana bekas darah masih membekas di sana.

__ADS_1


Alya kembali membuka kedua matanya dan menatap Rendra gugup dan ketakutan. Alya memutar otak mencari jawaban, yang meyakinkan Rendra.


Pria ini tidak semudah Liana dan Kendrick untuk ia bohongi. Tapi dia,


"Apa perkembangan Xavier meningkat? Sehingga membuat mu terluka,"


Rendra melihat Alya yang mematung terkejut. Mungkin karna ia tiba tiba mendekat.


"Maaf! Aku hanya..."


Brukh,


Alya langsung melempar tubuhnya memeluk pria di hadapannya.


Diam diam Alya menghela nafas lega. Ia pikir dirinya akan ketahuan. Oh tolonglah, jantungku hampir copot tadi.


Jika pria ini tahu. Besok tentu aku tidak akan ada di sini lagi.


"Aku merindukan kakak seperti ini. Yang mengkhawatirkan ku, menanyakan ke adaan ku, sudah makan apa belum. Kakak menjauhi ku selama ini,"


Rendra terdiam mematung.


Bukan tanpa alasan ia melakukan itu. Meskipun itu sangat sulit dan menyakitkan baginya. Tapi ia harus melakukan itu.


"Cepat atau lambat ke adaan begitu juga akan terjadi Alya!" maksud dari ucapan Rendra adalah mereka yang akan menjauh satu sama lain.


Alya melepaskan pelukannya dan melihat menatap wajah Rendra. Walau hanya di sinari cahaya lampu fasilitas apartemen di bagian depan gedung. Alya bisa melihat jelas wajah pria yang di cintainya sekarang.


Rendra ikut menatap wajah Alya dengan menurunkan pandangan nya. Dimana tinggi Alya sebatas dagunya.


Sadar kalau Rendra sudah memiliki kekasih. Atau Rendra sudah menjadi milik Calia. Alya melangkah menjauh dari Rendra. Dan menatap pria tersebut dari jarak 2 langkah.


"Aku hanya merindukan hari hari itu," Alya membuang wajahnya ke samping tidak mau melihat Rendra. Bisa bisa ia menangis di sini.


Nyatanya pria ini mencintai wanita lain.


Ia pikir semua akan berjalan dengan lancar seperti angan angan dan keinginan nya. Namun siapa yang tahu, pria ini tidak mencintai nya. Itu hal yang paling sulit, hal yang tidak akan pernah bisa ia ubah. Hati seseorang,


❤️❤️❤️❤️❤️


Sebuah kamar dengan fasilitas bak hotel mewah.


Sofa panjang di kedua sisi ranjang. Dan Satu ranjang dengan ukuran kecil, Double Bed.


Terlihat satu pasangan di sana. Yang sedang beradu kemesraan dan saling memuaskan satu sama lain.


Di mana pakaian keduanya tidak bisa di katakan masih utuh.


Reyyan yang hanya tinggal celana. Sedang wanita di bawahnya yang sudah acak acakan di buat Reyyan.


Tidak ada yang bisa lari dan menjauh dari sentuhan seorang Reyyan Ferdinand. Dia handal dan sangat baik dalam melakukan hal itu. Dia si penakluk gairah wanita,

__ADS_1


Suara decapan dan erangan kontras terdengar di kamar tersebut.


Satu tangan Reyyan yang lihai membelai setiap kulit Zuria. Membuat Zuria semakin mengerang dan menginginkan lebih.


__ADS_2