
"Ada apa ya?" tanya Rendra begitu berada di samping Alya. Melihat menatap Arkan penuh ingin tahu.
Alya yang kebingungan dengan situasi sekarang. Melihat ke Rendra sebelum kembali melihat ke pria muda di hadapan nya. Umur dia mungkin di bawah nya sedikit.
Pria yang bernama Arkan sontak melihat ke Rendra. Dan semakin terkejut Arkan. Saat dirinya mengenali siapa Rendra.
Arkan melihat Rendra lalu melihat wanita di samping Rendra, Alya. Yang baru ia ketahui namanya dari karyawan perusahan Gulfa Emerald.
Ya, setelah melihat wanita itu, Alya. Selamat bahkan dia terlihat baik baik saja, tidak mempunyai masalah apapun. Terutama kejiwaan, seperti wanita wanita lain korban penculikan musuh Tuannya. Untuk di jadikan bahan pengancam Tuan nya. Kondisi mereka tidak baik baik saja.
Tapi Alya selamat dan baik baik saja. Dan yang lebih membuat nya terkejut adalah. Dia bisa menghabisi mereka semua. Bahkan sampai sekarang yang di hajar wanita ini belum juga pada siuman.
Tentu darah ke ingin tahuannya bangkit seketika untuk mencari tahu. Siapa wanita ini, di mana dia tinggal dan siapa kedua orangtuanya.
Tapi yang ia temukan dari pencarian nya adalah. Cuma tempat tinggalnya dan tempat kerjanya di sini. Sedangkan yang lain, ini menjadi keanehan baginya. Yang lain sama sekali tidak ada, seperti seseorang menutup informasi lebih detail. Siapa wanita ini sebenarnya,
Ia bahkan tidak tidur malam itu saat mencari tahu mengenai wanita ini. Tapi berapa kali pun ia terus mencoba. Hasilnya akan tetap sama.
Namanya Alya, bekerja di perusahaan Tuan, dan tinggal di apartemen biasa. Lain semua kosong. Bahkan yang lebih aneh, ia tidak pernah menemui. Ada pria ini di kehidupan Alya. Lalu, siapa dia
"Maaf! saya hanya mau bicara dengan Nona Alya sendiri,"
Rendra sontak tersentak terkejut dengan Arkan Arkelic. Yang memanggil nama Alya. Rendra menoleh melihat Alya sekilas sebelum kembali melihat Arkan di depannya.
Raut wajah Rendra langsung berubah. Di mana tadi dirinya bersikap tenang dan santai.
"Ke amanan dia tugas ku sekarang. Anda tentu sudah mengerti. Jadi jika ada yang mau anda sampaikan. Sampaikan di hadapan saya sekarang, kalau tidak lupakan," Rendra menatap datar Arkan di hadapan nya. Yang seperti nya terkejut dengan jawaban nya.
Rendra mengatakan itu. Karna Rendra yakin. Pria ini ke sini tentu berhubungan dengan penculikan itu. Dan tentu dia ke sini karna di suruh oleh Reyyan Ferdinand. Dan ia tidak akan membiarkan itu.
Tapi yang membuatnya marah sekarang adalah pria ini sudah mencari tahu mengenai Alya. Pertanyaannya, sejauh apa sudah pria ini mencari tahu mengenai Alya.
Diam diam Rendra mengepalkan kedua buku jarinya.
Mencari tahu seseorang itu sudah sesuatu perbuatan yang salah. Dan ia bisa saja melaporkan pria ini ke polisi karna privasi. Tapi mengingat keributan mungkin saja bisa terjadi melebihi dari ini. Bahkan bisa mungkin ke dua keluarga ini akan berperang satu sama lain.
__ADS_1
Rendra memilih mengendalikan emosinya untuk tidak mencekik leher pria ini. Apalagi ini di hadapan Alya.
Arkan tersentak terkejut mendengar ucapan Rendra. Pria ini tahu, ia mencaritahu tentang wanita ini.
Kalau begitu,
"CEO..."
"Alya! tunggu di mobil," Rendra memanggil Alya dan memerintahkan Alya untuk masuk ke dalam mobil.
Alya yang sudah bingung semakin di buat kebingungan oleh Rendra di samping nya.
'Memang ada apa sih? Apa ada yang tidak boleh aku dengar? tapi pria ini tadi...'
"Alya!"
Alya seketika tersentak dari lamunannya. Saat mendengar Rendra memanggil namanya.
Menarik nafas sembari melihat meneliti pria yang tidak ia ketahui siapa. Tapi dia mengetahui namanya. Alya berjalan ke mobil dengan tentengan tas kecil warna hitam di tangan kanannya.
"Bisa anda katakan pada saya! ada keperluan apa CEO Reyyan Ferdinand ingin mengajak bertemu,"
Arkan menarik nafas bersikap tenang. Layaknya seorang sekretaris Reyyan Ferdinand. Yang sudah bekerja pada pria itu 6 tahun lebih.
Mengingat pria ini menyebutkan nama Tuan. Tentu dia sudah mengetahui siapa ia sebenarnya.
"Sebenarnya bukan masalah yang penting Ini hanya menyangkut..."
"Penculikan dan Alya selamat tidak seperti wanita lain," Rendra memotong ucapan Arkan.
Jika di bandingkan posisi keduanya. Maka Arkan lah yang lebih tinggi posisinya di The Emerald Group Company dari pada Rendra. Yang perusahaan mereka, tempat Rendra bekerja. Baru saja bergabung ke Group Emerald dan juga masuk ke dalam Flederick Group.
Tapi di sini Rendra yang sedang menahan emosinya.
Arkan tersentak terkejut tapi dia masih bersikap tenang.
__ADS_1
Dia mengetahui ini? dari mana dia tahu. Hanya sebagian orang orang dalam Flederick Group yang mengetahui tentang ini. Yang artinya, hal itu menjadi rahasia dalam Flederick Group.
"Kembali lah dan sampaikan ke CEO Reyyan Ferdinand kalau Alya tidak akan menemui nya. Masalah ini cukup sampai di sini dan saya harap jangan di perpanjang lagi. Akan semakin berbahaya bagi Alya. Jika musuh Reyyan Ferdinand melihat ke bersamaan mereka lagi," Rendra berucap tenang. Berusaha bersikap tenang,
Arkan menaikkan tatapannya menatap melihat Rendra di hadapan nya. Setelah dirinya menarik nafas.
"Maaf CFO Rendra Armagan Mehr. Saya harus mendengarkan langsung dari Nona Alya jawabannya. Ini tugas saya dan saya harap anda tidak menghambat pekerjaan saya," beritahu Arkan dengan menekan posisi Rendra di hadapan nya.
"Saya memberitahu ini karna masih menghargai CEO Reyyan Ferdinand sebagai atasan saya. Karna itu, seperti anda menjalankan tugas anda. Begitu juga saya menjalankan tugas saya sendiri. Jadi, saya mewakili Alya. Dia tidak bisa menemui CEO Reyyan Ferdinand. Kalau begitu, saya permisi." Rendra menunduk kan kepalanya di hadapan Arkan. Karna mengingat posisinya dia, yang di bawah Arkan. Meski jika di lihat dari umur. Maka ia yakin, ia lah yang lebih tua dari Arkan.
Rendra melangkah ke mobilnya dan melihat Alya dari kaca mobil bagian depan.
Rendra menghela nafas.
Membuka pintu mobil dan masuk ke dalamnya. Meninggalkan Arkan yang masih berdiri di tempatnya tadi.
Dari spion samping nya. Rendra bisa melihat Arkan masih berdiri di sana dan melihat punggung mobil mereka.
"Kamu kenal pria itu? seperti nya dia sangat muda," tanya Alya dengan kepalanya masih melihat ke belakang melihat Arkan.
"Umurnya di bawah mu," jawab Rendra yang sebenarnya sama sekali tidak menjawab pertanyaan Alya.
Alya menoleh melihat Rendra di samping nya yang sedang menyetir.
Dengan anggukan kepalanya membenarkan ucapan Rendra. Alya bicara,
"Tentu aku tahu. Bukankah aku sudah mengatakan nya tadi. Dia sangat muda. Tapi, siapa dia? seperti nya kamu mengenalnya,"
Rendra mendengus tidak percaya dengan panggilan Alya. Sesekali dia akan memanggil nya kak, dan sesekali akan menjadi Rendra atau kamu. Karna saat itu, dia sedang kesal padanya. Tentu masalah umur,
"Dia sekretaris pribadi pria yang kamu cari masalah,"
Mulut Alya sontak terbuka lebar. Di sertai kedua matanya ikut melebar karna terkejut.
"Maksudmu... Reyyan Zeki Ferdinand!"
__ADS_1
Rendra dengan malas dan berwajah datar menoleh melihat Alya sekilas. Sebelum kembali melihat ke depan.