Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 44


__ADS_3

Hoodie hitam, jeans hitam, sepatu hitam, rambut terikat ke belakang. Lengkap sudah penampilan penyamaran seorang Alya.


Jam sudah menunjukkan pukul 20:45.


Di mana sebentar lagi, waktu Rendra pulang kerja.


Dan sebelum Rendra pulang, berada di sini. Ia harus keluar lebih dulu. Jika tidak, pria itu tidak akan membiarkan nya pergi. Sama seperti Kendrick tadi. Jika ia tidak memaksa, dan pura pura istirahat karna lelah dan ngantuk. Maka pria itu, tidak akan pernah pergi.


Ia harus menemui Reyyan Ferdinand. Seperti yang pria itu inginkan darinya. Datang menemui nya langsung, dengan kedua kakinya.


Dan ya, ini tidak akan terjadi. Jika Rendra tidak menolak ajakan bertemu itu.


Tapi di segi lain ia juga tidak menyalakan Rendra. Karna apa, jika yang pertama menjawab ajakan itu di hadapan sekretaris pria itu. Ia akan tetap melakukan hal yang sama, menolak. Tapi siapa yang tahu. Masalahnya dan masalah keuangan, bisa berbarengan begini.


Alya menutup pintu apartemen Rendra. Berbalik melangkah ke arah lift dan masuk ke dalamnya, begitu pintu lift terbuka.


Ting


Itulah suaranya.


Alya masuk ke dalam setelah menarik nafas. Dan berdiri tegak di dalam sana, hingga pintu lift kembali tertutup.


Lantai demi lantai Alya tunggu di dalam lift, hingga silih berganti dan membawanya menuju lantai yang Alya inginkan. Lobby apartemen.


Terlihat sepi, tiada manusia satu pun.


Mungkin karna gedung ini adalah tempat yang sangat privasi. Jadinya, hanya penghuni unit di sini yang terlihat batang hidung mereka di sini. Dan, jika mereka belum pulang kerja atau tidak turun ke bawah. Jadinya akan seperti ini, sepi seperti tiada berpenghuni.


Pintu dua berdaun kaca, Alya melewati nya.


Sampai di luar, lebih tepat di parkiran depan gedung apartemen. Alya di kejutkan dengan kehadiran seseorang di sana.


Lebih tepat, sedang menunggu nya bukan.


Terlihat dari pria itu, yang langsung melangkah mendekat ke arahnya. Begitu melihat ia keluar dari lobby.


Kedua alis Alya menyatu melihat pria di hadapannya. Pria yang ia lihat pagi tadi.


Pria yang Rendra katakan, sekretaris pribadi Reyyan Ferdinand.


Deg


Entah kenapa, jantungnya berdetak tidak jelas. Apa karna ia menyebut nama pria itu, atau memikirkan pria itu. Aku tidak tahu, tapi.


Pria ini mencarinya lagi, untuk apa. Apa seorang Reyyan Ferdinand belum meyerah, setelah di tolak oleh Rendra. Atau ia yang salah menebak pria itu. pria dengan ke egoisan dan harga yang sangat tinggi.


'Apa yang terjadi dengannya? atau... '


"Nona Alya..."


Alya tersentak sadar dari pikiran nya. Karna panggilan pria di hadapannya.


Alya melihat ingin tahu, kenapa pria itu di sini. Apa tebakannya benar,

__ADS_1


Arghhh


Suara teriakan kesakitan terdengar. Yang membuat Alya dan juga Arkan, sontak melihat ke arah tersebut.


Di mana detik itu juga. Kedua bola mata Alya dan juga Arkan membulat sempurna.


Di sana, sekitar 5 meter dari jarak Alya dan Arkan berdiri.


Terlihat hampir 25 pria di sana. Sedang mengadu skill bertarung mereka. Atau lebih tepat, saling ingin menghajar satu sama lain.


"Apa itu orang orang anda, pak sekretaris CEO?" tanya Alya di mana kedua matanya, masih melihat pertarungan pria di hadapannya.


Arkan menoleh melihat Alya sesaat, sebelum kembali melihat ke depannya.


"Sebagian ya. Tapi kenapa..." ucapan Arkan terhenti saat ia baru menyadari. Kenapa para pria itu, menyerang anak buah Tuan nya.


Alya yang sudah mengetahui jawabannya. Memilih menarik nafas.


"Ini tidak bagus. Nona Alya! tolong ikuti saya ke arah sini. Anda bisa berada dalam bahay..." lagi lagi ucapan Arkan terputus, saat dirinya berbalik dan mendapati 3 pria berbadan besar sedang melangkah ke arah mereka.


Arkan menelan ludahnya dengan susah payah.


Alya yang melihat pria di samping nya berhenti bicara. Sontak Alya menoleh melihat pria tersebut. Di mana tadi Alya sedang melihat menikmati pertarungan para pria dihadapannya.


Menyadari ada keanehan. Alya seketika berbalik dan mengikuti pandangan Arkan. Detik itu juga, kedua mata Alya mematung di tempat.


"Apa ini? lagi?" ujar Alya lelah sekaligus bosan.


Arkan yang berdiri di samping Alya. Sontak menoleh melihat Alya. Saat dengan santai Alya melempar kalimat tersebut. Di mana jika wanita lain, tentu akan-


Alya melihat ke samping nya. Di mana sekretaris Reyyan Ferdinand, sedang gemetar ketakutan.


Alya mendesah dan berujar malas dan datar.


"Bukankah pemandangan begini sudah biasa untuk anda! sebagai seorang sekretaris Reyyan Ferdinand,"


Kedua bola mata Arkan sontak membulat lebar. Saat mendengar panggilan wanita di samping nya, untuk Tuannya. Yang seperti nya, sangat tidak wajar. Terkecuali, wanita ini sudah mengenali Tuan nya.


Melihat tidak ada jawaban. Alya menoleh sekilas melihat Arkan. Sebelum kemudian melangkah mendekati tiga pria, yang berdiri di hadapan nya.


Menarik nafas sekilas sebelum Alya mengajukan pertanyaan. Setelah berdiri tepat di hadapan satu pria dari tiga pria lain di sana. Yang Alya simpulkan, dia yang menduduki posisi paling atas.


"Boleh saya tahu, keperluan anda?" tanyanya santai.


Arkan yang sudah berdiri di belakang Alya. Yang nyaris seperti bersembunyi di balik punggung Alya. Melihat menatap pria di hadapan Alya.


Sorot mata pria di hadapan Alya. Beralih melihat Arkan di belakang Alya.


"Ini hal yang tidak terduga. Aku yang sedang memancing, berharap bisa menangkap satu ikan saja. Tapi siapa duga, aku malah mendapatkan dua ikan. Bukankah ini keberuntungan yang tidak kita ketahui?"


"Nona Alya! bagaimana kalau kita lari saja?" usul Arkan berbisik di samping Alya.


Alya menoleh melihat Arkan sekilas. Sebelum kemudian Alya tersenyum dan di susul kekehan gelinya.

__ADS_1


Deg


Arkan sontak melihat Alya dengan kedua matanya yang membulat.


'Wanita ini. Kenapa bisa semirip, Tuan nya?'


"Entahlah! aku hanya berpikir kalian akan sial!" ucap Alya, yang sengaja memancing kemarahan pria di hadapannya.


"A-apa!" pria tersebut tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Lama mencerna ucapan Alya. Yang akhirnya pria tersebut meledakkan tawanya.


Sedang Alya, masa bodoh dengan tawa pria di hadapannya.


Dan Arkan, semakin gemetar ketakutan.


"Tenang kan dirimu. Jangan mencoba untuk lari atau melawan. Ikuti saja aku," bisik Alya menenangkan Arkan, yang wajahnya semakin pucat.


"Ya? tapi... Apa anda tahu? mereka orang orang yang sangat berbahaya," bisik Arkan lagi. Yang semakin mendekat kan dirinya di punggung Alya, bersembunyi.


Prok


Prok


Pria di hadapan Alya bertepuk tangan sendiri, entah merayakan apa.


Alya menarik nafas karna benar benar merasa bosan.


"Bukankah, atasan anda itu yang lebih berbahaya? dari pria mereka," Alya menjawab Arkan..


"Ya! apa?" suara terkejut Arkan. Dan lagi lagi, ada keanehan dengan Alya dan Tuannya.


"Kalian benar benar sangat cocok dan serasi wanita! sama sama angkuh dan sombong. Apa kamu tidak lihat situasi mu sekarang, wanita? tapi lain hal, jika tunangan mu itu datang dan menyelamatkan mu,"


Alya menghela nafas lelah. Itu lagi!


Tapi, jika ia terus mengundur waktu, maka Rendra akan pulang.


"Tidak perlu. Aku sendiri bisa mengurus kalian dengan baik," jawab Alya yang sontak memancing emosi pria di hadapannya.


Alya menarik nafas dan seketika mundur saat melihat wajah marah pria di hadapannya.


"Haruskah kita melarikan diri?" tanya Alya ke Arkan, yang ikut mundur.


"Apa?" Arkan nyaris mengira salah dengar. Tapi tidak, pendengaran telinganya adalah yang terbaik.


"Tadi anda bilang anda bisa mengatasi sendiri! dan menyuruh ku mengikuti anda," lutut Arkan nyaris lemas dan jatuh. Jika Alya tidak memeganginya.


"Aku berubah pikiran. Kamu benar, mereka sangat berbahaya,"


Arkan sungguh bisa pingsan kapan saja sekarang. Otak dan tubuhnya, benar benar sudah berhenti bekerja. Jabatannya yang tinggi sebagai sekretaris CEO, benar benar tidak di perlukan di waktu sekarang.


"Sungguh aku akan mati malam ini,"

__ADS_1


Mendengar ucapan Arkan, yang seperti gumaman. Alya terkekeh geli.


__ADS_2