Pewaris Kerajaan

Pewaris Kerajaan
Bab 38


__ADS_3

Brukh


"Akh," suara teriakan kesakitan yang keluar dari mulut seorang pria. Yang umurnya bisa di katakan tidak muda lagi. Saat satu tangan menjambak kasar rambut nya. Sehingga membuat pria dengan kulit hitam dan gemuk tersebut. Mendongak menatap ke atas dengan terpaksa.


"Menyepelekan hal kecil adalah suatu kesalahan itu sendiri. Dan beraninya kalian bermain main di arena ku," desis Reyyan kejam. Tepat di hadapan wajah pria paruh baya tersebut.


Sedang beberapa pria lain di sana. Yang sudah babak belur, luka luka dan lebam di seluruh tubuh mereka. Duduk menumpu lutut di lantai. Meminta kesempatan dari seorang Reyyan Ferdinand.


Tapi yang namanya seorang Reyyan Ferdinand. Tidak kenal dengan kata ampun atau kesempatan kedua.


Sekali melakukan kesalahan dengannya. Maka detik itu juga kehidupan nyamannya tidak ada lagi.


Brukh,


Reyyan menarik kuat kulit kepala pria tersebut dan melempar ke belakang dengan kejam. Hingga suara teriakan kesakitan kembali menghiasi ruangan tersebut.


Yang lain di mana sudah mendapatkan giliran mereka tadi. Gemetaran di sekujur tubuh mereka masih terlihat jelas. Bahkan dalam ke adaan duduk bersimpuh.


Saling melihat tanpa ada rasa saling khawatir atau mencemaskan. Hanya berpikir nasib mereka masing masing dan berharap bisa lolos dari sini. Tanpa peduli yang lain.


Misalnya CEO mereka ini, Reyyan Ferdinand. Meminta mereka untuk mengembalikan semua uang perusahaan yang mereka ambil. Sungguh, mereka akan mengembalikan bahkan lebih dari itu. Asalkan, kengerian nama yang pernah mereka dengar. Tapi mereka tidak percaya. Tapi melihat


Reyyan menarik nafas dan menghelanya. Sembari melepaskan sarung tangan hitam di satu tangannya dan memberikan ke pria yang berdiri tegap di hadapan nya.


"Lempar mereka kegelapan malam," perintah nya ke ke dua pria di hadapannya.


Reyyan berjalan melewati mereka menuju ke pintu keluar.


Semua mata pria paruh baya di sana, yang berjumlah 9 orang. Melotot ngeri mendengar perintah itu.


Kegelapan malam. Itu adalah tempat hukuman yang tidak tahu kapan akhir. Atau istilah lain, jeruji besi yang gelap. Dengan kasus yang bertindih. Selama ini mereka hanya pernah mendengar. Tapi mereka sama sekali tidak mempercayai hal itu. Mana mungkin dia sampai melakukan hal kejam begitu. Tapi, dugaan mereka sangat sangat salah. Dia benar benar seperti julukan nya. Pria berdarah dingin dan kejam.


"Ya sir!" jawab 2 pria berbadan tegap tersebut sembari menunduk mematuhi perintah.


9 pria di sana. Otomatis berwajah panik. Apalagi saat melihat Reyyan yang mau melangkah keluar dari ruangan.


"Tidak Tuan! mohon ampuni saya Tuan! Beri saya kesempatan Tuan. Sekali saja Tuan, saya akan bayar lebih dari itu Tuan!" teriak memohon seorang pria paruh baya.


"Benar Tuan! Maafkan saya Tuan! saya tidak akan mengulangi nya lagi. Saya akan ganti rugi," ujar mereka dengan silih berganti.


Reyyan mengacuhkan mereka semua. Membuka pintu dan melangkah keluar dengan langkah lebar. Sedangkan raut wajahnya sama sekali tidak bisa di sebut ramah.


Ckleck


Pintu terbuka dan tertutup.


Arkan sudah berdiri di sana menunggu tuannya.

__ADS_1


"Tuan!" sapanya begitu melihat Reyyan.


"Bagaimana dengan berkas penahanan mereka," Reyyan berbicara sembari dirinya melangkah ke ruangan kerjanya. Yang juga berada di lantai 3 gedung tersebut.


"Semua sudah di kirim ke sana Tuan!"


"Baiklah, apa jadwalku selanjutnya."


Ckleck


Arkan membuka pintu untuk Reyyan dan begitu Reyyan masuk. Arkan menutup nya kembali. Dan kembali mengikuti langkah Reyyan dari belakang.


"Bertemu dengan Mr Willard Tuan!"


Langkah Reyyan seketika berhenti dan menoleh melihat Arkan di belakang.


"Bukankah aku sudah menyuruhmu. Untuk membatalkan jadwal itu!" Reyyan terdengar kesal.


Arkan yang mendapatkan tatapan tajam Reyyan. Seketika menundukkan kepalanya. Memilih melihat ke bawah.


"Maaf Tuan! Mr Willard terus menghubungi dan dia sudah berada di sini. Dan Presdir juga, meminta untuk di jadwalkan kembali,"


Reyyan mengerang frustasi dan kembali melanjutkan langkah nya.


❤️❤️❤️❤️❤️


Alya yang mau memasukkan sosis, yang sudah di potong potong kecil oleh Kendrick ke dalam mulut nya. Berhenti di udara dan menatap Kendrick sejenak. Berpikir maksud Kendrick.


"Maksud mu asisten nya membawa kabur uang?" tanyanya kembali dan kembali memasukkan sosis tadi ke dalam mulutnya.


Kendrick mengangguk membenarkan.


"Tapi, apa maksudmu dengan penggelapan tadi?" tanyanya yang masih belum tahu apapun.


"Kamu yang mendata, tidak melihat keanehan dalam data keuangan perusahaan?"


Alya berpikir tapi pikiran nya sama sekali tidak bisa ke sana.


"Apa maksudmu?" tanyanya yang sedikit menaikkan nada suaranya.


Kendrick menarik nafas.


"Nyatanya masalah nya tidak sesederhana itu Alya! itu bukan pencuri uang. Tapi penggelapan yang di sengaja, yang sudah di atur dengan rapi. Sayangnya CEO baru kita sudah mengetahui ini,"


Kedua bola mata Alya sontak membulat lebar.


"Aih... Kamu pasti bercanda. Tidak lucu sama sekali," ujar Alya yang sama sekali tidak percaya. Tapi, dia meragukan pemikiran nya.

__ADS_1


"Kamu tentu terkejut. Kamu juga ikut mendata," Kendrick menatap Alya dengan tenang.


Alya berhenti mengunyah makanannya dan melihat menatap Kendrick.


"Tidak mungkin,"


Kendrick mengedikkan bahunya. Seperti bukan apa apa bagi dia. Tapi tidak bagi Alya.


"Itu tidak mungkin! Bagaimana bisa?" Alya berusaha menepis kebenaran itu. Tapi otak dan pikiran nya sama sekali tidak sejalan. Yang lebih parah, kenapa ia tidak mengetahui.


Oh tidak, jika Rendra yang bertanggung jawab di sini. Maka aku,


Alya meletakkan garpu di tangan nya ke piring. Ia sama sekali tidak bernafsu untuk makan sekarang.


"Aku sangat salut dengan mu yang tidak tahu. Atau salut dengan Rendra yang tidak memberitahu mu? tapi ketahuilah, seharian ini. Perusahaan gembor dengan berita ini,"


Alya yang tadi menunduk dengan kedua tangannya menutup wajahnya. Kembali melihat Kendrick.


Mendengar ucapan Kendrick. Alya hanya bisa menghela nafas kasar.


Melindungi dengan tidak memberitahu. Dan yang ia tahu hanya pencurian uang, yang di lakukan asisten pribadi Rendra. Sama sekali tidak seserius ini.


"Aku bisa gila. Aku harus ke perusahaan sekarang. Antar aku ke sana Kendrick!" ucap Alya yang sudah menyudahi sarapan sekaligus makan siangnya. Dan berdiri dari duduknya,


Kendrick yang masih bersikap tenang dan santai melihat Alya yang panik.


"Ngapain?" tanyanya yang sama sekali tidak berniat mau bangun dari duduknya.


Alya yang mau melangkah ke kamarnya, berniat mau ganti baju dengan cepat. Menghentikan langkahnya menoleh melihat Kendrick dengan tatapan. 'kau bercanda!'


"Menemui Rendra! atau mau menyelesaikan masalah,"


Alya mendengus tidak percaya dengan pertanyaan pria hadapan nya ini.


Tapi tunggu,


"Kenapa kau terlihat sangat menikmati situasi ini? siapapun yang melihat bisa menjadi salah paham. Kamu bisa di curigai juga,"


"Itulah intinya Alya!"


"Jika terjadi masalah serius, tentu aku tidak akan sesantai ini. Kamu tahu!" Kendrick lagi lagi mengedikkan bahunya.


Entah kenapa, sedikit Alya bisa bernafas lega. Yang artinya, tidak ada masalah serius. Tapi bagaimana pun. Masalah ini memang serius. Tapi bagaimana bisa,


"Bagaimana bisa? apa maksudmu?"


Kendrick menarik nafas sebelum menjelaskan ke Alya. Apa yang sebenarnya terjadi.

__ADS_1


__ADS_2