
Alya sontak melangkah mundur saat 2 pria mendekat ke arahnya.
Semua dari mereka berjumlah 6. Dan 1 di antara mereka yang seperti nya memiliki jabatan tinggi atau atasan ke 5 pria di sana.
Saat Alya mengambil ancang ancang mau menyerang dua pria di hadapannya. Saat itu juga suara bel apartemen nya berbunyi. Yang artinya seseorang ke unitnya.
Semua melihat ke pintu tidak terkecuali dengan Alya.
'Liana?' batin Alya bertanya.
"Wahhh! apa ada pengganggu? Aku tidak suka ini!" ucap pria tersebut, yang nyaris seperti psikopat. Sembari dirinya melangkah ke pintu.
Unit apartemen nya bukanlah unit apartemen yang di golong dengan kata mewah. Yaitu bisa melihat siapa yang datang melalui layar interkom. Melainkan unit apartemen yang bisa di golongkan sederhana atau biasa. Dan terlebih juga sangat cocok dengan isi saldonya.
Alya menarik nafas melihat pria psikopat tersebut yang hampir mencapai pintu. Dan tanpa pikir panjang, ia meraih sesuatu yang dekat dengan dirinya. Dan melempar layaknya melempar lembing hingga mengenai sudut wajah pria tersebut dan mengeluarkan darah.
Prak,
Benda tersebut jatuh tepat di bawah kaki pria tersebut. Di mana dia memakai jaket kulit warna hitam sedangkan yang lain memakai bajo kaos dan celana jeans.
Dengan wajah marah pria psikopat itu berbalik melihat Alya. Seperti siap untuk menghancurkan wajah Alya sekarang juga.
"Ayo selesai kan dengan cepat. Aku mau istirahat," Ucap Alya dengan berdiri tenang. Sama sekali tidak terintimidasi dengan tatapan tajam psikopat tersebut.
Darah pertarungan nya benar benar bangkit sekarang.
"Apa yang kau katakan! Beraninya kau," geram marah pria tersebut.
Ting
Tong
Dan bel terus berbunyi.
"Ada kata kata, jangan pernah mengganggu singa yang lagi tidur. Apa kalian pernah mendengar ini?" Alya mencoba mengalihkan. Sepertinya memang harus kacau.
"Apa yang kau katakan!" Teriaknya marah.
Alya mengedikkan bahunya acuh tidak peduli.
Melihat hal tersebut semakin membuat darah psikopat tersebut naik.
"Akan ku pastikan wanita. Aku sendiri yang akan mematahkan lehermu begitu urusanku selesai dengan tunangan mu itu," geramnya marah.
Alya mendengus lelah.
Tunangan, tunangan dari mana coba.
"Apa yang kalian tunggu! tangkap dia dan bawa dia ke hadapan ku," Teriak nya berang ke bawahannya.
__ADS_1
Alya sontak melihat ke 2 pria di hadapannya. Dan dengan sigap bersikap waspada.
Ting
Tong
Alya menggeram.
"Ini benar benar mengganggu. Hei! buka pintunya dan bawa dia masuk ke sini," perintahnya ke satu pria di belakang nya. Yang sigap menerima perintah tersebut.
Melihat hal tersebut.
Alya segera menghentikan langkah pria yang hampir mencapai pintu. Dengan melepas handuk yang terlilit di kepalanya dan melemparnya ke wajah satu pria di hadapannya. Sedang satu pria lain, Alya sendiri menyerang menendang di bagian bawah perut pria tersebut hingga membuat pria tersebut jatuh terjungkal kebelakang.
Brakh,
Suara yang amat keras tersebut menghentikan langkah pria di pintu dan dia sontak melihat ke belakang.
Detik berikutnya, semua di sana mematung terkejut. Tidak terkecuali dengan pria psikopat itu.
"Aishhh, padahal aku baru mau istirahat tahu!" ucap Alya santai sembari dirinya menggulung kedua lengan bajunya. Dan berjalan ke arah lemari kecil, rak buku dan meraih sesuatu di sana.
Penjepit rambut.
Dengan santai Alya menjepit rambutnya yang masih basah, agar tidak berantakan. Dan terutama juga, tidak menghambat pergerakan nya.
Bahkan rambut bisa menjadi kelemahan seorang wanita, dalam bertarung jalanan begini.
Apa suara keras tadi terdengar keluar. Dan Liana mengetahui ada yang tidak beres.
Jika sampai pintu di buka dan Liana di bawa masuk. Semua akan sulit untuknya. Apalagi dalam bergerak.
Bayangan keduanya akan di bawa dan di sekap menyerangnya seketika. Namun, bukan itu yang ia khawatir kan. Melainkan Xavier yang sudah melempar ultimatum nya.
Ia tidak mau Xavier berurusan dengan Reyyan Ferdinand. Dia pria yang akan menandai lawannya jika di ganggu. Ia saja masih merinding ketika mengingat kembali.
Jika Alya sudah kembali bersiap. Maka beda dengan 6 pria di sana.
Mereka berdiri mematung menatap Alya. Masih kebingungan dengan apa yang baru saja mereka lihat.
Tidak terkecuali dengan pria psikopat itu yang ikut mematung kebingungan. Detik berikutnya dia tertawa sendiri. Entah karna apa,
Alis Alya menyatu melihat hal tersebut.
'Memang ada yang lucu?' dirinya bertanya tanya.
'See! dia benar benar gila,'
Prok
__ADS_1
Prok
Prok
'Hah!' Alya benar benar tidak mengerti dengan otak psikopat ini sekarang.
Menghentikan tawanya. Psikopat itu menepuk nepuk tangannya seperti sedang merayakan sesuatu.
Berjalan jalan di sekitar nya. Selanjutnya dia menduduki bokongnya di sofa dan menatap Alya, yang berdiri di hadapannya. Hanya berjarak 3 meter dari sofa.
Alya hanya menatap itu dengan malas dan jenuh.
"Dia benar benar mencari pasangan yang sama dengan dirinya. Apa pria itu yang mengajari mu cara menendang? ey! itu sangat kasar gadis!"
'See! dia benar benar psikopat gila,'
"Apa dia melatih mu dengan keras?" tanyanya yang tentu saja tidak akan mendapatkan jawaban Alya.
Alya menarik nafas melihat ke arah lain. Ia benar benar sudah bete sekarang.
"Kalian benar benar para b*** bodoh," umpat Alya karna sudah bosan.
"Apa!"
Alya kembali melihat psikopat di depannya.
"Jika aku katakan aku tidak punya hubungan apapun dengan pria yang kalian maksud itu. Apa kalian akan percaya?" ujar Alya yang sudah malas.
"Apa? ha ha ha," dan dia kembali tertawa.
Alya mendesah lelah.
'Lihat! ia sudah menduga. Reaksi pria itu akan seperti itu. Mereka tidak akan percaya,'
Alya menatap malas ke depannya. Apalagi saat psikopat tersebut bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke Alya. Berdiri di hadapan Alya, dengan jarak tidak sampai setengah meter. Dan Alya sama sekali tidak takut.
"Lalu hubungan kalian apa? Partner ranjang? ha ha ha,"
Ledakan tawanya kembali. Yang membuat Alya sangat jenuh dan malas sekaligus.
'Haruskah ia menghajar pria ini duluan?'
Alya melihat ke 5 pria lain. Yang terdiam menunggu perintah.
Detik berikutnya kedua mata Alya membulat lebar. Saat dirinya terkejut, karna mendapat serangan tiba tiba.
Di mana psikopat tersebut berbalik membelakangi Alya. Dengan gerakan cepat dia tiba tiba menyodorkan kakinya ke hadapan Alya, mau menendang Alya.
Alya yang sudah mahir dan sangat hafal gerakan pertarungan jalanan. Sontak menjauhkan tubuhnya dari incaran psikopat tersebut. Dengan membawa tubuhnya memutar dan pindah ke sisi lain.
__ADS_1
Melihat hal tersebut. Psikopat tersebut tidak memberi Alya waktu beristirahat sejenak atau berpikir. Melainkan dirinya terus menyerang, yang selalu bisa di tepis oleh Alya.