
"Ini berkas data yang Tuan minta. Saya menemukan banyak kejanggalan di sana,"
Arkan mundur selangkah dan berdiri di hadapan meja Reyyan. Setelah menyodorkan data yang Tuan nya minta.
Reyyan melihat Arkan sekilas sebelum membuka berkas di hadapannya.
Melihat satu persatu lembar data di depannya. Bahkan data indentitas wanita itu.
'Kejanggalan? Memang kejanggalan apa yang ada pada dia?' batin Reyyan yang sama sekali tidak tertarik untuk ingin mengetahui.
Ia meminta ke Arkan data lengkap wanita itu. Karna ia hanya mau melihat. Siapa dia dan darimana berasal. Sehingga dengan berani mengacuhkan panggilan nya. Bahkan itu bukan dari mulut nya sendiri. Melainkan di wakili oleh kekasih atau siapapun itu.
'Bagian keuangan dan sudah bekerja di sini kurang lebih 5 tahun,' batin Reyyan membaca data di depannya.
"Alya, kelahiran Sidney..." Reyyan membaca data lengkap Alya. Yang sudah berada di satu tangan nya.
Arkan tersentak sadar saat teringat sesuatu.
"Tuan!..."
"Tidak ada kejanggalan di sini. Semua datanya lengkap dan begitu juga dengan indentitas dia. Semua benar dan normal, apa maksudmu kejanggalan itu?" Reyyan beralih melihat Arkan di hadapan nya.
Arkan menarik nafas, melupakan pertanyaan yang mau dia tanyakan tadi. Ia sudah menduga Tuan nya akan memberikan pertanyaan ini tapi, ia siap menjawab.
"Saat saya memasukkan identitas wanita ini, Alya maksud saya Tuan. Ke pencarian data di xxx, indentitas Alya, wanita ini. Tidak ada di data tersebut. Saya sudah mencoba beberapa kali. Yang keluar error,"
Reyyan sontak menyatukan alisnya sembari melihat Arkan. Setelah mendengar penjelasan Arkan.
Kedua mata Reyyan kembali melihat ke berkas data Alya di hadapan nya.
Manik mata Reyyan turun ke ujung kertas data di mana gambar Alya. Terpampang kecil di sana.
Gambar wajah Alya jelas dan tidak buram. Namun, di sini. Rambut wanita itu pendek dan tidak panjang. Seingatnya waktu sekilas ia melihat di cafe hari itu. Rambut wanita ini panjang. Dan gambar wajahnya, ia tidak tahu. Karna hari itu ia tidak melihat dengan jelas.
"Panggil seseorang kemari dari tim keuangan. Ah tidak, panggil CFO Rendra kemari," Reyyan semakin meneliti berkas di hadapannya.
Kasus di mana banyak penipuan indentitas di perusahaan itu sering terjadi. Tapi ia tidak menyangka, ini terjadi di perusahaan nya. Dalam kawasan nya. Berani sekali mereka,
Reyyan kembali geram. Permasalahan tadi baru selesai dan kini ada permasalahan lain.
"Maaf Tuan! CFO Rendra keluar setelah rapat tadi dengan anda,"
Reyyan lagi lagi melihat Arkan. Tentu saja pria itu harus keluar. Dia harus menyelesaikan nya sebelum semakin menjalar lebar.
"Baiklah. Panggil siapapun dari tim keuangan ke sini sekarang juga," perintah Reyyan lagi.
"Baik Tuan, saya permisi," pamit Arkan dan melangkah keluar.
Reyyan menarik nafas dan kembali melihat berkas data di hadapan nya.
Ia tidak pernah seperti ini. Kira kira siapa dalang semua ini. Tidak mungkin dia bisa masuk ke sini tanpa indentitas yang benar. Jika tidak ada orang dalam yang membantu dia untuk lolos.
Tok
__ADS_1
Tok
Suara ketukan pintu membuat perhatian Reyyan teralihkan dari berkas di hadapannya.
"Masuk," instruksi nya sembari meletakkan kedua tangannya di atas meja kerjanya.
Ckleck
Arkan dan seorang wanita masuk ke dalam ruangan Reyyan.
Reyyan hanya melihat wanita itu sekilas. Sebelum menarik nafas dan menyodorkan berkas tadi ke hadapan wanita itu. Setelah berada tepat di hadapan mejanya.
"Berapa lama kamu sudah bekerja di sini?" tanya Reyyan melihat menatap wanita di hadapan nya.
Arkan yang mau membuka mulut mau memperkenalkan Liana. Terdiam dan sesekali akan melihat Liana dan tuannya yang bicara.
Dengan menundukkan kepalanya. Liana menjawab,
"7 tahun Sir," jawab Liana dengan tatapannya ke bawah.
'7 tahun! itu artinya sebelum perusahaan ini menjadi milikku,'
"Sangat lama ternyata. Apa di bagian keuangan. Masih orang yang sama selama kamu bekerja 7 tahun di sini? Selain CFO Rendra,"
Karna pria itu menjabat posisi CFO karna persetujuan nya dan setelah perusahaan menjadi miliknya.
Liana sontak menaikkan tatapan nya melihat CEO barunya. Sebelum kemudian dengan cepat cepat Liana kembali menundukkan wajahnya. Memilih melihat ke bawah. Saat melihat sorotan tajam kedua mata CEO barunya.
Deg
Deg
Liana menenangkan detak jantungnya. Yang ketakutan sekaligus gemetaran.
"Maaf sir saya..."
"Maaf Tuan, saya memotong. Tadinya saya mau memperkenalkan Liana ke Tuan. Tapi Tuan memotong lebih dulu," dan selalu terjadi. Sambung Arkan dalam hati.
Reyyan menyatukan alisnya tidak mengerti melihat Arkan.
Liana yang berdiri di samping Arkan. Sontak melebarkan kedua matanya terkejut. Diam diam Liana melirik Arkan di sampingnya.
'Berani sekali dia,'
"Namanya Liana dan dia Chief Marketing Officer Tuan,"
Reyyan melihat Liana sekilas sebelum kembali melihat Arkan di depannya.
"Suruh dia keluar dulu dan tunggu di luar," perintah Reyyan tanpa melihat Arkan.
Arkan dengan cepat berbalik menghadap Liana dan menuntun Liana untuk keluar.
Tap
__ADS_1
Pintu tertutup.
Reyyan menarik nafas dan kembali melihat Arkan.
"Arkan! bukankah aku menyuruhmu memanggil tim keuangan ke sini. Dan apa yang kamu lakukan!"
Arkan menelan ludahnya gugup sebelum menjawab Tuannya.
"Chief Liana, teman akrab Nona Alya Tuan! dan sebenarnya juga...
"Baiklah, panggil dia kembali," ujar Reyyan lelah.
Arkan seketika memejamkan kedua matanya. Lagi lagi di potong, memang bekerja dengan Tuan. Butuh ekstra kesabaran level tinggi. Ia jadi sangat penasaran, siapa yang akan menjadi istrinya. Dan ia dengan senang hati. Akan selalu mendukung dan menyemangati istri Tuan nya itu. Untuk memberi Tuan nya pelajaran dan mengomeli dia setiap hari. Tapi, ia bahkan meragukan wanita seperti itu ada.
Arkan berbalik malas dan berjalan ke pintu dan membukanya.
"Tuan memanggil anda kembali Chief Liana!"
Liana yang berdiri patuh di hadapan pintu. Sontak menoleh melihat ke belakang, ke Arkan. Dan tanpa mengulur waktu. Liana kembali melangkah masuk ke ruangan yang beberapa detik lalu ia di suruh tunggu di luar.
"Ya sir," jawab Liana begitu berdiri di hadapan CEO baru nya.
Reyyan menyodorkan berkas data ke hadapan Liana. Di mana gambar wajah Alya di sudut kertas ada di sana.
Liana melihat itu bingung. Sebelum kembali melihat CEO barunya dan kembali melihat kertas data yang di sodorkan ke hadapannya.
'Apa maksudnya ini? dan bukankah itu,'
"Kamu kenal wanita ini?"
Liana sontak kembali melihat atasannya. Yang kini juga melihat menatap ke arahnya. Dengan sorot mata sama seperti tadi. Sorotan tajam,
Entah berapa kali. Liana mengerjap ngerjap kan kedua matanya. Tidak tahu harus menjawab jujur atau berbohong. Tapi sepertinya, situasi tidak dalam baik baik saja. Tapi, kenapa atasan baru mereka ini mencari Alya. Apa menyangkut masalah itu atau masalah lain. Tapi jika masalah itu, bukankah semua sudah terkendali. Dan dia juga tidak mempersalahkan tim keuangan. Karna berkas asli yang Rendra simpan. Sebenarnya, ini situasi apa. Dan aku harus menjawab apa.
"Seperti nya telinga mu tidak tuli Chief Liana," suara bas dingin Reyyan masuk ke gendang telinga Liana.
Membuat Liana tersentak terkejut dari lamunannya.
"Iya itu..."
"Jangan mencoba untuk membohongi ku Chief Liana," peringati Reyyan dengan suara tajam dan dinginnya.
Liana melebarkan kedua matanya. Detik selanjutnya, Liana menutup rapat kedua matanya.
Benar, jujur atau bohong. CEO baru mereka akan mengetahui dengan segera. Baik darinya atau dari siapapun.
'Maafkan aku sahabat ku,'
"Ya, saya mengenalnya. Dia teman saya, sir!"
Reyyan sontak menaikkan dagunya angkuh. Saat menatap melihat reaksi Liana di depannya.
'Ternyata banyak yang tersembunyi di sini,'
__ADS_1