
"Menarik! langsung ke inti pembicaraan. tapi sebelum membahas itu, kamu tidak mengenaliku?" tanya Reyyan tanpa mengalihkan matanya melihat ke depan. Karna Reyyan menyetir sendiri.
Zuria terdiam sebentar berpikir maksud dari pertanyaan pria di samping nya. Sebelum kedua matanya membulat lebar.
'Suara itu,'
"Kau..."
Reyyan terkekeh geli.
"Siapa tahu! kita akan di pertemukan begini. Tadinya aku berharap bisa bertemu dengan mu sekali lagi dan mengetahui tentang mu lebih banyak," ujar Reyyan santai.
"Dalam ke adaan begini. Normalnya kamu minta maaf bukan!" timpal Zuria kesal.
Dia merenggut ciuman pertama ku dan sikapnya sama sekaligus tidak merasa bersalah. Bahkan jejak itu,
"Bukankah malam itu aku sudah melakukan nya! apa aku salah ingat!" Reyyan masih dengan sikap santainya.
"What!" Zuria sama sekali tidak percaya dengan pendengaran nya sekarang.
'Pria ini benar benar,'
"Apa itu sekarang penting? jika semua berjalan lancar. Kita akan menjadi suami istri segera," ujar Reyyan lagi tidak peduli dengan kekesalan wanita di samping nya. Sedang kedua matanya fokus melihat ke depan.
Mulut Zuria terbuka lebar menganga bodoh.
"Biar ku beritahu jika kamu tidak tahu Mr Reyyan Ferdinand. Ciuman itu! adalah ciuman pertama ku. Dan anda! Merenggutnya tanpa seizin ku. Dan juga, berani sekali anda menodai tubuh yang sudah ku jaga belasan tahun dengan jejak menjijikan itu. Dan juga, ada pria yang ku sukai. Tentu saja itu bukan anda. Jadi! tidak ada gunanya anda menerima perjodohan ini. Karna aku, sampai kapan pun tidak akan menyukai anda."
Reyyan sama sekali tidak marah apalagi sakit hati dengan ucapan Zuria. Bukankah, wanita yang seperti ini yang dia cari. Tidak akan mencintai nya.
Namun, ini sedikit merepotkan.
"Sepertinya pria itu tidak di sukai oleh Mr dan Mrs Argantha?" tanya Reyyan tenang dengan wajah datarnya. Tanpa perasaan apapun,
"Mereka sama sekali tidak tahu," Zuria menjawab cepat dengan nada kesal. Yang ia katakan apa, yang pria ini ambil apa coba.
"Itu bagus!"
"Apa! bagus? apanya yang bagus? aku menyukai pria lain atau! Mami dan daddy ku tidak mengetahui ini," Zuria benar benar melotot lebar ke Reyyan karna tidak suka.
"Aku sama sekali tidak membutuhkan hati apalagi cinta mu itu. Itu bagus! teruslah memupuk perasaan itu untuk pria mu. Aku sama sekali tidak peduli. Yang aku butuhkan hanya tubuh mu mengandung anakku. Hanya itu," Reyyan sekilas melihat Zuria sebelum kembali melihat ke depan.
__ADS_1
Lagi lagi mulut Zuria terbuka lebar. Ia benar benar tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Aku harap mami dan daddy ku mengetahui ini,"
"Apa menurut mu Mr dan Mrs Argantha akan membatalkan perjodohan ini? kamu gadis yang pintar. Tentu mengetahui cara main semua ini. Tidak sedikit dari mereka yang menginginkan ku jadi menantu mereka. Dan kedua orang tua mu! mendapatkan kesempatan itu. Menurut mu! Mr dan Mrs Argantha, akan membatalkan perjodohan ini?"
Zuria terdiam. Ia tidak perlu berpikir keras.
Di saat rumor pria ini, yang bukan hanya sekedar rumor. Tapi semua itu kenyataan. Mami dan Daddy nya saja tidak masalah dengan itu dan tetap menginginkan pria ini menjadi calon menantu mereka. Bahkan ia berada di sini saat ini sekarang. Sudah menjadi jawaban dengan ucapan Reyyan. Mami dan daddy nya menginginkan menantu seperti dia.
Zuria menggeram tidak suka sembari membuang wajahnya melihat ke samping, keluar jendela mobil.
"Besok pagi pagi. Kamu ada waktu?" Reyyan bertanya tenang sembari melihat Zuria dan kembali melihat ke depan menunggu jawaban Zuria.
Zuria sontak melihat Reyyan karna ingin tahu.
❤️❤️❤️❤️❤️
"Kakak tahu siapa yang melakukan ini?" tanya Xavier yang masih enggan untuk menghidupkan motor nya. Sebelum mendapatkan jawaban atas pertanyaan nya. Ia masih mengkhawatirkan kakaknya. Apalagi setelah mendengar ucapan kakaknya. Membunuh,
"Rahasia kan ini Xavier! atau aku sendiri yang akan mengirim mu ke rumah," Alya tidak menjawab Xavier. Malah menggunakan nada ancaman pada adiknya tersebut. Dan menatap tajam Xavier.
"Haruskah Xavier cari tahu sendiri?" Xavier sengaja memancing kemarahan kakaknya. Supaya kakaknya mengatakan.
"Xavier!" Alya menekan panggilan nya. Untuk menyuruh Xavier diam.
Tak,
Xavier kembali men standar samping motor nya dan beralih melihat kakak nya. Yang berdiri di samping nya, siap naik ke motor begitu ia hidup kan.
"Kalau begitu kakak beritahu Xavier dulu. Atau kita tidak akan ke mana mana, sebelum kakak menjawab,"
Tak,
"Aw," rintih Xavier saat kepalanya di ketuk oleh Alya.
Xavier mengelus kepalanya dengan kedua tangan nya. Entah seberapa banyak kekuatan yang kakak gunakan di kepalanya. Ini sungguh sakit banget.
"Minggir, biar aku yang bawa. Kamu terserah mau pergi dari sini atau menginap di sini," Acuh Alya ke Xavier sembari naik ke motor Xavier dan bersiap menghidupkannya.
Xavier dengan cepat naik di belakang Alya tanpa menunggu motor hidup.
__ADS_1
Alya mendengus geli melihat tingkah Xavier.
"Dari mana kamu mendapatkan kata kata seperti itu? gunakan itu nanti untuk kekasih mu. Bukan untuk kakak mu bocah,"
Brrrmmm,
Alya menghidupkan motor Xavier menunggu sejenak. Sebelum melaju pergi dari sana dengan kecepatan sedang pertama lalu cepat hingga jalan beraspal keduanya temui.
"Kira kira ini daerah mana? kamu mengetahui nya?" tanya Alya ke Xavier yang duduk tenang di belakangnya dan tanpa berpegangan. Di mana kedua tangan Xavier. Dia biarkan bebas di kedua sisi tubuhnya.
Xavier menikmati momen saat ini bersama kakaknya. Ini bukan pertama kali ia naik motor bersama kakaknya dan kakaknya yang bawa. Tapi mungkin sudah beberapa kali. Dan ia sangat menyukai momen ini. Haruskah ia bersyukur dengan kejadian ini. Dengan begitu ia bisa kembali menikmati momen ini. Kalau tidak, kakaknya selalu mengatakan dia sibuk dan sibuk. Walau hanya sekedar bertemu dan makan bersama.
"Apa pria itu sangat berbahaya?" tanyanya yang masih ingin tahu.
"Berjanjilah jangan pernah menyelidiki nya,"
"Melihat kawanan tadi menggunakan senjata. Sepertinya ya,"
"Pria itu lebih dari mereka. Jangan pernah menyelidiki nya Xavier? Atau papa akan tahu,"
Xavier mengerang. Dan jika papa tahu. Ia akan di kirim ke New York. Sekolah di sana sampai selesai bahkan sampai masuk universitas dan menyelesaikan nya. Membayangkan saja sudah membuat ku merinding.
"Kakak bisa percaya padaku kan? aku hanya akan menyelidiki nya tanpa ketahuan,"
Alya mengerang.
Bocah ini benar benar. Meskipun ia mengatakan siapa pria yang ia maksud sama Xavier. Rasa penasaran Xavier tidak akan sampai di situ. Dia akan tetap menyelidiki Reyyan Ferdinand bahkan sampai ke kelemahan pria itu. Dan setelahnya, dia akan mendatangi Reyyan Ferdinand karna bagi Xavier. Gara gara dia, kakaknya dalam bahaya.
Xavier bukan lawan Reyyan.
Alya merenung memikirkan jawaban apa yang harus ia berikan ke Xavier, untuk menghentikan rasa ke ingin tahuannya itu.
Jalanan panjang yang hanya di cahaya kan lampu lampu jalan. Motor Ducati hitam melaju cepat di sana. Memecah jalan yang sunyi, yang hanya ada motor mereka saja melaju di sana. Xavier sudah melekat tertempel layaknya lem di punggung Alya. Memeluknya erat seperti kerinduan nya selama ini untuk kakak tercintanya.
Suara motor mereka memecah kesunyian jalan tersebut. Lampu demi lampu Alya tinggalin di belakangnya. Membawa cepat layaknya para pembalap handal.
Xavier memikirkan larangan kakaknya tapi di segi lain. Ia mengkhawatirkan ke amanan kakaknya.
Siapa pria yang berani menganggu ketenangan kakaknya.
Sungguh darah ke ingin tahuannya tidak bisa diam.
__ADS_1