
Mobil Reyyan kendarai sampai di pelataran tempat berkuda.
Ini sudah hari ke 2 semenjak ia ke mari. Tadinya ia akan kemari setelah bermain main dulu dengan dua bocah kesayangan nya. Anak Beyza princess nya.
Namun, jebakan Mr Ferdinand berhasil membuatnya terbang kemari di jam itu juga. Bahkan ia mengambil penerbangan tercepat. Lalu sampai di sini ia harus turun di tengah jalan saat mengetahui trik licik kakeknya. Dan bisa bisanya ia tertipu setelah sekian tahun.
Apa jebakan Mr Ferdinand. Ya, Mr Ferdinand membayar rumah sakit dan menyuruh untuk menghubungi nya dengan mengatakan dia masuk rumah sakit karna kecelakaan. Pria tuan itu bermain main dengan hidupnya bukan.
Reyyan turun dari sana dan menyerahkan kunci mobilnya ke pekerja laki laki di sana. Untuk memarkirkan dengan rapi dan sama seperti yang lain.
Reyyan mengambil langkah lebar memasuki area acara dengan penuh rasa percaya diri dan ke keangkuhannya.
'Mari kita lihat, seberapa cantik gadis yang dimaksud kakek.' batin Reyyan sambil berjalan tanpa membalas sapaan hangat dan sopan orang orang yang mengenalnya.
Di pintu masuk sudah berhias dengan bunga bunga dan tuan rumah yang sudah menunggu kedatangan para tamunya di sana.
Reyyan tetap mengambil langkah nya tanpa peduli sapaan orang orang. Ia kemari hanya untuk menghadiri permintaan kakek nya dan melihat rupa dari gadis itu. Lain selain itu, sama sekali tidak penting untuknya. Ini bukan tempat kerjanya maupun bisnisnya. Dan mereka, ia sangat kenal betul. Hanya orang orang yang pintar dalam menjilat.
"Euhmmm... Dengan siap..."
Reyyan dengan wajah dingin dan acuhnya menyerahkan amplop undangan pemberian kakeknya. Bahkan semua utuh di dalam sana tanpa Reyyan kacaukan. Alias, tanpa Reyyan hanya mengambil kartu undangan dan membuang amplop nya.
Pria yang berada di gerbang utama melayani tamu. Sontak terkejut melihat nama dari tamu undangan nya. Dan tentunya dia langsung bisa menebak. Kalau pria muda ini adalah cucunya.
Pria tersebut berjalan cepat ke sepasang suami istri. Yang tidak jauh dari sana dan berbisik sesuatu di sana. Tanpa menyuruh Reyyan duluan buat masuk, sehingga membuat antrian semakin panjang.
Reyyan yang di buat menunggu pun merasa jenuh dan kesal.
Dengan langkah yang hampir seperti berlari sepasang suami istri mendekat ke Reyyan. Sedang istrinya masih sempat sempat nya menaikkan gaunnya yang sedikit kepanjangan.
Reyyan yang melihat itu sontak menaikkan satu alisnya. Karna, dia sangat mengenali sepasang suami istri tersebut. Dan tentu saja benar apa yang kakeknya katakan. Mereka adalah kliennya.
"Oh Reyyan Ferdinand!" sapa seseorang begitu tiba di samping Reyyan. Pasangan suami istri si pemilik acara.
"Mrs Argantha!" Reyyan memasang senyum seindah mungkin. Yang siapapun melihat akan langsung terpesona akan ketampanan wajahnya.
__ADS_1
Hik.
Keterkejutan Clara, mama Zuria. Saat melihat ketampanan wajah Reyyan Zeki Ferdinand dari jarak yang begitu dekat. Selama ini ia hanya melihat dari jauh ataupun sekilas di saat pertemuan para pemegang saham.
Reyyan menerima uluran tangan wanita di hadapan nya lalu beralih ke pria di samping wanita tersebut. Yang tidak lain adalah suaminya.
"Mr Argantha, aku baru mengetahui anda memiliki tempat berkuda juga," Reyyan memulai pembicaraan tanpa peduli tatapan terpana seseorang.
Mr Argantha terus berbincang ringan sambil mempersilahkan Reyyan masuk ke dalam menikmati acara. Mr Argantha menawari Reyyan menaiki salah satu kuda mereka dan berkeliling keliling santai dulu sebelum acara di buka.
Sedangkan Clara yang melihat suami dan calon menantunya berlalu di hadapan nya sembari berbincang akrab. Clara memilih mencari keberadaan putri nya dengan bertanya tanya ke para bawahan suami nya yang menjaga ke amanan acara.
"Bawa Claira kemari, cepat!" perintah nya tidak terbantahkan.
Pria bersetelan hitam lengkap tersebut segera menjalani tugasnya setelah menunduk memberi hormat untuk permisi.
*******
Itulah yang terjadi di bagian kota Swiss yang bernama Zurich. Setelah penerbangan Reyyan Ferdinand yang tiba tiba di jam 10 malam ke kota Zurich. Lalu, bagaimana dengan ke adaan kota New Turki sekarang. Dimana tempat keberadaan Alya Sadira.
Tapi ceritanya sama sekali tidak menyenangkan untuk di ceritakan bagaimana ke adaan nya di kantor hari ini.
Dan di tambah, dengan ke adaan nya sekarang.
Kedua mata yang tertutup, oh tentu saja ia sadar ini bukan sesuatu yang patut di senangi seperti surprise yang tiba tiba. Karena kedua tangannya ikut terikat kebelakang kursi yang ia duduki sekarang. Lalu ke adaan mulutnya yang tertutup rapat karna lakban.
Dan ia paham betul ini sesuatu hal yang di sebut penculikan. Panik dan ketakutan, tentu saja menyerangnya tadi sebentar. Sebelum ia mengetahui kenapa ia berada di sini. Tentu saja hal yang selalu sering ia alami, bahkan dari ia kecil. Pemerasan uang atau balas dendam, hanya dua hal itu yang ia pikirkan ketika mendengar pembicaraan dua pria di luar.
Awalnya ia mengira kalau yang menculiknya adalah sekelompok pria yang mau menjual tubuhnya ke pria pria hidung belang. Dan itu, sebelum dirinya tidak sadarkan diri alias pingsan setelah mulutnya di sumpal dengan kain yang sudah di bubuhi obat bius.
Seharian ini ia capek dengan pekerjaannya. Capek dari menghindari Rendra dan lelah karna harus perang batin dengan Calia yang terus membuat emosinya naik turun.
Dan sekarang, siapa yang tahu ia akan berada di sini dan dalam ke adaan terikat.
Ia tidak tahu sudah berapa jam ia tidak sadarkan diri setelah terkena obat bius tadi. Dan ia juga tidak tahu ini sudah jam berapa atau sehari sudah ia lewatkan di sini.
__ADS_1
"Kita tunggu saja dia, dia tidak mungkin tidak peduli. Kalian sudah memberitahu nya bukan?"
Suara seorang pria masuk ke gendang telinga Alya. Alya memfokuskan telinganya. Mendengar apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa dirinya di culik.
"Kami sudah mengirim pesan ke asisten pribadi nya dan sampai sekarang belum ada respon."
"Kalian sudah menghubungi dia langsung?"
"Sudah tuan! tapi dia tidak menjawab sama sekali,"
"Bagaimana dengan pesan kita. Sudah sampai ke tangan kanan dia?"
"Tadi saya baru mendapatkan kabar. Kurir baru memasuki lobby perusahaan,"
Ckleck,
Suara pintu terbuka.
Alya menegakkan posisi duduknya. Seperti tiada ketakutan sama sekali.
Alya menggunakan celana jeans panjang warna biru pudar di padu dengan kaos tanktop warna putih dan jas kerja berbahan kain warna moca.
Drkkk
Suara kursi yang berderit sebelum bokong seseorang mendudukinya.
Alya memperlajari semuanya dan mendengar setiap langkah kaki yang masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Entah dirimu yang malang gadis! Atau kami yang terlalu beruntung," suara bariton pria masuk ke gendang telinga Alya dan di tujukan untuknya.
Dengan santai dan tanpa ketakutan. Karna jika takut, mereka akan semakin suka dan menikmati. Mereka tidak lebih dari pria yang otaknya setengah psikopat dan pengecut.
"Entahlah! aku berpikir tidak demikian! dari mana kalian mendapatkan informasi tentang ku? ku harap kalian sudah berpikir ini beratus kali lipat," Jawab Alya santai sambil duduk menyilang kakinya dengan santai.
"Apa yang dia bilang... Ha ha ha ha ha," ledakan tawa pria di hadapan Alya. Memenuhi ruangan tersebut, yang bisa Alya simpulkan sekaligus suatu informasi untuk nya. Kalau ternyata ia berada di suatu ruangan yang cukup besar. Bukan sepetak kamar seperti yang ia pikirkan. Atau sebuah gudang terbengkalai yang tidak terpakai lagi.
__ADS_1
"Lelucon mu sangat menarik gadis! Tapi karna aku masih berbaik hati sama wanita. Biarkan aku menjawab," Pria tersebut melangkah mendekat ke Alya dan berucap sesuatu di telinga Alya.